Pagi hari setelah acara pemenggalan kepala si penjahat selesai. Alpha Mallory Osmond Quirin meninggalkan lokasi tempat pemenggalan, Beta Pertama Darren dan Beta Kedua Alex berjalan mengekor di belakangnya mengikuti sang pemimpin ke ruangan kerja yang terletak di lantai satu.
"Darren, kau bisa kembali menjaga perbatasan barat," perintah Alpha Mallory.
"Dan kau Alex kembali menjaga perbatasan timur!"
"Jika kalian berdua menemukan masalah dan tidak dapat mengatasinya kalian bisa hubungi aku."
Kedua bawahannya itu membungkuk hormat dan mengangguk secara bersamaan. "Baik, Alpha kami berdua mengerti! Kami akan berusaha semaksimal mungkin."
"Bagus, aku suka semangat kalian berdua!" Alpha Mallory mengangguk dan raut wajahnya masih tetap datar sedatar papan triplek.
"Terima kasih, Alpha!" Kedua pria yang sudah beberapa tahun menjadi kaki tangan sang pemimpin berjalan mundur dan meninggalkan Lory sendirian. Darren dan Alex segera menuju ke perbatasan untuk melaksanakan perintah dari pemimpin pack Quirin.
"Alpha, keadaan di perbatasan selatan aman. Beberapa hari yang lalu sempat ada beberapa siluman kecil yang berkeliaran dan mengacau di perumahan penduduk, tapi masalah itu telah berhasil saya atasi," mindlink Asril. Pria itu yang menjaga perbatasan selatan selama beberapa tahun terakhir.
"Bagus, Asril! Aku akan meminta beberapa orang untuk membawakan bantuan beberapa karung gandum untuk warga di sana. Kau harus memastikan setiap warga mendapatkan bagiannya secara adil."
Alpha Mallory dibalik wajah dan nada bicaranya yang dingin dan datar, tapi dia adalah sosok pemimpin yang sangat memedulikan keadaan rakyatnya.
"Asril, akan melaksanakan sesuai dengan keinginan Alpha!" jawab Asril mantap. Saat ini Asril sedang berada di pos penjaga perbatasan selatan mengawasi keadaan sekitar bersama para warrior.
Alpha Mallory melanjutkan mindlink dengan Hendri.
"Hendri, kau kirimkan sepuluh karung gandum dan lima karung kentang di pemukiman perbatasan selatan. Aku ingin hari ini kau melaksanakannya!" perintahnya.
"Baik, Alpha akan saya lakukan." Hendri adalah ahli pangan yang mengurus masalah pangan rakyat.
Alpha Lory memutuskan mindlink sebelum dia berjalan menuju ke kamar Luna Xynerva yang terletak lumayan jauh. Berniat untuk mengajak Luna Nerva sarapan pagi. Dia telah mengetuk pintu di hadapannya berulang kali, tapi tetap tidak ada sahutan dari dalam.
Mungkin saja mate kita masih tidur, mindlink Jayce.
Sepertinya begitu, jawab Alpha Mallory.
Sesuai saran Jayce, Alpha Mallory memutar kenop pintu dan pintunya sama sekali tidak terkunci.
Lain kali aku akan mengingatkannya supaya ketika beristirahat dia harus mengunci pintu, batin Lory.
Pria berusia dua ratus tiga tahun itu berjalan masuk. Aroma pengharum ruangan tercium di indra penciuman bercampur aroma tubuh belahan jiwanya. Keadaan kamar rapi dan bersih. Di atas ranjang khas wanita, laki-laki itu menatap selimut masih terbentang dan mengira Xynerva masih tidur dengan nyenyak.
"Sayang, ayo bangun ini sudah siang. Makanan kesukaanmu sudah disiapkan oleh pelayan."
"Sayang, ayo bangun! Aku takut nanti kau sakit karena terlambat makan."
"Sayang? Apa kau sedang tidak enak badan sampai menutup seluruh badan dengan selimut?" tanya Lory dengan nada khawatir karena tidak ada jawaban dan juga pergerakan.
Spekulasi buruk mulai bermunculan di pikirannya. Lory menarik selimut dan ternyata benar dugaannya belahan jiwanya tidak ada di sana.
Lory, mungkin saja dia sedang mandi, mindlink Jayce.
Setelah mengecek di dalam kamar mandi Xynerva juga tidak ada. Alpha Mallory beserta sisi serigalanya sangat khawatir dan cemas takut hal-hal buruk terjadi pada Luna Xynerva. Apalagi gadis itu seorang manusia, bukan makhluk immortal.
Alpha Mallory meminta sebagian warrior dan sebagian pelayan serta gamma berkumpul dan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menyebar mencari keberadaan Luna Nerva yang tiba-tiba menghilang. Bahkan Alpha sendiri juga langsung turun tangan.
Satu per satu perwakilan masing-masing kelompok melapor dan tidak ada satupun yang melihat Luna Nerva. Beberapa pelayan yang melayani sang Luna mengatakan jika terakhir kali mereka melihat Xynerva ketika malam hari. Saat itu mereka mengupas buah mangga untuk dimakan Luna Nerva dan setelah itu gadis itu meminta agar semua pelayan yang melayaninya untuk istirahat karena sudah malam.
"Maafkan atas kelalaian kami Alpha!" Semua pelayan, gamma, dan warrior serempak bersujud meminta maaf. Karena keselamatan Luna termasuk tanggung jawab mereka semua.
"Sudahlah! Kalian semua berdirilah terlebih dahulu! Bantu saya mencari Luna Nerva." Alpha Mallory mengibaskan tangannya ke atas dan semua bawahannya berdiri.
"Sebagian dari kalian harus tetap berada di istana dan kalian harus waspada karena musuh-musuh bisa saja menyerang di saat sedang lengah!" Alpha Mallory memberikan nasihat sekaligus perintah.
"Baik, Alpha!" Tanpa bantahan anggota pack Quirin mengangguk patuh.
Derry menghadap sang pemimpin ketika dipanggil. "Saya menghadap, Alpha!" ujarnya membungkuk hormat.
"Selama saya berada di luar keselamatan anggota pack Quirin adalah tanggung jawabmu! Jadi, jangan sampai mengecewakan saya!" Derry, pria itu adalah kepala warrior pack Quirin. Dia sudah beberapa kali memimpin untuk menumpas pemberontakan di perbatasan utara dan berhasil. Pemberontakan yang paling sering terjadi di perbatasan utara. Enam bulan yang lalu pemimpin suku bar-bar alis merah menyerang dan berhasil dipukul mundur oleh pasukan Kepala Warrior Utara. Mengapa dijuluki suku bar-bar alis merah? Karena alis mereka berwarna merah menyala.
"Siap, Alpha. Alpha tenang saja, pack Quirin akan aman berada di tangan saya. Alpha bisa mencari Luna dengan tenang tanpa rasa khawatir yang mengganjal."
****
Jayce mengatakan aroma Luna Nerva hanya sampai di gerbang masuk setelahnya aromanya tidak tercium. Kemungkinan besar ada seseorang yang menculiknya ketika sang Luna jalan-jalan keluar dari dalam kamarnya.
"Aku tidak akan memaafkan orang yang berani menculik Luna Nerva," ucap Alpha Mallory dengan penuh penekanan dan tatapan wajahnya datar. Tangannya digenggam kuat sampai buku-bukunya memutih.
Bahkan warrior, pelayan, dan gamma yang berada satu ruangan dengan sang pemimpin merasa tertekan dan sulit bernapas karena aura dingin yang menguar begitu jelas.
Siapa orang yang berani menculik Luna? batin salah satu pelayan.
Semoga saja Luna tidak apa-apa. Jika tidak takutnya nyawa kami dalam bahaya.
Aku tidak pernah melihat Alpha sampai seperti itu.
***
Sudah lebih dari setengah hari pencarian juga belum mendapatkan hasil. Alpha Mallory menoleh dan menatap satu per satu bawahannya yang sudah tampak lelah, walaupun para bawahannya itu tidak ada yang berani mengeluh sedikit pun.
"Kita istirahat sebentar, kalian bisa minum ataupun makan," ujar Alpha Mallory Osmond Quirin yang disambut dengan anggukan para bawahan.
Lory mengambil sebotol air yang disuguhkan salah satu warrior, lalu meneguknya perlahan. Dia beristirahat duduk di bawah salah satu pohon yang rimbun.
"Alpha, saya yakin Luna pasti akan segera bertemu," hibur Tony--salah satu warrior yang lumayan dekat dengan Alpha-- yang dibalas anggukan Lory.
Setelah dirasa istirahat sudah cukup rombongan itu melanjutkan perjalanan kembali.
***
"Fahar, aku ke sana sebentar aku lihat ada seekor kupu-kupu yang indah," pamit Xynerva. Tanpa menunggu balasan dari Fahar, gadis itu segera berjalan menjauh.
Alpha Mallory meminta salah satu warrior bertanya pada laki-laki yang sedang memetik buah-buah liar yang sudah matang dan memasukkannya ke dalam keranjang yang dibawanya.
"Tuan, apa Anda melihat seorang gadis dengan ciri-ciri rambut hitam, kulitnya putih, gadis itu seorang manusia?" tanya warrior tersebut setelah Fahar meletakkan keranjang di atas tanah.
Fahar tahu jika laki-laki yang sedang bertanya itu adalah salah satu anggota kelompok pack Quirin. Setiap anggota pack Quirin memiliki ciri khas yaitu dari pakaian mereka.
"Sebentar aku ingat-ingat dulu." Fahar memasang posisi berpikir.