Chapter 15 - Mimpi Lebih Indah

1183 Words
Warna cat putih s**u serasi dengan lemari penyimpanan yang berwarna coklat muda. Pemilihan warna yang cocok. Seorang gadis cantik tengah memandangi barang-barang di sekelilingnya dengan ekspresi kagum. "Sayang? Kamu kenapa?" Alpha Mallory menghampiri seorang gadis cantik yang tengah memandangi barang-barang di sekelilingnya dengan ekpresi kagum. Seolah gadis berkulit putih itu tidak pernah menilik barang tersebut. "Mall, aku tidak apa-apa hanya kagum saja," ucap Xynerva jujur. Ekpresi polosnya membuat sang pemimpin pack Quirin mencubit hidungnya gemas. "Sayang, kau bisa melihat barang-barang itu sesuka hatimu nanti. Untuk sekarang kita harus fokus pada bahan-bahan yang sudah aku siapkan." Perkataan Lory membuat gadis berambut hitam panjang tersebur menepuk dahinya pelan karena lupa dengan tujuan awalnya. Xynerva memandangi bahan-bahan yang ada di atas meja beserta pisau dan alat-alat lainnya. Ruangan dapur yang semula biasanya ramai kini sepi, Alpha Mallory sengaja meminta koki dan pelayan untuk meninggalkan dapur sementara waktu. "Masakan apa yang akan kita buat nanti?" tanya Xynerva melirik pria bertubuh atletis idaman wanita yang berdiri tepat di sampingnya. "Bagaimana kalau masakan yang terbuat dari udang? Apa sayang setuju?" Alpha Mallory bertanya dengan nada lembut. "Kali ini bukan masakan udang yang aku inginkan. Ah, aku punya ide yang bagus. Kita masak pizza saja, bagaimana?" "Setuju, baiklah kita sepakat akan membuat pizza." "Pembuatan pizza ala koki Lory dan Nerva akan segera dilaksanakan." Bagai seorang chef yang terkenal Lory memasang dan mengikatkan celemek, begitu juga dengan Nerva serta topi putih ikut bertengger di atas kepala. Dan yang paling terpenting adalah sarung tangan transparan. "Oke, sekarang kita mulai." "Aku harus mengambil alat-alatnya terlebih dahulu." Untuk pertama kalinya Alpha Mallory menyentuh alat-alat masak. Pria itu meletakkan semua alat-alat yang dibutuhkan di atas meja. "Chef Nerva kegiatan memasak dimulai. Langkah pertama kita harus membuat kulitnya terlebih dahulu." Alpha Mallory mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Bahan membuat kulit pizza : tepung terigu (500 gram), ragi instan (5 gram) ,gula pasir (1 sendok teh), garam (10 gram), air hangat (375 ml) dan minyak zaitun (50 gram)." Sebagai anak murid yang baik, gadis itu mendengarkan dengan baik ucapan sang guru baik sembari menyalakan kompor untuk memasak air. Setelah semua bahan telah lengkap Alpha Mallory melanjutkan instruksinya. "Pertama larutkan ragi dan gula dengan menggunakan air hangat dan biarkan selama lima menit." Tanpa dirasa lima menit berlalu. "Aduklah tepung dan garam hingga tercampur menjadi satu. Setelah itu tuangkan campuran ragi tadi ke tepung yang sudah diberi garam. Aduk dengan menggunakan tangan atau ulen sampai semua bahan tercampur rata." "Seperti ini," ujar Xynerva sembari menunjukkan yang dibalas anggukan Alpha Mallory. "Tambahkan sedikit air dan minyak zaitun, dan aduk kembali hingga tercampur rata. Setelah adonan tadi tercampur hingga kalis, taruhlah adonan ke dalam wadah yang sebelumnya telah diolesi minyak agar tidak lengket." Xynerva melakukannya dengan hati-hati dan teliti. "Tutuplah adonan tersebut dengan plastik wrap dan diamkan selama empat puluh menit hingga mengembang." Luna Nerva mengambil stopwatch dari dalam lemari dan mengatur benda bulat tersebut selama empat puluh menit. "Ah, lama juga empat puluh menit," keluh Xynerva tidak sabar. "Mall, ayah dan ibumu di mana? Aku selama beberapa berada di sini tidak pernah melihatnya secara langsung," Xynerva menatap Lory dengan ekpresi penuh rasa keinginan tahuan. Alpha Mallory menarik sudut bibirnya menjadi senyuman yang memikat hati. "Ayah dan Ibu sekarang sedang berlibur. Nanti jika ada kesempatan aku pasti akan membawamu melihat mereka. Sayang, sepertinya sudah tidak sabar bertemu dengan mereka." Alpha Mallory bertanya dengan nada menggoda. "Siapa bilang? Aku tidak bilang seperti itu," kilah Luna Nerva. Wajahnya memerah malu. "Lihat! Wajahmu memerah," goda Alpha Mallory. "Tidak merah kok." Suara bunyi yang berasal dari stopwatch memecahkan perdebatan lucu mereka. "Mall, ayo lanjutkan langkah selanjutnya." Xynerva mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. "Baiklah. Setelah mengembang, keluarkan angin yang terperangkap dengan cara di tinju- tinju atau diberi tekanan yang kuat. Lalu siapkan loyang pizza bulat yang memiliki diameter 24 cm, olesi dengan sedikit minyak." Tangan Xynerva yang sudah dibalut sarung tangan putih meninju-ninju adonan. Alpha Mallory kembali melanjutkan instruksi. "Tempelkan kulit pizza tadi hingga menutupi permukaan loyang dengan tipis. Diamkanlah selama sepuluh menit, setelah itu pizza siap untuk di beri toping." "Hey, Lory bangun! Mau sampai kapan kau tertidur?" mindlink Jayce sang serigala. Alpha Mallory perlahan-lahan membuka mata dan sedikit terkejut karena dia masih berada di ruang kerjanya bukan di ruangan dapur. "Bukankah aku harusnya berada di dapur?" tanyanya. Jayce tidak langsung menjawab, serigala bertubuh besar tersebut tahu apa yang terjadi pada sisi manusianya itu. Pikiran mereka saling terhubung. "Kau sedang bermimpi tentang Luna Xynerva," ujar Jayce singkat. "Jayce, harusnya kau biarkan saja aku meneruskan mimpiku yang indah itu. Aku sangat merindukan Luna Nerva, dengan memimpikannya aku bisa sedikit mengurangi rasa yang menggangguku." "Lory, kita pasti akan menemukan Luna Xynerva kembali. Aku yakin dia sekarang baik-baik saja." *** Raut wajah bahagia tampak jelas di wajah kedua wanita berbeda usia saat pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis. Mereka berdua sangat yakin jika Xynerva baik-baik saja dan insting tidak pernah salah. "Xynerva? Kaukah itu, Nak?" Zeline dan Khansa menghampiri Xynerva yang tersenyum lembut. Barang-barang bawaannya diletakkan di pinggir ruangan. "Ini aku Xynerva." Pelukan hangat yang telah lama dia rindukan kini dirasakannya kembali. Beberapa saat kemudian baru Xynerva mengurai pelukan tersebut. "Apa kau terluka?" Nenek dan Zeline memeriksa sekujur tubuh dari atas sampai bawah memastikan gadis berusia enam belas tahun itu tidak tergores sama sekali. "Aku tidak apa-apa, kalian berdua jangan khawatir." "Aku rindu kalian berdua, Mama dan Nenek." "Kami juga rindu padamu Xynerva." Kemudian pandangan Khansa beralih pada seorang pria tampan yang berdiri tidak jauh dari Xynerva. "Xynerva, dia siapa?" tanya Khansa tanpa melepaskan pandangan dari Fahar yang sekarang bergerak gelisah. Zeline juga ikut memandang pria itu dengan tatapan tanda tanya. "Nenek, dia adalah Fahar orang yang menyelamatkanku." Supaya lebih enak ngobrol dan melepas rindu, Xynerva mengajak Fahar untuk ikut duduk beristirahat di kursi yang terbuat dari kayu bersama dua orang yang Xynerva sayangi. "Nak, Fahar terima kasih telah menyelamatkan anak kami," ujar Zeline tersenyum tulus dan hangat khas seorang ibu. Sekilas pria itu teringat pada sosok ibu yang telah melahirkannya itu. Fahar tersenyum dan mengangguk pelan sebagai jawaban. Bukanlah harta dan kekayaan yang menjadi kebahagiaan utama dalam sebuah keluarga. Kebahagiaan utama diperoleh dari kasih sayang dan cinta keluarga. Fahar meneguk air teh yang dituangkan oleh Zeline. Aroma harum bunga osmanthus tercium di indra penciumannya. Tidak hanya aromanya yang harum, rasanya juga tidak kalah enak. "Bagaimana rasanya?" tanya Xynerva saat Fahar telah meletakkan cangkir kosong di atas meja. "Rasanya enak sekali. Apa nama teh ini?" Untuk pertama kalinya Fahar mencicipi rasa teh yang begitu nikmat dan memikat. "Teh bunga osmanthus. Orang-orang bilang teh buatan nenekku itu sangat enak. Nenek juga pernah memenangkan beberapa penghargaan dari lomba tentang teh," sahut Xynerva dengan nada bangga yang dijawab senyuman Khansa. "Beruntung sekali aku bisa mencicipi teh buatan nenek." Tidak lama kemudian tawa wanita tiga generasi itu memenuhi seisi ruangan. *** Suara para pedagang saling bersahut-sahutan untuk menggoda pembeli membeli barang dagangannya. Xynerva mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, sudah satu minggu dia tidak pergi ke pasar malam. Hari-hari yang dilewati saat berada di hutan juga menyenangkan hanya saja Xynerva rindu suasana ketika pasar malam berlangsung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD