Chapter 13 - Ayo Main Petak Umpet

1114 Words
Tunggu sebentar sepertinya aku pernah melihat ciri-ciri yang disebutkan Tuan Warrior ini. Bukankah ciri-ciri fisiknya mirip seperti Natasha, batinnya. Beberapa detik kemudian, siluman burung emas merah itu dia menyadari suatu hal yang penting. Oh, jangan-jangan mereka tahu kalau Natasha bilang seperti itu tadi? pikir Fahar menduga-duga. Aku tidak akan membiarkan mereka membawa Natasha untuk dihukum, batin Fahar bertekad. Selelas pergulatan dengan pikirannya sendiri, baru pria itu menjawab. "Mohon maaf Tuan Warrior yang Terhormat ada banyak gadis yang saya temui dari pagi sampai siang ini, tapi tidak ada seorang gadis manusia," ujar Fahar sedikit berbohong. Berbohong demi kebaikan tidak masalah bukan? "Baiklah, Tuan. Jikalau Anda melihat gadis itu bisa datang secara langsung ke pack Quirin, anda akan mendapatkan hadiah yang fantastis dari Alpha langsung." Fahar hanya mengangguk saja. Dalam hati dia mengumpat. "Aku tidak peduli hadiah besar yang kalian persiapkan itu, aku tidak mau mengkhianati persahabatanku dengan Natasha." "Tony, bagaimana apa pria asing itu pernah melihat Luna Nerva?" tanya Alpha Mallory langsung ketika pria yang berusia lebih muda itu berjalan menghampirinya. Tony menggeleng. "Aku sudah menanyakannya Alpha, tapi pria itu bilang dia sama sekali tidak melihat Luna." Dari balik persembunyiannya tepatnya di balik tanaman liar yang tumbuh subur dan lebat, Xynerva mengintip sedikit dan menajamkan indra pendengarannya menguping pembicaraan dua pria berbeda usia itu. Tangan kanannya memegang ranting dedaunan guna untuk menutupi sebagian wajahnya. Aku pikir Fahar akan memberitahu mereka mengetahui diriku, batin Xynerva. Gadis cantik itu mengembuskan napas lega. Pandangannya beralih pada Alpha Mallory beserta anak-anak buahnya. Untuk para wanita memakai pakaian seragam hijau tua, rambut disanggul ke atas, sepatu flatshoes hitam, sedangkan para pria memakai pakaian merah yang diluarnya dilapisi baja cokelat, rambut pendek, sepatu boot, dan senjata pedang disangkutkan di pinggang. Untuk Alpha sendiri kemeja cream, celana panjang cokelat membalut tubuh atletisnya, dan rambutnya disisir rapi. Xynerva bisa melihat raut wajah dingin dan datar milik Alpha Mallory. Itukah wajah asli Mall seram sekali, seperti batu es berjalan, batinnya. Xynerva berpikir jika selama ini Mall hanya pura-pura baik saja terhadapnya setelah melihat raut wajah yang asli. Banyak sekali pelayan-pelayan Mall. Apa dia tidak merasa rugi memberi gaji pada pelayan dan pengawal sebanyak itu, pikirnya. Xynerva jadi penasaran apa pekerjaan Mall dan seberapa banyak harta kekayaan yang dia punya? Setelah rombongan Alpha Mallory berjalan ke arah yang lain dan sudah tidak terlihat lagi. Xynerva keluar dari persembunyiannya. Dia memetik beberapa tangkai bunga untuk dijadikan alasan kepergiannya. "Kau darimana saja?" Fahar bertanya saat Xynerva berjalan menghampirinya. "Dari memetik ini," ujarnya seraya menunjukkan beberapa tangkai bunga liar. "Tadi niatnya ingin menangkap beberapa ekor kupu-kupu, tapi diluar dugaanku mereka sudah terbang ke tempat lain." "Baiklah, bunga-bunganya letakkan saja di keranjang ini." Xynerva menurut meletakkan beberapa tangkai bunga ke dalam keranjang sayur. *** Sudah beberapa hari pencarian Xynerva oleh pihak kepolisian, tapi belum juga ada hasil selain jejak sepatu seorang wanita. Setelah ditelusuri oleh pihak kepolisian ternyata memang ada korban lain yang hilang yang juga seorang wanita. Wanita itu ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa, penyebab kematiannya diserang hewan buas. Pihak kepolisian menduga jika Xynerva mungkin saja sudah dijadikan santapan hewan buas. Keluarga Xynerva menolak keras dan tidak percaya hal tersebut, karena di dalam hati kecil mereka mengatakan Xynerva masih hidup. Zeline menyiapkan sarapan pagi seperti biasa di atas meja makan. Khansa memakan sarapan pagi dengan tidak semangat. Ekpresi wanita tua itu sedih saat melihat kursi yang kosong yang terletak di tengah, biasanya kursi itu diduduki oleh cucu kesayangannya. "Cucuku, kau dimana sayang? Nenek sudah sangat merindukanmu." Air mata mengalir di sudut matanya. Tangan yang sudah sedikit keriput bergerak menghapus buliran cairan bening. "Ibu, aku yakin Xynerva pasti merindukan kita. Semoga saja dia baik-baik saja dan ada orang baik yang mau merawatnya." Zeline teringat dengan makanan kesukaan putrinya itu makanan yang terbuat dari udang. Khansa mengangguk pelan. "Ketika dia kembali aku akan buatkan semua masakan yang dia inginkan." "Iya, Ibu dan kita juga akan mengajaknya jalan-jalan di pasar malam. Xynerva suka sekali naik roda lambung dan pancing ikan. Aku ingat Ibu selalu bilang kalau Xynerva tidak boleh main pancing ikan karena itu untuk anak-anak kecil, tapi Xynerva tetap saja ingin main pancing ikan." Air mata tanpa sadar mengalir di pelupuk mata Zeline saat mengingat kenangan indah itu. "Iya, Ibu masih ingat. Ibu selalu mengatainya kekanakan karena sudah besar masih main pancing ikan. Ibu janji tidak akan mengatainya kekanakan lagi!" Khansa mengatakannya sambil menangis. "Xynerva pasti sangat senang mendengarnya." *** "Natasha, kau sedang memikirkan apa?" tanya Fahar melihat sekilas gadis muda yang duduk di tepi ranjang diam saja. Gadis itu menoleh sekilas menatap Fahar yang juga menatapnya. "Aku sedang memikirkan keluargaku, Fahar," ujarnya jujur. Fahar mengangguk pelan. "Kau rindu pada keluargamu?" tanyanya. Dia juga sebenarnya juga rindu pada orang tuanya. "Iya, begitulah. Kau tahu ini pertama kali bagiku meninggalkan keluargaku selain acara sekolah." Xynerva mengupas kulit buah pisang, lalu memakannya perlahan. "Aku juga terkadang merindukan keluargaku, tapi karena suatu hal aku harus menahan rinduku itu," sahut Fahar. Penyebab Fahar kabur yaitu karena orang tuanya menjodohkannya dengan wanita yang tidak dicintainya. "Pasti alasan dibalik itu sangat parah sampai kau berani menanggung rindu. Apa masalah perjodohan?" tebak Xynerva tepat sasaran. Sebenarnya dia hanya asal menebak saja. "Apa itu terlihat dengan jelas?" tanya Fahar penasaran. Karena dia belum sama sekali membahas alasan dia pergi meninggalkan rumah. "Tidak juga, kalau soal itu aku hanya menebak dan kebetulan tebakanku benar," jawab Xynerva terkekeh pelan. Di tempat dia tinggal ada beberapa orang tua yang dengan tega memaksa anaknya untuk menikah dengan perjodohan bukan karena cinta. Dan kebanyakan orang tua melakukan hal itu karena masalah ekonomi. Ada juga karena pilihan anaknya itu tidak satu derajat atau satu golongan. Menurut Xynerva cinta itu tidak boleh dipaksakan. "Kau benar sekali. Aku dijodohkan oleh orang tua tanpa persetujuan dariku. Iya, tentu saja aku akan menolak. Di hari pertunangan aku diam-diam kabur dari rumah." Berbagi sedikit masalah membuat perasaannya sedikit lebih lega dan plong. Xynerva menepuk pundak laki-laki itu pelan. "Tindakanmu itu sudah sangat tepat, Fahar! Aku bangga padamu karena berani menentangnya!" ujarnya dengan nada bangga. Fahar menanggapinya dengan senyuman. "Dan bagaimana denganmu sendiri, Natasha?" Xynerva mengambil segelas air, lalu meneguknya pelan sebelum menjawab. "Aku itu sebenarnya tidak kabur dari rumah. Beberapa hari yang lalu aku dan dua temanku sedang mencari kupu-kupu di hutan untuk tugas dari sekolah dan sialnya aku dilukai oleh serigala yang jahat." Gadis itu mengambil napas sebelum melanjutkan. "Iya, untung saja aku masih bisa selamat. Kalau tidak, aku pasti tidak akan bertemu denganmu Fahar." "Eh, ada yang aku lupa. Oh, ya aku 'kan harus mencari tasku yang hilang." Xynerva menepuk kepalanya pelan. Ah, dia benar-benar lupa soal itu. "Tenang saja, ada aku. Aku pasti akan membantumu mencari tas itu." Fahar menunjuk dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD