Di lain tempat, seorang gadis remaja sedang merasakan siksaan dari keluarganya di sebuah rumah besar yang terlihat megah.
Dia di kurung di dalam gudang sendirian.
Namanya adalah Amira, seorang gadis cantik dari keluarga kaya namun tidak pernah merasakan kebahagiaan. Dia di siksa dan di jadikan pembantu di rumah sendiri. Hidup bersama dengan 2 orang sepupu serta om dan tantenya membuat dirinya hidup layaknya seperti cinderella di kehidupan nyata.
Hanya saja bedanya, tidak ada pangeran ataupun ibu peri yang datang membantu dirinya untuk terbebas dari siksaan mereka.
Kehidupan yang dia jalani terasa bagai neraka dunia. Tapi meskipun begitu, dia selalu tetap sabar dan tabah menjalani semuanya.
Bahkan membenci mereka yang selalu menyiksa dirinya saja pun tidak.
"Mereka adalah keluargaku satu-satunya," itulah yang selalu ada di dalam benak gadis malang tersebut.
Kebaikan hatinya serta kesabarannya membuat mereka selalu leluasa untuk berkuasa atas dirinya.
Seperti saat ini, hanya karna masalah sepele yaitu tidak sengaja ketiduran saat pulang sekolah dan melewatkan pekerjaannya untuk membantu para pembantu membereskan rumah mereka, dia jadi di hukum untuk tidur di gudang malam ini tanpa di kasih makan ataupun minum oleh tantenya.
Padahal sebenarnya, secara hukum rumah ini adalah miliknya. Rumah ini adalah warisan dari kedua orang tuanya yang telah lama meninggal. Dan karna dia ditinggalkan terlalu dini yang mana pada saat itu dia masih berusia 2 tahun, hak asuh atas dirinya jatuh kepada keluarga om nya, adik dari ayahnya. Om nya berkewajiban untuk merawatnya sampai dewasa dan beliau pun ditugaskan untuk memimpin perusahaan sampai dia mampu untuk melakukannya.
Dan oleh karna itu, seluruh harta benda yang menjadi miliknya pun dapat dengan leluasa mereka gunakan dan miliki selama dia masih tinggal dan berada di bawah asuhan mereka.
Dan na'asnya, gadis malang itu sama sekali tidak tau-menau tentang hal itu. Mereka selalu menutupinya karna telah buta oleh harta dan ketamakan.
Mereka menciptakan skenario palsu dengan selalu mengatakan kepada dirinya bahwa dia hanya menumpang di rumah ini jadi harus tau diri. Jika berani macam-macam atau bertingkah, mereka mengancam akan mengusir dia ke jalanan.
Mereka pun juga selalu mengatakan bahwa dia seharusnya bersyukur karna mereka sudah mau menampung dirinya yang sebatang kara itu. Dan untuk membuat skenario palsu tersebut terlihat nyata, mereka menyiksanya setiap hari dan menjadikannya pembantu pribadi di rumah sendiri.
Untungnya mereka tetap mau menyekolahkan dirinya. Atau lebih tepatnya, terpaksa menyekolahkannya. Karna bagaimana pun juga, kuasa hukum Alm. ayahnya sesekali akan pergi mengawasi dan melihat keadaannya.
Dan setiap kali hari itu tiba, mereka akan sangat bersikap baik kepada Amira. Dan setiap kali hari itu tiba, sebelum beliau datang untuk memeriksa kondisi Amira, mereka terlebih dulu mengancam gadis itu agar jangan sampai berbicara yang macam-macam dan apalagi sampai berbicara jujur tentang kondisinya.
Mereka memaksa Amira untuk berbohong dan mengatakan kalau hidup nya baik-baik saja dan bahagia bersama mereka.
Ya, mereka memang tidak menerima semua harta kekayaan itu secara cuma-cuma. Sebelum menandatangi hak asuh Amira, mereka sudah terlebih dahulu berjanji di atas sebuah kertas sekaligus tanda tangan di atas materai yang mana isinya mereka harus merawat Amira dengan baik dan menyekolahkan nya.
Dan tentu saja, lagi-lagi Amira tidak tau-menau tentang itu semua. Dia memang sering melihat sang kuasa hukum yang sering dia panggil paman itu. Dan bahkan, dirinya pun sering berbincang-bincang dengan beliau ketika beliau datang berkunjung ke rumahnya sesuai jadwal yang di tentukan.
Tapi Amira yang lugu dan polos sama sekali tidak mengetahui fakta kalau beliau adalah kuasa hukum ayahnya dan dia pun tidak pernah jujur kepada beliau, seperti yang mereka perintahkan.
karna apa? Karna otaknya sudah terlebih dahulu di manipulasi oleh mereka. Mereka selalu mengatakan kalau kuasa hukum ayahnya itu adalah seorang karyawan mendiang ayahnya. Dan kalau semisal dia mengatakan dia di siksa oleh mereka, maka dia akan langsung dikirim ke panti asuhan dan selamanya akan tinggal di sana. Jadi jika tidak ingin hal itu terjadi, maka dia harus mengatakan kalau mereka selalu bersikap baik kepada dirinya.
Amira yang memang adalah seorang anak yang polos langsung saja mempercayai ucapan mereka. Sehingga, saat dia di tanya tentang bagaimana kehidupan nya, Amira selalu memberikan jawaban yang 180 derajat bertentangan dengan apa yang dia alami.
Amira meringkuk sendirian di dalam gudang yang lembab, kotor dan gelap.
Sebenarnya dia sudah sering di hukum seperti ini, jadi hal ini sudah biasa untuknya. awalnya Amira mungkin merasa ketakutan karna di kurung sendirian di dalam gudang yang kotor dan penuh debu serta lembab bersama para tikus, kecoa dan hewan kecil lainnya.
Tapi kini tidak lagi, Dulu mungkin dia akan terus berteriak meminta pengampunan meskipun suaranya tidak akan terdengar oleh mereka yang tinggal di ruang tengah yang nyaman dan jauh dari gudang yang posisinya terpisah dan terletak di belakang halaman rumah.
Tapi sekarang tidak lagi, Amira sudah menyerah dengan semua itu.
Amira sadar, mau suaranya habis sekalipun tetap tidak akan ada yang mendengarnya selain para pembantu yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu dirinya.
Sapu pun tidak ada di sana. Sehingga, lagi-lagi dia harus tidur di lantai atau di tumpukan barang bekas yang kotor bersama para tikus malam ini.
Tidak ada selimut, tidak ada bantal, tidak ada kasur. Yang ada hanya lampu yang cahayanya mulai redup.
Jika sudah berada di posisi menyedihkan seperti ini, Amira akan mulai merindukan kedua orang tua yang bahkan sosoknya tidak sempat dia ingat. Dia hanya melihat mereka lewat beberapa foto yang tersisa. Tapi meskipun begitu, dia tetap merindukan mereka.
"Andai saja mereka masih hidup, pasti aku akan bahagia," batinnya.
Amira sering kali bertanya-tanya di dalam hatinya tentang akan seperti apa kehidupannya jika kedua orang tuanya masih ada.
Akankah dia tetap menjalani hidup yang menyedihkan sekaligus menyakitkan seperti ini atau malah sebaliknya?
Perlahan, air matanya mulai menetes membasahi pipi. Seperti biasa, Amira kembali menangis dan meratapi hidupnya yang menyedihkan.
Ya, Amira memang seorang anak yang cengeng dan lemah. Dia tidak pernah berani melawan dan selalu berkorban.
Karna sejujurnya, dia pernah sekali melakukannya. Dia pernah memberontak dan melawan mereka.
Tapi apa daya, dirinya terlalu lemah. Sehingga, bukannya terbebas, dia malah mendapatkan siksaan yang berlipat berlipat dari mereka.
Dan sejak saat itu, Amira sudah tidak pernah lagi untuk mencobanya.
Mereka sangat jahat kepada gadis malang itu. Tapi meskipun begitu, Amira sedikit pun tidak pernah memiliki niatan untuk pergi meninggalkan rumah yang mereka tempati ini.
Mau seberapa kejam pun mereka, dia tidak akan pernah lari dari sini.
Karna entah kenapa, meskipun Amira tidak mengetahui hal yang sebenarnya, dia selalu merasakan kenyamanan di dalam rumah ini di saat dia sedang sendirian. Dia selalu merasa banyak memori yang terlupakan di rumah ini.
Sehingga, hal itu membuatnya enggan untuk pergi meskipun konsekuensi yang harus dia dapatkan adalah penyiksaan keji dan hidup menyedihkan seperti saat ini.