Bab 3 - Dehaman Mematikan

1343 Words
Di room service, manajer Lewis sudah menunggu. Seperti biasa dia menyambut hangat dengan ucapan salam dan menjabat tangan adalah ritual rutin. Wangi khas aroma kopi dan pastries memenuhi ruang room service yang selalu memberikan semangat. "Guys, morning briefing, ya. Semua info sudah ditempel di papan. Mohon kalian semua baca, ya." Lewis membuka meeting singkat pagi ini. "Nothing special today, untuk outside catering masih berlanjut. Hari ini saya tugaskan Jurgen untuk stand by di sana." Lewis melanjutkan. Thalia merasa sangat lega dan tanpa sadar mengembuskan napas lega kencang sekali sehingga membuat yang lain menoleh ke arahnya. "Thalia, are you oke?" Lewis memastikan. Thalia bengong beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan. Tak sengaja mata asia itu menangkap tatapan Jurgen dengan mimik tidak suka. "Thiera mana, bukankah hari ini aku akan orientasi denganya juga, ya?" tanya Thalia mengalihkan rasa gugupnya. "Thiera langsung ke event outside catering hari ini, tugas di sana bersamaku." Tak terduga jawaban itu meluncur dari suara datar, lurus, dan lembut tapi kaku milik Jurgen. Lewis memastikan dengan menatap Jurgen. "Again! Kamu ubah jadwalnya?" Terdengar Lewis menggerutu. "Can I go now?" Tanpa menjawab Lewis, ia langsung keluar dari room service. Lewis hanya menggeleng-gelengkan kepala seperti biasa. Sementara Sonny memulai training bersama Thalia. berharap bisa mengobati kekesalan. Jantung Thalia berdegup saat Sonny mulai berbicara. "Sudah sarapan?" Sonny bertanya ramah. Thalia menggeleng. "Still have time, let's go for breakfast." Sonny memberikan kode dengan anggukan kepalanya. Memasuki kafetaria, Thalia kembali dikejutkan dengan keberadaan makhkuk jutek itu lagi, tengah duduk di Salah satu meja. Setelah menyendok makanan dari buffet display, Sonny mengisyaratkan untuk duduk di meja yang sama dengan Jurgen. Dengan terpaksa Thalia mengekor. Tidak ada perkataan apa pun dari Jurgen, meskipun sekedar menyapa. Thalia benar-benar dibuat kikuk. Sampai sarapan selesai akhirnya hanya memilih diam dan tidak menegur Jurgen. Sebaliknya Sonny selalu membuka percakapan. Posisi duduk yang berseberangan, sesekali Thalia menangkap gestur Jurgen dengan sudut mata dan berkali-kali pula ia tertangkap basah, saat melirik ke arah Jurgen. "Eheemm ....!" Lagi-lagi dehaman Jurgen membuat Thalia terlonjak. Omaygat! Rupanya diam-diam Jurgen pun memerhatikan Thalia. Sungguh membuat gadis itu tidak nyaman menikmati sarapan pagi ini, padahal menunya istimewa. Damn Breakfast! Di sela training, tiba-tiba telepon berdering. Tampak nomor di dashboard layar dari luar hotel. "Thalia tolong angkat, ya. Sudah tau, kan, caranya?" Sonny meminta Thalia mulai membiasakan diri. "Good morning room service, Thalia speaking, how may assist you?" Hening. Tak ada jawaban, beberapa kali harus mengulang sapaan itu. "Good morning ...." Ini yang ketiga kalinya. Sonny bertanya dengan mimik wajahnya. Thalia hanya mengangkat bahu, mengisyaratkan dengan tangan 'no voice'. "Eheem ... minta tolong kirimin email data tamu outside catering sekalian data presensi staff juga." Diawali dengan dehaman yang tak asing itu, akhirnya terdengar jawaban dari sebrang. Suara itu, datar, lurus, lembut tapi kaku. "Jurgen?" Thalia meyakinkan. "Yes." "Loh bukannya Thie sama kamu, ya? dia udah print--" Kata-kata Thalia terputus ketika Jurgen langsung menyela. "Hey Nona, can you please, now ok!" perintahnya. "Oke." Telepon pun terputus. Mungkin Thiera lupa dan di sana mulai sibuk. Lalu Thalia meminta Sonny melakukannya. "Oomaygat!" Sonny seperti teringat sesuatu. Diikuit tatapan heran Thalia. "Hari ini, kan, Thie libur. Kenapa dia bilang Thie ke outside catering, ya?" Sonny bertanya-tanya sambil berpikir dan sama-sama menatap heran ke arah Thalia. Thalia hanya membalasnya dengan senyum tanpa arti. 'Aneh memang!' Tak ambil pusing dengan keanehan Jurgen, Thalia kembali fokus melanjutkan training. "Well done, Thalia! You learn faster." Sonny memuji di akhir sesi training sistem dengannya. "Untuk sistem, aku juga menggunakan metode serupa di tempat lamaku." "Oya? Kamu kerja di mana sebelumnya?" Thalia sedikit menarik napas. Membahas tempat sebelumnya, berarti membuka bongkahan luka kemarin. Rasanya sekarang lebih baik menghadapi sikap jutek Jurgen di sini, karena ya hanya dia yang bersikap begitu padanya. Tidak dengan yang lain, apalagi Sonny dan Lewis sebagai atasan, mereka cukup baik sejauh ini melibatkannya dalam tim. "Kalau kamu tidak keberatan." Sonny seperti membaca subtitles di wajah Thalia. "Oh, ya tentu saja tidak." Thalia kembali mengulang ingatan di tempat lama, seraya menjelaskan pekerjaannya di sana. Lorong-lorong yang penuh sesumbar pedas, dinding-dinding yang dingin dan pekat, riuh tawa yang mengejek padanya, mesin kopi yang selalu membuatnya merasa bodoh karena setiap kali membuat minuman, karyanya akan diremehkan. Ia merasa tak berguna. "Aku juga mendengar sebelumnya kalau kamu pindahan dari sana, hanya sekilas. Anggap saja ini awal pertemanan kita sebagai tim." Sonny menepuk bahu Thalia lembut. "Terima kasih, Sonny." "Good morning!" Seseorang dengan senyum manisnya memasuki room service. "Hai, Nona Thie. Loh?" Sonny mengerutkan dahi. "Bukannya kamu libur, Thie? Ato bertugas di outside catering bareng Jurgen?" Thiera terkekeh. "Anak itu ngelantur saja." Sambil terus terkekeh ia melirik Thalia yang masih bingung, kemudian merangkul teman barunya di tim yang sama. 'Ternyata memang benar-benar aneh.' Thalia membenarkan ucapan Thiera. "Aku libur, tadi Lewis menelepon memastikan jadwalku hari ini untuk orientasi bareng Thalia jam sepuluh. Kamu sudah memberikan informasi sistemnya, kan?" Thie memastikan kepada Sonny, sebelum melanjutkan training bersama Thalia. "Yup!" *** Thalia sudah mulai melakukan kegiatan rutin seperti staff lainnya. Lewis menetapkannya masuk di jadwal pagi selama seminggu ke depan, sementara Thiera bertugas siang. Supervisor incharge bergantian antara Sonny dan Jurgen. Hari-hari masih terasa berat bagi Thalia apalagi jika satu jadwal kerja dengan si jutek itu. Ia benar-benar dibuat tidak fokus. Ada saja yang mengalihkannya, walau ia mengakui di sini jauh lebih baik. "Lia jangan lupa ganti semua info di papan pengumuman dengan yang baru, ya. Termasuk daftar telepon staff," perintah Sonny. "Dan simpan semua nomor telepon staff di ponselmu supaya mudah dihubungi dan menghubungi jika ada informasi apa pun," lanjutnya. "Siap." Thalia pun patuh. Ia kembali teringat nomor telepon yang pernah diberikan Lewis dan juga yang berkirim pesan padanya tempo hari. "Asal jangan untuk minta bantuan di luar jam kerja," seloroh pemilik suara datar, lurus dan lembut tapi kaku. Siapa lagi kalau bukan Jurgen. Thalia mengernyitkan dahi, menatap aneh ke arah Jurgen. Sonny tersenyum mendengar Jurgen, pandangannya masih sibuk pada rentetan data yang ia genggam. Thalia pura-pura sibuk dengan beberapa berkas yang harus diprint ulang. Matanya membulat saat meneja ulang nomor Jurgen dengan nomor yang berkirim pesan tempo hari. 'Ternyata nomor dia.' "Hai," sapa Thiera kepada semua saat melangkah masuk. Sementara Thiera bertugas di middle shift, supaya bisa mengcover antara jam makan siang dan makan malam. Telepon berdering tanda orderan makan siang dimulai. Satu per satu order masuk, Thalia dan Thiera saling belomba menjawab telepon di meja masing-masing tanpa jeda untuk beberapa waktu. Tim bergerak cepat mempersiapkan semua. Dalam keadaan sibuk, Thalia sempat memerhatikan bagaimana Jurgen melakukan tugas operasional dengan sangat lihai. Tersaji sesuai dengan detail. Terkirim tepat waktu. Mengatur laju operasional yang tanpa henti dengan perhitungan yang tepat tanpa meleset, tanpa panik. Luar biasa! Master! Lancar, mulus, well done! Mungkin hal tersebutlah yang menjadi pertimbangan terpilihnya Jurgen sebagai supervisor. Berbeda dengan Sonny, dia sangat akurat tentang data dan semua yang berhubungan dengan sistem. Otak komputer! Lewis memiliki tim handal yang bisa dia andalkan. Makanya sang manager selalu tenang ketika harus meninggalkan room service jika ada kesibukkan tugas management yang menggunung. its really WOW moment to have them as partner to work with. Thalia merasa berada di Tim yang tepat. Tatapannya masih sejurus pada Jurgen yang fokus dengan table set up. Sampai tak menyadari Thiera tersenyum memperhatikan dari samping mejanya. "Eheemm ...!" Dehaman itu! Crap! Thalia tersentak dan kembali fokus. Jantungnya serasa anjlok. Rupanya si jutek itu selalu mendapat waktu yang tepat saat Thalia tengah memerhatikannya. Tangannya bergerak cepat membereskan hand over pada Thiera karena waktu tugasnya sudah selesai. "Lia, ayo! nanti ketinggalan bus!" teriak Sonny, bermaksud mengajak Thalia untuk menuju bis bersama. "Coming," Thalia melangkah tergesa ke luar ruangan, sampai lupa berpamitan pada Thie. Thalia sempat menoleh ke ruang kaca sekali lagi untuk say bye pada Thie, tetapi ada pemandangan yang tak biasa. Jurgen sudah duduk kursi samping Thiera, ia tampak begitu nyaman bicara dengan Thiera dan bibirnya sedikit mengembangkan senyum. Thalia urungkan niat dan memilih tak mengganggu mereka. Lalu segera berlari mengejar langkah Sonny. Ada satu hal yang Thalia mengerti sekarang, kenapa Jurgen tampak begitu kaku dengannya. Pikiran gadis itu menerka-nerka. 'mungkin saja mereka pacaran.' "Ah, sial!" Thalia menepuk jidatnya sendiri, teringat beberapa kali Jurgen menangkap basah lirikannya. Dehaman sialan! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD