Tak terasa, persidangan demi persidangan pun bisa dilewati dengan lancar. Namun, Zaya sama sekali tak pernah hadir di persidangan. Ia meminta bantuan pengacara untuk mewakilinya hingga ketuk palu selesai Beberapa minggu kemudian, akta cerai pun terbit.
“Akhirnya, aku mendapatkannya juga,” seru Ryan sangat bahagia memeluk sebuah map dari pengadilan yang berisi akta cerainya dengan Zaya.
Namun, walaupun Zaya tidak menuntut harta gono gini, Ryan tetap akan memberikan sejumlah uang sebagai tanda terima kasihnya karena telah menemaninya selama ini. Ia akan segera meminta Arga untuk menransfer sejumlah uang untuk mantan istrinya itu karena ke depannya, Ryan pasti akan sibuk melamar Lena dan menikahinya dalam waktu dekat.
Dengan riang gembira, Ryan meninggalkan pengadilan langsung menuju ke toko perhiasan. Ia akan memilih cincin yang paling mahal untuk ia sematkan di jari Lena sebentar lagi.
Tadinya, Ryan menghubungi Lena, memintanya menemaninya mengambil surat cerai itu di pengadilan supaya ketika pulang dari sana, pria itu bisa mengajak Lena ke toko berlian dan memilih cincin sesuai seleranya. Sayangnya, Lena mengatakan ia tak enak badan sehingga dengan sangat terpaksa Ryan membeli cincin sesuai arahan staf toko dan meminta yang paling mahal.
“Cincin mahal ini tak sebanding dengan kebahagiaan yang akan aku dapatkan darimu, Lena sayang,” gumam Ryan menatap bahagia pada cincin berlian bermata satu yang harganya setara dengan sebuah mobil sport.
Demi cintanya pada Lena, apa pun akan Ryan berikan. CEO berpostur tinggi itu kemudian meninggalkan toko perhiasan dan akan mampir membeli makanan dan minuman, baru akan ke rumah sang pujaan hati untuk merayakan bebasnya ia dari pernikahannya.
Setibanya di kontrakan, Ryan dengan riang melenggang ke arah pintu. Namun, betapa terkejutnya ia ketika mendengar suara-suara aneh di balik pintu. Suara itu sangat ia kenali dan lenguhan itu ....
“Suara ini?” Ryan spontan menggelengkan kepalanya. Ia masih berusaha berpikir positif. Ia tahu siapa kekasihnya. Tak mungkin wanita itu macam-macam di belakangnya, apalagi mereka telah berkomitmen untuk menikah. “Apa Lena menonton film di dalam sana?”
Namun, lama-lama suara itu semakin meresahkan. Itu jelas-jelas suara orang yang sedang merasakan kenikmatan. Ryan yang tadinya begitu ceria sejak keluar dari pengadilan, seketika mengepalkan tangannya geram.
Kegembiraan yang ia rasakan saat menerima selembar kertas yang menyatakan bahwa ia resmi bercerai sehingga ia bisa mewujudkan niatnya untuk menikahi wanita yang sangat ia cintai, musnah sudah.
“Tidak mungkin dia tega melakukan ini padaku ....”
Dengan menahan rasa geram, Ryan nekat menerobos rumah kontrakan Lena yang pintunya sedikit terbuka dan matanya sontak membelalak lebar, begitu syok melihat sang kekasih sedang berada di atas tubuh seorang pria, polos tanpa sehelai benang.
Sejenak, pria tampan itu membisu kala melihat buasnya sang kekasih bergoyang di atas tubuh lelaki yang sangat asing baginya, sampai akhirnya amarahnya tak terbendung lagi yang membuat Ryan tanpa sadar melempar sebuah gelas yang ada di atas meja di dekat tempatnya berdiri ke arah kekasihnya dan itu tepat mengenai pelipisnya, membuat wanita itu sontak menoleh ke arah pintu dan membelalak lebar setelahnya.
“Astaga, Mas Ryan ...! A-ku—”
Bersambung ...