Meratapi Kepergian Zaya

1364 Words
“Surat cerai udah dapet, kan? Kapan mau meresmikan hubungan terlarangmu dengan Lena? Nggak enak dilihat staf kita. Dia datang ke sini terus, soalnya. Staf kita sudah mulai bergunjing soal kamu dan Lena.” Arga, sekretaris plus sahabat Ryan menghela napas panjang sebelum masuk ke dalam ruangan CEO-nya itu lalu dengan sangat terpaksa bertanya soal rencana pernikahan Ryan dengan selingkuhannya sambil menahan rasa gondok di hatinya karena hati kecilnya dari awal sudah menentang perbuatan sahabatnya itu yang menurutnya menyalahi aturan dan terbilang kejam. Namun, kegigihan Ryan dan keseriusannya memperjuangkan cinta pertamanya tersebut, pada akhirnya membuat Arga tak bisa berkata-kata. Walaupun, ia merasa iba akan nasib Zaya yang menjadi korban CLBK Ryan dan Lena. “Tidak akan pernah ada pernikahan.” Ryan menjawab dengan nada dingin. Ia menahan luka di hatinya. Sejak ia tahu kalau Zaya pergi dari kotanya, sejak itu pula hatinya hancur. Pria itu sungguh tak mengira kalau mantan istrinya memendam sakit hati yang teramat besar padanya hingga tak sudi lagi tinggal satu kota dengannya. Hanya tinggal penyesalan yang berkecamuk di dalam jiwanya, terutama saat ia berbaring sendirian di kamarnya dan mengenang lagi betapa bergeloranya malam-malamnya dilayani sedemikian rupa oleh mantan istrinya tersebut. Menyesal, rasanya menyesal menghancurkan pernikahannya sendiri hanya demi seorang w************n tiada berharga. Ryan mengutuk dirinya sendiri yang tega-teganya membuang seorang wanita suci demi seonggok sampah. Hatinya menangis, tapi wajahnya terlihat tegar. Hidupnya hancur. Bayangan Zaya terus berenang di pelupuk mata, bahkan berkelibat di setiap sudut rumahnya dan itu sungguh terasa menyiksa. “Kenapa tidak ada pernikahan? Kamu ‘kan sudah bercerai? Masa mau pacaran terus? Kamu nggak takut dosa apa?” Mata Arga menyipit curiga. Hatinya kesal mendengar ucapan Ryan. “Bukannya kamu cinta mati sama cinta pertamamu itu? Jangan main-mainin hati wanita, Ryan! Hati Zaya sudah kamu cabik-cabik, Jangan sampai kamu mematahkan hati cinta pertama kamu juga!” Ryan mendesah kasar. Sejak pagi, ia tak konsentrasi bekerja. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia memikirkan ke mana harus mencari mantan istrinya. Pria itu juga takut, Zaya tak bisa bertahan di luar kota, mengingat wanita itu tak pernah pergi jauh sebelumnya. “Siapa yang mempermainkan hati di sini?” desis Ryan menatap tajam sahabatnya. Arga semakin tak mengerti. Sebenarnya Ryan sedang bicara apa? Pria berpenampilan kelimis itu menatap heran pada Ryan, menanti sang sahabat melanjutkan perkataannya. “Seharusnya aku tidak menceraikan istriku. Seharusnya sejak dua tahun lalu aku sudah membunuh rasa pada Lena saat dia memutuskan bekerja di luar kota dan mencampakkanku begitu saja. Dia pasti sering melakukan apa yang telah aku lihat ketika berada di sana.” Dahi Arga semakin mengernyit. Pria itu belum paham apa yang sedang dibahas oleh CEO-nya itu. Dari bibirnya pun meluncur pertanyaan yang sejak tadi mengusiknya. “Memangnya Lena kenapa?” Seketika cuplikan serta kilasan saat Lena memimpin permainan panas di atas tubuh seorang pria kembali terputar jelas di pelupuk mata. Meski tak bisa ditampik, ada juga hal yang patut disyukuri dari kejadian itu di mana Ryan akhirnya mengetahui betapa binalnya Lena sebelum terlanjur mempersuntingnya. Namun, ada penyesalan yang begitu dalam karena telah melepaskan seorang wanita suci dan baik hati yang entah apa masih bisa bertemu lagi. Ryan mengangkat kepalanya, sedikit menoleh pada Arga. Bibirnya pun berujar menahan rasa getir di hatinya. “Lena tidur dengan laki-laki lain. Aku memergokinya sedang bertukar peluh dengan seorang lelaki di kontrakannya seminggu yang lalu.” Arga terperanjat, spontan terbelalak, tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Kamu pasti salah. Mana mungkin Lena melakukan itu. Bukankah dia gadis baik-baik?” Ryan menegaskan apa yang ia lihat. “Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia begitu liar bermain di atas tubuh lelaki itu. Ternyata, Lena tak lebih dari seorang w************n. Bahkan, saking tidak tahu malunya, dia masih sempat mengajakku menikah setelah dia melakukan hal itu.” Arga tercengang. Ia tak menyangka Lena sehina itu. “Astaga, ini benar-benar gila!” Lelaki berpakaian rapi itu tak henti-hentinya menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka Lena semurah itu. “Jadi sekarang gimana, Ryan? Apa rencana kamu ke depannya?” Raut kesedihan pun tercetak di wajah Ryan. CEO tampan itu tak mampu menyembunyikannya lagi dari sahabatnya. Bibirnya pun menyampaikan semua rasa yang menyiksa batinnya. “Aku menyesal menceraikan Zaya. Cinta yang aku rasakan begitu menggebu-gebu pada Lena hilang tak berbekas saat melihat perzinahannya dengan mata kepalaku sendiri, Ga.” “Terus ... apa yang mau kamu lakukan?” tanya Arga ingin tahu. Hati Ryan teriris-iris mendengar pertanyaan Arga. Seketika ia teringat lagi kebersamaannya dengan Zaya. Kenapa ia begitu bodoh terus-menerus memikirkan cinta pertamanya sehingga tidak bisa menikmati ketulusan cinta, kasih, sayang, dan perhatian yang diberikan oleh Zaya selama dua tahun? Kenapa ia baru menyadarinya tepat ketika wanita itu lepas dari genggaman? Hatinya semakin teriris-iris kala ia teringat sikap kejamnya menolak godaan Zaya yang mengenakan lingerie saat menyambutnya sehari sebelum mengusirnya dari rumah. Ryan baru sadar kalau Zaya sangat merindukannya kala itu. Mantan istrinya pasti membuang malunya dengan berpakaian minim demi mengembalikan keharmonisan rumah tangganya di mana ia memang tak lagi menyentuh Zaya sebulan penuh karena terlalu fokus pada Lena yang ingin ia peristri. Pasti saat itu hati Zaya sakit saat ia tolak mentah-mentah. Sungguh, Ryan menyesali semua perbuatannya yang kejam dan tega pada istri yang nyaris sempurna seperti Zaya. Tak terasa, air mata Ryan pun mulai membasahi pipi. “Balikan saja sama Zaya? Minta maaf, bahkan bersujudlah di kakinya agar dia mau mengampuni kesalahanmu!” Arga memberi usul sebelum sahabatnya itu sempat merespons apa pun karena ia tahu sorot wajah Ryan benar-benar memancarkan kesedihan dan penyesalan. “Aku juga ingin begitu karena aku baru sadar kalau Zaya-lah wanita terbaik yang dengan kejamnya aku campakkan. Setelah mengetahui pengkhianatan Lena, cintaku pada wanita nakal itu seketika musnah, hilang tak berbekas. Saat itulah aku teringat Zaya. Ternyata selama ini perasaanku pada Zaya tertutup oleh ambisiku untuk merengkuh cinta pertamaku.” Ryan menyeka air matanya lalu meraih figura foto pernikahannya dengan Zaya dan menatapnya dengan linangan air mata. Hatinya perih membayangkan perlakuannya yang masih memikirkan Lena, bahkan di saat-saat intimnya dengan mantan istrinya dulu. “Aku tahu aku tak pantas berkata begini setelah memperlakukan Zaya dengan keji, mengusirnya, bahkan menegaskan betapa aku sangat mencintai Lena sesaat sebelum menceraikannya. Aku bahkan kejam mengusirnya malam itu juga. Sekarang aku baru tahu kalau aku begitu membutuhkannya di sisiku. Aku sudah terbiasa dengannya dan dia benar-benar seorang wanita suci juga seorang istri yang mulia dan nyaris sempurna yang kemungkinan tidak akan bisa aku temukan pada wanita lain.” Ryan terus meratap, menyesali semua kebodohannya. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak akan mengucapkan kata cerai dan saat ini pastinya ia akan bahagia mendekap istrinya dalam pelukannya. Namun, kini semuanya sirna, menyisakan kepedihan yang teramat dalam di hatinya. “Makanya kejar kembali cinta Zaya! Luluhkan hatinya dan minta maaflah yang setulus-tulusnya! Bila perlu bersimpuh di kakinya. Sejak awal aku sudah menentangmu untuk merajut kembali cinta kasihmu dengan Lena karena aku tahu persis betapa baiknya istrimu. Dia juga tidak memiliki kekurangan apa pun. Dia cantik juga dari keluarga baik-baik dan sederhana. Kekurangannya hanyalah bukan anak kuliahan seperti Lena, tapi kelebihannya jauh di atas w************n itu.” Arga membakar semangat sang sahabat. Pria itu merasa sahabatnya masih memiliki kesempatan untuk kembali bersama dengan mantan istrinya. Zaya adalah wanita berhati lembut, tak mungkin wanita cantik itu tidak memaafkan Ryan, apalagi jika sahabatnya itu sudah memohon. “Aku menyesal tidak menuruti kata-katamu. Aku menyesal mengikuti ego, ambisi, dan kegilaanku.” Tetesan bening kembali terlihat membasahi kedua mata pria berpostur tinggi itu. Arga menghela napas berat. Ia menepuk pelan punggung Ryan. Ia tak mau memojokkan juga menyalahkan sahabatnya lagi karena semuanya telah terjadi. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyemangati sang sahabat. “Memang penyesalan selalu datang belakangan. Yang penting kamu mau memperbaiki diri. Aku yakin dia pasti akan memaafkanmu kalau kamu menunjukkan ketulusan serta keinginan kamu untuk berubah.” Ryan menatap Arga dengan sorot frustrasi. Hatinya perih membayangkan tak bisa bersanding dengan Zaya lagi. “Masalahnya aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi, Ga.” Kening Gio berkerut. Sontak, pria itu bertanya. “Apa maksud kamu?” Ryan meraung menjelaskan bahwa tak ada yang bisa ia lakukan lagi sekarang. “Zaya tidak ada di kota ini lagi. Dia tak ingin berada di kota yang sama denganku lagi. Aku telah kehilangannya untuk selamanya, Arga.” Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD