Dug !
Satu kepal tinju menghantam tegas di meja tempat Jurgen terduduk, membuat Thiera terperanjat.
"Hey, are you oke?" Thiera menoleh pelan ke laki-laki yang tampaknya sedang menekan rasa galau itu.
Jurgen memejamkan mata dan menggeleng pelan.
“Kamu berpikir sesuatu tentang mereka?" selidik Thiera hati-hati. Terdengar embusan napas pendek dan keras.
"Entahlah, aku hanya tidak mau menghadapi kemungkinan lebih buruk dari diagnosa dokter. Lebih baik aku menghindar, Thie."
"Cuma karena mereka pergi berdua?" pancing Thiera.
"Kamu tidak pernah melihat wajah Thalia saat berada di dekat Sonny." Jurgen terdengar putus asa. Lalu ia pun menceritakan apa yang dilihatnya tadi siang.
"Aku tidak yakin." Thiera menjawab tegas.
Tentu saja Thiera tidak sepenuhnya yakin karena belum menyaksikan langsung apa yang diceritakan Jurgen. Ia hanya ingin memberikan keyakinan pada kepercayaan diri Jurgen.
"Besok ajak dia jalan, langsung tembak!" Thiera mengajukan ide ekstrim.
Jurgen menoleh cepat. Menatap heran dan bingung. Sementara Thiera tersenyum cemerlang.
"Citadel!" Thiera menjentikkan jarinya.
***
"Too crowded! padahal masih weekday.” Sonny mengitari pandangannya.
Mereka berjalan membelah kerumunan yang berdesakan di tengah atrium mall. Sepertinya ada acara. Sayup-sayup musik khas Turki mengalun.
Semakin mendekati ujung atrium menuju eskalator, pandangan Thalia tertuju pada sebuah puncak dekorasi dengan hiasan khas musim dingin. Ada beberapa miniatur rusa dengan keretanya, satu orang berakting dalam balutan busana santa. Di sekelilingnya bertaburan kapas putih menyerupai salju.
Di arena yang sedikit lebih luas berlangsung tarian khas Turki. Sang penari dengan piawai berputar-putar indah tanpa jeda, tanpa sedikit pun merasa pusing dengan mengenakan gaun khas. Sesekali lampu di bagian tengah atrium dimatikan untuk menampakkan keindahan lampu pada gaun penari tersebut. Luar biasa!
Thalia tak hanya merekam pertunjukan penuh takjub itu dengan mata tetapi juga mengabadiakannya di kamera ponsel. Sementara Sonny menunggu dengan sabar sampai gadis itu puas dengan dokumentasinya.
"It's amazing !" serunya ketika pertunjukan berakhir.
Senyum penuh sabar milik Sonny masih tergurat di wajah putihnya. Kemudian menuntun lengan Thalia menaiki eskalator supaya tak terpisah oleh kerumunan yang masih berjejal, menuju sebuah toko pernak pernik di lantai atas.
Keduanya berjalan selalu saling beriringan. Sesekali Sonny mencuri pandang di antara sela-sela susunan rak yang memajang barang. Begitu juga sebaliknya, thalia diam-diam mencari kesempatan.
‘Mumpung tidak ada Jurgen.’ Pikiran nakalnya berkelana.
Di satu titik pandangan keduanya bertubruk. Satu kali, dua kali, tiga kali, keempat kali keduanya tak tahan menahan tawa. Tentu saja tawa itu membawa rona-rona rasa di kedua sisi hati itu. Namun, lagi-lagi Thalia harus tersadar dengan ucapan Jurgen. Sonny pun segera menyadari, gadis itu tengah dekat dengan Jurgen sekarang. Sudahlah!
Setelah berputar-putar agak lama di toko tersebut, perlengkapan yang dimaksud pun sudah didapatkan.
"Done Lia!" seru Sonny sambil mengecek ulang keranjang belanjaan. Ia memastikan semua sudah lengkap. Kemudian bergegas menuju antrian kasir.
"Oke let's go home!" Begitu ke luar dari toko tersebut. Manyusuri koridor mal.
"Lia, kita makan dulu, ya. Aku lapar," ajak Sonny.
Thalia hanya mengikuti saja tanpa bisa menolak.
"Mau makan apa, Li?"
"Any, Son." Thalia memberikan pilihan pada Sonny untuk menentukan.
"Loh, kok, gitu?"
"Ke food court saja kalo begitu.” thalia mengusulkan.
"Oke, let's go."
Keduanya duduk berhadapan sama seperti saat pertama kali sarapan di staff kafetaria. Seperti biasa sikap Sonny yang hangat dan ceria selalu menyelipkan obrolan-obrolan ringan dan mengasikan.
Tak sedikit pun berkurang kekaguman Thalia kepada lelaki bergaya rambut Tintin itu. Ia selalu punya ide untuk dibahas dan wawasannya sangat luas. Persis seperti Lewis. Mereka pun menikmati santap malam dengan saling bertukar cerita tentang apa saja yang bisa jadi topik seru pembicaraan. Kadang ada tawa di sela-sela obrolan.
"Alhamdulillah," ucap lelaki berdarah Afrika-Eropa itu, setelah menghabiskan santapannya. Refleks Thalia mengikuti berucap.
Kemudian beranjak meninggalkan food court, bergegas menuju pelataran parkir mal.
***
"Son, kamu Muslim?" Thalia memecah sunyi yang tiba-tiba menyekap dalam mobil.
"Iya, aku lahir dan besar di Tunisia. Ibu asli Maroko, Ayah muslim Perancis," tuturnya.
"Oh, I see."
"Eh, kami sempat tinggal di Indonesia, loh. Hanya beberapa tahun, waktu aku masih kecil, mungkin usia TK," ungkapnya sambil mengingat-ingat.
"Oya?" Thalia makin tertarik mendengarnya. Sonny mengangguk tersenyum sambil mengemudikan mobil.
"Aku juga masih ingat beberapa kata bahasa Indonesia." Lelaki itu terkekeh.
"Really?" Gadis itu kembali pada perasaan riangnya tanpa sadar. Sepanjang perjalanan Sonny terus bercerita tentang masa kecilnya saat masih tinggal di Indonesia.
Sesaat Thalia berpikir untuk menanyakan yang dikatakan Jurgen, sekedar ingin tahu saja. Namun, baru saja mulut itu hendak berkata tiba-tiba sesuatu mengagetkan mereka.
Suara dentuman sangat keras bergema di udara. Ledakannya seolah-olah berada tepat di atas kepala. Sangat dekat, memekakan telinga dan membuat syok.
Tak sadar Thalia menjerit dan menunduk menghindari dentuman yang menyergapi seluruh jalanan yang mereka lintasi.
Terpaksa Sonny menginjak rem secara mendadak. Ia meraih kepala yang menunduk ketakutan itu kepelukkannya dan mencoba menenangkan. Beberapa detik dekapan itu menenggelamkan wajah Thalia dalam d**a bidang milik Sonny. Tanpa sadar jemari Thalia meremas kencang sisi kemeja lelaki beraroma Hugo Boss itu.
Di antara ketakutan yang membuncah, Thalia merasa tenang ketika wangi Hugo Boss kembali menyambar penciuman. Kali ini lebih dekat, aromanya begitu lekat. Terasa semakin seksi saat terdengar degup kencang di sana.
Hening.
Tak ada satu kendaraan pun bergerak, semua diam. Kemudian tersadarkan oleh bunyi sirine dari mobil patroli yang melintas dengan gegap.
Thalia terkesiap, segera melepaskan genggaman tangan Sonny dari kepalanya. Beberapa detik mereka masih saling bertatap. Sangat jelas, Thalia menangkap mata kuning kecoklatan yang teduh itu. Kombinasi yang indah seperti lautan di selat Gibraltar.
"Tenanglah." Sonny membenahi posisinya dan mengelus lengan Thalia lembut sebelum kembali menegakkan badan.
‘Tuhan, bisakah Engkau memberitahunya bahwa ada serpihan hati yang menari-nari saat ini. Sayangnya makhluk-Mu ini sudah dimiliki raga yang lain. Astagfirullah!
Hati Thalia berbisik lirih.
"Ini biasa terjadi di sekitar daerah Ankawa setiap dua pekan." Sonny kembali melajukan mobil tanpa merasa canggung sama sekali.
"Suara apa itu tadi?" Thalia masih terdengar lemas.
"Itu bom, Lia." Sonny gusar. Dia khawatir menambah ketakutan di benak gadis yang duduk di samping kemudi. Nyatanya ia sangat ketakutan.
"Dua tahun aku tinggal di sini, itu selalu terjadi dan hanya menyerang area Ankawa yang di sepanjang jalan itu banyak dijual bebas minuman beralkohol seperti vodka, whiskey dan lainnya," lanjutnya sambil tetap fokus pada kemudi.
"Apa kamu tidak merasa khawatir?" Thalia menoleh ke arah Sonny yang tengah menatapnya lama. Ia sedikit mengendorkan pijakan gas.
"Aku, kan, tidak pernah ke Ankawa untuk membeli minuman. Mereka hanya meneror pedagang minuman liar di sana. Mereka ingin membersihkan negara ini dari barang haram itu." Sonny menghela napas.
"Mereka siapa?" Thalia menyelidik.
"Yang bertentangan dengan keputusan kemerdekaan Erbil." Sepertinya Sonny tahu banyak tentang informasi di sini.
"Apa ada kaitannya dengan konflik di Mosul, Son?" Gadis itu mencoba menyambungkan.
"Aku kurang tau pasti tentang hal itu," pungkasnya.
"Tapi, bukankah di setiap hotel ada minuman beralkohol?" Thalia makin penasaran.
"Hotel itu sudah memiliki lisensi dan tidak setiap orang bisa membeli untuk dibawa pulang kecuali minum di tempat," jelasnya.
Thalia mengangguk paham. Pikirannya masih menjalar pada kejadian beberapa menit yang lalu. Betapa mengerikannya hidup dalam tekanan dan ketakutan. Hal ini pula yang membedakan antara Erbil dengan Negara Timur Tengah lainnya yang keamanannya terjamin. Sebuah tantangan hidup yang harus dijalani selama dua tahun ke depan. Bisakah ia bertahan? pikirannya terus berputar-putar sebelum tak sadarkan diri karena rasa kantuk yang tak bisa ditolak.
"Lia, kita sudah sampai." Sonny membangunkan wajah yang terlelap sepanjang perjalanan.
Sayup suara Sonny menembus rungu Thalia yang belum tersadar sepenuhnya.
Terasa ada sentuhan halus dan dingin mengusap pipinya, lamat-lamat usapan itu terasa seperti tepukan lembut. Thalia tergeragap mengumpulkan kesadaran. Ia dapati wajah Sonny tengah menatap tanpa terganggu ketika kedua netra itu kembali bertemu. Ada senyum tersungging di bibir Sonny setelah beberapa detik saling bertatap. Manik Asia di depannya berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Aku anter ke depan Vilamu." Sonny meraih tas Thalia dan menenteng di pundaknya. Kemudian berjalan beriringan menuju lantai 2 blok 1 vila Elegant Hills.
"Thanks, Son." Thalia meraih tas dari tangan Sonny ketika tiba di depan vila.
"Sa-la-mat ma-lam, sam-pai zum-pa." Sonny terbata berusaha mengucapkan dengan jelas Bahasa Indonesia seraya mengulum senyum. Senyum itu bersambut hangat.
Pandangan mata Thalia mengikuti langkah lelaki jangkung itu hingga lenyap di ujung lorong tangga.
Ketika hendak membuka pintu, ekor matanya menangkap sosok tengah memperhatikan dari ujung lorong yang Sonny lewati. Ia menoleh cepat, tetapi tak dapat menangkap sosok itu. Hanya terlintas bayangan yang bersembunyi di balik dinding, lalu terdengar langkah menuruni tangga.
***