Kado Terakhir Istriku
Part9
"Bi, bersikaplah seolah tidak ada apa-apa, namun tetap waspada."
Bibi mengangguk, ia pun berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Aku pun berjalan cepat, menuju ke dalam kamar kami.
Kurebahkan tubuh yang terasa lelah ini, sambil memejamkan mata, berharap Alenaku datang, walau hanya di alam mimpi.
__________
Ketukan di pintu kamar, membuatku terbangun dari alam mimpi, namun rasa kantuk masih melekat hebat di mata, membuatku sulit untuk bangun.
Aku beringsut turun, berjalan gontai, menuju kedaun pintu kamar.
Kutarik gagang pintu, dengan mengerjap-ngerjapkan mata.
Aku terkejut, melihat Alia berdiri tepat di depanku.
"Alia, ada apa?" tanyaku, sebiasa mungkin aku bersikap, agar ia tidak berpikir aneh tentangku.
Alia tersenyum kecil, sorot matanya terlihat begitu dingin dan sulit kupahami pandangannya itu.
"Aku mau mengambil baju-baju ibu, karena tuan rumahnya ada, jadi aku berinisiatif untuk meminta izin terlebih dahulu."
"Oh, silahkan! Ambil sendiri ya!" imbuhku. Kemudian Alia mengangguk, ia membalikkan badannya, lalu menuruni anak tangga dengan berjalan santai.
Aku kembali menutup pintu kamar, rasanya masih mengantuk.
Berbaring dan mulai menikmati nyamannya tempat tidur yang penuh kenangan bersama Alena. Kupejamkan kembali mata ini, hingga mimpi kembali membuai.
Terdengar teriakkan histeris Bi Ijam, aku terlonjak kaget, dan segera kembali beringsut turun, kemudian membuka kasar pintu kamar.
Aku berlari cepat, menuruni anak tangga, menuju teriakan Bi ijam yang berasal dari dapur.
"Ada apa? Bi," tanyaku panik.
Bibi menangis, seraya menutup kedua mulutnya dengan telapak tangan.
"Itu Pak, ya Allah."
Bibi menujuk ke arah kitchen set. Aku pun sama halnya dengan Bibi, syok dan terkejut. Melihat kucing kesayangan Alena yang berada di taman depan, menjuntai di atas meja dengan kaki terikat ke atas.
Alena begitu menyayangi kucingnya. Puse namanya, kami membuatkan rumah kucing di taman depan, dekat pagar.
Aku membeku, melihat Puse bersimbah darah, hingga bercucuran jatuh ke lantai dapur, serta isi perutnya yang berserakan di lantai.
Perlahan aku mendekat, terlihat Puse yang sudah kempes perutnya.
Mendadak rasa mual merayap, bahkan tubuhku terasa gemetar dan panas dingin.
Perbuatan siapa ini? Mengapa hal sekeji ini orang itu lakukan, benar-benar kejam.
Aku kembali teringat Alia, bukankah Alia baru datang.
Apa mungkin ini ulahnya? Untuk apa ia melakukan semua ini.
Aku bergegas ke kamar Ibu mencari sosok Alia, yang kuyakini tadi datang dengan nyata, bukan mimpi.
Namun nihil, ruangan itu kosong. Aku bergegas membuka lemari bajunya, aku semakin melongo. Baju-bajunya masih rapi terlipat, bahkan tidak ada tanda-tanda orang masuk membuka lemari ini.
Aku kembali mendatangi Bibi ke dapur. "Bi, Alia tadi ada datang kan?" tanyaku.
Bibi yang masih sesegukan mengernyit.
"Bibi tidak ada melihat Non Alia. Coba Bapak tanyakan Satpam."
Ia menyahut di sertai gelengan.
Aku pun bergegas keluar rumah, menanyakan langsung ke pos Satpam.
Rasanya ingin sekali aku marah dan memaki, melihat Mamang terlelap dibuai mimpi.
Bahkan ia tidak menutup pagar, sedangkan pintu depan, memang sengaja tidak di kunci.
Aku yakin seyakin-yakinnya, bahwa tadi Alia memang benar pulang ke rumah ini. Tetapi, kenapa secepat itu ia menghilang, ketika kami mendapatkan teror di rumah.
Aku mengusap kasar wajah dan berusaha tenang. Kemudian menepuk pelan wajah Mamang, agar ia segera bangun.
Namun mamang tetap saja tidak bangun, aku bahkan setengah berteriak membangunkannya.
Entah kenapa, begitu banyak masalah yang aku hadapi, paska kematian Alena. Secarik kertas tergeletak di atas mejanya, tempat Mamang meletakkan minuman dan makanannya.
"Ini baru awal, tenang saja, aku masih menikmati ketakutan demi ketakutan kalian."
"Agrhh .... pengecut! Beraninya hanya main belakang! Shit." Aku berteriak, meluapkan amarahku.
Tetangga yang mendengar teriakkanku pun hanya mencibir. Dengan perasaan kesal, aku pun masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Bi Ijam.
Bibi terlihat masih sangat syok, aku pun memintanya untuk membersihkan darah kucing itu. Sedangkan aku, membawa bangkai dan isi perutnya untuk kukuburkan.
"Siapapun yang melakukan hal buruk ini, semoga semesta segera menghukum segala perbuatanmu."
Aku bergumam dalam hati, seraya mencangkul tanah di dekat kandangnya, untuk kukuburkan.
Usai menguburkan bangkai kucing, aku pun meraih kunci mobil dan meminta Bibi mengunci pintu rumah dan juga pagar.
"Tetap waspada, Bi. Sambil terus lihat kondisi Mamang, dia sulit kubangunkan tadi."
"Bapak mau kemana? Bibi merasa takut di rumah sendirian," ucap Bibi, dengan wajah begitu cemas.
"Saya ada urusan mendesak, Bibi jaga rumah! Ya. Jika di rasa takut, Bibi ke Pos satpam saja temani Mamang."
"Tapi kan ini sudah sore, Pak. Biasanya juga ini jam pulang dari kantor."
Aku mendesah pelan. "Bi, ini bukan urusan kantor, Bibi ikuti saran saya tadi saja. Mari, Bi."
Aku bergegas meninggalkan Bibi yang mematung. Mobil meluncur, meninggalkan halaman rumah.
Dari pada gila, mending aku memasang cctv di rumah. Tanpa di ketahui bibi, mau pun Satpam.
Aku tidak ingin rumahku terus di teror, akan segera kutangkap orang yang begitu berniat jahat pada keluargaku.
Selesai membeli semua yang aku cari, aku pun menyimpannya di dalam tas.
Aku akan memasangnya esok pagi, saat Bi Ijam kepasar subuh.
Aku kembali teringat p**********n terhadap Alena, sama persis yang terjadi pada Puse, kucing kesayangan Alena.
Ia juga mati, terlihat seseorang membunuhnya dengan cara yang sama, menginjak perutnya.
Siapa sebenarnya pelaku semua ini, apa ia seorang psikopat? Enthlah.