Ela masuk ke dalam private room yang dipesan oleh Adkey ketika Gerald keluar dari ruangan itu dan mendatanginya dengan memberi perintah bahwa Adkey menyuruhnya masuk. Ia melihat Adkey sedang memainkan ponselnya dan terlalu fokus pada benda pipih itu. Ia segera duduk di hadapan Adkey tanpa dipersilahkan.
“Aku ingin membawamu ke rumah orang tuaku” ujar Adkey terus terang setelah ia menyelesaikan permainan pada ponselnya dan menatap serius kearah Ela yang kini membulatkan matanya.
“Apa yang kau maksud?” tanyanya tak mengerti. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tak salah dengar, tapi keyakinan lainnya membuatnya ragu. Apakah harus secepat ini? Ia bahkan belum mengenal Adkey sama sekali dan pria itu pun belum mengetahui apa-apa tentangnya, tapi kini Adkey datang dan mengatakan akan membawanya ke rumah orang tua pria itu.
Yang benar saja?
Adkey saja sebagai pelaku sudah mencapnya dengan tidak benar, apalagi orang tua pria itu, pasti akan memberi penilaian yang jauh dari Adkey. Ia juga tak siap menunjukkan kemiskinannya dihadapan orang kaya seperti keluarga Adkey yang pastinya akan memandangnya sebelah mata. Ia memang tak tahu sekaya apa Adkey, tapi ia bisa menilai lewat tubuh yang sangat terawatt itu dan pakaian yang dikenakan oleh Adkey. Ia tak siap dengan semua itu.
“Kau mendengarku tidak?” dengkus Adkey kesal. Sedari tadi ia sudah berbicara panjang lebar untuk menjelaskan maksud dan tujuannya, tapi wanita itu malah mengabaikannya begitu saja.
“Ah, ap-apa? Kau bicara apa tadi?”
“Sial. Kau sedang melamunkan apa hingga tidak mendengarku sama sekali” desis pria itu tajam.
Ela kini menyadari bahwa sebenarnya Adkey tak jauh berbeda dari Alva yang cukup kasar dalam berkata-kata. Mungkin pria itu bersikap lembut pada malam pertama pertemuan mereka hanya karena itu adalah cara untuk menaklukan wanita saja.
“Aku rasa aku tidak bisa datang ke rumah orang tuamu secepat itu karena kita bahkan belum saling mengenal”
“Kenapa? Kau kan meminta pertanggungjawaban. Kita bisa sekaligus berkenalan dengan orang tuaku”
“Ta-pi aku tidak siap”
“Apa yang kau khawatirkan? Orang tuaku tidak makan daging manusia”
“Pokoknya aku tidak siap. Lagipula aku sudah bilang kalau anak ini mungkin bukan anakmu karena aku melakukannya dengan banyak pria” desis Ela mencoba menggunakan alasan yang waktu lalu membuat Adkey berhenti bicara dan tak lagi menghubunginya.
“Biarkan aku mengenalmu dan memberikan penilaian sendiri, bagaimana?” tawar Adkey. Ia merasa bahwa Ela bukan wanita seliar itu dilihat dari segi wajah dan tatapannya yang kurang percaya diri, jadi ia lebih yakin kalau ia adalah pria pertama dan sampai saat ini masih satu-satunya yang menyentuh Ela.
“Kau sungguh-sungguh?” tanya Ela tak percaya. Ia merasa cukup tersentuh karena itu artinya Adkey tak sepenuhnya percaya bahwa ia adalah w************n.
“Tentu saja. Kau bisa menghubungiku kalau membutuhkanku dan aku bisa melakukan hal yang sama, bagaimana?”
“Me-membutuhkan yang bagaimana?” tanya Ela terbata. Ia menduga sesuatu yang lain dari maksud ucapan Adkey.
Adkey melipat tangannya di meja dan menatap Ela lebih serius “Aku bukan pria yang bisa menahan hasrat lebih lama untuk tidak bermain. Aku sudah puasa lebih dari dua bulan dan aku rasa kalau kau ingin menjadi istriku, kau harus bisa melayaniku mulai sekarang supaya aku tidak bermain dengan jalang”
Ela mengerjapkan mata beberapa kali “Apa kau benar-benar akan menikahiku?” tanyanya dengan ragu. Ia tak bisa percaya begitu saja kalau Adkey benar-benar berniat menikahinya. Bisa saja pria itu sedang mencari peruntungan darinya untuk menikmati tubuhnya sebebas mungkin.
“Iya, lagi pula kau memang hamil anakku kan, jadi memang sepertinya aku harus menikahimu. Jadi bagaimana? Apa kau setuju untuk bermain denganku walaupun kita belum menikah, atau justru kau lebih ingin melihatku bermain bersama jallang?”
“Bagaimana kalau ternyata kita tidak jadi menikah karena alasan tertentu, tapi kau sudah meniduriku beberapa kali?”
“Ya mau bagaimana lagi, tentu saja kita harus berpisah. Lagi pula saat malam pertama kita, aku juga tidak memberikan jaminan bagimu, jadi apa bedanya waktu itu dengan saat ini?”
Ela mengangguk lemah dan mulai kehilangan pengharapan untuk meyakinkan dirinya bahwa Adkey adalah pria yang bertanggung jawab, “Sepertinya aku sudah memutuskan” ujarnya cepat.
“Apa pilihanmu?” tanya Adkey cukup penasaran.
“Aku rasa sebaiknya aku mencari pria lain untuk mempertanggungjawabkan kehamilanku ini, atau justru merawatnya sendiri” jawab Ela yakin. Tangannya saling meremas di bawah meja, tidak tahu apakah keputusannya sudah benar, tapi ia tak ingin membiarkan Adkey menggunakan tubuhnya dengan jaminan yang tidak pasti. Ia bukan wanita murahaan, meski awalnya ia begitu bodoh menyerahkan keperawananya kepada Adkey.
Lagi pula ia juga yakin bisa merawat kandungannya sendirian, jadi sepertinya kehadiran Adkey juga tak begitu berpengaruh. Pria itu adalah pemaiin dan tak mungkin bisa setia pada satu wanita, apalagi wanita sepertinya.
Ela berdiri dari duduknya dengan hela nafas kasar “Terima kasih sudah mau mempertimbangkan diriku untuk menjadi istri”
Adkey menatap punggung Ela yang perlahan mulai tak tampak setelah keluar dari private room Restoran itu. Ia tak tahu kalau wanita itu akan meninggalkannya begitu saja hanya karena ia ingin dilayani sebelum menjadi suami secara resmi. Tanpa sadar, bibirnya menyunggingkan senyum kecil sambil meraih gelas minumannya dan meneguk isinya hingga tandas.
***
Setibanya di rumah, Ela langsung membaringkan diri karena merasa lelahnya menghadapi hari ini yang penuh dengan hal tak terduga. Ia menjadi perbincangan teman-temannya karena tadi siang dirinya masuk ke dalam private room yang mereka sendiri pun menduga bahwa orang yang mengajaknya adalah pria kaya sehingga ada banyak spekulasi yang beredar mengenai apa sebenarnya hubungan Ela dengan pria itu.
Ela bukannya tak tahu kalau dugaan rekan kerjanya mengenai Ela yang menjadi jallang pria itu sudah sampai ke telinganya. Bagaimana tidak? Mereka jelas menggunjingkan Ela begitu wanita itu membalikkan tubuhnya dan menjauhi teman-teman kerjanya yang berkumpul untuk menggosipkan segala sesuatu. Ia hanya tak ingin dan tak punya hal untuk dijelaskan.
“La”
Ela tersadar dan langsung melihat suara yang menyerukan namanya dengan cukup kuat baru saja. Ia melihat adanya Narisa yang sedang menatapnya tajam “Eh, ada apa Nar?”
“Apa yang kau pikirkan? Kau mendengar ucapanku tidak?”
“Memangnya apa yang kau katakan?” tanya Ela.
“Sebaiknya kau pergi ke Toko Roti secepatnya. Aku ada jadwal malam ini dan tak bisa menemanimu untuk menjaga Toko” jelas Narisa sekali lagi.
Ela menganggukkan kepalanya “Baiklah. Nanti aku akan segera pergi setelah selesai mandi”
“Kalau begitu, aku pergi dulu La. Jangan lupa untuk memastikan rumah terkunci dengan aman” pesan Narisa sebelum akhirnya ia berlalu dari kamar dan segera keluar dari rumah.
Tak ingin membuang waktu lebih lama dengan berleha-leha, Ela segera beranjak dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya yang terasa bau dan sangat berkeringat. Ia menikmati sentuhan air yang pada akhirnya membuat matanya terpejam dan mengingat tawaran Adkey mengenai menikah dan melakukan hubungan intim.
Ela tak ingin bersikap munafik kalau ia juga menginginkan tubuh itu menghangatkannya, tapi ia tak ingin itu terjadi karena dirinya bukan jallang yang bisa disentuh kapan saja. Untuk orang yang begitu liar memberikan tubuhnya pada seseorang yang tak dikenal dipertemuan pertama mereka, Ela memang terlalu naif untuk mengatakan penolakan disaat seperti ini, tapi ia hanya tak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Ia tak bisa menjalin hubungan seperti itu tanpa hubungan yang pasti dan ada jaminannya. Ia tak ingin Adkey hanya memanfaatkan keadaannya, namun setelahnya tak ada pertanggungjawaban, karena bukan tak mungkin kalau orang tua pria itu akan menolaknya sebagai calon menantu karena latar belakangnya yang terlalu menjadi perhatian utama orang-orang kelas atas seperti Adkey.
“Aku yakin bisa membesarkanmu sendiri” Ela membelai perutnya dengan senyum kecil.
Setelah selesai mandi dan berpakaian yang cukup rapi, Ela segera menuju Toko roti. Ia tak ingin membuang waktunya yang berharga untuk memikirkan segala masalah yang akhir-akhir ini menjadi trending topic di kepalanya, jadi lebih baik ia menyibukan diri di Toko selagi tak punya kegiatan yang berarti di rumah.
***
Di tengah perjalanan menuju simpang gang rumahnya, Ela berniat untuk membeli minuman dingin di super market yang kebetulan berada tepat di simpang gang itu. Ia merasa tenggorokannya butuh sesuatu yang dingin untuk menyegarkan pikirannya yang terpengaruh dengan ucapan Adkey.
Ia sempat berpikir bahwa tak ada salahnya juga kalau ia memberi tubuhnya pada pria tampan itu dan menerima imbalan berupa materi sebagai pemenuh kebutuhannya untuk anaknya dimasa yang akan datang. Ia jadi memiliki pemikiran untuk membuat kontrak agar pria itu tak melarikan diri dari tanggung jawabnya setelah menikmati tubuhnya. Lagi pula, tubuhnya sudah tak begitu suci untuk ia jaga.
“Tolong” Ela tersadar dari lamunannya ketika ada wanita tua asing yang menyentuh tangannya dan menatapnya dengan memelas.
“Ya?” tanya Ela ragu sembari menoleh ke kanan dan kiri.
“Tolong aku” pinta wanita tua itu.
“Tolong apa, Nek?”
“Aku tidak punya uang dan tak membawa ponsel. Bisakah kau mengantarkanku pulang?”
Ela menatap wanita tua itu dengan kasihan, tapi ia takut ada penipuan di balik kata ‘tolong’ dan wajah memelas itu. Ia sungguh bingung untuk mengetahui mana yang benar-benar meminta tolong atau mana yang menjebaknya karena saat ini penjahat selalu berkedok sebagai orang terluka supaya dapat melukai.
“Bisakah kita datang ke kantor polisi saja, Nek?” tanyanya ragu. Ia takut jika nantinya ia mendapat celaka padahal niatnya baik untuk menolong wanita tua itu.
“Tidak. Jangan. Aku punya cucu yang bekerja di Wikler Enterprise. Bisakah kita datang ke sana untuk menanyakan nomor cucuku agar ia menjemputku?” tanya wanita tua bernama Ginni itu dengan penuh harap. Sudah sejak siang tadi ia mencari pertolongan, tapi tak ada satupun yang berbelas kasih padanya.
Ela langsung membuka ponselnya dan mencari alamat Wikler Enterprise karena ia sama sekali tak pernah mendengar nama tempat itu. Ia menemukan bahwa Wikler Enterprise adalah suatu perusahaan dan melihat berbagai informasi terkait lainnya.
Setelah melihat bahwa benar ada alamat perusahaan itu, Ela segera mengangguk untuk menyanggupi permintaan nenek itu. Ia tak tega membiarkan wanita tua itu harus terus meminta bantuan pada orang mengingat betapa dinginnya tangan yang masih memegang tangannya.
“Ayo Nek, kita naik bus” ajaknya.
Setelah berjalan ke Halte, Ela langsung mendapat sebuah bus yang sedang jadwal melewati jalanan itu. Keduanya naik dan duduk di posisi belakang karena ternyata bus cukup penuh saat itu. Di dalam Bus, Ela tak hentinya melantunkan doa supaya Tuhan melindunginya dari kejahatan dan marabahaya.
“Aku tidak menipumu” ujar Ginni seolah tahu apa yang Ela pikirkan. Ia menceritakan kejadian bagaimana ia bisa sampai di super market tadi tanpa membawa apapun.
Tadinya ia ingin membeli beberapa belanjaan karena kebetulan sekali bahwa ia sudah kehabisan stok persediaan bulanan, lalu ia menaiki sebuah taksi dan diturunkan dengan alasan mobilnya harus dibawa ke bengkel karena ada yang bermasalah, lalu Ginni turun sambil memegang erat dompetnya, tapi tak sampai dua menit ia menunggu taksi lain, ternyata ada sebuah sepeda motor yang dikendarai dua orang dan merampas dompetnya hingga teriakannya saja tak mampu menyelamatkan isi dompet itu.
***
Ela menatap gedung tinggi itu dengan sangat takjub. Ia segera melihat kearah Ginni dan mengikuti langkah wanita tua itu menuju kantor keamanan yang ternyata ada beberapa satpam di dalamnya. Tanpa ingin ikut campur, Ela hanya menunggu Ginni berbicara dengan satpam yang saling pandang itu, kemudian menyuruh mereka masuk untuk menemui resepsionist yang masih berjaga karena banyak yang lembur dari staf kantor itu.
Mata Ela kembali terkesan dengan perusahaan yang sangat mewah itu, apalagi di dalamnya menunjukkan kesan betapa kaya pemilik bangunan itu. Bahkan orang-orang yang ada di dalamnya adalah orang-orang yang elegan sedari apa yang dilihat oleh Ela. Ela berdesis cukup keras karena mengingat bahwa hari sudah gelap, tapi mereka masih bekerja.
“Bagaimana, Nek?” tanya Ela saat melihat Ginni kembali setelah berbicara dengan seorang resepsionist yang berjaga di lobi perusahaan ini.
“Sepertinya mereka tidak percaya padaku” ujar Ginni dengan lemah.
“Biar aku bantu untuk meminta tolong” yakin Ela.
Ela dan Ginni kembali menghampiri Resepsionist.
“Permisi Nona, apakah cucu nenek ini sudah pulang?” tanya Ela dengan ragu. Sebenarnya ia cukup tak percaya kalau Ginni memiliki cucu yang bekerja di perusahaan semegah ini, apalagi melihat penampilan Ginni yang sangat sederhana. Tapi, ia tak boleh berburuk sangka kan? Apalagi dengan pemikiran menyepelekan seperti itu.
Sang resepsionis tersenyum kecil, masih menunjukkan keramahan dan kesopanan yang menjadi aturan dalam menyambut tamu di perusahaan itu “Maaf sekali Nona. Nenek ini menyebutkan bahwa cucunya adalah anak Ketua perusahaan ini. Kami tidak bisa mempercayainya begitu saja, apalagi tidak ada data yang mendukung sama sekali”
“Tapi bolehkah kami meminta tolong untuk mencobanya. Kasihan nenek ini sedari tadi sudah berusaha untuk meminta bantuan karena ia lupa membawa ponselnya” pinta Ela sekali lagi. Ia bahkan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadaa dan memberikan tatapan memelas pada resepsionis.
“Baiklah, akan saya usahakan. Siapa nama Nenek?” tanya resepsionis pada Ginni.
“Ginni Haviro”
Setelah menunggu pembicaraan serius antara resepsionis dengan orang yang tak Ela ketahui, akhirnya pembicaraan itu selesai dan sang resepsionis tersenyum kepada mereka “Sebentar lagi Mr. Wikler akan datang untuk memastikan sendiri” ujarnya “Silahkan Nenek dan Nona menunggu di sofa itu” tunjuknya pada sofa yang ada di sebrang meja resepsionis.
