Perih, itu yang dirasakan Zaya. Dengan teganya sang suami bicara seolah pernikahan selama dua tahun itu hanya sebuah permainan, seolah dirinya hanya seorang wanita penghibur yang menemani masa-masa kesepian sang suami kala putus cinta dari Lena, cinta pertamanya.
“Kamu jahat, Mas. Kamu kejam.”
Ryan tak bisa berkata-kata. Ia tahu ia memang kejam. Namun, demi Lena, ia bisa melakukan apa pun. Ryan yakin, kesedihan Zaya tidak akan lama. Di masa depan, wanita yang pernah mengisi malam-malamnya itu pasti akan menemukan pengganti dirinya yang bisa membahagiakannya.
“Maaf, hanya itu yang bisa kukatakan. Aku hanya manusia biasa dan semuanya di luar kendaliku,” sahut Ryan pelan.
Zaya nekat bertanya walau ia tahu itu jawaban dari sang suami pasti akan menyakiti dirinya. “Secantik apa dia, Mas, sampai kamu tega melepas ikatan suci denganku yang telah terbina selama dua tahun?”
Ryan menghela napas kasar. Ia lelah. Ia ingin Zaya menerima keputusannya. Secepatnya, ia harus mengusir wanita itu dari sini karena Lena akan datang sebentar lagi. Jika sang kekasih datang dan menemukan Zaya masih berada di rumahnya, sudah dipastikan Lena akan memutuskannya dan kembali meninggalkannya.
“Aku lelah, Zaya. Terima saja keputusanku. Tak ada gunanya kita melanjutkan pernikahan ini. Aku mencintai Lena dan tak pernah bisa melupakannya. Bahkan saat menyentuhmu, aku ingat dia. Sekarang kamu paham ‘kan kalau kita tak bisa melanjutkan pernikahan ini lagi?”
Dengan sangat terpaksa, Ryan mengatakan kata-kata kejam itu agar Zaya sadar diri dan tidak berharap lagi padanya.
Hati Zaya hancur berkeping-keping mendengar penuturan yang meluncur dari bibir Ryan. Rasanya tak sanggup berada di sana lagi. Zaya pun mulai beranjak, berniat pergi ke kamar dan akan pergi meninggalkan rumah suaminya itu besok pagi.
Namun, belum sempat kakinya melangkah ke kamar, kata-kata yang jauh lebih kejam pun kembali meluncur dari bibir Ryan dan itu sukses membuatnya terhenyak.
“Maaf mengatakan ini, tapi aku ingin kamu meninggalkan rumah ini detik ini juga.”
Zaya menoleh. Ia menatap tak percaya pada suaminya. “Tak bisakah aku pergi besok pagi?”
Ryan menggeleng. “Tidak, Lena sebentar lagi akan datang. Dia ingin memastikan apa aku sudah berhasil membuatmu pergi. Itu sebagai syarat dia mau menikah denganku. Pulanglah ke rumah kakakmu! Masalah biaya perceraian dan harta gono-gini akan segera aku urus setelah perceraian kita usai.”
Kata-kata yang meluncur dari bibir Ryan memang terdengar lembut di telinga, tapi efeknya begitu dahsyat. Hatinya bak diiris sembilu saat mendengarnya.
Tega-teganya selingkuhan suaminya meminta syarat agar ia pergi sekarang juga. Artinya sang suami telah kembali berpacaran dengan kekasihnya di belakangnya. Wajar saja sebulan belakangan sang suami tak pernah menyentuhnya lagi dengan dalih capek karena banyak pekerjaan di kantor. Rupanya, Ryan telah kembali merajut kasih diam-diam dan bersenang-senang dengan wanita itu di belakangnya.
“Kamu adalah laki-laki terjahat yang pernah aku kenal, Mas.”
Dengan bercucuran air mata, Zaya menghambur ke dalam kamar, mulai menyusun pakaian di kopernya lalu menariknya, melewati tubuh lelaki yang tak lama lagi akan menjadi mantan suaminya tanpa sepatah pun kata. Hatinya yang sempat berbunga-bunga selama dua tahun, kini hancur berkeping-keping.
Ryan mencekal tangan Zaya. Ia berniat mengantar Zaya pulang ke rumah kakak kandungnya. “Aku akan mengantarmu ke rumah kak Nila. Aku mengambilmu dari rumahnya, maka aku juga harus mengembalikanmu baik-baik padanya. Sekali lagi maaf, Zaya. Aku tak punya pilihan karena aku sudah lama ingin menikahi cinta pertamaku.”
Hancur, semakin hancur hati Zaya mendengar penuturan yang meluncur dari bibir Ryan yang secara tak langsung menekankan padanya, betapa besarnya cinta sang suami pada cinta pertamanya itu.
Dengan kasar, Zaya menepis tangan Ryan lalu mendesis tajam. “Tidak perlu mengantarku. Jangan repot mengurus harta gono-gini karena aku tak sudi menerima sepeser uang darimu. Selamat tinggal, Mas Ryan. Terima kasih telah memberiku sebuah luka yang dalam yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.”