Chapter 10 - Kabur!

1121 Words
Barang-barang yang dibutuhkan telah disiapkan sebelumnya. Xynerva melihat ke kiri dan kanan dengan pandangan waspada. Para penjaga sudah tertidur lelap dan para pelayan sudah bermain merajut mimpi mereka. Setelah memastikan keadaan benar-benar aman. Gadis itu tanpa rasa takut berjalan di tengah kegelapan. Sampai di halaman istana pack Quirin. Penjaga pintu gerbang tidur sambil berdiri. Xynerva tersenyum sepertinya rencananya akan benar-benar berjalan dengan lancar. Dengan keahliannya, gadis cantik itu perlahan-lahan memanjat tembok dinding gerbang dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara berisik yang akan membangunkan dua penjaga gerbang. Terakhir dia melompat dengan mulus tanpa kendala. Setelah dirasa sudah cukup jauh dari istana pack Quirin. Xynerva menoleh sekilas ke belakang bangunan mewah pack Quirin sudah tidak terlihat tertutup rimbunnya pepohonan. Xynerva mengembuskan napas lega. "Fyuh... Aku berhasil!" pekiknya kegirangan kesenangan seperti habis memenangkan lotre. Dengan bantuan cahaya senter menerangi setiap jalan yang dilewati tanpa terjatuh. Ah, hutan ketika malam datang selalu lebih menyeramkan ketika siang hari, batinnya saat melihat bayangan pohon besar. Kekelawar beberapa kali melintas di sekitar tampak seperti sedang mengejar mangsanya. Suara daun dan ranting yang tidak sengaja terinjak serta suara jangkrik bersatu padu menjadi irama musik yang mengiringi di setiap langkah Xynerva. Jubah hangat melindungi tubuh gadis itu dari dinginnya udara malam yang bisa menusuk kulit. "Aku harus mencari tempat tinggal sementara, tidak mungkin berjalan di sepanjang malam." "Mall, pengawal, dan pelayan pasti tidak akan bisa menemukan aku," pikirnya. Setelah berjalan cukup lama, dia menemukan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar. Lampu minyak digantungkan di depan pondok itu. Xynerva tersenyum senang, akhirnya dia menemukan tempat istirahat. Dia berjalan lebih cepat dan mengetuk pintu yang terbuat dari kayu. "Apa ada orang?" tanyanya sopan sembari mendorong pintu dan melangkah masuk setelah mengetuk pintu berulang kali tetap tidak ada jawaban. "Aneh jika benar tidak ada orang mengapa lampu minyak di depan rumah menyala?" Dia menemukan beberapa benda-benda yang terlihat sudah tua, tapi masih bagus seperti kursi, ranjang, dan peralatan masak kuno. Sumber penerangan lampu minyak digantung di dinding kayu. "Apa pondok ini sudah tidak terpakai? Mungkin saja pemiliknya sepertinya sudah lama pergi," ucap Xynerva sembari meletakkan barang-barang yang dibawanya di atas lantai, lalu mengambil posisi duduk di salah satu kursi yang ada. Xynerva mematikan lampu senter dan menyimpannya ke dalam kain buntelan yang terbuat dari seprai. Dia bisa melihat ranting-ranting ditata rapi di dekat perapian. "Rumah ini memang tidak semewah dan seindah tempat tinggalnya Mall, tapi cukup nyaman dan tenang untuk dijadikan tempat tinggal." Dia berjalan naik ke atas ranjang, memijat sepasang kakinya yang terasa pegal. Sekali lagi Xynerva menguap. Aku sepertinya harus beristirahat sekarang, pikirnya sembari melepaskan jubah sebelum menelentangkan tubuh di atas ranjang dan menjadikan jubah sebagai selimut. Tanpa menunggu waktu yang lama, dia sudah tenggelam di dunia mimpi yang indah. Berselang beberapa saat kemudian seorang pria berjalan masuk. Ekpresinya kaget dan terkejut saat netra hijaunya melihat seseorang tanpa izin tidur di atas ranjang kesayangannya. Setelah meletakkan buah-buah liar yang dipetiknya ke dalam keranjang rotan, dia berjalan mendekati ranjangnya. Fahar hendak memukul orang yang dengan lancang masuk ke dalam rumah menggunakan kayu. "Seorang gadis kecil?" ujarnya mengurungkan niatnya tersebut. "Apa yang dilakukan seorang gadis kecil di dalam pondokku? Apa dia seorang pemburu? Atau mungkin orang yang suruhan ayah dan ibu untuk menangkapku?" Fahar memasang ekpresi berpikir. Fahar sudah beberapa bulan kabur dari kediaman keluarga Banzel. Aku harus memastikannya, jika memang dia adalah orang suruhan ayah pasti ada orang lain yang bersembunyi, pikirnya. Mengalihkan pandangan ke sekitar dan tidak menemukan orang lain barulah dia yakin jika gadis itu bukanlah orang suruhan. Pria itu bernapas dengan tenang. "Gadis ini pasti sama sepertiku kabur dari rumah," ujarnya setelah tidak sengaja melihat buntelan kain yang tergeletak. ***** Keesokan harinya, setelah sinar hangat matahari menyinari daratan dan lautan. Semua anggota pack Quirin berkumpul di tengah kota Osrin. Di atas panggung seorang ahli hukum berdiri dengan ekspresi serius. "Sesuai dengan peraturan pack Quirin siapa pun yang dengan berani dan lancang menyakiti Luna akan dihukum penggal!" Bisik-bisik menjalar dengan cepat di tengah rakyat. "Siapa orang bodoh yang berani menyakiti Luna?" "Orang itu punya nyali yang besar." "Orang yang tidak takut mati." "Benar-benar bodoh." "Tidak sayang dengan nyawa." "Mungkin saja orang itu punya dendam pada Alpha?" "Orang itu berani sekali menyakiti Luna." "Aku belum melihat Alpha menyatakan secara resmi tentang Luna." Dua orang algojo berbadan besar dan terlihat bengis membawa seorang pria ke atas lantai panggung . Pria itu terduduk di atas lantai panggung. Rakyat pack Quirin bersorak. "Hukum dia!" "Dia pantas dihukum!" "Penjahat itu tidak pantas untuk hidup!" Sudah menjadi peraturan sejak dahulu jika ketahuan menyakiti Luna adalah hukuman mati. Tidak hanya itu saja banyak peraturan lain yang berlalu di dalam pack Quirin. Maka dari itu warga-warga sangat menghormati Luna dan Alpha sebagai pemimpin. Ahli hukum mengangkat tangan ke atas spontan rakyat berhenti bersorak dan menantikan kelanjutan kalimatnya. Dia mengambil gulungan kertas yang berisi dekret dari sang Alpha kemudian membacakannya dengan lantang. "Maka hari ini sesuai peraturan pack Quirin, Aldi dihukum penggal. Dengan belas kasih dari sang Alpha hukuman dilaksanakan tanpa melibatkan keluarga yang tidak bersalah. Sekian." "Aku tidak sengaja mendengar Alpha kita sudah berbelas kasih, tapi wanita, istri dari penjahat itu ingin membunuh Alpha." "Dasar wanita yang tidak tahu diri!" ucap seseorang dengan nada geram dan kesal. "Aku juga sependapat denganmu, harusnya dia setidaknya berterima kasih pada Alpha." Pakaian putih membalut tubuh Aldi. Bekas darah kering tampak jelas di wajah pria itu. Keadaannya benar-benar mengenaskan. Rantai mengikat tangan dan kaki. Dua orang algojo berbadan besar dan kekar memasukkan kepala si penjahat ke dalam kayu pemenggalan. "Jangan, lakukan itu!" Hanya rasa hancur dan wajah yang menyedihkan terlukis di wajah Bunga. Spontan rakyat menoleh ke arah sumber teriakan tersebut dan menemukan seorang wanita. "Lihat! Itu pasti wanita yang tidak tahu diri itu!" Rakyat bersorak meneriaki Bunga. Ahli hukum mengangkat tangan dan meminta warga untuk diam. "Lepaskan dia! Dia tidak seharusnya dihukum penggal!" teriak Bunga. Beberapa orang warrior menahan pergerakan wanita itu yang ingin menyelamatkan suami tercintanya. "Lepas! Lepaskan aku! Aku harus melepaskannya dari sana!" Sebelum pedang tajam memutuskan kepala Aldi dari tubuhnya, dia menyempatkan untuk tersenyum pada Bunga dan Mentari yang tertidur di gendongan sang ibu, serta mengatakan kalau dia tidak apa-apa. Maafkan aku! Aku tidak bisa memenuhi janji pada kalian berdua untuk melindungi kalian sepanjang hidup. Jangan salahkan Alpha Lory, ini semua salahku yang selama ini suka menyakiti manusia, batin Aldi. Acara pemenggalan telah selesai dilaksanakan. Tempat eksekusi dipenuhi dengan cairan merah segar. Kepala Aldi jatuh menggelinding. Bunga menangis histeris atas kematian suaminya itu. Wanita itu jatuh berlutut, tubuhnya seketika lunak bagaikan jelly dan tidak punya tenaga sama sekali. Selama acara tersebut Alpha Mallory berekspresi datar dan raut wajah dingin. Setelah itu dia meninggalkan tempat tersebut. Dan kerumunan warga pack Quirin juga kembali dan meninggalkan Bunga dan Mentari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD