Usaha Menggoda Suami

812 Words
“Sebentar lagi suamiku akan pulang. Aku akan menyambutnya dengan gembira. Dia pasti akan tergoda melihatku dalam balutan pakaian seksi ini.” Zaya menggumam pelan sambil mematut dirinya di depan cermin. Tadi sore, ia sudah ia begitu bahagia ketika kurir datang membawakan pakaian seksi warna-warni, yaitu beberapa lingerie yang begitu transparan di mana ia sengaja tidak akan mengenakan dalaman lagi untuk menggoda suaminya ketika pulang nanti. Mustahil suaminya tidak akan menyentuhnya karena ia tahu selama dua tahun ini, suaminya terus-menerus menyentuhnya setiap malam. Pasti ada masalah di kantornya sehingga itu menggerus bara di tubuh sang suami yang membuatnya tidak mau menyentuhnya lagi selama satu bulan. Zaya juga menyadari kalau tampilannya selama satu bulan itu memang benar-benar buruk. Ia sibuk dengan dasternya, tidak pernah memperhatikan pakaiannya lagi. Kali ini ia yakin bisa mengundang suaminya naik ke ranjangnya. Setelah puas mematut dirinya di depan cermin dan tersipu malu kala melihat anggota tubuhnya yang bisa terlihat di balik gaun transparan itu, Zaya akhirnya melangkahkan kakinya ke ruang tamu, bersiap akan membukakan pintu untuk sang suami. “Benar saja. Tak lama, suara mobil sang suami pun terdengar masuk ke pekarangan. Dengan sigap, Zaya segera memegang gagang pintu dan ketika langkah sang suami mulai mendekat, wanita itu langsung membuka pintunya lalu tersenyum lebar. “Selamat datang, Mas.” Darah Ryan berdesir. Biar bagaimanapun juga dia adalah laki-laki normal. Ketika melihat istrinya tampil begitu seksi luar biasa, rasanya ingin menerkamnya di sofa sekarang juga. Namun, tiba-tiba bayangan wajah Lena yang mengultimatum dan memintanya untuk menceraikan wanita itu pun muncul, membuat hasratnya hilang tak berbekas. Alih-alih menerkam sang istri seperti biasa, laki-laki itu malah mengalihkan pandangannya sambil menggerutu kesal. “Apa-apaan ini? Kenapa mengenakan pakaian kurang bahan seperti ini?” Zaya menahan rasa kecewanya. Ia masih berusaha menggoda sang suami dengan memegangi tangannya sambil menggoyang-goyangkannya. Wanita itu ingin sang suami menatap tubuh indahnya. “Ini kejutan, Mas. Mas pasti bosan melihatku pakai daster terus, kan? Karena itu aku memutuskan untuk membeli pakaian seksi. Ini semua demi Mas.” “Tutup tubuh kamu! Aku tidak ingin melihatnya,” desis Ryan terus berpaling. Raut kecewa tak dapat lagi disembunyikan oleh Zaya. Ia sontak bertanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kamu kenapa, Mas? Katakan padaku, kamu punya masalah apa sehingga kamu berubah?” “Tidak ada yang terjadi. Aku capek, jangan ganggu aku!” tanpa memedulikan usaha yang dilakukan Zaya yang telah membuang rasa malunya demi menyenangkan suaminya, Ryan meninggalkan Zaya begitu saja di ruang tamu sehingga air mata wanita itu pun tumpah ruah. Zaya tidak menyangka kejutannya akan berakhir menyedihkan seperti ini. Dengan terburu-buru, ia segera masuk ke kamar tamu, mengambil dasternya lalu memakainya kembali, kemudian menyusul suaminya ke kamar. Ia ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. “Katakan padaku, apakah kamu memiliki wanita lain, Mas?” tanya Zaya memegangi tangan sang suami yang hendak membuka pintu kamar mandi. “Apa maksud kamu?” Dengan tatapan tajam menahan marah, Ryan menepis kasar tangan Zaya dari pergelangan tangannya. Sementara air mata Zaya tak bisa terbendung lagi. Ia menangis tersedu-sedu. “Kenapa Mas berubah? Satu bulan ini Mas berubah terhadapku. Katakan padaku jika aku memiliki kesalahan, Mas! Apa pelayananku tidak baik? Apakah ada masakan yang tidak enak yang aku masak selama ini untukmu?” Ryan naik darah. Ia butuh waktu untuk mengatakan kata cerai, bukan sekarang. Tingkah Zaya sekarang ini membuatnya geram setengah mati. “Tutup mulut kamu! Aku ingin istirahat. Aku ingin tidur. Aku capek,” kilah Ryan, bersiap meninggalkan kamar. Zaya kembali memegangi tangan suaminya, mencoba mencegahnya pergi. “Tapi, Mas—” Ryan menepis tangan Zaya begitu saja lalu meninggalkannya di kamar, pergi ke ruang ke kamar tamu lalu mengunci pintunya dan itu membuat tangis Zaya pecah. Ia tak mampu menahan air matanya lagi. Zaya meratap, bingung juga sedih melihat tingkah laku suaminya. Dalam hati kecilnya berdetak dan yakin kalau yang ia duga dan yang dikatakan oleh sang kakak benar adanya. Tampaknya sang suami memang sudah memiliki wanita idaman lain. “Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak sanggup kehilangannya. Aku begitu mencintainya,” lirih Zaya menangis pilu. Dua tahun ini, Zaya telah menggantungkan harapannya pada sang suami yang sudah ia anggap sebagai pengganti ayahnya. Ia begitu mendewakan sang suami sehingga melupakan hal terburuk yang akan menerpa rumah tangganya sehingga tidak pernah berpikir kalau suaminya akan berubah seperti ini. Zaya tidak tahu bagaimana nasibnya jika sang suami memang benar-benar memiliki wanita lain. “Tidak ... suamiku tidak boleh memiliki wanita lain,” tangisnya lagi. Dadanya terasa begitu sesak. Namun, apalah daya. Ia tidak bisa menyusul suaminya ke kamar tamu karena ia mendengar sendiri suara pintu dikunci yang artinya suaminya sama sekali tidak ingin diganggu. Zaya hanya bisa menutup pintu kamarnya lalu naik ke atas ranjang, menarik selimut menutupi wajahnya, menangis terisak meluapkan kesedihannya. Dalam hatinya, ia terus berharap kalau tidak ada wanita yang menggoda suaminya. “Semoga saja besok kamu akan kembali seperti semula, Mas Ryan.” Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD