Mallory menutup berkas yang berisi laporan pemasukan dan pengeluaran perusahaan Quirin yang tengah di bacanya saat Beta Pertama Darren meminta izin untuk menghadap.
"Hormat saya Alpha! Semoga kebahagiaan menyelimuti!" Darren mengucapkannya dengan badan membungkuk hormat. Setelah dipersilakan berdiri, barulah pria yang statusnya sebagai sahabat sekaligus Beta Pertama menegakkan punggungnya seraya mengucapkan terima kasih.
"Alpha, rogue yang menyakiti Luna Xynerva telah ditemukan. Dia sekarang berada di dalam penjara," lapor Darren dengan raut wajah serius menatap Alphanya.
Alpha Mallory mengangguk, lalu bersama Darren menuju ke penjara. Ruangan penjara terletak di bagian timur dari bangunan istana pack Quirin.
Kedua pria itu berjalan di lorong dengan posisi Darren berada satu langkah di belakang Alpha Mallory. Dinding batu bata dilapisi cat abu-abu, lampu bercahaya putih di tempel di dinding. Semua warrior yang bertugas menyapa Alpha Mallory dengan hormat. Ada banyak kurungan besi di sisi kiri dan sisi kanan. Semua kurungan berisi makhluk-makhluk yang berkhianat dan musuh yang ditahan. Keadaan mereka kotor, dekil, dan bau.
"Salam hormat saya Alpha!" Gilang, warrior yang bertugas menjaga penjara membungkuk hormat. Seragam hijau tua membalut tubuh kekarnya. Tato lebah kecil terlukis di tangan kanannya.
"Silakan berdiri Gilang!" Alpha Mallory mengibaskan tangan ke atas yang dipatuhi Gilang Alfenzo.
"Saya akan membawa Alpha menemui rogue yang berani menyakiti Luna Xynerva."
Gilang membuka pintu penjara dan membawa tahanan ke luar. Tali putih mengikat kedua tangannya. Rambut berantakan. Di tubuh dan wajahnya terdapat cairan merah yang telah mengering. Pakaian merahnya sobek di beberapa bagian akibat perkelahian dengan bawahan Alpha Mallory. Aldi sempat melawan dan melarikan diri, untung saja Darren mampu menangkap Aldi.
"Ampuni saya Alpha! Saya tidak tahu jika gadis kecil itu adalah mate Alpha!" Rogue yang bernama Aldi itu memohon pengampunan dari pria yang terkenal memiliki kekejaman yang luar biasa. Aldi masih saja berani memohon. Pria itu bersimpuh di atas lantai batu yang dingin.
"Tolong lepaskan saya Alpha! Saya akan mematuhi semua perintah Alpha! Saya memiliki anak dan istri yang harus saya beri makan Alpha!" Aldi berharap dengan mengatakan itu bisa melunakkan hati seorang Mallory Osmond Quirin yang beku.
Alpha Mallory menatap datar Aldi yang terus saja memohon. Dia duduk di kursi yang telah disediakan oleh Gilang.
Kita tidak boleh membiarkan Aldi kehilangan nyawanya dengan mudah. Dia berani sekali menyakiti Luna Nerissaku yang tidak bersalah, mindlink Jayce yang disetujui Alpha Mallory kecuali Luna Nerissa hanya milik Jayce. Tentu saja Luna Nerva milik mereka berdua.
Tanpa perlu kau suruh Jayce, aku akan melakukannya. Dia terlalu berani melukai Luna Nerva, mindlink Alpha Mallory.
Rahangnya mengetat ketika mengingat saat pertama kali bertemu dengan belahan jiwanya, keadaannya sangat mengkhawatirkan. Dia menggenggam tangannya kuat.
"Cambuk dia seratus kali! Supaya tidak ada lagi yang berani menyakiti Luna Nerva! Segera laksanakan Gilang!" perintah Alpha Mallory tegas, lalu beranjak dari posisi duduknya meninggalkan ruang penjara yang diikuti oleh Darren.
"Baik, Alpha akan saya laksanakan!"
*****************************************
"Mall, aku ingin beristirahat di kamar yang berbeda," ujar Nerissa Xynerva Zanitha saat mereka berdua berada di dalam kamar berdua sedang duduk di sofa.
"Tidak boleh Nerva, kau harus tidur di sini bersamaku!" tolak Alpha Mallory mentah-mentah.
Ini orang otoriter banget, siapa dia memerintahkanku? batin Xynerva menatap Alpha Mallory sebal.
"Tidak mau! Pokoknya mau tidur yang lain! Kalau tidak aku akan menggigit lidahku sendiri!" Ancam Xynerva berharap pria itu mengizinkannya tinggal di kamar yang lain.
Larang dia Lory! Luna Xynerva tidak boleh sampai melakukan itu, mindlink Jayce panik.
"Baiklah, kau boleh tinggal di kamar lain. Kau bisa pilih kamar mana yang kau inginkan," ucap Alpha Mallory Osmond Quirin mengalah. Daripada dia kehilangan belahan jiwanya yang telah lama ditunggu bertahun-tahun.
Raut wajah Xynerva berubah dari murung menjadi cerah seperti matahari. Dia bangkit dari posisi duduk, lalu tanpa sadar memeluk Mallory sebagai rasa terima kasih. Alpha Lory membalas pelukannya itu. Tersadar Xynerva melepaskan pelukannya, wajahnya memerah.
Dia memelukku apa dia mulai menerima keberadaanku? batin Mallory. Membayangkan itu hati Lory menjadi bahagia.
"Aku akan memilih kamar untuk aku tinggali." Xynerva berjalan keluar kamar dengan diikuti Alpha Mallory yang berjalan di sampingnya.
Setiap pelayan yang berpapasan membungkuk hormat dan mengucapkan kata Alpha dan Luna.
"Semua ruangan ini kosong." Jari telunjuk Lory menunjuk beberapa pintu kamar yang terletak di dekat kamar Lory.
Tidak heran jika banyak kamar kosong, rumah ini saja sebesar istana, batin Xynerva melihat pintu-pintu kamar.
Pasti repot sekali membersihkan istana sebesar ini jika tidak ada pembantu, pikir gadis itu.
Pandangan mata gadis itu berhenti pada pintu kamar yang letaknya paling jauh dari kamar Lory. Dia tersenyum.
Nah ini cocok buat kamar aku, pikir Xynerva.
Xynerva melangkah membuka pintu kamar tersebut. Dia mencoba membukanya, ternyata pintu kamarnya dikunci.
"Kau pilih kamar yang ini? Apa tidak terlalu jauh dari letak kamarku?" tanya Lory melirik gadis cantik yang berdiri di sampingnya itu seraya memberikan kunci kamar.
"Tidak, jaraknya cukup dekat." Xynerva segera melangkah masuk setelah berhasil membuka kunci kamar. Keadaan kamar terawat dengan baik. Tidak ada sarang laba-laba yang menghiasi sudut-sudut dinding. Barang-barang perabotan juga tampak mulus dan bersih serta mengkilap.
"Baiklah, kau bisa tinggal di sini sayang. Aku akan meminta omega memindahkan pakaianmu ke kamar ini." Alpha Lory ikut masuk ke dalam kamar, dia cukup puas dengan kerja para pelayan.
Xynerva mengangguk singkat, lalu meminta Alpha Mallory untuk meninggalkannya sendiri dengan alasan mau istirahat. Walaupun berat akhirnya Lory mengalah juga.
Di luar langit telah berubah menjadi kelam. Matahari telah sepenuhnya bersembunyi. Udara menurun secara drastis. Hewan-hewan kembali ke sarang untuk beristirahat. Hewan-hewan malam seperti jangkrik bernyanyi bersahut-sahutan.
******************************************
Neron memberi kabar jika Aldi ditangkap Beta Pertama dari pack Quirin. Saat itu Bunga sedang menyuapi Mentari makan. Bunga sangat khawatir dan cemas, karena pack Quirin terkenal dengan Alphanya yang berhati dingin dan beku. Alpha Mallory tidak memandang bulu dalam memberi hukuman. Selain itu pack Quirin adalah pack terbesar di Benua Osrin. Neron adalah anak buah dari Aldi. Neron telah mengatakan meminta pengampunan dari Alpha Mallory sia-sia dan tidak ada gunanya, tetapi Bunga masih saja pergi menemui Alpha Mallory untuk meminta pengampunan.
Setelah berdebat panjang dengan penjaga gerbang akhirnya diperbolehkan untuk menemui Alpha Mallory itupun dengan penjagaan yang ketat di ruang kerja Alpha.
"Alpha, saya istri dari Aldi. Saya mohon Alpha, tolong maafkan suami saya." Raut wajah Bunga sedih, dia berkata sambil meneteskan air mata. Gaun cokelat yang membalut tubuhnya banyak tambalan di beberapa tempat.
Bocah kecil berusia dua tahun ikut bersimpuh di samping sang ibu. Wajah polosnya tampak lucu. Tubuhnya gemuk berisi. Anak perempuan itu belum mengerti apa yang tengah terjadi.
Dengan santai Alpha Mallory bangkit dari posisi nyamannya, lalu berjalan dan berhenti tepat di depan ibu dan anak kecil itu.
"Saya tidak bisa melepaskan suamimu yang telah berbuat kesalahan yang begitu besar!" Raut wajah dinginnya menatap Bunga yang masih bersimpuh di atas lantai. Dia mengangkat dagunya tinggi, sementara itu sorot matanya dingin. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celana dasar berwarna cream.
Bunga masih berlutut di atas di keramik. "Saya mohon Alpha! Jika tidak ada suami saya, bagaimana dengan nasib kami Alpha? Mohon berbelas kasih!"
Alpha Mallory tersenyum tipis. Membantu Bunga untuk berdiri dan putri kecilnya itu. "Keputusan saya tidak bisa diubah lagi!" ucapnya mutlak, tidak bisa dibantah.
"Saya mohon Alpha! Apapun akan saya lakukan supaya suami saya bebas Alpha!" Bunga kembali bersujud, tapi tidak hiraukan oleh Alpha Mallory karena dia menganggap masalah telah selesai.
"Urusi mereka Darren!" Beta Pertama, Darren mengangguk dan mengambil alih.
"Alpha! Saya mohon!" Darren meminta ibu dari satu anak itu untuk meninggalkan pack Quirin, tapi Bunga menolak. Wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu terus saja memberontak hingga warrior terpaksa memborgol Bunga.
Darren menatap bocah kecil malang yang berada di gendongannya terlelap. Gadis kecil itu akan kehilangan kasih sayang dari ayahnya.
Walau bagaimana pun Darren masih memiliki rasa iba. Jika saja masalah yang dilakukan Aldi bukanlah melukai Luna, tentu saja masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan permintaan maaf dari sang pemimpin.