6—Perubahan

1024 Words
Damien memasuki kamar dan langsung melihat Helena yang sudah terlelap di atas ranjang. Untuk sesaat, langkahnya terhenti. Dia tidak tahu apakah wanita itu benar-benar tidur dengan tenang, atau justru tertidur dalam keadaan perut kosong karena terlalu lama menunggunya. Tatapan Damien beralih pada meja di dekat ranjang. Tidak ada apa-apa di sana. Pria itu menghela napas pelan sebelum berjalan menuju sofa. Dia merebahkan tubuhnya, tetapi matanya kembali tertuju pada punggung Helena. Entah kenapa, tatapan Helena tadi terus terlintas di benaknya. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat hatinya gusar. Selama ini, Damien selalu menganggap Helena sebagai wanita yang keras kepala, dominan, dan terlalu terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkan pernikahan mereka pun terjadi karena Helena yang menginginkannya. Namun, malam ini untuk pertama kalinya Damien mulai mempertanyakan keyakinannya sendiri. "Sebenarnya, pernikahan seperti apa yang kau inginkan, Helena?" Suara Damien terdengar lirih. "Apakah kau benar-benar ingin menjalani pernikahan ini sejak awal?" Dia terdiam. Damien tahu jawabannya. Helena memang menginginkan pernikahan ini. Namun, semakin lama dia memperhatikan wanita itu, semakin sulit baginya untuk memahami apa yang sebenarnya Helena harapkan dari pernikahan mereka. Jika Helena begitu menginginkannya, mengapa wanita itu terlihat begitu lelah? Mengapa tatapannya tadi seolah mengatakan bahwa dia sudah tidak ingin menunggu lagi? Damien memejamkan mata. Mungkin besok semuanya akan kembali seperti biasa. Mungkin Helena akan kembali menyambutnya dengan senyuman, menyiapkan sarapan, lalu bertanya kapan dia akan pulang. Mungkin semuanya akan baik-baik saja. Dengan pikiran yang masih dipenuhi kebimbangan, Damien akhirnya tertidur di sofa. — Keesokan paginya, seperti biasa, Helena terbangun lebih dulu. Matanya langsung tertuju pada Damien yang masih terlelap di sofa. Untuk beberapa detik, Helena hanya diam memperhatikannya. Dulu, pemandangan seperti ini selalu membuatnya ingin membangunkan Damien. Dia akan memastikan pria itu tidak terlambat bekerja, bahkan terkadang menyiapkan sarapan sebelum berangkat. Namun, pagi ini berbeda. Helena hanya menghela napas pelan. Dia bangkit dari tempat tidur, merapikan rambutnya, lalu berjalan melewati sofa. Tanpa membangunkan Damien. Tanpa memanggil namanya. Bahkan tanpa menoleh lagi. Untuk pertama kalinya, Helena memilih membiarkan Damien tidur. Dan mungkin, tanpa disadarinya, pagi itu menjadi awal dari sesuatu yang perlahan akan mengubah hubungan mereka. — Ruang makan sudah mulai dipenuhi aktivitas para asisten rumah tangga. Beberapa dari mereka sibuk membereskan meja yang sejak tadi malam masih dipenuhi berbagai hidangan. Namun, hampir semuanya masih utuh. Termasuk sebuah kue berry dengan tulisan sederhana di atasnya. Happy 1st Anniversary. Kue itu bahkan belum tersentuh sedikit pun. Hera yang sedang membereskan piring menatapnya sejenak sebelum menghela napas. "Selly, apakah Tuan tidak pulang semalam?" Selly yang berada di sisi lain meja hanya menggeleng kecil. "Aku tidak tahu." Hera kembali melirik kue tersebut. "Kasihan Nyonya. Beliau sudah lelah mempersiapkan semuanya seorang diri, tapi Tuan sama sekali tidak menghargainya." "Ssst." Selly segera menegurnya dengan tatapan memperingatkan. "Sudahlah, Hera. Kita hanya bekerja di sini. Jangan membicarakan Tuan seperti itu." Hera terdiam dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Helena turun. Kedua pelayan itu langsung berdiri lebih tegak. "Selamat pagi, Nyonya." "Pagi." Helena menjawab singkat. Tatapannya sempat jatuh pada meja makan yang kini sudah hampir sepenuhnya kosong. Tidak ada lagi hidangan yang semalam dia siapkan. Kue anniversary itu pun sudah dibawa pergi. Wanita itu tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menarik kursi dan duduk. "Tolong buatkan kopi. Tanpa gula." "Baik, Nyonya." Selly dan Hera segera meninggalkan ruang makan untuk menyiapkan pesanan Helena. Begitu keduanya pergi, Helena membuka laptop yang dibawanya. Layar segera dipenuhi laporan perusahaan yang harus diperiksanya pagi itu. Helena menyesap kopinya, sementara tatapannya tak beralih sedikit pun dari layar laptop. Jari-jarinya terus bergerak di atas keyboard, memeriksa laporan yang harus diselesaikannya sebelum berangkat ke kantor. Tiba-tiba, ponsel di samping laptopnya berdering. Mama's Calling... Helena meraih ponselnya dan langsung mengangkat panggilan tersebut. "Pagi, Ma. Ada apa meneleponku pagi-pagi?" Tangannya tetap bergerak di atas keyboard. Dari seberang sana, terdengar suara Sara yang riang. ["Happy anniversary untukmu dan Damien, sayang."] Gerakan jari Helena terhenti. Untuk sesaat, dia hanya menatap layar laptop tanpa mengetik apa pun. "Terima kasih, Ma." Jawabannya singkat. ["Sayang, apakah kau benar-benar tidak ingin membuat pesta untuk merayakannya?"] "Tidak perlu, Ma." Helena kembali mengetik. Namun, tepat saat itu, terdengar langkah kaki dari arah tangga. Damien turun dan berjalan menuju ruang makan. Pandangan pria itu langsung jatuh pada Helena yang sedang menelepon. Helena tidak menoleh. Seolah-olah keberadaan Damien sama sekali tidak mengganggunya. Damien menarik kursi yang berhadapan dengannya dan duduk. "Buatkan aku teh," pintanya kepada pelayan yang baru saja masuk. "Baik, Tuan." Sementara itu, suara Sara kembali terdengar dari ponsel Helena. ["Lalu bagaimana dengan ulang tahunmu? Dua hari lagi, kan? Apa kau tidak ingin merayakannya seperti biasa?"] Helena terdiam sejenak. Biasanya, ulang tahunnya memang selalu dirayakan dengan sebuah pesta. Sebagai seorang pebisnis sekaligus putri keluarga mereka, hari ulang tahunnya selalu menjadi momen yang cukup besar. Namun, kali ini Helena tidak menginginkannya. Dia terlalu lelah. Untuk pertama kalinya, dia hanya ingin beristirahat tanpa harus memikirkan apa pun. "Aku akan berkunjung ke rumah setelah pulang kerja." ["Kau tidak ingin makan malam bersama kami?"] "Nanti saja, Ma." Helena menutup laptopnya setelah memastikan laporan yang diperiksanya sudah selesai. "Aku harus bersiap ke kantor." ["Baiklah. Hati-hati di jalan, sayang."] "Iya, Ma." Helena memutuskan panggilan. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu kembali menyesap kopinya. Di hadapannya, Damien hanya diam memperhatikan. Sejak tadi, pria itu menyadari satu hal. Helena bahkan tidak menatapnya sekali pun. "Apakah Mama meminta kita makan malam di rumah?" Suara Damien akhirnya memecah keheningan di antara mereka. Helena masih memegang cangkir kopinya. Tatapannya tetap tertuju pada layar ponsel. "Tidak." Jawabannya begitu singkat hingga Damien sedikit mengernyit. "Tapi tadi kau bilang akan berkunjung setelah pulang kerja." "Aku akan berkunjung." Helena berhenti mengetik, lalu mematikan ponselnya. "Hanya kunjungan biasa." Damien menatapnya beberapa saat. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Helena menjawab. Tidak ada nada kecewa. Tidak ada sindiran. Bahkan tidak ada keinginan untuk menjelaskan lebih jauh. Helena akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Damien. "Tapi jika kau ingin bertemu dengan Hanna, kau bisa datang seperti biasa." Suaranya datar. Tanpa emosi sedikit pun. Damien terdiam. Untuk pertama kalinya, Helena tidak bertanya apakah dia akan ikut. Tidak pula meminta Damien menemaninya pulang ke rumah orang tuanya. Dia hanya memberinya pilihan. Dan entah mengapa, pilihan sederhana itu justru terasa lebih berat bagi Damien daripada sebuah pertengkaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD