MENTARI DI HATI LANGIT 8.
**
POV AUTHOR.
Halim mendengkus kesal ke langit Bagaimana tidak dia belum berbicara dengan adiknya. Namun, Mentari sudah mematikan panggilan telepon tersebut. Semua ini gara-gara Langit kalau saja Langit bisa bersabar dan tidak terlalu memaksa untuk berbicara dengan Mentari. Maka Mentari pasti masih menghidupkan panggilan teleponnya.
Langit memang gak tahu diri. Bagi Halim, Langit adalah lelaki cemen dan pantas rasanya adiknya meninggalkannya. Langit pantas dibenci oleh Mentari dan dia juga pantas membenci Langit karena seperti itulah sikap lelaki mencle mencle layaknya Langit.
"Dasar kamu, Langit. Br**ngsek kamu! Gara-gara kamu adikku mematikan panggilannya. Apa yang ada di pikiranmu? Apakah kamu hanya mementingkan dirimu sendiri. Aku minta sama kamu. Kamu cari di mana adikku!"
Halim memegang kerah baju Langit. Dia ingin sekali melayangkan pukulan yang seperti dilakukannya barusan kepada lelaki tersebut. Karena Langit sekarang seakan pasrah Halim ini memukulinya. Jika tak ingat kepasrahannya maka Halim akan terus memukulinya sampai lelaki tersebut terkapar dan tidak berdaya sama sekali.
Halim masih berusaha waras. Bila dia menghabisi Langit. Dia akan masuk penjara. Dia juga yang akan rugi karena istrinya masih membutuhkannya dan anaknya juga seperti itu. Walaupun ibunya begitu kejam kepada mereka. Namun, wanita tua itu tetap masih membutuhkan dia sebagai anak. Jadi hal tersebut tidak dilakukan oleh Halim.
"Aku sekali lagi minta maaf sama kamu, Bang. Aku menyesal bagaimana lagi aku mengatakan kalau aku menyesal. Aku ingin Mentari kembali kepadaku. Aku ingin rujuk lagi dengan Mentari. Aku sudah mengatakan hal itu kepadanya. Aku ingin rujuk walaupun aku yang menceraikannya. Tapi, aku punya hak untuk rujuk. Jadi aku minta sama kamu bila nanti Mentari menghubungi kamu lagi. Kamu beri tahu juga kepadaku karena aku ingin bisa bertemu Mentari dan membawanya pulang."
Halim dengan kasar melepas kerah baju Langit. Tanpa menjawab pertanyaan dari langit rasa kesalnya semakin di ubun-ubun karena melihat sikap Langit yang begitu lemah. Mudah saja terprovokasi oleh keluarganya terutama ibunya.
Meskipun Halim sama saja seperti itu. Dia sendiri seperti mudah terprovokasi oleh ibunya. Bahkan Halim nyaris membenci istrinya karena sikap ibunya yang mau mengatur dan menang sendiri. Ibu dari Halim sangat mirip dengan ibu dari Langit. Mereka adalah orang tua toxic yang selalu ingin mengatur anaknya.
Padahal sejatinya seorang anak bisa memilih kehidupan yang terbaik untuk dirinya. Setelah mereka dewasa tidak terlalu perlu dicampuri urusannya karena anak adalah anugerah terindah yang bukan milik kita. Sebenarnya mereka punya kehidupan sendiri dan kita hanya bisa memberi masukan sebagai orang tua. Namun, itu tidak terjadi pada orang tua Halim dan juga orang tua Langit yang sama-sama ingin ikut campur urusan anaknya. Hal itu menjadikan anak menderita.
"Aku harap kamu hanya bisa menentukan sikap. Jika orang tuamu membawa ke jurang maka sebaiknya jangan kamu lakukan. Itu hanya akan menjadi petaka buatmu."
Halim kemudian beranjak Pergi dari langit. Dia bosan melihat wajah lelaki itu. Dia pergi begitu saja meninggalkan Langit. Entah bagaimana caranya dia akan mencari Mentari.
Dia akan membawa Mentari pulang dan meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh ibu dan juga mungkin Halim punya banyak kesalahan terhadap adiknya. Dia juga tidak bisa melindungi adiknya. Adiknya harus menderita seperti ini karena mereka hanya dua orang saja bersaudara dan Halim merasa bersalah karena menyia-nyiakan adiknya.
Setelah Halim berlalu pergi Langit. Lelaki menjadi uring-uringan. Dia bekerja saja tidak konsentrasi dan selalu berpikir tentang Mentari, Mentari dan Mentari. Jika baru saja didengarnya memang benar-benar istrinya. Artinya jasad yang ditemukan itu memang bukan Mentari. Tetapi, yang menjadi pertanyaannya. Mengapa baju Mentari bisa ada pada jasad wanita lain?
Apapun itu, Langit sudah bersyukur karena istrinya tidak kenapa-napa dan yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara langit mencari Mentari? Karena itu juga yang diharapkan oleh Halim untuk mencari keberadaan adiknya. Langit benar-benar menjadi bimbang.
Di satu sisi dia sangat merindukan istrinya itu dan merasa bersalah karena sudah menyia-nyiakannya. Di sisi lain dia juga merasa kesal terhadap keluarganya yang memaksa untuk dirinya bercerai dengan Mentari. Padahal langit sangat mencintai Mentari dan baru tersadar ketika harus kehilangan istrinya.
Apalagi langit melihat sendiri kalau ibunya sengaja memberikan obat ketidaksuburan kepada istrinya agar mereka tidak punya anak dan menuduh Mentari seakan-akan mandul. Tidak bisa menghasilkan keturunan padahal ibunya lah yang bersalah dalam hal ini. Ibunya sengaja memanipulasi data dan membuat mentari yang tersudutkan. Ibunya sangat pintar memainkan peran dalam hal ini membuat langit benar-benar muak kepada ibunya. Bagaimanapun wanita paruh baya itu tetap ibunya yang memang harus dihormati. Sikap wanita paruh baya tersebut membuat Langit begitu kesal, begitu marah dan tidak tahan dengan kelakuannya.
"Ada masalah apa, Bro? Kok uring-uringan gitu?" tanya Raka.
Seperti biasa Raka belakangan ini selalu saja melihat temannya itu tidak b*******h sejak kehilangan istrinya. Lebih banyak melamun daripada bekerja dan pekerjaannya juga banyak yang terbengkalai.
"Ada sedikit masalah saja dan aku benar-benar merasa pusing."
"Istri kamu dah ketemu?"
"Belum. Tapi aku baru saja mendengar suaranya dan dia tidak apa-apa. Aku merasa sangat bersyukur kalau Mentari sebenarnya baik-baik saja tetapi aku tidak tahu di mana dia berada. Aku rindu padanya dan ingin sekali bertemu."
"Sabar, Bro. Kamu udah berbicara dengan dia dan bagaimana kalian bisa berbicara?"
"Tadi abangnya datang kemari mau bertanya kepadaku di mana adiknya. Kami ngobrol-ngobrol sebentar. Tak lama kemudian Mentari menghubungi abangnya. Dia mengatakan kalau dia baik-baik saja meskipun dia menutup panggilan telepon setelah aku berbicara padanya. Aku tahu dia masih merasa bersalah atas semua yang terjadi memang adalah salahku."
"Terus rencana kamu sekarang ini apa? Apakah sudah lapor Polisi?"
"Entahlah, Aku ingin saja melaporkan kejadian ini ke polisi. Mungkin saja aku harus berbicara lagi kepada keluarganya kepada Halim dan juga ibunya. Bagaimana yang terbaik untuk Mentari. Aku juga ingin sekali bertemu dengannya karena sudah merindukannya."
"Aku mendukung setiap keputusan kamu. Semoga masalah kamu cepat selesai dan istri kamu cepat ditemukan."
"Terima kasih, Raka. Karena dia kabur juga kesalahanku. Aku yang bertanggung jawab atas kaburnya Mentari."
Langit menghela nafas panjang. Dia akan pikirkan lagi bagaimana caranya agar istrinya itu ketemu mungkin melaporkan ke polisi seperti yang dikatakan oleh Raka boleh jadi solusi. Dia harus berbicara lagi kepada Halim Bagaimana yang terbaik.
Setelah selesai jam istirahat. Mereka harus kembali bekerja. Jabatan Langit memang sudah tinggi di Perusahaan tersebut dengan gaji yang cukup banyak dia memang sudah menjadi kepala bagian di perusahaan. Namun, gajinya yang tinggi tidak bisa membuat Langit lebih adil membagi nafkah antara istri dan keluarga. Dia seakan lupa kalau istri seharusnya di dahulukan keperluannya karena sudah diambil dari keluarga dengan cara baik-baik. Malah Tari dijadikan babu oleh keluarganya dengan cara terburuk.