“Terima kasih” ujar Ela dan Ginni bersamaan.
Hampir lima belas menit menunggu, akhirnya sebuah suara mengintrupsi keheningan di lobi. Ela menegang melihat wajah Adkey yang terlihat panik, kemudian ia mengikuti arah langkah pria itu dengan matanya dan ternyata tujuan Adkey adalah nenek di sampingnya. Ginni memeluk Adkey dengan tangis yang berderai. Ela bahkan tak mengingat kalau Adkey memiliki nama belakang Wikler.
“Nenek takut” isak Ginni sambil memukul punggung Adkey lewat pelukannya.
“Lagi pula apa yang kau lakukan di luar sana? Kenapa tidak menelponku?” kesal Adkey memarahi neneknya sendiri. Ia sangat khawatir ketika resepsionis menghubunginya dan mengatakan bahwa ada orang yang mengaku sebagai neneknya datang ke perusahaan.
Ela dapat melihat betapa Adkey menyayangi neneknya dari perlakuan dan perkataan pria itu. Apakah Adkey memang orang yang berbeda jika di hadapan keluarganya dan orang lain? Pria itu selalu berkata kasar padanya, tapi kini berlaku lembut pada neneknya, walaupun nada suaranya tetap terkesan sedikit kasar.
Setelah pelukan yang cukup lama itu, Adkey menjauhkan tubuhnya dari sang nenek dan tersadar dengan sosok di sebelah mereka. Ia menatap Ela dengan kernyitan yang tercetak jelas di keningnya “Apa yang kau lakukan disini?”
Ela meremas kedua tangannya “Aku hanya mengantar Nenek ini” jawabnya.
Adkey menunjukkan senyum sinisnya “Apa sekarang kau sedang mengacamku dengan menggunakan Nenekku untuk meminta pertanggungjawaban dari anak yang kau kandung?” tanyanya dengan nada megejek.
“Ya?” tanya Ela tak mengerti maksud pertanyaan Adkey, atau lebih tepatnya memperjelas apakah telinganya tak salah dengar.
Adkey terkekeh “Tidak perlu berpura-pura tidak mengerti. Kau tahu apa maksudku” sinisnya.
Ginni tak mengerti apa yang keduanya bicarakan dan sedikit bingung mengenai bagaimana keduanya bisa saling mengenal.
Ela mengepalkan tangannya dan tersenyum sinis “Apa kau berpikir begitu picik mengenai aku? Aku tidak membutuhkan pertanggungjawabanmu sama sekali”
“Lalu mengapa bisa secara kebetulan bahwa kau adalah orang yang menolong Nenekku?”
“Ad, apa yang kau bicarakan?” tegur Ginni “Ela, tak perlu mendengarkan ucapan Adkey, dia hanya tak tahu kebenarannya” tambah Ginni lagi untuk menenangkan Ela.
“Dia pasti ingin memanfaatkan kesempatan untuk memiliki pria kaya raya dengan menggunakan tubuhnya dan kandungannya sebagai alasan”
Ela menundukkan wajahnya yang sudah tak bisa menahan air matanya untuk menggantung di pelupuknya, tapi ia malu harus menangis di hadapan Adkey karena pria itu akan semakin merendahkannya.
Setelah menghapus buliran yang sempat membasahi pipinya, Ela kembali menatap Adkey “Terima kasih atas penilaianmu kepadaku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau membayar diriku dengan harga yang sepantasnya karena telah bermain denganku. Kau bilang aku adalah jallang kan? Berarti aku harus mendapatkan bayaran akan hal itu”
“Baik, aku akan membayarnya” tegas Adkey sembari mengeluarkan dompetnya.
“Ad” tegur Ginni lagi, namun Adkey terus mengabaikannya dan kekeuh pada pemikirannya.
“Aku permisi, Nek” pamit Ela begitu ia menerima lembar-lembar uang yang Adkey sodorkan padanya. Ia berbisik pada dirinya sendiri, namun masih di dengar oleh Adkey dan Ginni, “Aku tidak yakin kalau aku akan membantu orang lain lagi”
“Kau keterlaluan Ad” Ginni memukul dadaa Adkey yang masih menatap punggung Ela yang kian menjauh dimakan jarak.