“Alya,” panggil Baskara sembari mengetuk pintu kamar yang tampaknya juga mengetuk renungan Aleya akan percakapan canggung bersama Baskara kemarin malam hingga mendapati dirinya telah telungkup tertidur pulas terselimut di sofa hijau ruang keluarga. Buru-burulah Aleya menyudahi siramannya.
Pintu yang terbuka itu pun menapakkan Aleya yang terikat sekain kaos putih basah kuyup akibat tetesan-tetesan air dari rambut sehabis keramas.
Telapak kakinya yang becek juga membasahi lantai keramik putih saat ia melewati Baskara yang tercenung memperhatikannya di dekat pintu yang berwarna coklat itu.
“Alya ... kamu pakai shampoo apa?” tanya Baskara dengan lamban sembari memutar badannya untuk melihat Aleya yang akan segera mengambil handuknya di kamar.
Refleks, Aleya langsung memutar badannya balik “Shampoo bayam,” sahut dingin Aleya karena giginya yang meretek dan bibirnya yang menggigil. Segera saja dengan tubuh bungkuknya, Aleya kembali membalikkan badannya. Namun, langkahannya terhenti karena panggilan Baskara kembali.
“Alya ... apakah wanginya seperti kacang?” tanya Baskara kembali sembari menghirup wangi rambut Aleya yang telah melangkah cukup jauh darinya.
Berpikir sejenak sembari menghirup wangi rambutnya sendiri, Aleya pun kembali mebalikkan badannya “Oh ini ... minyak jojoba!” ketus Aleya yang langsung berlari karena tak kuasa menahan dingin.
Setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk, Aleya pergi ke dapurnya. Ia memotong cabai, bawang dan juga sayuran. Tiba-tiba saja, datanglah Baskara dengan kemeja biru menyalakan kompor di samping Aleya.
“Kamu tidak libur?” tanya Aleya setelah memotong bersih sayuran.
“Aku belum mendapat kerja, di mana ibuku meletakkan kunci tokonya?” sahut Baskara yang disambung pertanyaan kepada Aleya seraya meletakkan panci kecil berisi air di atas kompor lalu mengambil cangkir dan sendok.
“Oh, tunggu sebentar,” sahut Aleya yang langsung pergi mengambilkan kunci toko. Tangan yang menggenggam kunci pun bersentuhan dengan tangan kosong Baskara.
“Terima kasih,” sahut Baskara sembari menunjukkan kunci yang sudah berada di genggamannya.
Aleya pun mengangguk sembari membalikkan badannya untuk segera memasukkan bahan-bahannya ke penggorengan minyak di atas kompor menyala.
Baskara yang berdiri terdiam di belakang Aleya hanya bisa menatap punggung perempuannya itu. Cangkir pun ditinggalkan di atas bidang datar keramik seraya dirinya mendekati istrinya dari belakang.
“Wangi apa ini?” tanya Baskara sembari menempelkam tubuhnya di punggung Aleya, ia pun melihat nasi goreng yang teroseng di penggorengan.
Hangat tubuh Baskara yang menyelimuti Aleya membuat perasaan Aleya berdebar, dirinya merasa bahwa suaminya, Baskara, sedang menciumi wangi rambutnya.
“Kan sudah aku bilang ... minyak jojoba,” sahut Aleya sembari mengencangkan dadanya untuk menghirup aroma masakannya dengan pelan menghentikan gerakan tangannya yang memegang sendok kayu.
“Bukan ...,” sahut Baskara seperti bisikan sembari menggeleng sampai-sampai dagunya bersentuhan dengan pundak Aleya yang menegang. “Maksudku wangi masakanmu,” sambung Baskara di telinga perempuannya, dengan tangannya yang teraba di punggung Aleya lalu menyusuri pundak dan berhenti saat menunjuk nasi goreng dalam penggorengan.
Perasaan Aleya bercampur seakan-akan telah teroseng sendok kayu, mendapati rasa penasaran Baskara pada masakannya ketimbang dirinya meskipun pipinya sudah serona cabai merah, kembali lagi Aleya membungkukkan pundaknya agar tidak bersentuhan dengan lengan bawah Baskara, ia pun bergeser lalu membalikkan tubuhnya setelah mematikan kompor.
“Oh itu,” lirih Aleya memandangi lutut Baskara yang terbalut celana jeans itu, tertekuk.
Seumpama Baskara hanya berdiri, terpaut menatap kelentikan bulu mata istrinya, maka sebongkah es batu besar akan membatasi hubungan mereka dan akan menciptakan suasana dingin yang tak bisa dihangatkan lagi.
“Tidakkah menurutmu ini canggung?” Baskara memecahkan kontak matanya dengan Aleya, ia mematikan kompor lalu mengambil pancinya dengan sarung tangan untuk menuangkan air panas itu ke cangkirnya.
“iya ....” Baskara pun langsung menyambung setelah meniup dan menyeruput pelan dari cangkirnya “Iya, sama, aku juga.”
“Kamu tidak minum teh?” tanya Aleya memecah sedikit kecanggungan.
“Aku tidak terbiasa di pagi hari,” sahut Baskara menarik perhatian Aleya pada sendok yang digenggam Baskara.
“Kalau kamu kerja ataupun kemana ... sarapan dulu, aku akan menyapu halaman,” gumam Aleya yang kembali seprti bisikan lalu meninggalkan Baskara meniup-nium air hangatnya di dapur.
Halaman yang luas dengan arena bermain untuk anak-anak memicu perasaan bahagia Aleya walaupun letih telah menaklukkan dirinya, tetapi ia tetap menyapu halaman itu. Tidak lupa Aleya membuka pagar yang berat dan panjang secara keseluruhan untuk mengenang masa-masa pranikah di hadapannya, yaitu, rumah gadisnya.
Seorang wanita dewasa pun melangkah melewati garis pagar, berdiri di antara bunga-bunga kering yang baru saja di kumpulkan Aleya.
“Halo, kamu siapa?” tanya wanita dewasa itu sembari melangkahkan kakinya satu langkah, menginjakkan kakinya di lingkaran bunga-bunga kering itu.
Aleya kebingungan akan pertanyaan wanita itu, alih-alih menjawab, dirinya malah bertanya balik.
“Halo ... mau cari siapa ya?” tanya Aleya dengan sopan seraya membungkuk merapikan bunga-bunga kering yang bersebaran keluar dari lingkarannya akibat langkah wanita itu.
“Ih gak sopan kamu, main tanya mau cari siapa, seharusnya kamu sapa saya dulu,” ketus wanita itu sembari menyingkirkan bunga yang baru saja di rapikan Aleya dengan kaki bersandalnya.
Aleya pun malah tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan wanita dewasa itu sembari mengambil sapunya yang baru saja terjatuh.
“Halo ...,” sapa Aleya dengan senyum giginya sembari melepaskan salah satu genggamannya pada sapu, ia pun melambaikan tangannya pada wanita itu.
“Maksud saya, panggil nama saya,” sahut wanita itu yang mulai merendahkan suaranya. Wanita dewasa itu langsung masuk ke teras depan lalu duduklah dirinya di kursi kayu.
“Mbak?” sapa Aleya dengan nada tingginya seperti bertanya seraya kembali mengumpulkan bunga, kali ini bunga-bunga segar yang bertebaran.
“Panggil saya kakak!” sahut wanita itu dengan lantang, tetapi sedikit sopan.
“Alya ada—“ panggil Baskara yang terpotong ketika matanya bertemu dengan wanita dewasa itu.
Wanita dewasa itu langsung beranjak dari kursi, menghampiri Baskara yang terkejut melihanya.
“Bibi, kapan Bibi pulang?” tanya Baskara sembari tersenyum gigi.
“Baru saja ...,” sahut bibi itu dengan ramah sembari memperhatikan Aleya yang sedang memasukkan bunga segar ke dalam wadah kaca
Melihat gerak-gerik bibinya, Baskara pun langsung menggaet tangan bibinya untuk menghampiri Aleya yang sedang berjongkok, seketika Aleya berdiri karena oleh mereka.
“Aleya, perkenalkan dia Bibi Aisyah, bibiku!” ucap Baskara yang langsung melepaskan gaitannya sembari menunjuk secara halus.
“Bibi, perkenalkan dia Aleya, pacarku,” ujar Baskara sehingga menarik tatapan Aleya.
“Oh, jadi kamu main bawa pacar ke rumah ... dulu kok ga begitu?” tanya sirik bibi itu lalu ia sambung kembali “Kak Aleya, di mana rumahmu?” tanyanya halus dan lambat seperti bisikan.
“Rumahku di depan, Bi—“ Belum usai Aleya mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, mendadak saja Baskara memotongnya.
“Aleya tinggal di sini, Bi ... bersamaku,” jawab Baskara dengan semakin lembut karena memotong pernyataan Aleya.
“Baskara, kamu sudah dewasa ya ... tinggal Cuma berduaan sama perempuan,” kata bibi tersebut dengan sangat lambat yang segera saja dibalas Baskara.
“Bibi ... Aleya ditinggal orang tuanya, jadi orang tuanya menitipkan anaknya pada sang pacar ...,” sahut Baskara dengan tegas lalu ia lanjutkan kembali, “Orang tuaku dan orang tuanya tidak banyak bicara mengenai hal ini, jadi menurutku semasih aku bisa menjaga Aleya, itu wajar saja, Bi.”
“Senang bertemu kembali dengan Bibi, aku jadi bisa bicara panjang, aku pergi dulu ke toko ya, Bi!” ucap Baskara yang menyudahi obrolan panjangnya dengan Bibinya.
Aleya melambaikan tagan kepada Baskara yang berdiri di hadapannya, bukannya segera pergi, Baskara malah mengangkat tangannya ke depan wajah Aleya. Namun, bagaimanapun juga Baskara memberi isyarat dengan pamit menggunakan jidatnya sendiri, Aleya tetap saja tidak mengerti. Alhasil, Baskara pun memngetuk langsung jidat Aleya dengan punggung tangan kanannya sembari terkekeh karena melihat perempuannya itu langsung memegang jidatnya sendiri.
“Bibi, mumpung Baskara pergi, aku mau pulang ke rumahku di depan sebentar saja, Bibi bisa jagain rumah luas ini, Bibi?” pinta Aleya dengan cepat setelah melihat Baskara yang sudah pergi dengan motornya.
Tanpa berpikir lambat Bibi itu pun langsung menyetujui itu dengan nada yang sangat sopan dan lamban “Baiklah!"