Seminggu berlalu setelah malam saat mereka berpapasan di depan pos penjagaan hotel. Thalia betul-betul menjaga sikap terhadap Sonny.
Namun demikian, keakraban mereka tidak berkurang. Sikap ceria Sonny pun tidak berubah, ramah dan canda tawanya masih tetap sama. Itulah Sonny.
"Siapa yang membuat laporan menu engineering minggu ini?" tanya Sonny saat bertugas pagi ini bersama Thalia.
"Aku yang membuatnya, Lewis yang menugaskan." Thalia menjawab cepat.
"Kamu belajar dari mana?" Sonny bergeming dari layar komputer.
"Aku hanya mencari panduan dari google, tapi belum dicek sama Lewis." Gadis yang rambutnya diikat rapi ala Ariana Grande itu tersipu.
"Oh, I see. Kamu tau, Li? Lewis itu setiap memberikan tugas pada staff tidak pernah mengajarkan langsung," ujarnya.
"Dia lebih memberikan kesempatan kita untuk belajar berkembang sendiri. Salah atau benar, nanti dia yang akan memberikan koreksi. Jika menurutnya benar, dia akan memakai ide tersebut. Bekerja dengan Lewis itu banyak sekali ilmunya, apalagi dia lulusan hotel management di Swiss." Sonny menjelaskan.
"Wow! that's cool." Thalia berdecak kagum.
"Setiap staff yang diberi tugas oleh Lewis, pasti menyambut dengan senang hati. itu artinya dia percaya potensi yang dimiliki staff-nya."
"Staff yang bekerja dengan Lewis banyak yang sudah jadi supervisor bahkan jadi manajer, he is really a good leader," lanjut Sonny lagi.
"Assalamualaikum! Good morning." Tiba-tiba Lewis memasuki ruang kerja sambil menyalami Thalia dan Sonny.
"Waalaikumsalam.” Keduanya menjawab berbarengan.
Laki-laki berambut pirang, berkulit putih dengan logat India itu belakangan diketahui berdarah asli Pakistan. Dia berasal dari keluarga Muslim terpandang. Bahkan ayahnya salah satu mantan petinggi negeri di sana. Tidak heran dia memiliki attitude yang santun. Namun, kebanyakan staff-nya heran kenapa ia memilih bergelut di dunia perhotelan. Mungkin lebih menyenangkan daripada dunia politik atau militer.
"Wah, long life, Bos," celetuk Sonny.
"Why?" Lewis heran.
"Orang bilang jika kita dibicarakan lalu datang, maka it's just like a blessing," lanjut Sonny lagi.
"Berarti kalian sedang membicarakan aku?" Lewis menatap Sonny dan Thalia dengan mimik menggemaskan.
"Secret," seloroh Thalia.
"Benarkah seperti itu atau hanya mitos?" Lewis mengerutkan alisnya.
"Amin-kan saja, tidak perlu didebat." Sonny geregetan. Soalnya jika didebat, Sonny pasti kalah oleh pendapat Lewis.
"Repot juga kalau debat dengan orang cerdas." Sonny beranjak dari duduknya menuju mesin pembuat kopi.
"Hhmmm, you admit that I am smart." Lewis pun terkekeh seraya mengambil alih kursi yang tadi diduduki Sonny.
"Lewis, please enjoy." Sonny menyodorkan kopi buatannya.
"Thank you." Lewis menerima cangkir penyemangatnya.
"My spirit cup." Lewis menyeruput dengan penuh perasaan. "Ini resep barukah?" tanyanya kepada Sonny yang diketahui banyak belajar tentang meracik kopi dan pengetahuannya tentang kopi sudah level master.
"Yes, itu kuracik khusus untukmu, tidak ada dalam daftar menu kita," jawab Sonny.
"Love it!" Lewis tersenyum puas. "Enak!"
"So, Miss Lia, bagaimana dengan tugas yang aku minta minggu lalu?" Lewis meletakan cangkir kopinya setelah tegukan yang pertama.
"Sudah ada di file biasa, Bos." Belum sempat Thalia menjawab, Sonny telah lebih dulu bersuara seraya melirik Thalia dan mengedipkan matanya lucu.
Oh My Gosh ...!
Ada irama jantung yang menjerit-jerit. Apakah Sonny tidak tahu jika kedipannya itu berakibat fatal bagi hati Thalia yang terasa melompat-lompat? Gadis itu hanya mematung, mengelabui perasaan yang takut tidak terkontrol.
Jika saja tidak ingat apa yang dikatakan Jurgen tentang Sonny, rasanya ingin dekat seperti ini terus. Mereka berada pada jarak yang sangat dekat, posisi Sonny berdiri sedikit menyender ke pegangan kursi yang Thalia duduki. Aroma Hugo Boss menusuk-nusuk hati, melalui indra penciumannya. Jika bisa terdengar, mungkin derap-derap jantungnya yang bergejolak saling berteriak riang.
"Oke, aku akan cek detailnya nanti. Good! you have done it. Sekarang siapkan untuk afternoon briefing selagi tidak sibuk. Son, bantu tunjukkan file yang baru pada Thalia, ya." Lewis tampak berdiri sambil tak lupa dengan cangkir penyemangatnya.
"Aku ada meeting dengan Boss Paulo sekarang. See you, guys." Lewis selalu bersemangat ketika ia disibukkan meeting dengan atasannya.
"Show off time!" ledek Sonny terkekeh. Lewis hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berlalu.
Thalia kembali fokus pada layar komputer, mencari file yang diinfokan Lewis. Sonny masih berdiri di tempat yang sama, posisinya tidak bergeser sama sekali. Sesaat kemudian Thalia berhasil membuka file yang dimaksud. Lelaki itu sedikit membungkukkan badan demi melihat layar komputer lebih jelas. Wangi Hugo Boss semakin membuat Thalia hilang konsentrasi. Dagu Sonny hampir saja beradu dengan pelipisnya. Tarikan napas pun mulai tidak teratur.
Oh, Lord!
"Lewis mana?" Suara datar, lembut dan kaku itu tiba-tiba menyambar dari arah samping pintu kaca. Entah kapan Jurgen memasuki room service.
Thalia menganga beberapa detik, diiringi dengan bulatan matanya yang tetap sejurus pada layar komputer. Semakin tidak fokus dengan apa yang Sonny jelaskan. Sementara Sonny merespon Jurgen dengan santai.
"Hai, Man! Lewis ada meeting dengan Mister Paulo." Sonny menyambut Jurgen dengan saling menyilangkan lengan.
"Hai!” Thalia menyapa Jurgen dengan senyum kaku. Ia berusaha menghilangkan rasa grogi yang memorak porandakan ketenangan jiwanya.
Sosok yang disapa hanya melirik datar dengan pandangan yang penuh huru-hara. Kemudian berlalu meninggalkan room service, tanpa menjawab sapaan Thalia. Sementara gadis itu mengiringi langkah Jurgen dengan pikiran tak menentu.
Tersadar posisi mereka masih belum berubah, segera Thalia membenahi diri. Sonny pun tampak menjadi kaku, tetapi berusaha tetap tenang dan kembali menyesap kopinya.
Entah apa yang ada dipikiran Sonny saat ini. Apakah ia mencium aroma grogi yang bergemuruh hebat dalam hati Thalia? Meski sedikitnya Thalia berharap Sonny tahu kalau ada yang sedang menahan gejolak di dalam sana.
***
"Oke guys, sebelum briefing ditutup, siang ini aku mau memberikan satu learning point. Ada yang tau apa itu Egg cocotte?" tanya Lewis mengedarkan pandangan satu per satu ke arah semua staff. Lalu telunjuknya jatuh pada Thalia.
"Lia, pernah dengar apa itu Egg cocotte?"
"No, aku hanya tau Egg Benedict," jawabnya singkat.
"Ini Egg cocotte, beda dengan Egg Benedict. Bilang saja kalau tidak tau."
Skak mat!
Mereka pun saling melempar tawa.
"Siapa yang tau?" lanjut Lewis.
Satu per satu dari mereka mencoba menjawab, tetapi tidak ada yang dapat memuaskan menejer cerdas itu.
"Oke, stop! all wrong!"
"Lalu apa yang benar?" Jurgen menyela.
"Oke, let's go!" Lewis mengajak semua staff-nya menuju dapur, menghampiri kepala dapur room service.
"Chef, let's start the demo of Egg Coccote!" Lewis mengistruksikan.
"Aku pikir kamu tau, Bos," sergah Sonny.
"I know, Man! tapi percuma dijelaskan kalau kalian tidak paham. Lebih baik langsung dipraktekan, kan?" Lewis berkelakar memunculkan senyum Mister Bean .
Semua pun tergelak mendengar penjelasan Lewis.
"Okey, Guys!" Master Chef memulai learning point Egg Cocotte hari ini.
"kenapa disebut Egg Cocotte? karena dibuat dalam mangkuk keramik kecil atau ramikan yang dalam bahasa perancis cocotte. Dimasak dengan cara dipanggang dalam oven. Bahan-bahannya: telur, sapi bacon, cream cair, keju gruyere, daun piterselli segar dicincang halus. Cara membuatnya: olesi ramikan dengan butter atau minyak zaitun, tuang cream cair, tumpuk dengan bacon sapi yang sudah di goreng sebentar, tuang telur mentah di atasnya, tambahkan garam merica, taburkan keju parut dan piterselli di bagian paling atas. Lalu panggang dengan suhu 150 derajat selsius selama 20 menit. And boom! ini dia hasil yang sudah jadi." Sang Master Chef menunjukkan Egg cocotte yang sudah jadi.
"Guys, diingat, ya. Kapan-kapan akan kutanyakan lagi." Lewis menutup learning point hari ini.
"Thank you, Chef." Semuanya kembali ke room service.
"By the way, jumat besok akan diadakan pesta kolam. Room service mendapat bagian untuk pertunjukkan lomba balon sambil berenang," jelas Lewis.
"Wah, seru, tuh!" sahut salah satu staff.
"Kita harus mendapatkan perlengkapannya sekarang, saya tugaskan Sonny dan Thalia selepas kerja untuk ke Majidi Mal." Lewis mengistruksikan.
"Eh, lebih baik sekarang sebelum terlalu malam, room service tidak sibuk, kok.” Lewis meralat.
“Son, pakai mobilku saja, setelah itu langsung pulang ke villa, tidak usah kembali ke sini." Lewis memberikan kunci mobil dan beberapa lembar dinar untuk membeli perlengkapan lomba.
"Okey!" sahut Thalia bersemangat.
"Semangat sekali, Mare!" Thiera berseloroh sambil tertawa kepada Thalia.
Tanpa sengaja Thalia menangkap Jurgen tengah menatap lekat ke arahnya dan memicing tajam. Teringat pesannya tempo malam dan tatapan sinisnya beberapa menit lalu saat tiba-tiba dia memergoki Thalia dan Sonny dengan posisi yang pasti melahirkan kesalahpahaman dalam otak si jutek itu. Seketika air muka gadis mungil itu berubah kaku.
"Don't worry." Sambil berlalu ke luar room service, Thalia refleks menepuk lengan Jurgen dengan santai.
Sonny yang berjalan bersisian dengan Thalia, mendengar bisikan tersebut. Lelaki bergaya rambut Tintin itu hanya mengisyaratkan untuk pergi sambil tersenyum simpul.
"Apakah Sonny mengerti sesuatu?"
Thalia menerka-nerka, sambil mengikuti langkah Sonny ke tempat parkir.
***