Musim dingin masih enggan bergeser, udara masih sangat sejuk bercampur hujan dan sesekali berhamburan butiran salju lembut yang berhembus dari dataran tinggi Erbil.
Menikmati pemandangan pagi dengan sepiring telur dadar dan sosis. Jendela kaca kantin vila yang tembus pandang ke kolam renang memanjakan mata Thalia yang masih setengah mengantuk. Pantulan mentari di permukaan air kolam memberikan semburat emas yang indah. Tampak hangat tetapi terasa dingin di luar sana.
Masih dalam keraguan, pikiran Thalia terus berlomba antara meloloskan niat untuk pergi ke pusat kota atau mengurungkannya. Ia menghitung dengan potongan sosis yang tinggal tersisa tiga potong dalam piring.
"Pergi, tidak, perrr ...." Hitungan terakhir terhenti ketika konsentrasinya buyar oleh loncatan seseorang ke dalam kolam renang.
Tak sadar Thalia menganga. Sosok itu sangat familiar. Loncatan indah dengan gerak sportifnya menghipnotis manik hitam asia itu.
"Sonny." Thalia berdesis.
Gadis itu terkesiap saat gerakan itu berhenti di ujung kolam yang berhadapan dengan jendela kaca tepat di mana dirinya menikmati pemandangan di depan.
Tubuh atletis itu terangkat ke atas bibir kolam, bertumpu pada kedua tangan. Pandangannya lurus tepat mengenai mata telanjang Thalia yang tengah menatapnya. Segera ia mengalihkan pandangan ke arah lain tetapi terlambat Sonny terlanjur menangkap basah.
Ia melambaikan tangan diiringi senyum hangatnya, seolah-olah mengusir dingin musim ini. Berusaha setenang mungkin Thalia membalas. Kemudian kembali menyelesaikan hitungan sosis yang terhenti.
"Pergi." Sambil melumatkan potongan terakhir.
***
Menaiki tangga berjalan menuju lantai mezzanine, langkah Thalia tertuju pada sebuah kafe di salah satu pojok mal yang ia kunjungi siang ini.
'Esse cafe - the best shawarma in town'
"Karsilama."(1) Sambut pelayan kafe dalam Bahasa Turki.
"Tesekur edirim,"(2) balas Thalia seraya tersenyum ramah.
"Hot chocolate please." Thalia langsung memesan minuman favorite.
"Ada lagi, Ma'am?" Gadis mungil berhidung bangir itu menawarkan.
"Chicken shawarma-nya satu." pintanya, diikuti senyum sang pramusaji.
"Baik, segera datang, thank you." Ia bergegas meninggalkan meja.
One hour later ...
"PERHATIAN-PERHATIAN! INFO CUACA HARI INI DIPERKIRAKAN AKAN ADA BADAI SALJU, MOHON UNTUK TIDAK MENINGGALKAN GEDUNG SAMPAI BADAI BERLALU."
Terdengar pengumuman dari pengeras suara mal.
"Alamak!" Thalia tercekat.
Tidak tahu berapa lama badai akan berlangsung. Berharap tidak sampai petang. Namun, salju masih terus berjatuhan diiringi angin berhembus kencang. Entah berapa lama lagi ia terjebak dalam badai.
Melirik ponsel yang ia letakkan di atas meja, waktu sudah menunjukkan jam enam sore. Thalia segera menyelesaikan pembayaran dan bergegas pergi meninggalkan kafe.
"Si*al!" Pintu mal masih tertutup dan tak ada seorang pun yang boleh keluar.
"Ma'am, please saya harus pulang sekarang." Thalia memohon sedikit memaksa pada petugas keamanan yang menjaga pintu.
"Tapi badai masih belum reda!" tegasnya.
"Pleaseee!"
"Nona, tolong jangan membuat kegaduhan Kami tidak ingin terjadi apa-apa padamu, tidak akan ada kendaraan yang mau jalan dalam badai." Seorang penjaga keamanan lainnya menarik dan membimbing ke ruang tunggu di pojok mal.
Ia pun terduduk lemas. Berpikir bagaimana caranya kembali ke Vila. Masih teringat kata-kata Thiera tempo hari. Tidak akan ada taksi yang mau menuju ke vila jika malam hari, karena area itu jalur lintasan kawasan konflik di Mosul.
Konflik berkepanjangan yang mencuat di area perbatasan Syria sangat mempengaruhi sektor keamanan penduduk lokal maupun pendatang yang bermukim di sekitar sana. Termasuk juga warga Erbil yang tinggal di area tersebut. Thalia menghela napas panjang, berharap ada keajaiban. Waktu menunjukkan hampir jam delapan malam ketika badai mulai reda.
"Stop ... Stop ...!" Thalia menghentikan taksi yang menghampiri pelataran mal.
Baru saja memasuki mulut pintu mobil, sang sopir menyambut Thalia dalam Bahasa Kurdish yang sama sekali tak ia mengerti.
"Arabic? English?" Thalia mencoba berkomunikasi dengan sang sopir, tetapi tetap tidak mengerti satu sama lain.
Gadis itu mencoba menjelaskan sebisa mungkin dalam bahasa arab yang pas-pasan. Berharap si Sopir mengerti bahasanya yang berantakan. Hanya gestur penolakan yang ia dapat.
Setengah putus asa, Thalia terus memutar otak siapa yang bisa dimintai bantuan. Ia mencoba menghubungi Thiera.
Nihil! Thiera tidak menjawab panggilan telepon.
[Thie, aku minta tolong. Kalau tidak sibuk telepon aku.]
[Please help, aku tidak dapat taksi untuk pulang ke Vila]
Lalu, Sonny! Mungkin bisa membantu.
Nihil! Sonny pun tak menjawab.
Malam kian merangkak. Thalia semakin panik dan kebingungan.
‘Asal jangan untuk minta bantuan di luar jam kerja.’
Terngiang kata-kata Jurgen tempo hari, saat nomornya terlintas di layar ponsel Thalia, hal itu membuatnya ragu untuk mencoba meminta bantuan pada lelaki jutek itu.
Klunting!
Sebuah notifikasi pesan diterima dari nomor Thiera.
[Telepon Jurgen, dia libur hari ini]
[Hanya dia yang bisa membantumu sekarang]
Thalia tertegun dengan isi pesan dari Thiera, lalu tanpa berpikir panjang ia pun segera menghubungi nomor Jurgen.
"Bodo amatlah." Thalia memijit tombol call.
"Halo, Jurgen ini Lia." Saat sambungan terjawab dari seberang.
"Iya, aku tau." Suara datar itu menyambar.
"Apa kamu bisa membantuku?"
"Apa itu?"
"Bisa tolong jelaskan kepada sopir taksi untuk mengantar ke vila? aku tidak bisa berbahasa kurdish atau Turki. Biar kusambungkan teleponnya.” Thalia memohon bercampur panik.
"Jangan suruh aku berbicara bahasa Turki apalagi Kurdish, karena aku tidak bisa." Jawaban Jurgen membuat Thalia semakin hilang harapan.
"Please help, aku bingung untuk pulang ke Vila.” Gadis itu sedikit membujuk.
"Salah sendiri kenapa jalan sendirian." Semakin sesak nafas Thalia dibuatnya.
"Pleaseee."
Sungguh menyebalkan!
"Kamu di mana sekarang?"
"Family mall."
"Listen! tunggu di dalam, oke!" Suaranya terdengar serius.
"Ta-tapi ...."
Tak ada jawaban lagi, kemudian sambungan telepon terputus. Tidak ada pilihan, selain mengikuti saran Jurgen. Meski belum tahu apa rencana lelaki itu.
Jurgen tersenyum lebar di sudut kamarnya setelah mendapat telepon dari seseorang yang ingin sekali ia temui. Kemudian bergegas merapihkan diri untuk meluncur ke tempat di mana Thalia menunggu. Bak pangeran yang akan meyelamatkan sang Puteri. Berdandan sekeren mungkin dengan gaya rambut favoritnya spyki style. Tak lupa Versace Man ia semprotkan.
Meski tak dapat menutupi rasa gugup, tetapi Jurgen harus mencoba perjuangan itu. Ia mulai menyadari bahwa menyerah adalah hal yang konyol seperti yang ia pikirkan selama dua tahun terakhir hidup dalam kepasrahan. Ketika sebuah diagnosa mengejutkan terlontar dari seorang ahli internis yang menangani keluhannya. Saat itu ia merasa menyerah pada hidup.
Kini pikiran itu terpatahkan sejak insting pria sejatinya tumbuh pada wajah Asia yang mungil itu. Ia betul-betul tak ingin melepaskan kesempatan meski harus menerima kemungkinan paling buruk sekalipun. Perasaan itu begitu ajaib menyulap harapan yang pernah terkubur dalam keputusasaan.
***
Beberapa menit sebelum Thalia menerima pesan dari Thiera dan akhirnya menelepon Jurgen. Thiera meraih gawai yang bergetar di balik saku celana. Tampak di layar nama Thalia, tetapi ia tak segera mengangkat karena tengah sibuk menangani pesanan via telepon room service.
Kemudian menyusul notifikasi pesan masuk. Ia membaca pesan Thalia dan tersenyum. Baru saja Thiera hendak menelepon Jurgen ketika tiba-tiba sesuatu menghentikannya.
"Sonny!" Thie bergegas menyusul Sonny yang tengah melintas di room service.
"Bhai, aku istirahat dulu, ya." Thiera meminta ijin istirahat pada Vishal.
"Kamu mau ke kafetaria, kan?" Thiera mengimbangi langkah Sonny.
"Room service tidak sibuk malam ini?" Sonny menoleh sejenak ke sosok yang kini berjalan bersisian.
"Sembilan puluh persen occupancy tapi semuanya tamu gala, jadi hampir semua dinner di Ballroom," imbuh Thiera.
Tujuan Thiera sebetulnya hanya ingin mencoba memancing Sonny tentang Thalia untuk tahu bagaimana reaksinya.
"Son, menurutmu bagaimana Thalia?" Thiera pura-pura sibuk dengan jeruk di tangannya.
“So far oke. Dia bisa menyesuaikan dengan cepat.”
"Kamu perhatikan tidak kalau dia selalu gugup tiap kali mencuri pandang pada Juri?”
Wajah Sonny berubah kaku setelah mendengar kata-kata terakhir Thiera. Namun, ia masih belum paham maksud dari ucapan gadis itu.
”Apa dia menyukai Juri, ya?" Thiera melirik Sonny. Ia melihat mimik Sonny mulai tak nyaman.
"Eh, aku cabut dulu, ya." Gegas Thiera meninggalkan Sonny begitu saja, dan memberikan setengah jeruk yang ia buka tadi kepada lelaki yang masih bengong.
Sonny merasakan sesuatu bergetar dari saku jasnya. Ia merogoh benda mungil yang terselip di sana, tampak di layar Thalia memanggil.
Entah kenapa Sonny tiba-tiba saja tidak b*******h mengangkat telepon dari Thalia kala itu. Kemudian berlalu kembali menuju Ballroom. Tak jadi makan dan memberikan sisa jeruk dari Thiera pada steward yang tengah membereskan piring saji kafetaria.
Out of mood!
***