Kelopak mata Xynerva terbuka perlahan-lahan. Setelah nyawanya benar-benar terkumpul barulah dia mengubah posisi dari telentang menjadi duduk. Gadis berusia enam belas tahun itu merenggangkan tubuh.
Suara kicauan burung menarik perhatiannya. Setelah merapikan rambut dan piama yang membalut tubuhnya, lalu melipat jubah dan meletakkannya di atas ranjang. Cahaya matahari masuk melalui jendela pondok yang terbuka. Lampu minyak juga sudah tidak menyala.
Xynerva melangkah berjalan ke halaman. Dia menyapukan pandangan ke sekitar, tampak terkejut saat menemukan seorang pria asing berambut cokelat yang sedang fokus menarik busur.
Suara daun terinjak membuat Fahar menoleh sekilas dan menemukan seorang gadis yang berdiri mematung. Kembali fokus menatap sasaran busurnya. "Ah, kau rupanya sudah bangun, Nona?" tanyanya.
Xynerva berjalan menghampiri pria asing itu. "Kau adalah pemilik pondok ini?"
Fahar meletakkan busur dan meletakkannya ke dalam wadah khusus. Dia tersenyum, lalu mengangguk. "Bisa dikatakan begitu."
Apa dia akan marah padaku karena tinggal di rumahnya tanpa izin? batin Xynerva.
"Maafkan aku Tuan karena tidur di ranjangmu tanpa izin," ujar Xynerva setelah keheningan beberapa saat menguasai.
"Tidak masalah, Nona." Jawaban pria itu membuat Xynerva bernapas lega.
"Siapa namamu Tuan?" tanya Xynerva sopan.
"Jangan panggil aku Tuan, Nona. Aku ini masih terlihat muda dan tampaknya kita hampir seumuran saja," ujar Fahar dengan nada bercanda. "Namaku Fahar dan kau?" Laki-laki berkulit putih itu balik bertanya.
"Natasha," balas Xynerva singkat. Tiba-tiba nama itu terlintas di pikirannya. Cukup kemaren saja dia melakukan kesalahan mengatakan nama aslinya.
"Apa kau juga minggat dari rumah?" Fahar bertanya setelah mereka berdua berjalan masuk ke dalam.
Aku tidak mungkin berkata jujur, mungkin saja dia adalah salah satu bawahan Mall, batin Xynerva menimbang-nimbang.
"Aku kabur dari rumah." Dia Tidak sepenuhnya berbohong, gadis itu memang kabur dari istana Mall.
"Sudah kuduga kau juga kabur dari rumah sepertiku. Mungkin hanya alasannya saja yang berbeda." Fahar tersenyum maklum.
Fahar mengambil suatu benda dari sebuah wadah kotak segi empat dan
memberikan sebutir pil berbentuk bulat perak.
"Ini adalah pil lerak. Makanlah!" Xynerva hanya memandang saja pil aneh yang ada di telapak tangannya.
Ini pil racun? pikir Xynerva curiga.
Melihat raut wajah khawatir dan curiga gadis yang duduk di sampingnya itu.
"Jangan khawatir! Itu bukan racun! Aku juga memakannya supaya orang-orang rumahku tidak bisa mencium aroma tubuhku. Dengan kata lain aroma tubuhku bisa disembunyikan."
"Baiklah, lihat aku." Fahar mengambil sebutir pil dari dalam kotak yang sama, kemudian tanpa menunggu lama menelan pil lerak. Selama itu Xynerva melihatnya dengan baik.
Fahar membuktikan jika obat itu tidaklah mengandung racun. "Kau bisa percaya padaku, Natasha."
Xynerva bukannya tidak ingin percaya pada orang asing, hanya saja dia harus waspada dan hati-hati. "Maafkan aku, Fahar! Aku tidak bermaksud untuk.... mencurigaimu!" ujarnya merasa tidak enak hati.
Fahar tersenyum, lalu mengangguk. "Aku mengerti, tidak apa-apa. Iya, kau benar kita memang harus lebih waspada pada orang yang baru saja bertemu. Aku juga seperti itu, aku bertemu beberapa orang yang terkadang memiliki niat jahat padaku." Xynerva mengangguk.
"Natasha, apa kau seorang manusia?" tanya Fahar, dia mencium aroma khas manusia yang menguar dari tubuh Natasha.
"Iya, tentu saja aku manusia. Bukankah kau juga seorang manusia?" tanya Xynerva dengan nada bercanda dan tersenyum geli.
"Aku bukanlah manusia, Natasha," balas Fahar dengan raut wajah sungguh-sungguh dan nada bicaranya serius tidak ada sedikit pun nada gurauan.
Xynerva menghentikan tawanya. "Kau berkata dengan sungguh-sungguh?" Dia mengubah ekpresinya menjadi serius.
"Tentu saja aku tidak bohong. Sekarang apa kau takut padaku?" pancing Fahar. Fahar pernah bertemu dan berteman dengan bangsa manusia. Begitu mengetahui Fahar bukanlah manusia, teman manusianya itu ketakutan dan tidak mau berteman lagi.
Xynerva dengan santai dan tenang menggeleng. "Tentu saja tidak." Dia mengambil sebutir buah jambu dari dalam kain buntelan yang dibawanya, lalu menggigitnya dan mengunyahnya.
Fahar berdiri dan berjalan sedikit jauh, dia membaca mantra dan tidak lama sepasang sayap berwarna emas muncul. Sebuah tanda merah muncul di dahinya muncul. Ada total dua belas bulu di sayap Fahar. Dalam berteman Fahar tidak ingin menyembunyikan kebenaran tentang jati dirinya.
Xynerva berjalan dan menghampiri Fahar. Dia malah menghitung jumlah bulu yang ada di sayap Fahar tanpa rasa takut. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dan dua belas!"
Respon unik Xynerva membuat Fahar terkejut. Awalnya Fahar mengira gadis itu akan ketakutan, menangis, atau berlari menghindar seperti respon gadis-gadis lain yang pernah ditemuinya. Dan Natasha malah menghitung jumlah bulunya dengan tenang, gadis itu patut diacungkan jempol.
"Kau tidak ingin berlari menjauh dari siluman burung emas merah dua belas bulu ini?" tanya Fahar sekali lagi.
Xynerva tersenyum lembut. "Tidak mungkin aku berlari seperti orang yang dikejar anjing gila karena kau punya sayap."
Fahar tersenyum lega, ternyata ada orang yang tidak membedakan antara manusia dan siluman. Tidak dapat dipungkiri Fahar cukup senang. Sebelum duduk di samping Xynerva, Fahar menyembunyikan sepasang sayapnya.
"Semua makhluk hidup itu sama saja baik itu manusia, siluman, iblis, ataupun dewa. Mereka punya hak yang sama." Xynerva tahu Fahar pasti ingin mengetahui alasan dibalik rasa tenangnya itu.
"Aku jarang bisa bertemu dengan orang sepertimu Natasha. Kebanyakan manusia yang aku temui mereka memandang rendah kaum siluman." Ada rasa sedih saat Fahar mengatakan itu.
"Tapi aku senang karena kau menganggap siluman bukan kaum yang rendah," sambung Fahar tersenyum.
Xynerva menyentuh bahu Fahar, sambil tersenyum. "Kau bisa menganggapku sebagai temanmu, Fahar."
Xynerva juga mendengar dari teman-teman sekolahnya dan guru-guru yang mengatakan jika kaum manusia itu tidak diperkenankan berteman dengan siluman. Teman-teman dan guru-guru juga mengatakan kalau siluman dan iblis adalah makhluk yang jahat. Tentu saja pandangan Xynerva berbeda menurutnya tidak semua siluman dan iblis itu jahat.
"Terima kasih, Natasha."
Setelah Xynerva membersihkan diri dan berganti pakaian. Kedua orang itu berjalan keluar untuk mencari sayur-sayuran, buah-buahan serta hewan-hewan liar yang bisa dimakan.
Xynerva melihat ada seekor ayam liar yang sedang mengais-ngais tanah. "Fahar, lihat di sana ada seekor ayam gemuk," ucapnya.
"Baiklah, aku akan berusaha menangkapnya." Fahar mengambil busur dan anak panah di dalam keranjang yang tersampir di punggungnya, lalu melepaskan anak panah tersebut. Dalam satu kali tembakan dia berhasil.
"Wah! Kau keren sekali, Fahar!" Xynerva bertepuk tangan. Dia baru pertama kali ini melihat orang memanah secara langsung dan dalam satu kali tarikan langsung mengenai sasaran. Orang itu pasti punya bakat yang tinggi.
"Terima kasih atas pujiannya. Nanti kapan-kapan aku bisa mengajarimu."
"Baiklah, aku akan menunggu."
"Pagi ini aku tidak sengaja mendengar dari warga pack Quirin ada seorang laki-laki dihukum penggal karena melukai Luna pack Quirin." Fahar mendapatkan informasi itu ketika dia sedang berjalan-jalan di pemukiman warga.
"Apa Luna itu meninggal?" tanyanya. Dia merasa tertarik dengan pembahasan tersebut.
"Dengar-dengar Luna itu tidak apa-apa." Keduanya berjalan menuju ke pondok.
"Kenapa laki-laki itu harus sampai dipenggal? Apalagi Luna itu juga baik-baik saja," sahut Xynerva. Dia merasa bingung dan heran karena, kalau di tempatnya tinggal orang yang bersalah itu palingan dihukum dimasukkan di dalam penjara dan untuk berapa lama waktu ditahan tergantung dengan kesalahan yang diperbuat. Misalnya kasus pencurian motor dikurung selama satu tahun.
"Itu katanya sudah peraturan dari pack Quirin dan tidak bisa diubah. Sebaiknya, kau jangan mengatakan hal itu karena kalau terdengar oleh mereka bisa-bisa nanti kau dihukum," peringat Fahar. Pria itu tidak ingin Natasha terlibat masalah.
Berselang beberapa saat kemudian Xynerva tidak sengaja melihat Alpha Mallory bersama pengawal-pengawalnya sedang berteriak memanggil nama Luna.
Itu Mall, apa dia akan menangkapku? batin Xynerva takut. Jantungnya berdetak dengan kencang.
***