Part 9 - Cinta Tak Pernah Salah

1624 Words
Pikiran Sonny masih tertuju pada sikap Thalia yang sepertinya berusaha menenangkan Jurgen saat meninggalkan room service tadi sore. 'Apakah mereka betul-betul sudah menjalin kedekatan?' Batin Sonny masih terus berperang dengan pikirannya. ‘Ah, ayolah, Sonny! Kalau mereka sudah dekat, please delete her! Jodoh tidak akan kemana, bukan?’ Sonny mengusap wajahnya yang kacau. Serasa ingin menghalau pikirannya yang galau, tetapi perasaan itu selalu menuntunnya ke sana. Ia berusaha keras untuk tidak kembali memikirkan perasaannya untuk Thalia. Akan tetapi, insting laki-lakinya tak salah menilai, setiap kali mereka tengah di posisi yang berdekatan ia merasakan sikap aneh pada gadis itu. Seperti pantulan rasa yang dapat mengirimkan gelombangnya meski dalam getaran yang sangat halus. Lagi-lagi ia mencoba menepikannya. ‘mungkin itu hanya perasaanku saja.’ Sonny berusaha memfokuskan diri pada pekerjaan. Hari ini mereka bertugas di jadwal yang sama. Sementara di meja sebelah, Thalia masih belum lepas dari bayangan yang Thalia lihat tadi malam di lorong tangga. Lamunannya dibuyarkan senda gurau Vishal dan Jaku selepas orderan breakfast berlalu. Seperti biasa, aroma kopi dan pastries yang kaya dengan butter swiss selalu menjadi ciri khas ruangan ini. Menciptakan magnet tersendiri. "Areey yarrr, what are you doing Jaku, kamu buang semua s**u itu? Kan, sayang, Man." Vishal menegur Jaku—barista terbaik room service—ketika dilihatnya Jaku menumpahkan semua s**u sisa orderan tadi pagi, dengan logat khas Indianya. "Man, siapa yang mau minum s**u bekas? Kalau pun disimpan di chiller nanti melanggar HACCP. Kamu mau kita semua kena suspend?" ujar Jaku santai dengan aksen Albania yang kental. "Aku teringat sapi-sapiku di rumah, setiap kali minum s**u dan jika bersisa aku akan berikan s**u itu pada sapiku." Vishal bercerita tanpa ada yang bertanya. "Hey, Vishal! s**u itu keluar dari sapi, terus kamu menyuruh mereka minum susunya sendiri?" seloroh Jaku seraya terkekeh. "Next time please berikan padaku saja," ujar Vishal lagi tanpa menghiraukan gurauan Jaku. "Bilang saja kalau mau minum s**u, Man. Tidak perlu mengambing hitamkan sapimu." Jaku menyodorkan segelas s**u yang baru ke arah Vishal. Thalia mengulum senyum melihat ekspresi wajah Vishal. "Thank you, Jaku. You are very good." Vishal menyambut cangkir itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sir, can I drink this milk?" Vishal meminta izin kepada Sonny sambil mengacungkan cangkir di tangannya. "Yes please, cangkir itu sudah di tanganmu, terlambat kalau kubilang tidak, kan?" Sahut Sonny sembari menahan tawa. Thalia tak sengaja melihat wajah geli Sonny. Lucu dan menggemaskan. Kemudian tiba-tiba lelaki itu menoleh memergoki tatapan di sampingnya. Keduanya terdiam sesaat, lalu saling membuang pandangan. Rikuh. "Lia kamu boleh istirahat sekarang, ya." Sonny membuang kekakuan yang mendadak menyerangnya. Seperti gadis kecil yang patuh, Thalia mengangguk dan berlalu menuju kafetaria. *** Manik hitam Thalia langsung tertuju pada sosok cool dengan rambut spyki-nya, Jurgen. Ia tengah duduk bersama Thiera sambil menikmati santap siang. Mereka tampak akrab saling bercerita dan tertawa. Kadang masih selalu ada tanya di sudut kepala Thalia, kenapa Jurgen selalu menunjukkan sikap aneh dan tak bersahabat padanya. Jika memang harus menjaga perasaan Thiera, seharusnya dia bisa bersikap biasa saja seperti yang lain tanpa kekakuan. Baru kali ini rsanya Thalia menemukan makhluk aneh semacam Jurgen. Berniat tak ingin mengganggu, Thalia memilih meja terpisah. Namun, Thiera yang terlanjur melihatnya langsung memanggil untuk bergabung bersama mereka. Makin merasa kikuk dengan tatapan mata Jurgen yang penuh selidik. ‘Dia kenapa lagi, ya? Apa mungkin berpikir yang tidak-tidak tentang apa yang dilihatnya antara aku dan Sonny kemarin?’ Pikiran Thalia melayang tak karuan. "Hey, Mare. Kamu makan atau kesurupan?" seloroh Thiera sambil tertawa saat dia sadar Thalia makan terlalu cepat. Gadis yang ditanya menggeleng dan mengangguk berbarengan sambil terus makan. "Kemarin kemana saja sama Sonny, kok, pulangnya malam sekali?" tanya Thiera tiba-tiba, menghentikan Thalia makan. Seketika Jurgen tersedak dan terbatuk-batuk, diikuti tatapan bengong Thalia. "Mau tau saja." Thalia pura-pura tak peduli. "Cieeeee ...," ledek Thiera makin membuat keki, spontan Thalia menginjak kaki Thie. "Hoppaa ...! What the dush!" Thiera terkejut seraya melotot ke arah Thalia. "Sorry, Mare. Tidak sengaja." Gadis asia itu tersenyum tanpa arti. Tak sadar tatapan Jurgen menyelidik seperti menghakimi. 'Dasar tukang ingkar janji!’ Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Thalia tentang arti tatapan makhluk aneh itu. "Hey, apa kalian mendengar dentuman tadi malam?" Thalia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Hmm, yeah," jawab Thiera biasa saja. Jurgen hanya cuek sambil meneguk es jeruk dengan sedikit meringis karena tenggorokannya yang tersedak tadi. "Guys, see you." Thalia bergegas membereskan nampan makanan. Sebelum beranjak, Thiera berbisik keras. "Hey, something happen last night?" Thiera terus menggoda sambil mencubit pipi yang kini sudah bersemu kemerahan. "Hey, kamu ini kenapa, Thie? kemarin itu selesai mencari perlengkapan lomba, kami makan sebentar. Itu aja. I swear." Thalia mengacungkan dua jari dengan nada grogi. Jurgen masih dengan tatapannya. "Bisa di take away, kan?" Di luar prediksi BMKG, si jutek itu melontarkan tanya sinis. "Kenapa kamu jadi peduli, sih? si Juri kenapa Thie?" Thalia mulai senewen, menatap kedua makhluk di depannya bergantian. Thiera menatap Jurgen, memberikan kode dengan matanya yang diiringi tatapan penuh tanya dari Jurgen. Sungguh Thalia tidak mengerti apa yang terjadi pada dua makhluk ini. Kemudian ia segera berlalu dari hadapan mereka. *** Thiera tengah membenahi semua file dan beberapa hand over dari Thalia. Sonny masih berkutat dengan pekerjaannya di meja sebelah. Sementara pikiran Thalia terus melayang ke obrolan mereka di kafetaria tadi. ‘Dari mana Thiera tau aku pulang tengah malam kemarin? Sempat-sempatnya dia meledek dengan bertanya something happen. Memangnya Thiera tidak tau kalau Sonny sudah merit?’ 'Jangan-jangan....' Thalia menerka-nerka, ia ingat sosok bayangan di balik dinding tadi malam, tetapi ia enggan membahas itu lebih lanjut. "Ada, ya, orang aneh seperti dia?" Thalia bergumam pelan. Tanpa sadar ucapannya terdengar oleh Thiera yang duduk di samping. "Siapa?" tembaknya dengan tetapan yang masih fokus pada pekerjaan di layar micros. "Nothing!" Sedikit kesal Thalia menjawab. Sementara Thiera mengulum senyum. "Temani aku ke Citadel, besok." Tiba-tiba suara datar yang tak asing itu menyeruak membuyarkan kecarut-marutan kepala Thalia. Lelaki itu menyodorkan secarik kertas berbalut amplop kecil, menempelkannya ke telapak tangan Thalia dengan lembut. ‘ya, Tuhan! Tangannya lebih lembut dari kain baby terry.’ Thalia berdecak dalam hati. Jurgen berdiri tepat di samping Thalia. Sepertinya senang sekali mengendap, memasuki room service tanpa suara. Sementara Thiera dan Sonny menoleh sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaan masing-masing. "Kenapa harus aku? Kamu, kan, bisa pergi baersama Thie." Thalia membaca pesan di dalam amplop yang dilipat rapi. 'Aku tunggu di kantin vila, besok jam 11 pagi.' "Hey, besok aku tugas pagi, Mare. Tapi aku nyusul selesai kerja. nanti kita join pool party bareng, ya." Thiera tersenyum agar Thalia menyetujui. “Aku mau kamu yang temani." Jurgen terdengar sedikit meninggikan nada suaranya. Thalia melirik Sonny dengan ujung mata. Namun, seseorang yang dilirik tak merasa terganggu sama sekali, tetap fokus pada pekerjaannya. "Apa kamu tidak keberatan, kalau aku pergi dengan Juri?" Thalia menatap Thiera penuh selidik. Thiera hanya terbahak menjawab pertanyaan Thalia. "Gantian. Kali ini aku minta tolong. Deal!" Jurgen pun berlalu dari room service tanpa menunggu jawaban tanda setuju. "Thie, kamu tidak cemburu?" tanya Thalia hati-hati. "What?!" Thiera memekik. "Huh!" Thalia dan Sonny terkesiap menatap Thiera bersamaan. Thiera terlihat heran, lalu terkekeh dengan pertanyaan konyol itu. "Bakit, nga?" (kenapa?) Thalia keheranan. "Wala."( Tidak apa-apa.) Thiera tertawa kecil. Emang betul-betul pasangan aneh! Sementara Sonny masih bergeming dengan pekerjaannya di meja sebelah, entah apa yang dikerjakannya seserius itu. *** "Son, are you going home?" Thalia bermaksud mengajak Sonny menuju bus, ketika jam kerja usai. "Iya. Aku sudah selesai." Sonny membenahi diri untuk bergegas pulang. "Thie, Tolong info Juri untuk file hand over," lanjutnya lagi. Thiera mengangguk tanda mengerti. "Bye, Mare." Gegas Thalia dan Sonny berjalan beriringan memburu pintu. Hoop! Hampir saja mereka bertubruk dengan Jurgen yang melangkah masuk room service dari arah berlawanan. Dia menatap Thalia dan Sonny bergantian. "See you, Man!” Sonny cuek. "Bye," balas Jurgen. "Jangan lupa besok Lia!" serunya . Thalia mengangguk sambil berlalu. Tanpa sadar Thalia meraih lengan Sonny dan menggandengnya hingga ke pintu luar. Sonny tersadar dengan sesuatu yang bergelayut di sikunya kemudian menurunkan tangan itu dan menggenggam dengan jemarinya erat tanpa ragu-ragu. Thalia merasa grogi sendiri. Gosh! Apa ini? *** "Kamu liat, kan?" bisik Jurgen pada Thiera ketika Thalia dan Sonny sudah menghilang. "Apa?" Thiera yang paham maksud Jurgen, pura-pura tak mengerti. "Kamu tidak melihat bagaimana dia menggandeng tangan Sonny?" Jurgen terdengar memelas. Thiera yang juga menyaksikan itu, berusaha tetap menepikan pikiran Jurgen. "Kamu tidak akan pernah tau sebelum mendengar sendiri. Hey, listen! apapun yang akan Lia jawab besok, jangan pernah berpikir itu akhir dunia. Jika kamu pikir kamu deserve to get her, please buktikan. Itu aja. Dia pasti akan luluh." Thiera menyemangati. "Satu hal Thie, aku tidak mau menyakiti dia." Jurgen mengembuskan napas berat dan dalam. "Makanya fight!" "Masalahnya ...." Jurgen menggantung kata-katanya. "Apa masalahnya?" Thiera menunggu kelanjutan kalimat Jurgen. "Aku dan dia beda Thie. Kamu paham, kan, maksudku?" Thiera menatap dalam. "Juri, cinta itu tidak pernah salah. Perasaanmu tidak salah. Kalaupun akhirnya kalian bersatu, jaga sampai Tuhan menentukan sesuatu untuk kalian. Ingat sekali lagi, apa pun hasil yang Thalia berikan bukanlah akhir dunia. Ada hal lain yang ingin Tuhan tunjukkan untukmu. Berjuanglah sampai kamu tau akhir dari perjuanganmu.” Thiera menepuk pelan pundak Jurgen. Thiera sangat mengerti dengan kondisi Jurgen yang membuat sedikit tidak percaya diri karena vonis manusia yang mematahkan seluruh sendi semangatnya. Apalagi dia pernah merasakan bertepuk sebelah tangan. Meski itu sudah berlalu beberapa tahun silam. ‘Apakah aku egois jika hanya memikirkan perasaanku tanpa memikirkan perasaan Thalia. Memaksakan seseorang hadir dalam kehidupanku yang aku tau perjalananku hanya tersisa setengah waktu. Pada akhirnya akan menyakiti satu sama lain. Haruskah aku memaksakan untuk tetap memiliki wajah Asia yang begitu mengganggu pikiranku akhir-akhir ini?’ Pikiran Jurgen terus berperang dengan batinnya. Namun, di sisi lain ia setuju dengan Thiera. Ada makna hidup yang ingin ia bagikan bersama Thalia mengenai betapa perasaan yang tulus dan murni bisa memberikan penyembuhan pada luka batin atau kesakitan yang parah sekalipun. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD