Salah orang

1198 Words
Esok pun tiba. Dan seperti janji Anisa kemarin, hari ini dia harus rela untuk di ajak pergi membeli pakaian wanita untuk di pakainya sehari-hari. "Gimana sayang? Yang ini bagus ngga menurut kamu?" tanya ibunya sambil menunjukkan beberapa pakaian wanita ke hadapannya saat berada di salah satu toko di pasar. Anisa menghela nafasnya saat melihat pakaian yang ditunjukkan oleh ibunya itu. Jujur, dia sangat risih. Melihatnya saja pun sudah mampu membuatnya bergidik ngeri. Lebay memang, tapi itulah dia. Perempuan yang enggan untuk terlihat seperti perempuan. Menurutnya pakaian anak perempuan itu ribet, apalagi saat memakai rok atau dress. Dia merasa pergerakannya menjadi tidak bebas kalau semisal memakai pakaian itu. Dengan senyum yang di paksakan, Anisa berujar, "i... iya bagus kok, bu. Tapi apa itu dress-nya itu ngga kependekan ya? Kayaknya ngga bakalan muat deh bu di badan, Anisa." Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya dia memberikan komentar kepada setiap baju pilihan ibunya. "Ngga kok sayang, ini pas buat kamu. Baju ini kan memang panjangnya cuman selutut. Bagus tau ini, kita beli yang ini aja yah," sahut ibunya sambil tersenyum lebar. Anisa kembali menghela nafas, dia sungguh merasa frustasi saat ini. Dihadapkan dengan beberapa pakaian perempuan seperti ini benar-benar membuat pikirannya kacau. Bagaimana mungkin dia bisa memakainya? Tapi bagaimana juga caranya untuk menolak permintaan ibunya? Itulah yang sedang Anisa pikirkan saat ini di dalam benaknya. "Terserah ibu aja, Anisa nurut," pasrah nya. Jika dia tidak mengakhiri pemilihan ini, Anisa rasa mereka akan terus berkeliling toko pakaian sampai sore dan dia tidak mau itu. Ibunya tersenyum simpul kemudian memberikan baju-baju itu kepada pemilik toko untuk di bungkus. Sedangkan Anisa, dia duduk diam di depan toko, menunggu ibunya. "Ayo sayang, kita ke tempat lain," ajak ibunya setelah beliau telah selesai melakukan pembayaran. Anisa lagi-lagi menurut. Mereka pergi dari sana untuk beralih ke toko lain. Dan kali ini, toko sepatu khusus perempuan lah yang menjadi pilihan ibunya untuk disinggahi. "Bu, sendal jepit swallaw Anisa kan masih ada, itukan juga di pake cewek, bu. Jadi kita ngga usah beli sendal atau sepatu lain ya bu," pintanya, mencoba membujuk ibunya agar dia terhindar dari sendal-sendal yang modelnya sangat tidak dia sukai itu. "Lagian emang ibu ngga sayang apa sama duitnya? Hambur banget ini tuh, bu. Saking hamburnya, kalo semisal Anisa pake uangnya buat beli bakso, bisa mabok bakso Anisa selama sebulan dengan duit itu, bu," sambungnya. "Itu kan beda, sayang. Sendal jepit mah buat di rumah. Kalo sendal-sendal di sini kan buat dibawa pergi jalan-jalan," jawab ibunya. "Tapi kan hambur, bu." "Ngga hambur, ih! Lagian ibu sama bapak kan cari duit juga buat kamu. Untuk kebutuhan hidup dan sehari-hari kamu, sayang." "Tapi kan, bu...," Anisa. "Ngga ada tapi-tapian, sayang! Kemarin kan kamu udah janji sama ibu bakal nurut, kok sekarang malah protes mulu sih?" Belum sempat Anisa menyelesaikan perkataan, ibunya sudah langsung memotong. "Ah, yaudah deh terserah ibu, aja," jawab Anisa menggerutu. "Tapi Anisa mau ke toilet bentar ya, bu," sambungnya seraya langsung berjalan pergi dari sana untuk kabur. "Jangan lama-lama yaa...!!! Jangan kabur juga...!!!" teriak ibunya karna Anisa sudah jauh. Anisa memilih untuk mengabaikan teriakan ibunya dan terus berjalan menjauh. Dan dilain tempat, Aira saat ini tengah di siksa oleh sepupunya. Dia mendapat cambukan dengan ikat pinggang di punggungnya hanya karna dia tidak sengaja merusak baju kesayangan sepupunya itu saat menggosok pakaian. "Lo sengaja kan ngerusak baju kesayangan gue?! Iya, kan?!" bentak Siska, sepupu nya, mendelik sambil menjambak rambut Aira setelah puas mencambukinya. "Ngga Sis...., ngga...! Aku beneran ngga sengaja, aku berani sumpah...," jawab Aira sambil menangis tersedu-sedu. "Halah bohong! Pokoknya gue ngga mau tau, lo harus gantiin baju gue dengan yang sama persis!" "Tapi aku ngga tau, Sis. Kamu belinya di mana..." "Ya itu urusan lo! Pokoknya gue ngga mau tau, lo harus cari!Dan inget ya, Ra! Jangan pernah coba-coba buat balik ke sini sebelum lo nemuin gantinya! Karna kalau sampai lo lakuin hal itu, abis lo di tangan gue!" delik Siska lagi seraya menyeret Aira untuk keluar dari dalam rumah. Aira tidak bisa berbuat apa-apa, badannya terasa lemas dan tidak berdaya. Inilah yang dia benci dari dirinya sendiri. Kenapa dia sangat lemah dan tidak pernah punya kekuatan serta keberanian untuk melawan, kenapa dia selalu menjadi korban? Itulah yang ada di dalam benak Aira saat ini. Dia terus merutuki diri sendiri karena lemah. Para pembantu yang melihat hanya bisa diam. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Aira meskipun mereka sangat ingin melakukannya. Aira pergi dengan tangisnya, kali ini, dia merasa ingin menyerah saja karena sudah merasa tidak kuat lagi menahan siksa. Rasanya, dia ingin pergi sejauh mungkin dari mereka. Dengan isak tangis yang masih menderu, dia berjalan tanpa arah dengan langkah yang tertatih-tatih karena menahan perih. Dengan duit seadanya di kantong, dia memberhentikan sebuah angkot dan masuk ke dalamnya. Dan sontak saja, semua penumpang yang ada di dalam angkot itu pun langsung menatap heran dan kasihan ke arahnya. "Neng, kenapa? Kok bisa jadi kayak gini?" tanya seorang penumpang namun tidak dihiraukan oleh Aira yang pikirannya sedang berkelana ke mana-mana. Angkot berjalan dan para penumpangnya pun terus berganti. Aira masih tetap duduk di kursinya sambil terus menatap ke luar jendela. Kini, dia sudah tidak tau lagi di mana dia berada karena jalannya terlihat sangat asing. Hingga pada akhirnya, Aira terpaksa turun saat si angkot sudah berhenti di terminal peristirahatan angkot. Uangnya telah habis untuk ongkos. Yang tersisa di kantongnya saat ini hanyalah seribu perak. Sehingga, dia pun terpaksa harus kembali berjalan tertatih-tatih. "Kenapa semua buram dan berputar-putar? Apa lagi ada gempa bumi?" ujarnya dengan pelan saat merasakan bumi di sekitar nya berguncang dan pandangan nya mulai mengabur. "Loh... Nis, lo kenapa?!!!" Dalam kondisi itu, samar-samar dia mendengar suara seseorang dan merasakan sebuah tangan memegang bahunya. Dan setelah itu, Aira pun tidak bisa melihat dan merasakan apa-apa lagi. Kesadaran nya menghilang dan dia jatuh pingsan. Orang itu adalah Raka. Dia mengira kalau Aira adalah anisa karna mereka benar-benar terlihat mirip, seperti pinang yang di belah dua. Dengan perasaan panik karena melihat Aira yang dia kira adalah Anisa pingsan, Raka menggendongnya dan membawa nya pulang ke rumah karena untungnya rumah mereka berada tidak jauh dari sana. "Bu...!!! Ibu...!!!" teriak Raka di depan pintu rumah Anisa setelah sudah sampai di sana. "Sebentar...!" sahut ibunya dari dalam. Beliau baru saja pulang dari pasar dan meninggalkan Anisa di sana karena beliau sudah dapat menebak kalau putrinya itu akan kabur. "Astagfirullah hal azim, Anisa!!! Raka, Anisa kenapa?! Kenapa dia kayak gini?!" tanya ibunya dengan shock saat melihat Aira yang kondisinya mengenaskan berada di dalam gendongan Raka. "Kita bicarakan itu nanti, bu! Yang penting sekarang kita bawa masuk dulu Anisa ke dalam," sahut Raka yang langsung mendapat anggukan setuju dari beliau. Mereka dengan buru-buru langsung membawanya masuk dan membaringkannya ke kamar Anisa. "Raka..., Anisa kenapa, Raka! Tolong jawab ibu!" tanya ibunya lagi namun kali ini dengan berlinang air mata. "Raka juga ngga tau bu. Tadi pas Raka ketemu Anisa di jalan, dia udah sempoyongan. Dan pas Raka samperin, dia langsung pingsan," jawab Raka yang juga sama paniknya dengan beliau. "Ya allah nak..., Kamu kenapa...! Kenapa kamu bisa jadi kayak gini...?" tangis ibunya mulai pecah sembari menggenggam tangan Aira yang beliau kira adalah Anisa dengan erat. Sedangkan Raka, setelah menjawab pertanyaan dari beliau, dia langsung pergi untuk memanggil dokter agar Aira segera di tangani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD