Kado Terakhir Istriku
Part8
"Amira .... lepas! Sini duduk." Aku menyentak kedua tangannya, lalu menyeretnya pelan ke arah sofa. Amira terheran-heran menatapku.
"Ada apa sih? Mas."
Aku menatap dingin wanita di depanku ini.
"Amira, kamu tau bukan, bahwa Alena mati di bunuh?" ucapku. Amira mengatupkan kedua telapak tangannya ke mulut.
Ia seolah tengah terkejut mendengar ucapanku. Aku menatap lekat mata hitamnya, berusaha melihat kejujuran. Namun ia seakan benar-benar terkejut.
"Kamu jujur sama Mas. Kemaren ngapain kamu berkeliaran di kompleks tempat tinggal mas, dan berdiri melihat rumah yang riuh para pelayat."
"Apa? Jadi rumah mas? Bukan rumah teman?" tanya Amira, ia malah nampak kebingungan.
Aku mendesah berat, menahan gejolak amarah yang seakan ingin meledak.
"Kamu jangan main-main Amira, bukankah kamu senang mendengar berita kematian Alena."
Amira berdiri berkacak pinggang.
"Aku memang urakan! Tapi bukan berarti aku senang ia mati beneran. Aku pikir mas hanya bercanda, dan beralasan denganku."
"Ah, kamu nggak usah bersandiwara, Mir. Kamu juga yang meneror Alena? Kan."
Aku meraih gawai di tangannya, dan membantingnya dengan keras, hingga hancur lebur.
"Mas ..., keterlaluan kamu! Aku bahkan tidak tahu apa-apa. Bukan aku yang meneror Alena, tapi aku yang di teror."
Aku tertawa sumbang, drama macam apa yang kini Amira mainkan, tunggu saja kamu Amira. Cepat atau lambat, aku pasti menemukan buktinya.
Aku mencengkram lehernya. "Sandiwara macam apa ini? Amira." Aku menatap garang ke wajahnya, Amira memucat, ia juga berusaha menahan cengkraman tanganku di leher jenjang miliknya.
Tubuh Amira terasa bergetar hebat, air matanya meluruh.
"Dengan kamu berkeliaran di dekat rumahku saja, itu sudah membawakan tanda tanya untukku."
Amira berusaha melepaskan cengkramanku. "Saa--kit, mas. Ka--mu, meny--akitiku." Amira berkata dengan terbata-bata.
Aku menyentak kasar cengkraman tanganku dari lehernya.
Lalu beralih mengguncang kedua pundaknya.
"Jelaskan! Kenapa kamu ada di sekitar rumahku? Dan kenapa kamu hapus, pesan dari Alena."
Amira meringis, ia terus memegangi lehernya yang memerah, dan menatapku dengan ketakutan.
"Seseorang mengirim pesan kepadaku, bahwa mas Raka, bersenang-senang dengan Alena di rumah itu. Jadinya, aku berniat menyamar dan meluncur ke alamat yang di berikan. Aku terkejut, melihat rumah itu malah ada bendera kematian dan para pelayat. Jadinya aku putuskan untuk melaju pergi."
Aku bahkan tidak tahu amira berkata jujur atau tidak, gara-gara gawainya terlebih dulu aku rusak.
Aku menjadi semakin gusar, lalu meninggalkan Amira begitu saja, tanpa memperdulikan perasaannya yang pasti terluka, oleh tindakan kasarku tadi.
_______
Aku kembali pulang ke rumah, berharap untuk bisa tidur dan menenangkan diri walau sejenak.
"Pak, boleh bibi bicara sebentar?" tanya Bi Ijam, ketika melihatku yang hendak menaiki anak tangga menuju kamar.
Ia yang dari dapur, berjalan cepat ke arahku, yang mau menaiki anak tangga.
Aku menatap tanya kepadanya, bi ijam terlihat memindai ke sekitar.
"Ada apa? Bi?" tanyaku, dengan mimik wajah heran.
"Bapak datang sendiri? Mana non Alia?" tanyanya, dengan mata yang masih menyisir ruangan dan terus memandang ke arah daun pintu.
"Di rumah sakit, masih menemani Ibu."
"Astagfirullah ...." bibi spontan mengucap istighfar, yang membuatku semakin bingung.
"Ada apa? Bi. Yang jelas dong! Jangan buat saya bingung!" kataku dengan sedikit kesal.
"Maaf, pak. Non Alia itu aneh, sorot matanya tajam, ia seolah datang kesini membawa dendam! Bahkan saat Bibi panik menghubungi Bapak saat itu. Alia hanya berpangku tangan, menatap dingin ke arah saya."
Bibi berkata dengan wajah serius, seraya bergidik bahu menjelaskan ekspresi Alia saat itu.
"Sebelumnya, saya itu heran saat melewati kamar Ibu, terdengar non Alia tertawa, kemudian ia merintih menangis pilu. Suara Ibu Mumun terdengar berulang kali mengucap maaf, kemudian terdengar kembali tawa berderai non Alia."
Lagi-lagi Bi Ijam bergidik bahu, menceritakannya.
"Bibi yang merasa ada yang tidak beres, bergegas membuka kamar Ibu. Non Alia saat itu menatap datar ke arah bibi, kemudian ia tersenyum menyeringai."
Bibi menarik pelan napas, lalu memusut pelan dadanya perlahan, mata bibi berkaca-kaca.
"Bibi bertanya pada non Alia, Apa yang sebenarnya terjadi, namun non Alia tidak menyahut sama sekali. Ia bahkan seolah tidak mendengar pertanyaan bibi, sedangkan Ibu Mumun, ia terlihat semakin syok dan tiba-tiba terduduk di sisi ranjang. Kemudian ia memegang kepalanya dan merintih kesakitan."
Aku tertegun, mendengarkan semua cerita Bibi.
"Bibi panik, lalu meraih tubuh Ibu, dan membaringkannya di tempat tidur. Sedangkan non Alia hanya tersenyum santai seakan puas hati, melihat Ibunya mengejang."
Bibi kembali mengusap air matanya.
"Bi, bibi tenang dulu. Biar Raka pikirkan lagi, rasanya mau pecah Bi kepala ini, begitu banyak masalah yang harus Raka hadapi."
"Maafkan Bibi, Pak. Bibi hanya terlalu khawatir dengan keadaan Ibu Mumun, jika di tinggal berdua dengan Alia."
"InsyaAllah tidak apa-apa, Bi. Biar bagaimana pun, Alia adalah anak Ibu Mumun."
"Semoga dugaan Bibi salah ya, Pak. Semoga Alia tidak ada maksud lain datang ke rumah ini."
Aku menghela napas panjang, mencoba berpikiran positif.