bc

Anak Muda Menikah

book_age4+
2
FOLLOW
1K
READ
HE
arranged marriage
heir/heiress
sweet
like
intro-logo
Blurb

“Dulu kita hanya bertegur sapa karena kunci ..,” gumam Baskara yang terbengkalai lantaran dirinya terkekeh akibat gumamnya sendiri. “Sekarang kita malah menikah karena permintaan orang tuaku,” sambung Baskara sembari tersenyum menatap Aleya yang menunduk melihat tehnya.

chap-preview
Free preview
Ditinggal Orang Tua
“Alya,” lirih seorang perjaka bernama Baskara yang baru saja pulang di malam Minggu sembari melihat punggung perempuannya yang seharusnya ia panggil 'Istriku,' terbalut sweter berwarna putih kemerah-merahan menyerupai warna kulitnya. “Iya Baskara,” sahut lembut perempuannya bernama Aleya seraya beranjak dari sofa ruang keluarga menyudahi khayalan malam pertama yang seharusnya mereka layani bersama kemarin. Ingin hati dirinya memanggil pasangannya itu dengan sebutan ‘Suamiku.' Namun, apalah daya dirinya yang selalu menunjukkan pipi merona di dekat suaminya. “Kamu kenapa?” cemas Aleya sesaat menghampiri suaminya, Baskara yang berdiri memikul ransel biru tua besar dengan wajah asan tak asan. Memperhatikan kecemasan Aleya membuat Baskara menegapkan badannya lalu melangkah ke kamar mereka. Aleya dibuat bingung oleh Baskara yang bertingkah seakan ingin pisah ranjang dengannya. Namun, kebingungan itu ditepis oleh Baskara sendiri. “Aku tidur diluar ya ...,” ucap Baskara sambil tersenyum mengambil bantal. Kemudian kembali ia lanjutkan ucapannya, “Maksudku di kamar ibu dan ayahku selagi mereka tidak di rumah.” Satu pun dari mereka tidak ada yang berpindah malah mereka hanya berdiri saling tatap-menatap. Baskara pun tersenyum lebih dalam sembari membungkuk seolah bertanya ‘ada apa?’ kepada Aleya. “Hmm ...,” gumam Aleya yang berpijak di samping ranjang juga sembari menyentuh-nyentuh papan ranjang. Sebenarnya dirinya ingin merasakan seperti apa sentuhan malam pertama yang di katakan teman sekolahnya. “Aku bingung mau bilang apa,” bisik Aleya. Alis Aleya yang terangkat ke atas membuat dirinya tampak seperti seseorang yang sedang berpikir keras. Hal itu hanya membuat Baskara terkekeh melihatnya. Ransel biru tua yang cukup memberatkan punggungnya, membuat Baskara keluar kamar sembari merangkul bantal. Baskara masuk ke kamar orang tuanya meninggalkan Aleya yang mengikutinya hingga ke ruang keluarga. Pipi Aleya kembali merona karena dirinya kembali memikirkan pernikahan yang berlangsung secara diam-diam kemarin. Cengar-cengirlah Aleya dengan lamunan kebersamaan dirinya dan Baskara di kasur kemarin. Namun, kenyataan yang ia rasakan menghapus senyuman di wajahnya. Nyatanya, seusai menikah, Baskara malah langsung pergi tidur dengan baju pernikahan di kasur yang sama bersamanya. Mengendap-endaplah Aleya di dekat pintu kamar yang terbuka milik orang tua Baskara, memata-matai Baskara yang sedang rebahan dengan kaos putih berlengan panjang sembari memainkan ponselnya. Dorongan batin Aleya malah membuat Aleya merasa tidak enak dengan Suaminya sendiri, ia mendapat perasaan bahwa dirinya yang mengendap-endap dan mengawasi prianya adalah hal yang bukan sewajarnya dilakukan seorang istri, apalagi dirinya baru sehari menyandang status istri. Namun, Aleya tetap mengintip suaminya itu sembari menempel di dinding dan pada saat mata Baskara mengarah ke mata Aleya, Aleya hanya melanjutkan kegiatannya begitu juga Baskara. Kembali lagi rasa ketidakenakkan memenuhi benak Aleya, Aleya pun mengetuk pintu kamar itu. “Baskara ...,” panggil Aleya dengan kisi-kisi khawatir akan kehadirannya yang mengganggu aktivitas Baskara, tetapi Aleya tetap menyambung kata-katanya “Aku tidak bisa menemukan remote,” bisik pelan Aleya dengan tanganya yang melingkari bibirnya saat sedang berbisik. Mendengar panggilan Aleya, Baskara pun mengangkat kepalanya dari bantal untuk melihat Aleya yang sedang berbisik padanya. Baskara juga langsung beranjak dari kasurnya lalu melewati Aleya yang sedang menempel di dinding yang membatasi antar kamar orang tuanya dan dapur. Memutarkan badannya mengikuti langkahan Baskara ke dapur, Aleya tetap berdiri di dekat dinding itu menunggu Baskara yang sedang memasak air dikompor, ia menunggu dengan tenang menggenggam kedua tangannya, menunggu Baskara untuk kembali padanya mencarikan sebuah remote. Setelah menghidupkan kompor, Baskara kembali melewati Aleya. Baskara Melangkah ke arah rak tinggi yang mengapit televisi tempel di tengah ruang keluarganya, dengan tubuh tingginya Baskara dapat dengan mudah meraih remote di atas lemari tersebut, melihat hal itu hanya membuat Aleya mengangguk-anggukkan kepalanya sembari melangkah ke Baskara. “Ini,” ucap Baskara sembari memberikan remote tersebut ke Aleya, lekas saja Aleya mengambil remote itu dengan kedua tangannya. Kembali melangkah ke dapur sama seperti Aleya yang kembali mengintip-intip Baskara seraya dirinya duduk di sofa ruang keluarga yang berwarna hijau itu, sesekali Aleya melihat ke arah televisi yang baru saja ia nyalakan menampilkan saluran kartun dan sesekali ia menoleh ke arah dapur untuk mengecek Baskara. “Kamu nyaman?” tanya Baskara dari dapur beriringan dengan bunyi denting-denting sendok yang digunakan Baskara untuk mengaduk. Mendengar pertanyaan Baskara yang tiba-tiba membuat Aleya sedikit terkesiap, apalagi ia sedang memastikan bahwa Baskara sedang menampakkan punggung padanya. Aleya pun menganggukkan kepalanya sewaktu Baskara membawa gelas besar dari dapur. Aleya kembali menyaksikan kartun favoritnya dengan tanggannya yang menggenggam lutut di bawah meja ruang keluarga. “Maafkan aku ya,” ucap tulus Baskara sembari menyungguhkan Aleya segelas teh di atas meja. Permintaan maaf Baskara itu malah membuat Aleya terkejut dengan matanya yang membeliak dan kepalanya yang mendongak ke atas, menatap ke arah Baskara. “Dulu kita hanya bertegur sapa karena kunci ..,” gumam Baskara yang terbengkalai lantaran dirinya terkeke akibat gumamnya sendiri. “Sekarang kita malah menikah karena permintaan orang tuaku,” sambung Baskara sembari tersenyum menatap Aleya yang menunduk melihat tehnya. Setelah mendengar gumam Baskara, Aleya pun meminum tehnya dengan kedua tangan melingkari gelas tersebut, ia melirik melihat ke atas, tepatnya ke arah rak-rak buku sembari mengejap-ngejapkan matanya. “Apa alasanmu menyetujui permintaan orang tuaku, Alya?” tanya Baskara yang penasaran sembari menyender di sofa dengan matanya tertuju memperhatikan wajah Aleya dari samping. “Karena kamu tinggi dan juga baik.” Kedua tangan Aleya masih melingkari gelas tehnya padahal ia sudah meminum teh itu sebelum ia membalas. Aleya kini kembali mengeluarkan unek-uneknya, “Awalnya, aku pikir kamu itu pria yang dingin, tapi nyatanya kamu pernah sekali tertawa. Saat aku salah memberikan kunci, aku malah memberi kunci rumahku,” sahut Aleya sembari tertawa mengingat mengenang setiap pertemuan dirinya dan Baskara. “Kamu tidak pernah basa basi begitu juga denganku,” sambung Aleya kembali dengan nadanya. “Eh,” kejut Aleya yang refleks memandangi Baskara. “Pas hujan, pas orang tuaku pergi tiba-tiba....” Ia memandangi wajah Baskara secara jelas untuk pertama kali. “Kamu memarkir sepeda motormu di depan rumahmu ...,” ucapnya yang berlanjut seraya memandang mata Baskara. “Lalu kamu menyeberang di tengah hujan, memberikan kunci rumah kepadaku ... yang berdiri di depan pagar dan terkena hanya setitik ...,” sahut Aleya yang belum terselesaikan sembari membentuk isyarat titik dengan jarinya kepada Baskara. “Hujan yang lebat.” “Sepedaku yang kehujanan saat itu,” tutup Aleya setelah memandang hidung, bibir, dan segenap wajah Baskara. Sesudah itu, Aleya pyn menatap dan memain-mainkan seluruh jarinya pada gelas yang ia pegang dengan kedua tangannya. “Terima kasih,” bisik Aleya yang tak tersampaikan ke telinga Baskara. “Jadi, kamu suka pria tinggi?” canda Baskara yang diakhiri dengan senyuman gigi menatap Aleya. “Bukan begitu,” sahut geregetan Aleya yang sedikit kesal sembari menyentakkan gelas kosong di atas meja dengan kedua tangannya memicu gelak tawa Baskara. “Tapi, terima kasih ... sudah menyetujui permintaan orang tuaku,” gumam Baskara menghentikan dirinya memperhatikan wajah Aleya, ia memandangi meja sekarang. “Sebenarnya itu juga permintaan orang tuaku ...,” ucap Aleya menarik perhatian Baskara kembali. “Karena aku tidak pernah sendiri semalaman di rumah ... hari ini mereka pergi, makanya mereka menikahkanku denganmu kemarin.” Untuk pertama kalinya Aleya tersenyum lebar menatap Baskara. Mendadak saja senyuman itu menghilang dari wajah Baskara, ia juga lebih memilih untuk menyaksikan televisi sembari berbicara, “Orang tuaku dan orang tuamu pasti sedang membuat bisnis sekarang!” “Tidak, mereka jalan-jalan ke Eropa. ibu dan ayahku mengatakannya padaku,” sahut jujur Aleya, seketika suasana suara monyet di kartun itu memenuhi kesunyian ruang keluarga. Baskara pun kembali memecah kesunyian, “Mungkin aneh karena kita belum pernah berkenalan,” ucap Baskara yang kemudian ia sambung kembali, “Jadi ... kenalin namaku Baskara Aditya umurku 18 tahun.” “Aku Aleya Iskandar dan umurku 17 tahun, ayo mulai dari awal!” tutup Aleya dengan badannya yang membungkuk terbalut sweater merah muda sembari tersenyum lebar begitu juga dengan Baskara dengan senyum giginya dan tubuhnya yang mengenakan kaos putih berlengan panjang, bersender di sofa hijau ruang keluarga.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook