Tertukar?

1277 Words
Sedangkan Anisa yang asli, saat ini dia tengah asyik menikmati jajanan yang tadi sempat dia beli di pasar saat kabur dari ibunya. Dia duduk di bawah pohon pinggir jalan sambil menikmati suasana sejuk dan tenangnya jalanan yang sepi. Tidak banyak orang yang lewat dari sini. Mobil serta kendaraan lain pun hanya sesekali berlalu lalang. Dia biasa nongkrong di sini bersama Raka karena tempatnya terasa nyaman. Tetapi karena kini dia tidak tau di mana anak itu berada, dia pun memutuskan untuk duduk di sini sendirian. Sambil menyantap makanannya dengan penuh senyuman, Anisa terus menatap ke arah sekitar karena menurutnya pemandangannya cukup indah untuk di pandang. "BRO! LO YAKIN ANISA BIASA NONGKRONG DI SINI?!" Di saat dia tengah menikmati pemandangan, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara dari arah belakangnya. "IYA, BRO! GUE YAKIN! GUE SERING LIAT DIA DI SINI SAMA RAKA!" sahut yang lain. Anisa yang mendengar percakapan itu, tentu saja langsung mengalihkan pandangan ke arah sumber suara tersebut karena nama nya dan nama Raka disebut oleh mereka. Dan, jleb...! Anisa mata langsung terbelalak saat melihat orang-orang itu. Dia sangat mengenal mereka, mereka adalah orang-orang yang kemarin lusa dia pukuli sampai babak belur saat tawuran dengan salah satu rival sekolah nya. "Mampus, gue! Mereka pasti mau balas dendam!" ujarnya dalam hati saat melihat mereka yang bergerombol sambil membawa balok kayu dan pemukul bisbol. Dia yakin, jika dia tertangkap oleh mereka, mereka akan memukulinya secara habis-habisan. Dan jika dia maju atau menampakkan diri saat ini untuk melawan mereka secara berani, dia tidak akan mungkin menang karena mereka semua bersenjata dan juga bertubuh kekar. Di tambah, dia pun juga kalah jumlah. Anisa seorang diri sedangkan mereka bersepuluh. Sehingga, demi kebaikan dan keselamatan diri sendiri, Anisa pun memutuskan untuk mundur. Dia bangkit dengan buru-buru dari duduknya untuk melarikan diri secara diam-diam. Tetapi na'asnya, karena terlalu fokus memperhatikan mereka, dia jadi tidak memperhatikan jalanan sekitar dan hampir tertabrak oleh mobil karena dengan gegabah berjalan ke tengah jalan tanpa memperhatikan kanan-kiri. "Hih...! Kalau nyebrang, liat-liat dong! Mau mati apa berdiri di tengah jalan?!" omel si supir yang hampir menabrak nya. Anisa memilih acuh. Dia memilih untuk mengabaikan omelan si supir dan terus melanjutkan langkah. Satu-satunya hal yang ada di dalam benaknya saat ini hanyalah tentang bagaimana cara kabur dari sini tanpa ketahuan oleh mereka. "Eh... Pah, itu bukannya Aira, yah?" ucap istri si pemilik mobil yang tidak lain dan tidak bukan adalah om dan tantenya Anisa serta Aira. Tantenya tidak sengaja melihat wajah Anisa saat supir mereka hampir menabraknya. "Ah, mama ngawur! Mana mungkin Aira ada di sini. Ini kan lokasi nya jauh dari rumah, mah," jawab suaminya, tidak percaya. "Ih, mama serius, pah!" sahut beliau dengan nada yang sedikit kesal karena suaminya tidak percaya dengan apa yang dia katakan. "Itu cuma perasaan mama doang kali. Aira saat ini lagi ada di rumah dan ngerjain pekerjaan rumah, mah. Ngga mungkin dia ada di sini. Tau tempat ini ada aja papa rasa Aira ngga tau, mah. Mama kan tau sendiri kalau dia ngga pernah ke mana-mana. Pulang sekolah langsung pulang dan kerja," bantah suaminya lagi. "Ih! Papa ngga percayaan banget sih sama mama!" tantenya mulai mendelik. "Pak, hentiin mobilnya sekarang juga!" sambung beliau, memberikan titah kepada supir mereka. "Baik, nyonya," jawab si supir yang langsung menurut. "Noh, silahkan papa liat sendiri!" ujar beliau dengan ketus seraya menurunkan kaca mobil dan mengarahkan pandangan suaminya ke arah Anisa berada saat ini. "Eh iya Mah, mama bener! Itu Aira! Ngapain anak itu di sini?! Ayo kita seret dia pulang dan kasih hukuman, mah! Berani-beraninya dia main sejauh dari rumah!" Setelah melihat Anisa, suaminya langsung percaya. "Mama bener kan, pah?! Mama. Ngga bohong kan?!" sahut istrinya dengan nada ketus seraya memalingkan wajah ke arah samping karena ngambek. Melihat hal itu, suaminya langsung tersenyum dan menyentuh lengan atasnya dengan lembut. "Iya, mah. Maaf, papa yang salah karna udah ngga percaya sama mama. Maafin papa ya, mah. Mama mau apa sebagai permintaan maaf? Mobil terbaru? Belanja baju sama papa? Atau kita liburan ke Turki? Kemarin kan kata mama, mama pengen banget ke sana setelah nonton sebuah film yang karakter utamanya bilang kalau salah satu tempat di negara itu adalah impian dia," beliau langsung membujuk istrinya agar berhenti marah dan merajuk. "Turki!" jawab istrinya. "Maksud mama?" "Aku mau ke Turki, pah! Aku mau ke sana, ke mimpinya dia!" jawab istrinya. "Iya, mah. Iya...," sahut beliau yang langsung menyetujuinya. "Ayo kita ke sana setelah proyek ini selesai," sambung beliau seraya memeluk istrinya dengan hangat untuk memperbaiki perasaannya. "Sekarang udah ngga marah lagi kan sama papa?" "Ngga," jawab istrinya. "Kalo udah ngga, sekarang mendingan ayo kita pergi keluar dan seret anak itu pulang sebelum dia pergi lebih jauh," usul suaminya yang langsung mendapat anggukan dari beliau. Mereka segera membuka pintu mobil dan langsung mengejar Anisa yang langkahnya sudah mulai menjauh. "Hey...! Hey...! Aira, tunggu! Berhenti!" teriak mereka berdua sembari lari-larian mengejar Anisa. "Itu dua orang ngapain sih ngejar-ngejar gue?! Udah sukur gue ngga ngomelin mereka karna hampir nabrak gue!" gerutu Anisa sambil mempercepat langkahnya dan membuat mereka terpaksa harus berlari lebih kencang untuk menangkapnya. "Nah dapet kamu yah!" omel tantenya dengan ngos-ngosan sembari memukul punggung Anisa setelah berhasil mengejarnya. "Ish! Apaan sih lo main mukul-mukul punggung gue?! Sakit anjir, bu!" protes Anisa yang sama sekali tidak menunjukkan sopan santunnya kepada yang lebih tua. "Heh, kurang ajar kamu yah! Berani-beraninya kamu ngomong kayak gitu ke tante kamu!" kini om nya yang angkat bicara. "Eh, pak, bini lo duluan yang mulai! Dia yang duluan mukul gue tanpa sebab! Jadi wajar kalo gue marah! Lagian kalian ngga tau diri banget sih, pak?! Udah sukur gue ngga nuntut apa-apa saat mobil kalian hampir nabrak gue!" jawabnya dengan berani dan kasar sambil terus menatap ke arah gerombolan orang yang sedang mencarinya. "Udah ya, pak. Gue sibuk, bye!" sambung Anisa seraya berniat pergi dari sana karna tatapannya tidak sengaja beradu dengan tatapan salah satu orang dari gerombolan itu. "Heh, Aira! Mau kemana kamu?! Jangan pergi!" om nya langsung meraih tangannya agar langkahnya terhenti. "Ih..., apaan sih, pak?! Dan kenapa juga kalian dari tadi manggil gue Aira terus?! Gue bukan Aira, pak! Kalian salah orang! Lo bukan om gue dan dia bukan tante gue! Gue ngga kenal sama kalian!" Anisa berusaha melepaskan tangannya dari beliau tanpa menggunakan kekerasan. "Kamu ini kenapa, Aira?! Kenapa jadi aneh gini?! Ayo pulang! Kamu harus di beri pelajaran agar kembali ingat siapa diri kamu! Berani-beraninya kamu berbohong sama kami dan nyangkal kalau kamu bukan Aira!" om nya langsung menarik tangannya dan aksi itu dibantu oleh tante nya. "Ih....," Anisa ingin kembali berontak dan menyangkal. Tetapi karena gerombolan yang mengejarnya itu sudah semakin dengan mereka, Anisa pun berubah pikiran untuk menyelamatkan dirinya. "Eh iya-iya, ayo pulang, ayo pulang, gue Aira," bohongnya sambil melempar senyum lebar ke arah mereka. Mereka membawanya masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana. Keduanya tidak tau-menau tentang insiden tadi pagi karena sedang berada di luar kota sejak semalam. Sehingga, saat melihat Anisa, mereka pun langsung menganggap kalau dia adalah Aira dan membawanya pulang. Mobil terus melaju. Dan setelah Anisa merasa aman karena sudah menjauh dari mereka, dia pun mulai merasa bingung dengan situasi ini. "Mereka sebenernya siapa? Kenapa mereka terus aja manggil gue dengan nama Aira sejak tadi? Dan mau di bawa ke mana gue?!" batinnya bertanya-tanya. "Ah, terserah, lah. Selama masih satu negara, satu pulau dan satu kota, ke mana pun mereka bawa gue, gue ngga peduli karna gue pasti bisa nyari jalan pulang dan balik ke rumah," ujarnya lagi, dalam hati. Sejauh ini, dia masih tetap bersikap tenang di tengah-tengah mereka dan berpura-pura menjadi anak baik. Hingga pada akhirnya, mobil yang terus melaju itu pun kini berhenti di sebuah rumah megah yang tidak lain dan tidak bukan adalah rumah milik keluarganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD