Zaya berlari ke arah dapur, begitu tergesa-gesa. Jam 05.00 pagi ia sudah terbangun lalu mandi dan tampil begitu cantik mengenakan gaun yang sangat indah, tidak menggunakan daster seperti biasa lalu ia ke dapur menyiapkan sarapan untuk sang suami. Wanita itu berharap sang suami akan bicara padanya setelah hatinya kembali dingin.
Zaya memutuskan tidak akan melontarkan pertanyaan apa pun lagi dan akan terus melayani sang suami sebaik-baiknya. Ia ingat suaminya begitu menyukai sandwich di pagi hari karena tidak sempat untuk memakan makanan berat. Karena itu ia buru-buru membuatkannya dengan aneka isian yang begitu lezat.
“Dia pasti akan menikmati sarapan spesial yang kubuat ini,” gumam Zaya yakin.
Tak lupa, Zaya juga membuatkan secangkir kopi hangat lalu menunggu sang suami yang sebentar lagi pasti akan keluar dari dari kamar tamu.
Benar saja, Ryan akhirnya keluar dari kamar tamu menuju ke kamar. Sepertinya dia akan mandi dan berganti pakaian. Zaya terus menunggu dengan tenang di meja makan. Ia sudah memperkirakan kopi yang ia buat akan pas suhunya sehingga ketika suaminya datang ke meja makan, kopi itu sudah siap untuk dinikmati.
Namun sayang, semua harapan Zaya sia-sia. Sang suami tidak melangkah ke arah dapur ketika keluar dari kamar, tapi langsung menuju ke ruang tamu, bersiap akan pergi. Lagi, hati Zaya begitu perih. Ingin rasanya bertanya, tapi ia takut suaminya akan marah padanya. Tak ada yang bisa Zaya lakukan selain menatap kepergian sang suami begitu saja dengan air mata yang mulai bercucuran di pipinya.
“Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, Mas? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apakah kamu sudah bosan padaku? Apa aku melakukan kesalahan besar selama ini tidak aku ketahui?”
Zaya pun akhirnya terpekur seharian di meja makan. Hatinya dirundung kesedihan. Bahkan ia tidak terpikir untuk menyantap apa pun seharian penuh. Ia hanya menyantap sarapan yang ia buatkan untuk sang suami tadi pagi dan tidak memakan apa pun saat siang hari sampai malam menjelang.
Sebentar lagi sang suami akan pulang dan tak satu pun ada makanan di atas meja yang terhidang untuk suaminya karena ia juga tidak yakin suaminya akan menyantap apa yang ia masak. Zaya sungguh tidak tahu harus bagaimana. Sepertinya ia butuh sang kakak untuk berkeluh kesah. Rencananya, Zaya akan main ke rumah kakaknya dan mengadu padanya, tak sanggup untuk menunggu sang kakak datang ke rumahnya seperti yang direncanakan, yaitu lusa.
Lamunan Zaya pun buyar kala samar-samar ia mendengar sang suami mulai melangkah masuk ke dalam rumah sambil berbicara pada seseorang. Sesaat setelah panggilan berakhir, Ryan melangkah ke arahnya. Hati Zaya berlonjak gembira kala tahu sang suami berniat mendekatinya. Ia berharap suaminya akan kembali lagi seperti semula.
“Aku ingin bercerai, Zaya. Cinta pertamaku sudah kembali dan aku ingin menikahinya. Dia baru saja meneleponku dan memintaku untuk menceraikanmu detik ini juga.”
Dengan lantang, Ryan menekan rasa tak teganya pada Zaya. Seharian Lena berada di kantor dan terus mengingatkannya untuk melakukan ini sehingga ia berani mengambil keputusan yang ia tahu sangat kejam bagi Zaya, istri yang nyaris sempurna baginya. Hanya satu kurangnya, ia tidak mencintainya.
Andai rasa itu hadir di hatinya, tak mungkin ia mau menceraikan Zaya. Biarlah ia kejam hari ini. Ryan juga akan mengganti kerugian Zaya selama dua tahun ini dengan harta yang cukup melimpah.
“A-apa, Mas? Apa aku tidak salah dengar?” Zaya sempat terhenyak. Wanita berambut hitam sepinggang itu membeku selama beberapa detik, tak menyangka kalau ia akan mendengar kata-kata itu dari bibir suaminya. “Kamu pasti bercanda ‘kan, Mas?”
Mata Ryan membulat. Pria itu memandangi wajah sang istri dengan sorot tajam. Sedetik kemudian, bibir lelaki tampan itu kembali mengucapkan kata-kata yang menghujam jantung Zaya.
“Aku tidak bercanda. Aku sejak awal tidak mencintaimu dan setelah dua tahun mencoba, aku tak kunjung bisa mencintaimu. Pernikahan ini seharusnya tidak terjadi, apalagi hanya demi wasiat mendiang papa.”
Kepala Zaya menggeleng pelan, tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Tapi kamu menerimanya. Kamu menikahiku dan kamu melakukan hubungan—” Kata-kata Zaya tercekat di tenggorokan.
Wanita itu mulai menangis. Ia tak menyangka kegelisahannya selama ini atas perubahan sikap sang suami ternyata karena ada wanita lain di belakangnya. Sungguh tega Ryan mengatakan tidak mencintainya, tapi terus menyentuhnya setiap malam.
Jika memang tak cinta, kenapa Ryan memperlakukannya dengan manis selama ini, bahkan menggilai permainannya di tempat tidur hingga benih-benih cinta di hatinya tumbuh begitu subur. Tadinya, Zaya menyangka bahwa Ryan adalah tempatnya bersandar setelah kematian orang tuanya dan akan menjadi teman hidupnya hingga menua bersama, tapi ternyata?
“Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal? Kenapa kamu menyentuhku dan memperlakukanku seolah kamu cinta padaku. Kamu jahat, Mas. Kenapa kamu mempermainkanku? Kenapa kamu—?” Zaya tak mampu berkata-kata lagi.
Air matanya tumpah ruah. Kali ini, Zaya benar-benar kehilangan pegangan. Wanita itu tak tahu harus bagaimana sekarang.
CEO tampan bertubuh tinggi itu menatap sang istri dengan tatapan tajam sambil menekan semua rasa ibanya. Ia tahu, tak seharusnya ia melampiaskan patah hatinya akibat ditinggal pergi Lena dengan menyentuh Zaya. Namun, semuanya sudah terjadi. Ia akui ia jahat pada Zaya.
“Maaf, Zaya. Aku benar-benar mencintai Lena, cinta pertamaku. Salahnya, aku memanfaatkanmu untuk melipur laraku saat patah hati. Kini, Lena telah kembali dan aku tak bisa meneruskan pernikahan ini lagi.”
Bersambung ...