Di ruang kaca, selepas Thalia meninggalkan room service. Jurgen sempat bercerita kepada Thiera.
"kalau aku mengatakannya sekarang, apa menurutmu itu terlalu cepat?" tanya Jurgen diiringi senyum malu-malu. Thiera melirik dengan senyum meledek.
"Tahan dulu, biar aku yang atur. Dude, cobalah tidak terlalu kaku kalau kamu ada kesempatan bicara padanya." Thiera terkekeh geli, melihat tingkah sahabatnya seperti anak SMA yang baru jatuh cinta.
"Aku gugup Thie." ucapnya menatap Thiera. Senyum itu terus tersungging dari bibir tipis milik Jurgen.
"Juri, aku senang melihatmu sebahagia ini. Jangan menyerah, ok!"
Terdengar embusan napas cepat, ada gejolak tak karuan dalam hati Jurgen.
"Tapi. Aku takut kalau terlalu berharap, Thie. Bagaimana kalo ternyata dia sudah memiliki seseorang?" Suara kaku itu melemah, semangat yang tadi muncul seperti memudar.
"Apalagi ...." Jurgen menggantung kata-katanya. Dia mengempaskan punggung ke sandaran kursi.
"Jadi, mau maju atau tidak?" Thiera menepuk pundak Jurgen.
"But, jangan sampai yang lain tau, oke?"
"You can trust me." Thiera menguatkan genggaman di bahu Jurgen.
Thiera tak ingin harapan itu hilang dari hati dan pikiran sahabatnya. Setidaknya dalam batas waktu yang masih Jurgen miliki, sedapat mungkin menggoreskan kenangan terbaik dengan orang yang dikasihi.
***
Thalia kembali dari kafetaria, usai istirahat sore. Ia sempat berpapasan dengan Sonny yang hari ini mengenakan seragam Banquet. Air muka dan semangatnya langsung sumringah, naik berkali lipat. Pembawaan Sonny yang selalu ceria membuat Thalia merasa nyaman. Sepertinya diam-diam gadis itu mengagumi lelaki jangkung dengan senyum terhangat. Secret admire begin!
"Hai Sonny, kamu incharge di banquet sore ini?" Suara Thalia terderngar riang seperti koin berjatuhan saat keduanya sama-sama berada di room service.
Sonny mengangguk dan tersenyum.
"Ada acara gala dinner para pejabat Erbil malam ini." Pria yang berbalut beskap hitam itu terus mengembangkan senyum.
"Wah, mantap. Bertemu para petinggi negeri.” Thalia terdengar kagum. Sonny semakin melebarkan senyum.
"Kapan-kapan aku ikutkan kamu ke acara gala atau butler incharge kalau kamu mau," ujar Sonny.
"Mau, mau ...!" Thalia langsung bersemangat.
"Yuk, cabut." Suara datar itu menyambar dan langsung merangkul Sonny ke luar room service. Sontak Thalia mengatupkan bibir, air mukanya mendadak berubah melihat tingkah menyebalkan Jurgen yang memotong kesenangan orang.
"Ke mana?" Thalia masih menatap mereka berlalu.
"Kami istirahat dulu. Kalau sibuk telepon, ya." Jurgen menjawab tanpa menoleh seperti biasa. Namun, Thalia masih sempat melihat Sonny tersenyum ke arahnya sebelum lenyap di balik pintu.
Thalia pun kembali menyibukkan diri dan membantu tim menyiapkan persediaan untuk “perang” sore ini.
Telepon mulai berdering, order berdatangan satu per satu. Jam makan malam mulai 'hit the floor'. Tak ada jeda untuk menelepon Jurgen yang masih belum kembali dari kafetaria.
Make your move team!
Jumlah daftar order menumpuk, tertata satu per satu dari orderan paling awal. Tim mulai kewalahan dengan orderan yang luar biasa malam ini.
Seketika Jurgen memasuki room service, dilihatnya semua tumpukkan order. Dia memberi isyarat kepada Thalia untuk menelepon Lewis. Acungan jempol terangkat tanda mengerti.
Beberapa menit kemudian, Lewis pun datang. Langsung menanggalkan suit hitamnya dan membantu operasional.
"Thanks God," sambut Jurgen saat Lewis menampakkan batang hidungnya.
Beberapa order sudah siap diantar, sementara beberapa staff masih belum ada yang kembali dari mengantarkan order beberapa menit lalu.
"Ooo man ... Where are they, yarrr?" Lewis mulai diserang kepanikan.
"Chill ya, Baba." Jurgen membawa mangkuk berisi buah potong dan menaruhnya di salah satu troli orderan.
"Six one seven, ready!" Teriak Jurgen dengan sigap. Menandakan bahwa orderan kamar nomor 617 sudah siap diantar.
Lewis terkesiap.
"Arrey yaaarrrr ... Who is going? It's getting late, Man!" Mimik Lewis mulai tampak lucu seperti Mister Bean. Ya, seperti itulah tingkat kemiripannya dengan Roland Atkinson. Gokil !
Thalia dibuat tersenyum geli menyaksikan adegan mereka dari balik ruang kaca.
"You, Lewis. Yalla, go!" tunjuk Jurgen.
"Oo, Man," gerutu Lewis sambil bersiap mengenakan suit hitamnya
"Ya, Man. kalau aku yang antar nanti kamu bisa kacaukan semua pekerjaan di sini. I am the Master," ledek jurgen. Lewis pun berlalu dengan troli sambil menyeringai.
Detik kemudian telepon kembali berdering.
"Hello, Ma'am, Tolong panggil Juri." Suara dengan aksen India yang kental itu menjawab dari seberang. Reflek Thalia melambaikan tangan ke arah Jurgen.
"Lewis."
"Yes, Mister Manager," sambut Jurgen setelah gagang telepon itu berpindah ke tangannya.
"Oomaygat Lewis, run out man, no more,” jawab Jurgen sebelum percakapannya berakhir. Kemudian ia menuju gudang penyimpanan amenities dengan tegesa.
"Lewis minta apa?" Thalia berinisiatif untuk bertanya. Jurgen berhenti, lalu terpaku sejenak.
"Lia, tolong telepon staff yang terdekat dengan lantai enam. Infokan untuk mencari vas bunga dari tray atau troli yang sudah di clear up," titahnya kemudian.
Thalia segera menelusuri di catatan pengiriman.
"Ada, Vishal!" ia pun langsung menghubungi nomor Vishal. And problem sorted! Done !
Tak berselang lama, Lewis kembali ke room service dengan tergopoh-gopoh. Ia langsung memburu Jurgen.
"Man, this is standard! you lupa atau sengaja ingin menjebakku?" ucapnya kesal.
Lewis selalu mengutamakan standard dalam pelayanan tanpa terlewati satu item pun.
"Lewis, look! kita sibuk, semua vas bunga run out." Jurgen mencoba menjelaskan.
"Aku tidak ingin ini terjadi lagi, sebisa mungkin bagaimanapun caranya supaya tetap pada standard," lanjut Lewis lagi.
"Oke, Man. Sorry, tapi at the end aku kirim Vishal ke sana, kan?" Jurgen tak ingin membantah sang Menejer lebih lanjut.
"Sorted out Lewis, relax!" Dengan santai Jurgen mengelus pundak Lewis seraya tersenyum.
"Akhirnya kukirim Vishal antar pesanannya." Lewis akhirnya mengembuskan napas lega.
"I know," sahut Jurgen terkekeh. "That's my idea." Mereka terus bersahutan.
Lewis tak menjawab lagi, hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hari ini Thalia melihat Jurgen tersenyum berkali-kali. Apa harus melewati waktu sibuk dulu untuk melihat orang ini tersenyum? Oo Lord!
"Thalia, jangan lupa semua laporan, ya. Dan untuk minggu ini aku tugaskan kamu untuk membuat menu engineering." Lewis berpesan sebelum meninggalkan room service. Thalia mengangguk sebagai jawaban.
"See you, Guys!" Lewis berseru seraya melambaikan tangan.
"No thank you?" Jurgen mengangkat kedua bahunya saat melihat langkah Lewis keluar room service.
"What no thank you? You should thanks me, Man." Lewis tak mau kalah.
"Anyway thank you all, thank you Mister Operational." Mister Bean tiruan itu meledek Jurgen sambil berlalu.
***
Setelah body checking di pos keamanan, Thalia langsung meloncat ke dalam bus. Terlalu dingin menunggu di luar. Terlihat Jurgen pun memasuki bus. Langkahnya diteruskan ke bangku paling belakang.
Tiba-tiba seseorang duduk di bangku kosong di samping Thalia, membuyarkan kelelahan malam ini.
"Hai!" sapanya riang dan selalu ceria. Meski kelelahan tergurat di sana.
"Hai, Son, baru selesai?" sambut Thalia yang hampir tak bisa menutupi perasaan senang.
Lagi-lagi keduanya terlibat obrolan sebelum sesuatu memotong pembicaraan.
"Lia, tolong berikan ini pada Thie." Suara datar, lurus, lembut dan kaku itu kembali pada intonasinya.
Thalia menoleh ke sumber suara di bangku belakang, Jurgen menyodorkan pouch make up Thiera yang tertinggal.
"Loh, bukannya kalian libur bareng besok?"
"Karena aku libur, aku tidak bisa bertemu dengannya." Wajah Jurgen tanpa ekspresi.
"Ya, ditelepon, dong. Libur bareng, kok, gak ketemuan. Kan, aneh. Ngapain aja, sih, kalian kalo libur bareng?" selorohnya. “Emang pasangan aneh!” gerutu Thalia lagi. Lalu mengambil pouch itu dari tangan Jurgen.
Jurgen dan Sonny sama-sama menatap bengong ke arah Thalia. Sonny tampak mengulum senyum lalu membuka ponselnya.
"Besok masuk di room service kan, Son?" Pertanyaan Thalia sedikit mengganggu Jurgen yang mencuri dengar lalu mengembuskan napas kasar.
Sontak Thalia setengah melirik ke tempat Jurgen duduk. Sementara Sonny masih fokus dengan ponselnya dan mengetik sesuatu di sana. Setelah selesai, tiba-tiba Sonny menghadap ke arah Thalia, "Jadi kamu maunya aku di room service, ya?"
Tatapan mata Thalia menyelam jauh ke dasar pupil cokelat terang yang tenang itu.
"Jalan, Pak!" Seru Jurgen ke Pak sopir, membuyarkan kesenangan Thalia yang tengah hanyut.
***