"Good morning." Suara lembut milik Thalia menembus ruangan room service.
Aroma kopi dan croissant hangat dengan butter khas Perancis menguar di penciuman. Terlihat beberapa troli dengan menu sarapan lengkap, siap dikirim ke kamar tamu yang memesan. Beberapa staff tampak sibuk. Seketika terhenti oleh sapaan dari pintu masuk.
"Halooo." Semuanya menyambut serentak. Kecuali seseorang yang tampak serius di dalam ruangan yang disekat pintu kaca.
"I am Thalia, karyawan baru. Mister Lewis menyuruhku menemui Sonny." Thalia masih berdiri di tempatnya.
"Oh, kau staff baru itu?" Tiba-tiba seseorang dari ruangan kaca menyembulkan kepalanya. Suara datar, wajah tirus, berkulit putih dengan hidung mancung dan mata kuning kecoklatan.
"Iya, halo Son--" Thalia menggantung kalimatnya, setelah sang supervisor memotong.
"Ikuti aku!" ucapnya.
Gadis berambut hitam itu mengangguk dan hampir saja tersenyum sebelum akhirnya terpatahkan oleh sambutan yang datar dan tanpa ekspresi.
'Hey, wait! Sepertinya aku pernah bertemu dia.' Thalia mengingat-ingat.
"Kau tau, kau terlambat lima menit?" lanjutnya lagi tanpa menoleh.
"Huh? Ummm." Thalia tergeragap. Belum sempat mengingat wajah itu, Thalia sudah diburu rasa bersalah.
"Anyway, tak mau buang waktu lagi, kita mulai saja." Tanpa mengenalkan diri, lelaki itu menyambar file di atas meja.
Thalia meninggalkan room service mengikuti sang Supervisor dan berhenti di depan lift, lelaki itu menekan tombol 21. Mereka akan berselancar ke seluruh lantai di dalam hotel ini, dimulai dari lantai paling atas.
Di dalam lift hanya ada Thalia dan sang supervisor jutek itu. Sesekali gadis itu melirik ke arah si lelaki dengan ekor mata. Lelaki kurus berambut cokelat keemasan bersender santai ke dinding besi lift. Pandangannya selalu tertuju pada map bening yang ia pegang.
"Ehemm ...!"
Suara dehaman itu mengejutkan Thalia ketika matanya kembali melirik ke arah si jutek itu berdiri.
Upppsss ...!
Tak sadar rupanya dia memerhatikan dari pantulan pintu lift berbahan besi yang mengkilat. Segera Thalia mengalihkan pandangan ke pojok atas, menunggu angka itu tiba di lantai 21.
Dengan santai, sang supervisor memberikan arahan dan menjelaskan semua yang ada pada materi pengenalan kerja.
Hotel ini adalah hotel city dengan jenis kamar standard, deluxe, suits, junior suits dan president suits, yang paling tinggi dan berada di puncak bangunan adalah sebuah penthouse dengan fasilitas pribadi. Biasanya penthouse khusus dihuni oleh tamu kenegaraan.
Satu lantai di bawah penthouse, ada restoran jepang, club house dan indoor pool. Di balkon Restoran jepang, Thalia sempat melihat pemandangan yang luar biasa indah di wilayah Kota Erbil. Walaupun masih banyak perbaikan di berbagai sudut akibat kegaduhan di negara itu, tetapi tempat ini memiliki kontur wilayah yang secara alami sangat indah. Thalia masih betah melihat sekeliling Erbil dari atas sana, tetapi waktunya tidak banyak. Ia harus menyelesaikan orientasi ini.
Turun ke bawah lagi mereka menjelajahi tipe kamar di setiap lantai. Hotel tour berakhir di restoran all day dining di dekat loby utama yang berseberangan dengan konter resepsionis.
Sebelum kembali ke room service, sang supervisor membimbing ke sebuah outlet yang selalu menyuguhkan live musik instrumental dengan sajian makanan manis, Chopin's Cafe. Biasanya Lewis berjaga di sana, tetapi kali ini tak mereka temui. Kemudian mereka pun bergegas kembali ke room service.
Done!
'Ya, Tuhan. Baru juga pengenalan hari pertama, udah dapat perlakuan sejutek ini. Jangan sampai pengalaman di tempat kemarin terulang lagi.'
Thalia mulai tak fokus dengan penjelasan supervisor itu, ketika mereka kembali ke room service.
"Oke?" Tiba-tiba suara datar itu tertuju padanya. Entah apa yang ia katakan sebelumnya.
Thalia hanya mengangguk kaget dan tersenyum kaku.
"Oke, Sonny."
Tidak ada jawaban apa pun dari supervisor jutek itu, langkahnya langsung memburu room service.
"Oya, I am Thalia. Kita belum kenalan." Thalia mengulurkan tangan sebelum langkah si supervisor jutek itu menjauh.
Sedetik dua detik tiga detik!
Si jutek itu hanya berdiri mematung membiarkan Thalia berdiri di depannya dengan tangan masih terulur.
Saat Thalia akan menurunkan tangannya, lelaki jutek itu meraih dan balas menjabat dengan hangat. Telapaknya lembut seperti bayi. Genggamannya hangat, tidak sedingin wajah dan kelakuannya. Lelaki itu tampak mengangguk, gurat senyum terbit meski hanya sepersekian detik, kemudian melepaskan genggaman dan langsung pergi dengan langkah cepat.
'Gila, gimana mau kerja dengan supervisor jutek begini?'
"Hai, Assalamualaikum. How was the tour?" Sambut seseorang berambut pirang, berkacamata, seraya bertepuk tangan dan menyalami keduanya saat tiba kembali di room service. Tampak sang supervisor menyunggingkan ujung bibirnya sambil berlalu menuju ruang kaca.
Thalia menjawab salam dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Areeey Baba! Where is your nametag, Yar?" Pria berkacamata itu geram saat tak dilihatnya nametag di seragam sang supervisor. Kepalanya bergeleng miring ke kiri dan ke kanan. Logatnya kental ala-ala Bollywood world.
Ya! sejak tadi lelaki itu memang tidak mengenakan nametag dan bahkan tidak mengenalkan diri.
"Halo, Miss. I am Lewis, Manager here." Sejurus sang Manajer kembali fokus kepada Thalia.
"Halo, Sir. I am Thalia." Ia pun memperkenalkan diri.
"Bukannya namamu Diandra, ya?" tanya Lewis.
"Iya, tapi panggil saja Thalia," jelasnya.
"Oke, baiklah." Sang Menejer tersenyum ramah.
"Anyway, Thank you Mister Jurgen atas kesediaanya menggantikan Sonny hari ini!" teriaknya pada sang supervisor yang langsung mengerjakan tugas di dalam ruangan kaca.
Thalia terperanjat ketika mengetahui si Supervisor itu bukanlah Sonny. Belakangan diketahui namanya Jurgen Allajbeu, berkebangsaan Albania.
"Oh, Saya kira..." Ucapan Thalia sedikit mengganggu sang supervisor, membuatnya menoleh dan mendelik dengan bombastic side eyes-nya.
"Sonny?" Lewis memastikan. Thalia mengangguk.
"Unfortunately, dia harus bertugas di outside catering event hari ini. Right, Mister Jurgen?" Lewis melirik sekilas melalui kaca tembus pandang. Lelaki jutek itu, hanya membalas lirikan tanpa jawaban. Tak sengaja sekilas lirikan itu bertubruk dengan tatapan Thalia yang masih memperhatikannya.
'Ya, ampun, menyebalkan sekali!'
Thalia benar-benar jengkel.
Kemudian Lewis menunjukkan beberapa agenda acara yang ditempel di papan putih.
"Berterima kasihlah padaku hari ini." Tiba-tiba Jurgen bersuara dengan pandangan tak lepas dari layar komputer di depannya. Lewis hanya tersenyum mendengar itu sambil menggelengkan kepalanya, seolah sudah biasa dengan sikap supervisor yang satu itu.
"Thank you." Thalia sempat melongokkan kepala ke ruang kaca bermaksud melemparkan senyum ke sang supervisor, tetapi hanya dibalas dengan tatapan tanpa ekspresi. Seketika wajah Thalia mengeras menahan senyum kaku.
'Allahuakbar! Aku rasa ada yang aneh dengan orang ini. Kupikir akan bebas dari kandang beruk, taunya malah masuk kandang babi!'
Setelah memberikan arahan untuk tugas selanjutnya, Lewis pun mengizinkan Thalia kembali ke Vila karena pengenalan hari ini sudah selesai.
"Oya, Mister Lewis, apakah besok masih orientasi?" Thalia menyempatkan bertanya sebelum meninggalkan room service.
"Ya, usahakan besok datang lebih pagi. Karena kamu harus ke bagian wardrobe untuk mengukur seragam."
"Oke."
"Dan besok, kamu akan belajar sistem bersama Sonny dan Thiera. Karena Jurgen akan bertugas di outside catering."
Thalia mengembuskan napas lega dengan sedikit tersenyum.
"Kenapa? Ada yang membuatmu tidak nyaman?" Pertanyaan Lewis sungguh di luar dugaan.
"Oh, no. Bukan itu." Thalia gelagapan. "Never mind."
'Iya, itu dia. Aku baru ingat, lelaki itu yang kutabrak kemarin selepas dari kantor Miss Erindi.'
Thalia melirik kembali ke wajah di dalam ruangan kaca.
"Ada yang ingin ditanyakan lagi?"
"Tidak, Sir. Terima kasih." Thalia undur diri.
Sambil berlalu dari room service, Thalia mencoba melemparkan tatapan tak senang pada supervisor yang masih di depan komputer, tetapi tak terduga pandangan mereka kembali bertubruk. Keduanya pun sama-sama tersentak.
"Menyebalkan sekali!" Sambil mendengus, Thalia langsung meninggalkan room service tanpa menoleh.
'Semoga Sonny tidak seperti orang ini!'
***