“Kamu kenapa? Kok, terlihat sangat pusing?”
Arga, sekretaris plus sahabat Ryan yang baru saja masuk ke dalam ruangan sang atasan, tidak bisa tidak bertanya saat melihat wajah kusut Ryan. Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan Lena, mantan kekasih Ryan yang kembali hadir mengacaukan pikiran sahabatnya tersebut?
“Tidak apa-apa,” sahut Ryan pelan. Namun, pria itu terlihat menyugar rambutnya kasar, tampak sangat gelisah.
“Apakah kamu punya masalah sama istri kamu? Apa sama selingkuhan kamu?” sindir Arga.
“Nggak usah bawel, deh,” sentak Ryan sewot.
Dari jawaban sang atasan saja, Arga tahu kalau masalah Ryan adalah soal pelakor itu. “Ini pasti soal Lena. Kamu benar-benar sudah gila, Ryan. Harusnya kamu tidak lagi mengurusi mantan kekasih kamu itu karena kamu sudah menikah dengan Zaya selama lebih kurang lebih dua tahun. Lebih baik kamu program kehamilan sama istri kamu daripada mengurusi wanita yang sudah meninggalkan kamu.”
Sebagai sahabat, Arga tidak ingin sang sahabat salah jalan. Biar bagaimana pun juga, ia tak ingin sahabatnya terjerumus ke lembah dosa. Kembali berpacaran dengan mantan kekasihnya itu saja, Ryan sudah salah. Apalagi kalau sampai menceraikan Zaya demi wanita jahat yang pernah mencampakkan sahabatnya itu.
CEO tampan itu mendesah kesal. Ia melirik tajam pada Arga. “Mudah, ya, kalau nggak ngerasain sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan cinta pertamaku kalau selama dua tahun menikah dengan Zaya, aku tetap terbayang-bayang wajahnya. Sekarang dia kembali menawarkan cinta padaku, betapa bodohnya aku kalau tidak menerimanya.”
“Tapi kamu akan mengorbankan Zaya. Dia adalah wanita cantik yang sudah sangat setia padamu. Dia juga keturunan baik-baik. Meskipun dia tidak berkuliah seperti kamu, tapi dia cukup cerdas di sekolahnya dulu. Yang paling penting, dia sudah menunjukkan kesetiaannya padamu.”
Arga terus berusaha membuka pikiran Ryan. “Kamu sendiri bilang kalau masakannya enak, pelayanannya di ranjang pun begitu memuaskan. Kalau kamu ingin membuangnya begitu saja hanya demi seorang wanita, itu sungguh kejam dan tak adil baginya. Harusnya kamu tidak menyentuhnya selama dua tahun ini jika kamu tidak mencintainya.”
Ryan kembali mendengus kesal. Ia frustrasi menghadapi masalahnya. Mana Lena terus mendesaknya.
“Aku juga tidak mau begini. Meski aku tidak cinta padanya, tetap saja aku tidak tega untuk menceraikannya begitu saja. Namun, mau bagaimana lagi, aku harus bersikap tegas karena Lena sudah mengancamku. Jika aku tidak menceraikan Zaya besok malam, maka dia dan kembali pergi meninggalkanku. Demi Tuhan, aku tidak mau ditinggalkan sekali lagi olehnya, Ga.”
“Kamu benar-benar sudah gila.” Arga tak habis pikir dengan jalan pikiran sang sahabat.
“Dahlah, tidak usah ikut campur urusanku. Urusan perusahaan boleh kamu campuri karena kamu adalah tangan kananku, tapi untuk urusan kehidupan rumah tanggaku, lebih baik kamu tidak terlibat terlalu jauh. Semuanya akan menjadi urusanku dan kamu tidak perlu memberikan nasihat ataupun usul berlebihan terkait masalahku lagi.”
Dengan lantang, Ryan menegaskan tak mau diceramahi ataupun dinasihati lagi oleh sahabatnya.
Arga menghela napas panjang. Ia menyerah. Terserah Ryan saja. Ia sudah berusaha membawa sahabatnya ke jalan yang benar, tapi tetap tak didengarkan.
“Baiklah, apa boleh buat. Aku tidak bisa mengaturmu karena aku bukanlah keluargamu. Namun, perlu kamu ingat, hukum tabur tuai itu ada, Ryan. Jangan sampai kamu menyesali keputusanmu yang akan membuat kamu menangis darah karena menyesali perceraianmu.”
Ryan mencibir lalu tersenyum miring. Ia meremehkan ucapan Arga yang menurutnya tak masuk akal.
“Mana mungkin aku menangis karena menceraikannya. Aku justru akan bahagia jika melakukan itu meskipun aku bertindak kejam di sini. Setidaknya Zaya belum hamil, kan? Dia masih bisa menikah lagi. Aku juga akan memberikan uang yang banyak untuknya. Sementara setelah perceraian, aku bisa merengkuh kebahagiaan bersama Lena yang sudah lama aku impikan.”
“Terserah. Kalau terjadi sesuatu dan kamu menyesal, jangan pernah libatkan aku, ya! Jangan pernah curhat tentang kesedihan kamu padaku!” tegas Arga menahan gondok di hatinya atas sikap pongah Ryan.
CEO muda itu menyeringai lebar. Dengan lantang, ia berkata tegas. “Aku pastikan aku tidak akan bersedih dan akan terus bersenang-senang serta bahagia bersama Lena. Kamu bisa pegang kata-kataku.”