“Kapan kamu mau menceraikan dia, Mas?”
Lena, wanita cantik berambut ikal yang sedang duduk di pangkuan kekasihnya itu terus-terusan merengek meminta kepastian.
Wanita itu sengaja setiap hari berkunjung ke kantor Ryan, merayu serta membujuk lelaki itu agar segera melepaskan istrinya. Ia sungguh tak sabar ingin menjadi istri Ryan, seorang CEO plus pemilik perusahaan Wiranata.
“Aku inginnya cepat, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak tega padanya.” Ryan menghela napas kasar sambil membelai rambut indah kekasih yang sangat ia cintai itu.
Siapa yang ingin berlama-lama. Satu bulan ini ia kembali menjalin kasih dengan cinta pertamanya itu di belakang Zaya dan itu sungguh melelahkan. Ingin segera merengkuh pernikahan bahagia dengan wanita yang membuatnya tergila-gila itu dan secepatnya membuang Zaya.
Namun, kata-kata mendiang papanya untuk menjaga Zaya selamanya, terus terngiang di telinganya dan itu yang membuatnya bimbang juga kasihan pada Zaya.
Lena cemberut, merasa kesal dengan jawaban Ryan. Sebegitu istimewakah istri sialan pria itu sehingga begitu sulit Ryan melepaskannya.
“Apa kamu mencintainya sampai-sampai tak tega menceraikannya?
Ryan menggeleng tegas. Ia langsung menyangkal semua ucapan Lena karena memang tak sedikit pun ada rasa cinta di hatinya untuk istrinya itu.
”Mana mungkin aku mencintainya, Lena. Kamu sudah tahu ‘kan kalau kamulah cinta pertamaku? Bahkan kamulah cinta terakhirku. Semua ini juga bukan salahku sepenuhnya. Kenapa kamu meninggalkanku begitu saja sehingga aku terpaksa menerima perjodohan itu? Andai kamu tidak pergi, tidak mungkin aku menikahi Zaya.”
“Tapi ‘kan aku sudah kembali, Mas? Sampai kapan aku harus menunggu?” desak Lena kesal.
Tak sabar rasanya ingin menjadi nyonya Wiranata yang kaya raya. Lena sungguh menyesal mengejar lelaki b******k yang tak kunjung menikahinya. Kini, ia tak mau membuang kesempatan. Ryan mencintainya dan pria itu kaya raya. Tak ada lagi yang ia perlukan dan ia kejar di luar kota. Ia yakin Ryan bisa membahagiakannya lahir batin. Karena itu Lena akan terus mendesak Ryan untuk bercerai karena posisi Zaya sebagai seorang istri itu adalah posisinya.
Sejak awal Ryan hanya mencintainya. Menyesal rasanya menyerahkan posisinya selama dua tahun di mana wanita sialan itu pasti sudah puas menikmati harta lelakinya. Saatnya merebut semuanya kembali dari Zaya.
Ryan mulai pusing memikirkan permasalahan yang ia hadapi. Keinginannya untuk menceraikan Zaya begitu menggebu, tapi rasa tidak teganya juga mendominasi. Namun, ketika ia melihat lagi wajah cantik yang sedang merengut di depannya saat ini, sungguh ia tak sabar ingin merengkuh kebahagiaan dalam sebuah pernikahan dengan cerita pertamanya itu.
“Dalam beberapa hari ini aku akan segera menceraikannya,” ujar Ryan meyakinkan wanita pujaannya.
“Ceraikan dia besok, Mas! Aku sudah tidak sanggup lagi menunggu. Kalau masih memang cinta padaku, Mas tidak akan menunggu lama untuk segera menikahiku.” Lena sedikit mengancam.
Ryan menghela napas panjang. Tampaknya, ia harus membuang jauh-jauh rasa ibanya pada Zaya, demi wanita yang ia cintai. “Baiklah, aku akan menceraikannya besok malam. Aku melakukannya demi kamu meskipun sebenarnya aku tidak tega karena diatak memiliki kesalahan apa pun selama ini.”
Lena memegangi pipi kekasihnya, terus membujuknya agar tegas menceraikan istrinya tanpa belas kasih.
“Mas harus tega. Kalau Mas mencintaiku, maka Mas harus cepat menghalalkanku. Besok malam aku akan datang ke rumah, Mas.”
Ryan mengernyitkan alisnya. “Ngapain kamu datang?”
Lena menatap tajam kekasihnya lalu mengultimatumnya. “Aku harus memastikan Mas benar-benar menceraikan dan mengusirnya di rumah. Aku akan datang sekitar jam 8.00 malam. Pastikan saja wanita itu sudah tidak ada lagi di kediaman Mas. Kalau tidak, aku tidak akan mau meneruskan hubunganku dengan Mas lagi.”
Bersambung ...