Chapter 16 - Pasar Malam

1140 Words
"Ini namanya pasar malam, Fahar," ucap Xynerva saat mereka berdua berjalan di tengah keramaian pasar malam. "Berarti pasarnya hanya malam saja?" Xynerva mengangguk mengiakan. Berbagai permainan khas pasar malam ramai oleh pengunjung. Sebagian besar terdiri dari keluarga kecil dan juga pasangan kekasih. Yang paling sedikit kumpulan teman-teman. Berkunjung ke pasar malam untuk hiburan dan rekreasi. Di hadapan mereka sebuah benda yang besar dan berputar tiga ratus enam puluh derajat. "Fahar, kita naik roda lambung yok!" ajak Xynerva menarik tangan Fahar yang menurut saja. "Baiklah, aku menurut saja," ucap Fahar pasrah gadis itu mau membawanya kemana saja. Xynerva dan Fahar mengantre di loket tiket. Setelah membayar mereka mendapatkan tiket dan menunggu giliran mereka untuk naik roda lambung. "Fahar, kau tidak akan muntah 'kan kalau kita naik roda lambung?" tanya Xynerva sembari menatap pria tampan yang berdiri di sebelahnya itu. "Aku sudah terbiasa terbang. Jadi, naik roda lambung seharusnya tidak masalah untukku," ucap Fahar. Tiba giliran mereka berdua dan orang-orang yang sudah menunggu naik ke dalam kursi penumpang. Setelah semua orang sudah naik, roda lambung mulai bergerak secara perlahan. Fahar dan Xynerva duduk berhadapan. Melihat pemandangan sekitar. Bulan tampak indah malam ini, cahaya perak menerangi daratan dan lautan. "Fahar, apa kau menyukainya?" Xynerva memecah keheningan yang tercipta di antara mereka berdua. "Aku suka, permainan yang ada di sini tidak ada di kotaku, Natasha. Di tempat aku tinggal dipimpin oleh seorang raja." "Kalau di sini sang pemimpin tertinggi disebut presiden. Kepala daerah untuk provinsi disebut gubernur, untuk kabupaten disebut bupati dan untuk kota adalah wali kota. Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah, untuk provinsi disebut wakil gubernur, untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil wali kota," jelas Xynerva Zanitha panjang lebar. "Di sistem kerajaan ada banyak peraturan yang harus dipatuhi," ujar Fahar. "Aku juga sering menonton drama kolosal tentang kerajaan. Menurutku yang paling berbahaya itu di harem kerajaan karena ada banyak wanita yang iri pada wanita lain yang lebih disayang oleh kaisar dan wanita yang memiliki posisi lebih tinggi lebih rawan untuk dicelakai." Perkataan Xynerva mengingatkannya pada posisi bibinya yang menjadi selir kesayangan kaisar, tak jarang bibinya hampir terbunuh dan berulang kali diracuni oleh orang jahat. "Aku seratus persen setuju denganmu. Menurutku lebih baik menjadi rakyat biasa saja daripada hidup dalam posisi yang setiap waktu ada orang yang berpotensi akan mencelakai." "Fahar apa kau seorang pangeran?" tanya Xynerva tiba-tiba. "Tentu saja bukan." Fahar lalu tertawa geli. "Baguslah kalau bukan pangeran." Terlihat Xynerva bernapas lega. "Aku tidak berminat menjadi seorang pangeran, Natasha. Menjadi putra kaisar itu dipenuhi banyak peraturan. Aku yang menjadi putra seorang salah seorang pejabat saja sudah ada aturan seperti pemaksaan pernikahan." "Jadi kau seorang Tuan Muda?" tanya Xynerva menatap pria bermata hijau di hadapannya yang juga menatapnya. "Bisa dibilang begitu, tapi jangan panggil aku dengan panggilan itu, cukup mereka saja. Kau harus tetap panggil aku Fahar saja," pinta Fahar yang disetujui Xynerva. Tidak dirasa sudah waktunya untuk turun dari roda lambung. Xynerva segera menarik tangan Fahar ke wahana lain yang ramai oleh pengunjung. Suara anak panah yang dilesatkan terdengar diiringi dengan tepukan. "Aku akan membeli tiket agar kita bisa bermain. Fahar kau bisa tunggu di sini sebentar." Xynerva berjalan ke loket dan membeli tiket masuk. Rupanya busur juga bisa dijadikan permainan oleh manusia. Mereka benar-benar unik, batin Fahar sembari melihat seorang laki-laki dewasa sedang menarik busur. Xynerva menyerahkan satu tiket pada pengawas dan pengawas mengajak mereka masuk ke arena permainan. "Kalian bisa mengambil busur yang telah disiapkan." Fahar mengambil busur dan anak panah yang menurutnya cocok dan pas. "Sesuai aturan permainan jika kalian bisa menembakkan anak panah sesuai dengan target kalian bisa mendapatkan hadiah. Selamat bersenang-senang!" Pengawas permainan berjalan menjauh. Arena permainan terbagi menjadi lima arena. Fasilitas yang disediakan juga lengkap dan berkualitas serta pastinya aman terkendali. "Baiklah, terima kasih." "Tenang saja aku pasti bisa memenuhi tantangannya," ujar Fahar dengan senyuman di wajah tampannya. "Baiklah, aku akan menunggu di luar saja." Para pengunjung tertarik untuk melihat permainan busur. Mereka berkumpul memenuhi. *** Satu jam kemudian Xynerva terlihat sedang membawa dua boneka yang cantik dan lucu di tangan kanan dan kirinya. Gadis cantik itu terlihat tersenyum bahagia. "Bagaimana aku menepati janjiku bukan?" tanya Fahar. "Iya, kau telah menepati janji. Sebagai ucapan terima kasih aku akan mengajak ke suatu tempat." Xynerva dan Fahar duduk pada salah satu meja yang kosong. Canda dan tawa terdengar di indra pendengaran. Aroma masakan menguar di udara. Pelayan tampak sibuk melayani pelanggan. Kedua orang itu sedang membaca buku menu makanan dan minuman yang diletakkan di atas meja. "Dua pelanggan, kalian ingin memesan apa?" tanya seorang pelayan wanita. Seragam kuning cerah membalut tubuh langsing wanita itu. "Mie ramen dan minuman es jeruk," jawab Xynerva. "Samakan saja," sahut Fahar. Dia tidak tahu masakan yang tertulis di dalam menu masakan, tapi dia yakin masakan yang dipesan Natasha pasti enak. Pelayan wanita mencatat pesanan mereka di dalam buku kecil pesanan. "Baiklah, tunggu sebentar makanan akan segera diantarkan." Seorang pelayan laki-laki membawa nampan dan meletakkan pesanan di atas meja. Uap panas mengepul menandakan masakan baru saja dimasak. Angin berembus membawa aroma khas mie ramen menggoda untuk segera dimakan. "Terima kasih untuk traktirannya, Nona Natasha. Ah, tidak Nona Xynerva." Fahar berkata dengan nada menggoda, lalu menyumpitkan mie ke dalam mulut. Xynerva merasa tidak enak karena membohongi Fahar. "Kau bisa memanggilku dengan panggilan Natasha saja." Gadis itu menyumpitkan mie ke dalam mulut. Rasa mie ramen seperti biasa selalu enak. "Fahar, apa kau marah karena aku tidak menyebutkan nama asliku?" Tatapan Xynerva tertuju pada Fahar yang sedang mengaduk mie ramennya. "Tidak mungkin aku marah hanya karena hal kecil itu, lagipula nama Natasha juga bagus dan cocok untukmu." Xynerva bernapas lega mendengar perkataan Fahar. "Kau benar, aku pun suka nama itu. Oleh karena itu aku menjadikan nama itu sebagai namaku yang lain." *** Lily dan John yang mendapat kabar dari mamanya Xynerva bahwa sahabat mereka sudah pulang dalam keadaan sehat segera datang mengunjungi. "Xynerva, kau baik-baik saja 'kan?" Lily berkata sambil melihat dan memutari tubuh Xynerva. "Tentu saja, aku baik-baik saja," jawab Xynerva santai. "Aku senang kau baik-baik saja Xynerva." John berkata dengan ekspresi lega. Xynerva mengajak kedua temannya itu untuk masuk ke dalam supaya bisa mengobrol dengan leluasa. Mereka bertiga duduk berhadapan. Di tengah ada meja bulat yang dilapisi taplak meja, yang di atasnya terdapat hiasan pot bunga plastik. "Xynerva, kau tahu Lily selalu menyalahkan dirinya sendiri karena lalai menjagamu," ujar John jujur. Di sebelahnya Lily mengangguk membenarkan. "Maafkan aku teman-teman karena telah membuat kalian berdua khawatir," sahut Xynerva dengan raut wajah bersalah. "Kami akan memaafkanmu, Xynerva." Lily berkata dengan senyuman di wajahnya. "Terima kasih. Aku tahu kalian pasti penasaran kenapa aku saat itu tidak menemui kalian kembali? Akan aku ceritakan, aku 'kan sudah dapat kupu-kupu terakhir, nah waktu aku balik badan ada lima ekor serigala. Jadi, aku dilukai oleh serigala itu. Untung saja aku bisa selamat," jelasnya secara singkat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD