Part 10 - Tragedi Citadel

971 Words
"Hey!" Thalia langsung menyapa saat menemukan Jurgen di kantin vila. "Kamu tau, kamu telat lima menit?" Jurgen melirik Swatch di lengan kanannya. "Sorry." Gadis itu mencoba berdamai daripada hilang mood. Tak disangka si jutek itu tersenyum merespon jawaban Thalia. "Yuk, bis sudah mau berangkat. Mereka sengaja menunggu, karena aku yang meminta Suresh untuk menunggumu, Nona." Jurgen menarik tangan Thalia. Gadis itu terkesima, bisa-bisanya dia meminta sang sopir menunggu dirinya yang terlambat. Setiap pekan selalu ada jadwal bus untuk mengitari setiap sudut Kota Erbil. Mengantar para karyawan yang ingin berkunjung ke tempat-tempat penting. "Kita ikut bis khusus hari ini, kebetulan ada rute ke Citadel," lanjutnya. Citadel adalah sebuah benteng besar di pusat Kota Erbil dengan dikelilingi pusat perbelanjaan tradisional. Tata letak dan bentuk bangunannya menyerupai sebuah kastil tua yang sekarang dijadikan museum. Di bagian depan kastil tampak sebuah taman yang ditata rapi. Tersedia tempat duduk, dihiasi rumput hijau dan kolam kecil dengan 'water fountain' serta bunga-bunga yang cantik. Di sisi kiri dan kanan taman berdiri gedung antik yang di dalamnya terdapat beberapa ruas toko. Produk yang mendominasi pasar ini berasal dari Turki dan Itali. Dari arah depan yang berhdapan dengan taman terbuka, kita disuguhkan pemandangan yang sangat menakjubkan. Sebuah sculpture bersejarah di puncak gedung, sosok salah satu petinggi Negeri Kurdistan. Keduanya memasuki gedung yang berada di sebelah kanan, menuju ke sebuah toko khusus pakaian dan pernak pernik olah raga. "Kuning atau merah?" tanyanya sambil mengacungkan dua helai kain syal segitiga, di tangan kiri dan kanannya. "Kuning!” Thalia menjawab asal. Sebetulnya ia tidak tahu dengan pilihan yang Jurgen tawarkan. "Aku, sih, lebih suka merah," ujarnya datar. "Ya, sudah. Terus kenapa tanya aku?" Thalia cuek sambil melihat-lihat barang lain tanpa niat untuk membeli. "Kenapa pilih kuning?" selidiknya. "Seger aja liatnya.” Lagi-lagi Thalia menjawab asal. Jurgen menatap sejenak. "Relevant!" Meski terdengar dipaksakan, Jurgen berusaha setuju dengan jawaban gadis itu. Kemudian menuju etalase kaos basket. Setelah bosan melihat-lihat, Thalia hanya mengikuti lelaki berwajah tirus itu dengan pandangan mata. Sementara ia menyenderkan diri di meja kasir. Selang beberapa menit, Jurgen menghampiri Thalia yang masih berdiri di dekat meja kasir. Ia tampak menenteng dua kaus basket. "Yang ini atau yang ini?" Jurgen mengacungkan dua kaus basket yang dibawanya, dengan pilihan warna kaus kuning flat biru dan merah flat hitam. Beberapa saat manik hitam itu terpukau, Jurgen terlihat keren saat menempelkan kaus itu ke depan badannya. "Dua-duanya bagus," jawab Thalia kemudian. "Yang paling cocok buat aku yang mana?" Jurgen menegaskan. "Di coba saja di fitting room, Sir." Salah satu perempuan di balik meja kasir menyarankan. Mendengar itu, Thalia mengangguk setuju. "No thanks, aku mau dia yang pilihkan," sahutnya sopan kepada perempuan itu. Sang kasir tersenyum simpul sambil melirik ke arah gadis yang kini tengah salah tingkah. "Kuning.” Thalia menjawab singkat. Tanpa bertanya lagi, Jurgen langsung menyelesaikan pembayaran. "Kamu suka merah, ya?" Gadis asia bertanya iseng seraya mengikuti langkah jurgen ke luar, menyusuri koridor toko. Jurgen hanya menoleh sebentar lalu kembali meneruskan langkahnya menuju kursi taman. "Merah itu keren. Seperti bendera kebangaanku.” Wajah putih yang duduk di sisi Thalia itu mengembangkan senyum. Tumben senyum terus. "Nanti diseruduk banteng, loh." Mendengar ucapan Thalia, Jurgen melirik seraya mengernyitkan dahi. "Kalau bantengnya dari Indonesia tidak apa-apa, pasti bantengnya imut." Jurgen merespon sambil tersenyum. Tanpa Thalia sadari makna dari ucapan lelaki itu. 'Thiera benar, anak ini suka ngelantur. Mana ada banteng imut?' Suasana di sekitar kursi taman terasa hangat dan manis, hari ini tidak ada kekakuan membekukan keduanya. Sehangat jajanan tradisional khas Erbil, donat churros yang rasanya manis dan gurih sekali. Dering ponsel Thalia menyela, tampak nama Thiera di layar. "Halo, Thie." "Lia, saan ba kayo? Dito ako saharap Citadel."(Lia, kalian di mana? Aku di depan Citadel) Thalia mengembuskan napas lega mendengar sahabatnya menepati janji untuk datang. "Kita di tengah taman, duduk di bangku samping jajanan churros.” Thalia memberikan arah sebelum percakapan berakhir. Thalia menggeser posisi duduknya saat Thiera tiba, mempersilahkan gadis Philippine itu duduk di dekat Jurgen. Thie pun mengerti, seraya mengambil sebiji churros dalam kantong kertas yang Thalia pegang. "Kita ke atas, yuk!" ajak Jurgen tiba-tiba. "Oke!" Dua gadis itu berseru hampir berbarengan. Cuaca masih sangat dingin, ketiganya melindungi diri dengan blazer tebal dan sarung tangan. Tak lupa menambahkan syal panjang yang lembut. Berada di puncak gedung citadel, beberapa kali mereka mengambil gambar dengan kamera ponsel masing-masing. Mentari bersinar cerah meski angin berhembus kencang dan dingin. "Berdua, dong." Thiera menarik Jurgen ke sisi Thalia lebih dekat, lalu merampas ponsel milik Thalia dan Jurgen. Kemudian dengan terampil ia mengambil beberapa foto dari kedua ponsel itu bergantian. Ada perasaan rikuh menyelimuti Thalia saat berpose dengan Jurgen. Namun, sepertinya lelaki itu sudah tak kaku lagi. Sesekali ia merangkul bahu Thalia, menggandeng tangan dan menyandarkan punggung saat duduk bersisian. Thiera sungguh luar biasa ahli dalam pengambilan sudut gambar. Hasilnya ciamik! Tak ada lagi canggung dari sikap Jurgen. Hanya saja, Thalia merasa tak enak hati pada Thiera. Anehnya gadis Philippine itu malah tersenyum geli melihat tingkah Jurgen. Entah apa yang Thiera pikirkan. "Ooppss!" Thalia menyela tiba-tiba. "Bakit, ka, nanaman?"(Kenapa?) Thiera kaget, seketika Jurgen mengalihkan perhatiannya pada Thalia yang meringis. "Sebentar, ya. Sepertinya aku mau ke toilet dulu." Thalia gegas menuju kamar kecil yang berada di lantai dasar. "Oh, kirain kenapa." Thiera berdecak. "Ada yang sedang berbunga-bunga, nih." Thiera tersenyum meledek Jurgen. Terlihat rona sipu-sipu malu mendengar ledekan sang sahabat. Rasanya tak karuan, sambil terus memandangi foto-foto yang diambil Thiera tadi. Jurgen senyum-senyum sendiri hingga tak memperhatikan Thiera yang asik berselfi dan tiba-tiba, Brug! "Thiera!" Jurgen reflek menopang tubuh yang terjungkal dan hampir menggelinding menuruni anak tangga. Namun, tiba-tiba sesuatu meraih kerah bajunya dari belakang hingga ia sulit bernapas karena tercekik. Thiera segera menguasai diri dan menyeimbangkan pijakannya perlahan ketika merasakan sesuatu yang tidak beres dengan Jurgen. Tubuhnya mengejang, lalu lunglai setelah cengkraman itu terlepas dengan kasar. "Kamu?" Thiera menatap dengan mata nanar penuh keterkejutan melihat sosok yang hampir saja mencelakai sahabatnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD