Ryan mulai mengerjapkan matanya kala cahaya matahari pagi yang masuk dari sela jendela tepat mengenai ke wajahnya. Seketika, pria itu merasa silau sehingga mau tak mau ia terpaksa membuka matanya dan merasakan pusing luar biasa.
Ia ingat, betapa mabuknya ia semalam. Pelan-pelan ia memegangi kepalanya yang terasa begitu berat.
“Kenapa sakitnya belum hilang juga?”
Rasanya ada sebuah batu besar yang menimpa kepalanya. Ryan beringsut turun dari ranjang dan melangkah ke arah dapur. Ia akan minta bantuan Zaya untuk memijat kepalanya.
“Zaya ... pijit kepala Mas, dong!”
CEO berparas tampan itu terus melangkahkan kakinya ke meja makan di dapur lalu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, mencari keberadaan Zaya, sang istri.
“Zaya, kamu di mana?” Ryan berusaha memanggil istrinya. Ia menduga sang istri sedang berada di kamar mandi dapur sekarang.
Biasanya wanita berdaster itu selalu menyambutnya dengan senyuman indahnya, selalu melayaninya, memijat tubuhnya, bahkan tak pernah lelah mengambilkannya makanan dan minuman, memperlakukannya bak seorang raja.
Namun, lamunan Ryan terputus kala ia mengingat lagi apa yang terjadi, terutama ketika ia melihat dapur tampak begitu lengang. Tak ada lagi Zaya yang sering mengenakan apron berwarna pink yang tiap pagi menyambutnya.
Tak ada lagi sarapan di atas meja. Yang ada hanyalah sebuah dapur berantakan karena ulahnya yang beberapa minggu lalu yang hanya sempat memasak mie instan untuk sarapan selama menunggu proses cerai selesai. Menyesal, itu yang ia rasakan saat ini.
“Zaya ....” Kata-kata Ryan tercekat di tenggorokan.
Memori kebersamaannya dan Zaya pun mulai terputar sangat jelas. Rasa gembiranya selama masa penantian cerai karena mengkhayalkan Lena akan jadi miliknya, tiba-tiba sirna pagi itu kala ia ingat betapa liarnya Lena memimpin permainan panasnya dengan selingkuhannya.
Yang tersisa hanya rasa benci berbaur dengan penyesalan karena telah membuang berlian demi sebongkah batu kali. Sekarang, di sinilah ia berada, di sebuah rumah yang sepi, sunyi, dan tak terawat, menyesali semua kebodohannya.
“Maafkan aku, Zaya ....” Kata-kata lirih itu meluncur begitu saja dari bibir Ryan saat ia melihat dapur dan meja makan di mana sang mantan istri selalu berada.
CEO bertubuh tinggi itu melangkahkan kakinya mendekati meja makan, meraih sebuah apron yang terlipat rapi di atas meja lalu duduk dan meratapi nasibnya.
“Kenapa aku dengan bodohnya melepasmu demi seorang w************n, Zaya? Kenapa aku tidak mengetahui kebusukannya sebelum aku menceraikan kamu?” lirih Ryan perih.
Lelaki itu mendekap apron pink yang biasa dipakai Zaya dengan perasaan hancur. Apalagi kala ia mengingat betapa kejamnya dirinya menceraikan serta mengusir mantan istrinya dari rumahnya malam itu juga.
Tidak bisa ia bayangkan, betapa sakit dan bencinya Zaya padanya kala itu.
“Aku menyesal. Aku sungguh menyesal, Zaya. Apakah masih da maaf untukku?” rintih Ryan.
Tanpa terasa tetesan bening mulai membanjiri wajah tampan pria berpostur tinggi itu. Hatinya yang hancur karena cinta pertamanya, membuatnya terkenang semua kebaikan sang mantan istri.
Pria itu mulai mengingat lagi, betapa sabar dan penyayangnya sang mantan istri padanya. Betapa sempurnanya wanita itu menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
Kenapa mata hatinya dibutakan oleh cinta hingga ia tega membuang seorang wanita baik dan suci demi seorang jalang?
“Apa kamu akan menerimaku kembali, Zaya?” Pria itu terus meratap sambil memeluk apron yang selalu dipakai mantan istrinya saat memasak makanan favoritnya.
Keinginan untuk meminta pengampunan pada Zaya agar mau kembali rujuk dengannya kian menggunung karena Ryan tahu, tak akan mungkin ia menemukan istri sesempurna Zaya lagi dalam hidupnya.
Cinta ... Ryan sering mengatakan tak pernah mencintai Zaya. Tapi hari ini, tepatnya setelah cintanya pada Lena kandas, satu-satunya yang berenang di pikirannya adalah Zaya. Penyesalan berbaur dengan rasa rindu sungguh berkecamuk di dadanya. Faktanya, detik ini Ryan begitu ingin melihat Zaya, mendengar suaranya, ingin memeluknya dan mencurahkan perasaan yang pelan-pelan mulai terbuka.
Ternyata, ia membutuhkan Zaya di sisinya. Rupanya, pria itu merindukan wanita yang telah membersamainya selama dua tahun. Perasaan ini belum pernah ia rasakan sebelumnya karena tertutup ambisinya pada Lena. Sekarang, semuanya terasa jelas. Zaya-lah yang Ryan inginkan dalam hidupnya.
“Aku harus menemuinya. Walau harus bersimpuh dan mengemis pengampunannya, aku tetap harus melakukannya.”
***
“Ngapain kamu datang kemari?”
Ryan sudah mengira, ia akan disambut dengan kasar oleh mantan kakak iparnya. Namun, tekadnya tak akan surut. Ryan ingin mengambil berlian yang sempat ia buang. Kali ini, ia akan menjaganya dengan nyawanya dan tak akan melepasnya lagi.
“Aku ingin bertemu dengan Zaya, Kak.”
Nila tak bisa tidak merasa geram. Ia menatap sinis laki-laki yang telah membuat hidup adiknya menderita sambil memegangi pintu. “Pergi! Jangan pernah mencari adikku lagi!”
Kalau menuruti keinginannya, rasanya ingin memukuli wajah mantan adik iparnya itu untuk membalaskan sakit hati yang dirasakan oleh adik kandungnya.
“Aku mohon izinkan aku bertemu dengan Zaya, Kak. Aku harus bicara padanya. Ini terkait masa depan kami.” Ryan mengatupkan kedua tangannya, memelas, memohon agar dibiarkan masuk.
“Sudah aku bilang kamu tidak bisa bertemu dengannya lagi. Untuk apa juga kamu bertemu dengannya? Kamu juga tidak membutuhkannya lagi. Kamu hanya butuh teman tidur dan pelakor itu sudah menggantikan posisi adikku,” desis Nila berapi-api.
“Kak, please! Aku harus bicara penting padanya dan itu tidak bisa diwakilkan, Kak.” Ryan terus membujuk Nila.
Namun, bukannya mendapatkan izin bertemu Zaya, Ryan malah kembali mendapatkan bentakan dari mantan kakak iparnya tersebut.
“Dia tidak mau menemui kamu lagi dan dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan kamu lagi,” desis Nila lantang.
Kedua alis Ryan mengernyit. “Maksud Kakak?”
Nila menatap geram pada Ryan sambil berkacak pinggang. Sedetik kemudian, tangannya menunjuk ke arah jalan. Bibirnya berdesis tajam. “Pergilah, sebelum aku memukul kamu, Sialan!”
“Aku tak akan pergi, Kak. Kalau mau memukulku, silakan! Namun, setelahnya, tolong izinkan aku menemui Zaya.” Ryan terus memaksa.
Amarah Nila telah sampai pada batasnya. Ia tak akan menahan kata-katanya lagi. Kemurkaan tak bisa terbendung lagi. “Apa kamu tuli? Sudah aku bilang adikku tidak mau bertemu denganmu lagi. Dia juga tidak ada di sini lagi.”
Ryan tak percaya. Raut frustrasi mulai terlihat kentara di wajahnya. Ia menyangsikan ucapan Nila. “Tidak mungkin. Tidak mungkin dia tidak ada di sini. Zaya pasti ada di dalam. Hanya Kakak yang dia punya, Kak. Berhentilah berbohong padaku!”
“Dia sudah pergi. Gara-gara kamu dia pergi, bahkan aku pun tidak bisa menjangkaunya lagi,” jerit Nila meluapkan kekesalannya.
Gara-gara pria ini, adiknya meninggalkannya pergi ke luar kota. Pria b******k ini telah menghancurkan hidup adiknya dan sampai kapan pun ia tak akan pernah memaafkannya. “Kamu menorehkan luka yang begitu dalam di hati adikku. Berhentilah mengusiknya! Urus saja selingkuhanmu itu!”
Ryan menggeleng tak percaya. “Kakak bohong. Dia tak akan bisa ke mana-mana. Keluarganya ‘kan cuma Kakak?”
Mata Nila kembali melotot. Ia menatap Ryan dengan sorot penuh kebencian. Bibirnya kembali meluncurkan kata-kata tajam. “Karena kejahatan dan kekejaman kamu, hatinya hancur berkeping-keping dan karena dia tidak ingin menyaksikan pernikahan kamu dengan pelakor yang sangat kamu cintai itu, dia memutuskan pergi ke luar kota.”
“Mustahil. Aku tidak percaya.”
Ryan sulit untuk menerima kenyataan kalau Zaya telah pergi dari kota itu. Mau ke mana dia? Bagaimana dia bisa bertahan hidup? Bukankah Zaya hanya tamatan SMK?
“Dia sudah pergi, puas!?” jerit Nila berapi-api. “Sampai kapan pun dia tidak akan mau bersua denganmu dan aku juga berdoa semoga kalian tidak akan pernah bertemu lagi. Sekarang juga, tinggalkan rumahku dan jangan pernah datang kemari lagi!”
Bersambung ...