Chapter 9 - Alpha Mallory

1347 Words
Dasar Mall, rutuk Xynerva dalam hati. Akhirnya Xynerva membiarkan saja dokter Anna memeriksa keadaannya. Setelah selesai Anna membereskan alat-alat kedokteran ke dalam koper hitamnya. "Bagaimana keadaan Nerva, Anna?" Alpha Mallory langsung menodong Anna dengan pertanyaan. Rasanya Anna mau tertawa keras mentertawakan kelucuan Alphanya itu, tapi itu tidak mungkin, bisa-bisanya sang pemimpin yang terkenal kejam akan menghukumnya. Dokter Anna hanya bisa tersenyum. "Alpha, keadaan Luna Nerva sehat. Dia hanya membutuhkan asupan nutrisi serat dari buah-buahan dan sayur-sayuran." Dokter Anna mengambil napas sebelum melanjutkan kalimat selanjutnya. "Kalau begitu saya permisi, Alpha." Wanita itu membungkuk hormat, lalu berlalu keluar dari ruang kamar meninggalkan Alpha Mallory dan Luna Xynerva. "Nah 'kan sudah aku bilang kalau aku itu sangat sehat. Mall, kau buang-buang uang aja. Kau tahu tidak? Nyari uang itu susah, nah ini kau malah buang-buang uang." Omel Xynerva seperti seorang istri yang marah pada suaminya karena ketahuan beli barang-barang yang tidak berguna. Jari telunjuknya menunjuk Mallory. Bukannya marah Alpha Mallory justru tersenyum yang meningkatkan derajat ketampanannya. Calon istri beberapa bulan kemudian, batin Lory menyahut. "Iya, Sayang. Jangan marah-marah lagi ya." Alpha Mallory mengacak gemas puncak kepala Luna Xynerva. "Rambutku jangan diacak-acak, Mall. Ini baru disisir," ucap Xynerva memperbaiki rambutnya yang berantakan. Alpha, Aldi sudah menyelesaikan hukuman cambukan seratus kali, lapor Gilang melalui mindlink. Baiklah, aku akan segera ke sana, jawab Alpha Mallory. "Nerva, selamat beristirahat. Semoga memimpikan aku." Sebelum pergi menemui tahanan, dia menyempatkan untuk pamit pada belahan jiwanya itu. "Mana ada, aku lebih baik memimpikan tumpukan uang yang banyak," jawab Xynerva merentangkan kedua tangannya yang dibalas kekehan Alpha Mallory. Xynerva bangkit dari duduknya, bergerak untuk mengunci pintu kamar, lalu berjalan membuka pintu kamar balkon yang terbuat dari kaca yang transparan. Dengan bantuan cahaya lampu, Xynerva bisa melihat dengan jelas meja bundar yang terletak di antara tiga buah sofa. Di atas meja terdapat sekotak tissue. Di sisi sebelah kiri terdapat kebun berukuran mini, pot-pot yang terbuat dari plastik hitam ditanami tanaman buah-buahan seperti lemon yang saat ini telah tumbuh tanaman kecil. Ada juga tanaman stroberi yang merambat. Gadis berusia enam belas tahun itu melihat sebutir buah stroberi yang kebetulan matang. Warna merah nan segar itu menggodanya untuk memakannya. Tanpa menunggu lama buah merah itu telah masuk ke dalam mulutnya. "Manis sekali!" Di langit bulan menggantung dengan indahnya. Bintang-bintang mengelilinginya. Jubah hangat melindungi tubuh Xynerva dari dinginnya udara malam. Sementara itu di tempat yang sama, hanya berbeda ruangan. Cahaya temaram membuat ruangan itu terlihat menakutkan dan menyeramkan. Seorang anak kecil terlelap di pelukan sang ibu. Rantai yang mengikat kaki pria itu berbunyi setiap kali dia bergerak. "Aldi, kau berdarah. Mereka menyakitimu?" Bunga berkata dengan suara bergetar, kedua netra matanya menampilkan kesedihan. Sementara tangannya menyapu wajah Aldi yang kusam dan darah mengering. Rambut yang selalu rapi kini berantakan. Pakaian yang dipakai pun robek di beberapa bagian dan tercium bau anyir darah di sela-sela luka di punggung. Tentu saja penjaga penjara tidak perlu repot-repot memberikan sebotol obat untuk mengobati luka. Aldi berada di dalam kurungan penjara. "Aku tidak apa-apa Bunga! Tolong pergilah!" Aldi berkata dengan tenang seolah-olah cambukan seratus kali di punggungnya itu bukanlah apa-apa. Dia harus terlihat kuat supaya wanita yang telah menjadi istrinya selama empat tahun tidak terlalu khawatir. Bunga menggeleng, menolak. "Aku tidak akan pergi sebelum mereka melepaskanmu! Aku akan memohon sekali lagi pada Alpha." Air mata mengalir di sudut matanya. "Wanita bodoh! Aku tidak akan dilepaskan dengan mudah." Aldi tersenyum kecut. "Jangan sia-siakan tenagamu! Kau harus pulang ke rumah Mentari butuh istirahat yang baik." Dengan keadaan yang sulit dan payah, Aldi masih memikirkan putri kecilnya. "Sebaiknya kau dengarkan saja apa kata suamimu itu! Alpha Mallory tidak akan mengubah keputusannya, walaupun kau memohon seribu kali." Penjaga penjara menyahut setelah keheningan yang cukup lama menguasai. "Besok sesudah matahari terbit, Aldi akan dihukum penggal sesuai dengan peraturan pack Quirin. Alpha sudah berbelas kasih tidak melibatkan kau dan putrimu! Jadi, kau harus berterima kasih pada Alpha!" Bunga tersenyum sinis, dia mengernyitkan dahi. "Berterima kasih padanya? Tidak mungkin! Kalian benar-benar tidak adil, bahkan Luna saat ini sudah baik-baik saja." Amarah dalam dirinya memuncak. "Bunga, sudah cukup! Biarkan saja! Jangan biarkan pengorbananku sia-sia!" Aldi memuntahkan seteguk darah segar, wajahnya pucat karena kehilangan banyak darah. Berkat salah satu kelebihan yang dimiliki Alpha Mallory, dia bisa mendengarkan semua percakapan antara istri Aldi dan bawahannya dalam jarak sepuluh meter. "Peraturan tetaplah peraturan tidak bisa diubah. Jika saya tidak tegas, apa guna peraturan yang ada?" Pria itu berkata sambil melangkah, dengan raut wajah datar dan nada bicaranya sedingin es di Benua Beferzen. Bunga meletakkan putrinya di atas lantai, secepat kilat mencabut belati yang disembunyikan di balik pakaian yang dipakainya. Dia berlari seperti harimau, dengan penuh ketekatan dan amarah dia berniat menghujamkan benda tajam tepat di jantung sang Alpha yang berdiri dengan tenang dan berpunggung tangan. "Lindungi Sang Alpha!" Gilang--penjaga penjara-- berteriak kencang memberikan instruksi. Dengan cepat siaga dan kompak para warrior bergerak melingkari Alpha Quirin, pedang mereka teracung. "Lepaskan aku! Aku harus membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri!" Wanita itu memberontak saat para warrior bergerak memblok pergerakannya. Suara belati terjatuh di atas lantai. Di tempatnya Aldi terkejut aksi nekat Bunga, istrinya. Istrinya yang terkenal sebagai wanita yang lemah lembut dan penyayang, ternyata memiliki sisi yang lain dan sisi yang itu tidak pernah Aldi lihat. Di samping itu Aldi juga merasa bangga, Bunga rela berjuang demi dirinya walau dengan cara yang salah. "Alpha mohon maafkan istriku, dia hanya mengkhawatirkan keselamatanku barulah dia bisa bertingkah di luar batas kemampuannya." Aldi bersujud memohon ampunan mengabaikan rasa pusing yang mendera kepalanya, tapi Alpha Mallory berjalan mengabaikannya. Bunga terus berteriak meminta dilepaskan sampai dia dimasukkan ke dalam kurungan penjara. Aku tidak menyangka saat pertama kali bertemu dengannya aku mengira dia wanita yang lembut, mindlink Jayce saat Alpha Mallory sudah kembali ke dalam ruangannya. Pria itu hanya tertawa, dia merasa geli dengan ucapan sisi serigalanya itu. Kau seperti tidak pernah melihat manipulasi saja, mindlinknya dengan nada mengejek. Tapi wanita itu punya keberanian yang besar di dalam dirinya, aku cukup kagum, sahut Jayce sungguh-sungguh, mengabaikan ejekan Alpha Mallory. Sayang sekali keberaniannya tidak digunakan di posisi yang tepat. Dia punya peluang besar untuk menjadi jenderal wanita, balas Mallory mengambil segelas air meneguknya perlahan. *** Seorang gadis berusia enam belas tahun sedang menelentang, kedua netranya menatap langit-langit kamar berbentuk awan. Aroma harum yang berasal dari pengharum ruangan hinggap di indra penciumannya. Dia mengubah posisi menjadi duduk sambil memakan potongan daging mangga yang dikupas oleh pelayan. Tempat asing ini bukanlah tempat tinggalku, aku sudah seharusnya pergi, batin Xynerva. Xynerva berbaring di ranjang, menatap langit-langit kamar berbentuk awan. Aroma harum tercium di indra penciuman yang berasal dari pengharum ruangan. Dia mengubah posisi menjadi duduk sambil memakan potongan daging mangga yang dikupas oleh pelayan. Aku tidak bisa diam saja di tempat ini, aku sudah seharusnya pergi, batinnya. "Aku mau nonton drama China dan drama Korea, aku ketinggalan beberapa episode terbaru karena pemulihan." "Aku juga mau main game kesukaanku." "Aku sangat berharap handphoneku tidak benar-benar hilang 'kan sayang kuota yang aku beli 15 gb 120 ribu baru dipakai 2 gb." Selama beberapa hari Xynerva hanya berada di dalam kamar. Pekerjaannya makan, tidur, dan mandi. Rasa bosan melingkupinya. Ah, satu lagi dia juga rindu dengan sekolah. Berselang beberapa saat kemudian sesuai dugaannya Alpha Mallory datang melihatnya sebelum beristirahat. Pria itu merasa tidak puas jika belum memastikan Xynerva berada di dalam kamarnya dan dalam keadaan baik-baik saja. Senyuman di wajah pria itu muncul dan raut wajahnya selembut sinar rembulan Berbanding terbalik ketika dia bertemu dengan orang lain selain belahan jiwanya. Lory seperti punya dua jenis wajah. "Rupanya kau sudah tidur, Sayang." Tangan Lory terulur mengusap rambut hitam lembut milik Xynerva. "Baiklah, aku akan kembali ke kamarku untuk beristirahat. Selamat malam, mimpi indah." Alpha Mallory menyempatkan mencium dahi Xynerva lembut sebelum kembali ke ruangannya. Gadis cantik yang sedang berpura-pura sedang tidur membuka kelopak matanya. "Ini orang suka cium-cium orang, aku saja baru kenal beberapa hari sudah main nyosor kayak bebek. Eh, seperti angsa," gerutu Xynerva seraya mengusap dahinya. "Tapi tidak apalah sedikit berkorban demi rencanaku supaya berjalan lancar."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD