Ketegasan Ryan Akan Godaan Lena

532 Words
“Syukurlah kalau wanita itu sudah pergi, Mas!” Dengan ceria, Lena melenggang masuk ke dalam rumah Ryan yang begitu megah dan luas. Rumah yang dari depan saja sudah terlihat sangat mewah dengan empat pilar yang menopang balkon utama di mana halamannya begitu luas dikelilingi pagar berukiran emas. Ketika masuk ke dalam, Lena disuguhi aneka furniture mahal juga sebuah tangga yang melingkar di tengah-tengah ruang tamu dengan lampu kristal yang begitu besar menjuntai di atas langit-langit. Tak sabar rasanya ingin menguasai rumah ini. “Kamu sudah lihat sendiri ‘kan kalau Zaya sudah tidak ada di rumah ini?” “Benar, Mas. Aku sungguh bahagia kamu sudah mengabulkan permintaanku,” sahut Lena riang. Ryan menggandeng tangan sang kekasih. “Kalau begitu, sekarang aku antar pulang, ya! Ini sudah malam. Tidak enak dengan para tetangga.” Lena dengan tidak tahu malunya malah mengalungkan tangannya di leher sang kekasih, berniat menggodanya habis-habisan malam ini. “Kita ‘kan mau menikah, Mas?” ucap Lena santai. “Masa aku nggak boleh menginap di sini?” “Walaupun begitu, kita masih harus menunggu sidang cerai serta keluarnya akta ceraiku, baru kita bisa menikah. Selama itu kita harus bersabar, Lena.” Lena melempar senyuman menggoda sambil mengatur nada suaranya agar terdengar mendayu-dayu. “Apa salahnya kita bersenang-senang malam ini, Mas. Anggap saja ini adalah perayaan atas berhasilnya kamu mengusir calon mantan istri kamu.” Ada rasa curiga menggelayuti hati Ryan ketika mendengar wanita yang sangat ia idamkan mengatakan hal tersebut, seolah melakukan hubungan intim adalah hal yang sangat biasa baginya. Ryan bukanlah laki-laki b***t. Meskipun ia akui ia adalah laki-laki kejam karena memanfaatkan tubuh Zaya selama dua tahun di masa pernikahannya untuk melampiaskan hasrat serta rasa kecewanya atas patah hatinya pada Lena, tapi bukan berarti ia mau berzina. “Maaf, Lena. Bukan aku tidak mau. Itu sudah lama aku nantikan, tapi aku tidak mau melakukannya kalau bukan dalam ikatan pernikahan. Aku bukan laki-laki murahan dan aku bukan laki-laki nakal. Aku tidak ingin melakukan itu denganmu dalam kungkungan rasa bersalah dan dosa.” Lena sontak menggerutu dalam hati. “Ya, ampun? Polos amat, sih.” Namun, ia tidak ingin incarannya tersebut lepas dari genggaman. Mau tidak mau, Lena harus menuruti kata-kata Ryan. Wanita itu ingin terus mengambil hatinya sehingga dirinya terus menjadi idaman dan pujaan hati dari laki-laki tersebut. “Maaf, aku hanya terlalu bahagia, Mas. Aku harap kamu tidak salah paham.” “Aku mengerti. Betapa besarnya cintamu padaku. Begitu pun aku sehingga kamu sampai kelepasan bicara begitu.” Ryan berusaha mengerti ketidaksabaran Lena. “Iya, Mas. Aku sudah lama menantikan hal ini,” ucap Lena pura-pura polos. Ryan membelai rambut sang kekasih lalu melepaskan tangan Lena dari lehernya, kemudian ia memegangi pinggangnya. “Bersabarlah sebentar lagi. Tidak akan terasa lama, kok. Akta cerai itu akan segera keluar. Sementara, kita jalani dulu seperti orang pacaran dengan batasan sesuai norma yang berlaku di masyarakat.” Lena tersenyum lembut, menyembunyikan rasa kecewa di hatinya. Padahal ia sangat ingin bermain panas dengan kekasihnya itu. “Iya, Mas.” Ryan mulai mengajak Lena melangkah keluar dari rumahnya. “Sekarang, aku antar kamu pulang. Tak lama lagi kamu akan menghuni rumah ini bersamaku dan hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD