Chapter 14 - Rencana Untuk Pulang

1109 Words
Satu minggu telah berlalu. Selama satu minggu pula keduanya telah mencari barang Xynerva yang hilang di area lokasi saat gadis itu melempar tasnya. Gadis itu tidak mungkin lupa posisinya. Rasanya dia mau nangis sekencang mungkin. Tas, toples berisi kupu-kupu, dan handphonenya raib entah kemana. Lelah mencari, mereka memutuskan untuk duduk di bawah salah pohon yang besar. Jadi, bagaimana caranya aku menghubungi mamaku? pikirnya frustrasi. Memasang posisi berpikir. Jangankan ada, Fahar bahkan tidak tahu apa yang disebut handphone saat Xynerva bertanya beberapa menit yang lalu. Pasalnya di kota tempat pria itu tinggal, belum ada teknologi canggih. Benda-benda canggih seperti televisi, ac, kipas angin, dan lampu belum ada. Kota itu bernama Kota Geon. Penduduk setempat masih menggunakan lilin sebagai penerangan. Kereta kuda dan kuda dijadikan sebagai sarana transportasi. "Natasha, aku bisa membawamu pergi ke luar dari hutan jika kau mau," tawar Fahar. Pandangan matanya terfokus pada awan-awan yang melayang di langit. "Sungguh? Kau bisa membawaku ke luar dari sini?" Xynerva bertanya memastikan apa yang didengarnya tidak salah. Fahar mengangguk pelan. Sepertinya selepas dia mengantar gadis itu keluar dari hutan, hari-hari ke depannya pasti akan sepi dan membosankan. Bolehkah Fahar kali ini egois dan meminta Natasha untuk tetap tinggal bersamanya? Pria itu mengembuskan napas panjang dan dadanya seakan sesak membayangkan kepergian gadis ceria itu nanti. Fahar, kau tidak bisa menahan Natasha lebih lama untuk tinggal bersamamu, gadis itu memiliki keluarga dan keluarganya pasti sangat khawatir, ucapnya dalam hati. Fahar akui selama satu minggu tinggal bersama Natasha, dia merasa hari-hari yang semula suram terasa lebih berwarna dan bermakna. Ah, lagi-lagi Fahar akan kehilangan kebahagiannya itu. Berkat buah lerak yang diberikan Fahar, Xynerva selama satu minggu ini merasa tenang. Keduanya pulang ke pondok untuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa sebelum matahari semakin meninggi. *** Sementara itu di tempat yang lain tepatnya di istana pack Quirin. Secara bergantian para warrior ditugaskan untuk mencari sang pemimpin wanita dalam satu minggu terakhir ini. Namun belum menemukan Luna Xynerva. Alpha Mallory sedang berada di ruang kerjanya, punggungnya bersender pada dinding kursi. Sejak gadis berusia enam belas tahun itu meninggalkan pack Quirin, hari-hari Alpha Mallory kembali redup. "Dimana kau Luna Nerva?" Pria itu menatap selembar kertas mengenai ucapan terima kasih dari rakyat di perbatasan selatan dengan tidak semangat. Semangatnya menguap ke udara sejak Lunanya hilang. Pikiran negatif mulai bermunculan. "Apa kau merasa tidak nyaman berada di sini?" tanyanya. Jayce serigala yang ada di dalam tubuh Alpha Mallory tidak bisa mencium aroma khas matenya itu. Matenya seakan hilang ditelan kegelapan malam. Serigala berbulu abu-abu indah dan elegan itu memindlink sisi manusianya. "Seakan ada yang dengan sengaja menutupi aroma Luna Xynerva agar tidak ada satu pun yang tahu keberadaanya." Alpha Mallory setuju dengan pendapat Jayce. Jarang sekali mereka berdua akur, lebih banyak bertengkar. "Aku satu pendapat denganmu Jayce. Luna Nerva hanya seorang manusia biasa, lalu darimana dia punya kekuatan penghilang aroma tersebut?" tanyanya dengan ekspresi heran. "Entahlah, aku juga tidak tahu." Mereka berdua belum pernah mendengar orang yang memiliki kemampuan tinggi tersebut. Seorang pelayan wanita mengetuk pintu beberapa kali. "Alpha, boleh saya masuk?" tanyanya dengan sopan. Alpha Mallory menyahut memperbolehkan masuk. Pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita yang membawa nampan berisi kudapan ringan dan seteko teh. Lory melihat omega wanita muda itu sekilas, kemudian meminta meletakkan saja nampan di atas meja. "Alpha, Anda harus menjaga kesehatan jangan sampai sakit," ucap wanita itu dengan raut wajah khawatir. Kedua kantung mata hitam menunjukkan si pemilik tidur kekurangan tidur. Alpha Mallory tersenyum kecut, memilih tidak menjawab perkataan omega wanita yang tengah mengkhawatirkannya itu. Lory akan merasa sangat senang jika ucapan itu keluar dari bibir Luna Nerva. Sayang sekali, itu hanyalah angan-angan. "Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu!" ucap pria itu mengibaskan tangan, mengusir saat netra abu-abunya mendapati pelayan masih berdiri mematung di pinggir ruangan. *** "Itu benda apa kenapa bisa bergerak sangat cepat?" Telunjuk tangan kanan Fahar menunjuk beberapa mobil yang sedang berlalu lintas di jalan raya. Ekpresi wajahnya polos sekaligus kebingungan. "Fahar, itu namanya mobil." Sebelum burung emas merah itu bertanya lebih lanjut, Xynerva berinisiatif untuk menjelaskan. "Mobil itu adalah salah kendaraan yang canggih, yang bisa melaju dengan kencang dan lambat tergantung dengan orang yang mengendarainya. Kau bisa samakan benda beroda empat itu dengan kereta kuda yang ada di kota asalmu, Fahar." Pria itu mengangguk mengerti. "Dan itu apa bukannya tadi Natasha bilang rodanya ada empat? Itu kenapa rodanya hanya ada dua?" Xynerva tersenyum lembut, dia kagum dengan keinginan tahuan pria berusia delapan belas tahun yang berdiri di sampingnya itu. "Kau suka sekali bertanya, seperti aku kalau di dalam kelas ada materi yang tidak aku mengerti." Fahar ikut tersenyum. Banyak hal yang tidak dia mengerti, ya daripada sesat di jalan lebih baik bertanya bukan? Kota tempat tinggal Natasha begitu indah, ada banyak benda-benda baru yang belum pernah dia lihat. "Aku jadi penasaran bagaimana rasanya menaiki benda roda dua itu?" Gadis berzodiak gemini tertawa pelan sampai bahunya terguncang mendengar julukan baru. "Fahar, itu namanya motor. Kalau mobil rodanya empat dan bisa membawa banyak orang. Sedangkan motor rodanya hanya dua, bisa membawa lebih sedikit orang. Untuk kecepatannya sama seperti mobil." "Natasha, mobil itu seperti kereta kuda karena bisa melindungi tubuh dari panas dan motor itu seperti kuda. Benar 'kan?" Xynerva mengangguk setuju. Setiap kali ada yang Fahar tidak mengerti, pria itu tidak segan-segan untuk bertanya. Dan Xynerva tidak bosan menjawab keinginan tahuan sahabatnya itu. Di langit matahari bersinar terik seolah membakar kulit setiap orang yang melintas di daratan maupun lautan. Keringat membasahi tubuh. Sudah beberapa jam Fahar dan Xynerva berjalan, kaki terasa sangat pegal dan juga haus. Xynerva mengajak Fahar untuk duduk kursi yang ada di depan sebuah toko buku. Meletakkan barang-barang bawaan. Sekilas dua orang itu seperti gelandangan yang tidak punya rumah. Beberapa orang yang lewat yang hendak ke toko buku merasa kasihan, bahkan ada beberapa orang yang memberikan beberapa keping uang lima ribu dan sepuluh ribu. Xynerva dan Fahar tidak enak untuk menolak, mereka terima saja uang tersebut. "Mereka adalah orang yang baik," komentar Fahar setelah dua orang wanita yang memberikan uang masuk ke dalam toko buku. "Jarang sekali bertemu dengan orang seperti mereka," sahut Xynerva. Dia mengambil sebotol air mineral, lalu meneguknya perlahan. Rasa segar dan dingin mengalir di tenggorokannya. "Aku juga mau airnya sisakan sedikit untukku," pinta Fahar. Pria itu menikmati air dingin yang membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Aku akan mengeluarkan sayapku dan membawamu terbang saja. Aku kasihan padamu harus jalan kaki. Lihat wajahmu terbakar sinar matahari." Fahar menatap gadis di sampingnya seraya menunjuk kening Xynerva. Untung saja tidak ada orang-orang yang lewat ketika Fahar mengucapkan kalimat itu. Xynerva terlihat tidak setuju. "Jangan Fahar! Jika mereka tahu kau bukan manusia, mereka akan melukaimu." "Tapi, aku tidak tega padamu Natasha."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD