“Nenek dari mana saja?” tanya Eloy begitu Ginni pulang bersama dengan Adkey. Terlihat jelas kekhawatiran di matanya karena tak menemukan Neneknya ketika ia pulang setelah bermain ke rumah temannya tadi sore. Ia ingin menghubungi keluarganya, tapi ia terlalu takut mendapat amukan karena akan dikatakan tak becus menjaga Neneknya.
Ginni langsung memeluk Eloy dengan perasaan lega karena ia sudah berpikir bahwa dirinya tak akan dapat bertemu dengan Eloy dan keluarganya yang lain. Ia tadinya sudah sempat kehilangan harapan untuk bisa kembali pulang karena tak ada yang berniat menolongnya, sampai akhirnya Ela menolongnya meski tak mengantarnya ke rumah.
Adkey meletakkan tasnya dengan kasar “Kau dari mana saja sampai tak bisa menemani Nenek untuk belanja ke Super Market?” tanyanya tajam pada Eloy.
“Aku tadi pergi bermain ke rumah temanku. Mana aku tahu kalau Nenek pergi ke Super Market” jelas Eloy membela diri.
“Tidak tahu?” tanya Adkey kesal dan jelas menunjukkan kalau ia sedang marah “Apa yang kau tahu kalau begitu? Bermain? Menonton konser? Mengikuti artis-artis kesukaanmu? Kau bahkan tak becus melakukan apapun. Ini hanya hal mudah untuk menemani Nenek belanja, apa tidak bisa kau luangkan waktumu sebentar saja?” bentaknya tajam.
“Kenapa kau terus menyalahkanku” tanya Eloy dengan kesal. Ia terlalu sakit hati mendengar ucapan kakaknya yang menyudutkannya.
“Karena ini memang salahmu. Lebih baik besok kau pulang ke Kota, pergi ke rumah Ayah karena tak ada gunanya kau disini selain tujuanmu untuk main” titahnya dengan tegas.
Ginni memukul Adkey “Sudahlah, ini bukan kesalahn Eloy. Aku yang salah karena tidak memberitahukannya bahwa isi kulkas sudah habis” lerainya.
“Nenek selalu saja membelanya, wajar dia jadi semanja ini dan tak memiliki kedewasaan sama sekali” desis Adkey tajam dan memilih berlalu menuju kamarnya. Ia sudah kesal dengan masalah pekerjaan seharian ini dan membuatnya emosi dan semakin emosi hingga ia melampiaskan semuanya kepada orang di dekatnya.
Eloy menangis dan langsung memasuki kamarnya. Ia bahkan tak mendengarkan lagi teriakan neneknya yang berusaha membujuknya agar tak memikirkan perkataan Adkey. Bagaimana mungkin ia tak memikirkan perkataan itu, disaat selama ini hanya Adkey yang sering membelanya karena malas belajar.
***
Pagi ini, Adkey memilih berangkat pagi-pagi sekali karena tak ingin bertemu dengan adik dan neneknya. Rasanya ia terlalu malas untuk membahas hal semalam dan akan merusak suasana hatinya pagi ini. Ia sudah uring-uringan dengan memikirkan perbuatannya pada Ela dan ditambah lagi dengan bentakannya pada Eloy yang membuatnya merasa sedikit bersalah, meski sisi hatinya yang lain juga mengingatkan kalau adiknya itu memang perlu ditegur.
Bahkan, setelah berada di kantor pun, ia masih saja resah. Ia tak habis pikir dengan tuduhannya semalam pada Ela dan baru menyadari kesalahnnya saat Neneknya menjelaskan kebenarannya. Andai ia mengetahui kebenarannya tanpa dipengaruhi rasa panik dan khawatir, ia pasti akan mengucapkan terima kasih berulang kali.
Setelah ini, bagaimana caranya untuk meminta maaf pada wanita itu? Ia bahkan sudah tak berani menunjukkan wajah untuk menemui Ela. Tapi jujur, ia masih bingung dengan wanita itu yang meminta uang kepadanya. Apakah wanita itu sedang membutuhkan uang? Ia masih memikirkan hal itu sampai saat ini, hingga terlintas sebuah ide picik di pikirannya.
Ia menghubungkan panggilan dengan saluran telpon Gerald dan menunggu sampai dua detik hingga suara Gerald terdengar cukup jelas.
“Ada yang bisa saya bantu, Mr. Wikler?”
“Hari ini aku sedang berbaik hati ingin mentraktir departemen komunikasi untuk makan roti yang rasanya sangat enak. Aku ingin kau memesan roti dari toko In Luv, tapi harus diantarkan oleh seorang wanita bernama Elasca Janner”
“Berapa yang ingin anda pesan, Mister?”
Adkey berpikir cukup bingung “Aku tidak tahu, pesan saja sebanyak mungkin. Terserahmu mau membagikannya kepada siapa saja”
“Baiklah. Apa ada lagi, Mr. Wikler?” tanya Gerald hati-hati.
“Tidak ada. Kalau nanti rotinya sudah sampai, biar aku yang turun untuk menemui pengantarnya”
Gerald tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya “Baik” ujarnya sebelum memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Adkey yang tersenyum sendirian.
***
Narisa : La, ada sebuah perusahaan yang ingin memesan banyak roti kita, tapi dia memberi permintaan agar kau yang mengantarkan pesanan mereka. Bolehkan aku memanfaatkanmu kali ini. Ini adalah keuntungan yang tak pernah bisa kucapai sebelumnya.
Ela membaca pesan dari Narisa dengan gelengan kepala heran. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana raut gembira Narisa saat ini dan tak perlu diragukan kalau ia juga turut senang, jadi tak perlu berpikir terlalu banyak untuk menyanggupi permintaan Narisa.
Ela: Baiklah, nanti aku akan menyempatkan waktu untuk izin dari Restoran sebentar
Narisa : Terima kasih La, kau adalah yang terbaik. Aku akan menghubungimu begitu pesanan selesai.
Ela menggelengkan kepala dengan senyum geli membaca pesan dari Narisa, lalu memilih melanjutkan pekerjaannya sebelum seseorang menegurnya karena bermain hp. Ia menatap perutnya sejenak, kemudian mengusapnya dengan senyuman “Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganmu. Setelah ini, Bibi Narisa akan membelikanmu pizza” kekeh Ela atasa ucapannya sendiri.
Setelah hampir tiga jam, akhirnya Narisa menghubungi Ela dan mengatakan kalau Ela bisa menyusul taksi yang sedang menuju alamat perusahaan tersebut. Akhirnya Ela izin kepada managernya dan tak menyangka akan mendapatkan izin semudah itu.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ela untuk duduk di atas bus karena akhirnya ia sampai dalam tiga puluh menit. Ela kemudian menatap gedung yang ada di depannya dengan perasaan kesal yang langsung ia gambarkan dari raut wajahnya. Ia tak menduga kalau ia akan mengantarkan roti pesanan itu ke Kantor Adkey.
Tanganya mengepal kuat dan menahan gejolak marah dalam dadanya sampai sebuah suara menegurnya. Ia menoleh dan menemukan pemilik taksi yang sudah menunggunya “Apa anda adalah Ms. Janner?” tanya pemilik taksi itu.
“Iya, saya. Apa anda adalah orang yang membawa pesanan kantor ini?” tanyanya cepat.
“Iya, saya. Apakah saya perlu membantu mengantarkan pesanan tersebut, nampaknya itu sangat banyak untuk Miss bawa sendirian”
“Saya akan meminta bantuan Satpam” ujar Narisa dengan senyum canggung, lalu menghampiri pos satpam dan meminta mereka untuk mengangkat pesanan kantor. Tiga dari enam orang yang berada di dalam langsung bergerak menuju taksi setelah Ela menunjukkan bukti pesanan dari Kantor yang tadi sempat dikirimkan oleh Narisa.
Ela meneguhkan hatinya untuk bersikap biasa. Ini mungkin saja bukan pesanan Adkey seperti yang ia pikirkan. Ada banyak orang di gedung ini yang kemungkinan akan memesan roti dari toko Narisa, jadi tak perlu merasa kegeeran.
“Ms. Janner, apa benar itu anda?” tanya pria yang sama sekali tak Ela kenal, tapi Ela tahu kalau pria itu adalah yang menemani Adkey saat ke restoran tempatnya bekerja.
“Ah, ya, apa anda yang memesan roti ini?” tanya Ela dengan menunjuk kotak roti-roti itu kepada Gerald dan memamerkan senyum canggung untuk berusaha ramah kepada pembeli.
“Oh bukan, saya hanya ingin mengatakan kalau saat ini Mr. Wikler sedang ada pertemuan penting, jadi tak bisa menemui anda. Apakah anda bisa menunggu sebentar?” tanya Gerald mengusahakan keinginan atasannya untuk menahan Ela.
Ela mengernyit heran “Untuk apa saya menunggu? Saya rasa pekerjaan saya hanya memastikan bahwa roti ini sudah sampai ke tempat yang tepat”
“Em, maafkan saya Miss, tapi Mr. Wikler tidak akan membayar sisanya jika anda meninggalkan tempat ini tanpa menemuinya” jelas Gerald sesuai apa yang Adkey minta.
“b******k” maki Ela kesal dengan mengepalkan tangannya kuat.
“Ya?” tanya Gerald saat mendengar makian.
“Aku hanya izin sebentar di restoran tempatku bekerja, jika dia yang ingin menemuiku, lebih baik jangan membuatku menunggu” saran Ela dengan suara tenang, padahal ia takut berurusan dengan orang yang hanya mengandalkan kekuasaan dan uang seperti Adkey.
Gerald tersenyum kecil, lalu mengulurkan tangannya menunjuk sofa di dekat mereka “Miss bisa duduk sambil menunggu Mr. Wikler selesai dengan pertemuannya”
Mau tak mau, Ela duduk karena tak ingin membuat dampak buruk pada kandungannya. Ia memilih pasrah menerima amukan dari manager restoran jika hari ini ia kembali tidak sesuai dengan janjinya. Ia tak mungkin mengecewakan Narisa dengan sikap angkuhnya yang tak mau menunggu Adkey. Ada setengah bayaran lagi dan ia tak mungkin membiarkan Narisa rugi.
Setelah menunggu hampir setengah jam dan mulai merasa muak, Ela akhirnya mendengar suara yang baru-baru ini seperti beradaptasi dengan pendengarannya sehingga ia mulai merasa familiar. Ia dapat melihat Adkey yang tersenyum ramah pada orang yang baru saja berbincang dengannya dan kini mereka menuju keluar dari gedung kantor.
Ela hanya menunggu sampai akhirnya Adkey kembali dan menatap Ela dengan senyum seolah semalam tak terjadi apa-apa. Ela berdiri dan menatap Adkey dengan cukup tajam “Itu roti pesananmu” tunjuknya.
Adkey menatap Gerald “Ger, kau bisa membawanya dengan bantuan OB atau staf lain” titah Adkey dan diangguki dengan senang hati oleh Gerald yang menyembunyikan senyum gelinya.
“Apa kau sudah makan siang?” tanya Adkey dengan sebelah alis yang terangkat.
Ela menatap pria itu tajam “Aku ingin minta setengah bayarannya lagi” ujarnya sambil mengulurkan tangan.
“Aku akan memberinya setelah makan siang, bagaimana?”
“Aku harus segera kembali”
“Aku akan makan siang di restoran tempatmu bekerja, bagaimana?” tawar Adkey.
Ela mulai kehilangan kesabaran karena sikap Adkey yang pemaksa, tapi ia membutuhkan uang itu untuk bayaran ke toko Narisa. Ia bukan orang bodoh yang akan melarikan diri dan mengatakan bahwa ia tak memerlukan uang itu, berharap supaya Adkey yang akan membujuknya untuk menerima uang itu, karena nyatanya itu adalah kebutuhan utama untuknya.
“Baiklah, aku akan menemanimu makan siang. Hari ini aku akan membolos demi uang temanku” jelas Ela menciptakan senyum di bibir Adkey.
“Kalau begitu, kau bisa ikut aku” ajak Adkey dan melangkah menuju lift.
“Mau kemana?” tanya Ela heran. Mengapa mereka harus menggunakan lift? Namun saat tahu bahwa Adkey membawanya ke basement, ia akhirnya diam dan membiarkan Adkey membawanya.
***
Tidak ada pembicaraan sama sekali di lima menit pertama, hingga Ela merasa jenuh dan Adkey merasa ini memuakkan. Adkey sesekali melirik ke sampingnya dan menemukan Ela yang sedang menatap keluar kaca mobil. Saat merasa dirinya tak akan mencelakai Ela, ia menurunkan kaca dan membuat Ela menoleh padanya.
“Kau bisa menikmati pemandangan di luar tanpa pembatas” jelas Adkey.
“Kenapa kau ingin bertemu?” tanya Ela terus terang. Ia tak ingin pura-pura tak tahu dan basa-basi kepada Adkey.
Adkey terkekeh geli “Siapa bilang aku ingin bertemu denganmu? Apakah kepercayaan dirimu selalu tinggi seperti saat ini?” desisnya.
“Aku tahu maksudmu membeli kue itu, tidak perlu bersikap bodoh” balas Ela dengan sinis.
“Baiklah, aku mengaku. Aku hanya merasa tak tenang setelah menuduhmu semalam” jelas pria itu.
“Tidak masalah, aku sama sekali tidak mengingatnya. Itu bukan sesuatu yang begitu penting untuk diingat” kekeh Ela seolah ia benar-benar tak masalah, padahal kenyataannya ia sangat kecewa dengan perbuatan baiknya yang disalah artikan dan sepanjang malam ia terus menggerutu kesal karena itu.
Adkey tersenyum dan mengangguk setuju “Aku juga merasa bahwa yang kulakukan semalam bukan hal yang penting untuk diingat, tapi hatiku terlalu lebay karena dibuat uring-uringan, jadi aku minta maaf padamu”
Ela menoleh dan menatap Adkey dengan ragu “Apakah penawaran saat di Restoran semalam masih berlaku?” tanyanya mengharap peruntungan.
“Penawaran apa?” tanay Adkey tak mengerti. Ia sama sekali tak ingat telah memberikan penawaran kepada Ela.
Ela berdeham cukup kuat dengan tangan yang meremas satu sama lain, sesekali melirik Adkey dengan ragu “Kalau kau memang butuh teman tidur, aku akan melayanimu meski kau tidak menawarkan kepastian untuk menikahiku” jelasnya runtut dan cepat. Ia merasa sangat bodoh sekarang, karena baru semalam ia menolak tawaran itu dengan tegas, tapi kini malah berubah pikiran dan menawarkan diri.
Adkey mengernyit heran dan melirik Ela sebentar. Ia bahkan sampai memperlambat laju mobilnya supaya bisa menatap wajah itu lebih lama “Apa yang kau inginkan? Harta atau kekuasaan?” tanyanya seolah mengerti arah pembicaraan mereka.
Ela tersenyum senang melihat Adkey mudah mengerti tanpa ia jelaskan “Aku hanya ingin bayaran setiap kali kita melakukannya. Aku butuh uang dan kau butuh wanita kan, jadi kita bisa menjadi partner yang cukup cocok”
“Kau yakin ingin melakukan kerja sama seperti itu?” tanya Adkey dengan senyum miring.
Ela menoleh hingga mata mereka bertemu untuk sejenak, lalu mengalihkan pandangannya dan mengangguk yakin “Aku yakin, lagi pula kita juga sama-sama tahu kalau aku bukan wanita suci”
“Bagaimana kalau nantinya aku tidak akan menikahimu?” tanya Adkey berpikir lebih logika. Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.
“Aku tidak akan menuntut apapun selagi kau membayarku. Anggap saja aku adalah jalang, oh maaf, sepertinya aku memang jalang” Ela terkekeh dan mengoreksi ucapannya dengan tawa geli “Maksudku, kau bisa membayarku sebagaimana kau membayar jalang di luar sana untuk memuaskanmu” ulangnya dengan lebih jelas.
Adkey memarkirkan mobilnya di sebuah restoran, meskipun sebenarnya itu bukan tujuan awalnya. Ia hanya terpikir sesuatu begitu Ela mengungkapkan keinginannya untuk bekerja sama dengan mendapat keuntungan masing-masing.
“Kita akan makan di sini. Ayo turun” ajak Adkey.
Ela turun dari mobil dan menyusul langkah pria itu ke dalam restoran yang memiliki satu lantai, namun sepertinya ada satu ruang kecil di lantai dua karena Ela dapat melihat sebuah ruang di atas restoran itu, tapi ia tak yakin kalau itu juga bagian dari tempat pelanggan.
“Selamat siang, Mr. Wikler” sapa para staf restoran yang menyadari kehadiran Adkey.
“Aku ingin kalian menghidangkan menu utama restoran ini. Aku ingin gadis ini mencicipinya, tapi usahakan makanan itu baik untuk wanita hamil” pinta Adkey dengan wajah yang menunjukkan keramahan.
Ela mengikuti langkah Adkey dengan senyum kecil yang terbit begitu saja hanya karena mendengar perhatian Adkey akan kandungannya. Ia menggigit bibirnya saat terbayang akan merasakan makanan yang lebih sehat dan mahal. Ia dan Narisa jarang sekali bisa menikmati makanan mewah karena fokus untuk biaya dimasa yang akan datang.
Wanita itu mengusap perutnya dengan senyum sumringah “Mommy akan memberimu makanan sehat dan enak” yakinnya.
Adkey tersenyum kecil mendengar suara yang lebih mirip dengan bisikan itu. Ia menarik satu kursi, lalu duduk dan menunggu Ela duduk di depannya. Ia memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah dan jangan lupakan mata liarnya yang memperhatikan bagian-bagian tertentu Ela.
“Kau semakin berisi dari yang pertama kali kuingat” ujarnya terang-terangan.
Ela menatap dirinya sendiri, kemudian menatap Adkey “Ya, kurasa karena aku hamil” angguknya setuju.
“Bukan karena ada yang membantumu membesarkan bagian tertentu?” sindirnya.
Ela menggelengkan kepala saat mengerti maksud pertanyaan Adkey, “Setidaknya beberapa waktu belakangan ini, aku tidak bermain dengan pria manapun” jelasnya.
Adkey mengangguk dengan tangan yang terangkat ke meja dan saling mengait “Aku akan membuktikannya sendiri, begitu restoran ini menjadi milikmu”
Ela membulatkan mulutnya dengan tak percaya “Maksudmu?” tanyanya tak mengerti.
“Ya, aku tahu kau sedang mencari biaya untuk anak itu, jadi kau menjual dirimu padaku. Sebagai bayarannya, aku akan menyerahkan restoran ini kepadamu. Sesegera mungkin aku akan mengubah nama pemiliknya supaya kau tidak perlu meragukan itu”
Ela menatap ke sekeliling restoran “Benarkan ini akan menjadi milikku? Tapi, apakah ini restoranmu?” tanyanya tak percaya.
“Iya, kau bisa memilikinya nanti, tapi tetap dengan syarat kau akan melayaniku” angguk pria itu.
Ela mengangguk cepat “Aku akan melayanimu” ujarnya semangat, seolah hal itu bukan hal yang begitu menjadi masalah, tapi setelah terpikirkan, ia akhirnya memajukan tubuhnya dengan rasa penasaran “Tapi, kau akan memakai tubuhku berapa lama?”
Adkey tersenyum geli mendengar pertanyaan itu “Sampai aku bosan. Aku bahkan tidak tahu apakah kita akan menikah atau tidak. Setidaknya sampai aku bisa membuktikan bahwa yang kau kandung adalah anakku” jelasnya terang-terangan.
Ela mengangguk paham “Baiklah, aku harap kita akan menjadi partner yang cocok”
Adkey mengangguk “Aku harap kau tidak akan menyimpan perasaan untukku”
“Kenapa?” tanya Ela.
“Aku bukan tipe orang yang bisa merasakan cinta, jadi kau harus menanggung perasaanmu sendiri nantinya”