Dingin

1185 Words
Kado Terakhir Istriku Part11 Pak Arman menghubungiku melalui sambungan telepon, ia memintaku untuk segera datang ke kantor. Aku pun bergegas menuju ke sana seorang diri. Sesampainya aku di kantor, Pak Arman pun mulai menjelaskan kronologi penangkapan Amira. "Apakah benar, jika saudara Amira itu kekasih gelap Pak Raka?" selidik Pak Arman. Mati kutu aku, mau tidak mau aku harus mengakuinya, demi kelancaran proses penyelidikan kasus pembunuhan Alenaku. Aku mengangguk lemah, rasanya mendadak ingin pingsan. "Kemungkinan besar, saudara Amira lah dalang di balik pembunuhan ini. Semua bukti mengarah kepadanya, kami juga menemukan handphone yang Amira gunakan untuk meneror Alena, dan berkomunikasi dengan dua pembunuh itu." Pak Arman menyodorkan handphone jadul itu.  Aku melihat isi percakapannya dengan Alena, sama seperti yang aku temukan di gawai Alena saat itu. "Bapak sudah lacak, simcardnya atas nama siapa?" tanyaku. "Belum." "Nomor ini sudah pernah saya lacak! nama pemiliknya adalah Romina yang sudah berumur, ia juga bukan warga kalimantan. Apakah yakin, handphone itu milik Amira?" jelasku. "Semua masih di selidiki, baiklah! mungkin itu dulu informasi dari kami. Kami akan lebih detail lagi melakukan penyelidikan, kasus ini." "Terimakasih, Pak. Boleh saya bertemu dengan Amira?" tanyaku. "Amira masih di introgasi, kemungkinan ia akan langsung di tahan sementara, hingga kasus ini menemukan titik kejelasan." "Kapan saya bisa menemuinya?"  "Mungkin besok, hari ini belum bisa. Em, Pak Raka, bukan maksud menggurui. Ada baiknya semua ini di jadikan pelajaran, sebab berselingkuh itu hanya mendatangkan petaka, bukan kebahagiaan." Aku hanya menunduk malu, tidak bisa membela diri, mau pun berkata lagi. Semua kesalahan memang berasal dariku juga, bukan hanya dari orang lain. Aku semakin merasa takut, jika hal ini sampai ke telinga Papah dan Mamah, aku pasti bakal di hancur leburkan mereka. Aku undur diri dari kantor Polisi, otakku buntu. Kulajukan mobil di bawah senja hari, menuju pemakaman Alena. Kubawa buket bunga lily kesukaannya, juga beberapa baju bayi untuk anak kami. Dan kue brownies, untuk merayakan anniversary kami yang tertunda. Sesampainya aku di tempat peristirahatan Alena, aku tersenyum sumringah menyapanya, meski tidak ada jawaban. Kutaburkan bunga, kuletakkan buketnya di depan nissan dan baju-baju bayi di sampingnya. "Assalamuallaikum, Alena, dan Anak Papah. Kalian pasti sudah bahagia disana! Maafkan Papah yang teramat lalai menjaga kalian, membahagiakan kalian. Alenaku, mas kangen ...." Aku berkata lirih, dengan mengukir senyum, namun mata berkaca-kaca. Rasanya dadaku bagai di himpit batu besar, sesak dan berat. Berkali-kali kutarik berat napas, kuhembuskan kasar. Bayangan senyum kecerian Alena, begitu melekat di dalam pikiran ini. Sekasar dan seacuh apapun sikapku, Alena tidak pernah protes dan selalu melayaniku sepenuh hati. Aku membuka kotak berisi kue, dan kuletakkan lilin angka satu, kemudian kuhidupkan dengan korek. Kupejamkan mata, membayangkan sosok Alena dengan perut buncitnya berada di depanku. "Selamat hari jadi pernikahan kita, sayang! Mas, akan selalu mencintai kamu."  Kubuka mata, kutiup lilin. Dan, kuletakkan kue di dekat pusaran, hanya kumakan sepotong.  Setelahnya, aku pun berpamitan untuk pulang kerumah. Debur angin malam mengikuti langkahku, meninggalkan kubur Alena.  Sesampainya aku di rumah, aku menuju dapur untuk menuang air dalam gelas, aku terperanjat, melihat sosok Alia duduk di pojokan gelap di dapur belakang. "Al, kamu ngapain di sana?" tanyaku, seraya mendekat ke arahnya. Alia hanya menatap sesaat dengan tersenyum kecil. Namun ia tidak menyahut sama sekali. Aku pun memberanikan diri, untuk mendekatinya. "Al, apa yang mengganggu pikiran kamu?" tanyaku pelan, berharap Alia akan membagi kisah. "Tidak ada," jawabnya pelan. "Lalu, kenapa di pojokan seperti ini?"  "Kadang, aku merasa aman ketika duduk di pojokan." Aku memberi respon dengan menganggukan kepala, mencoba memahami wanita misterius ini. "Kenapa mas ikut duduk di sini?" Ia bertanya tanpa melihat ke arahku. Pandangan wanita ini datar lurus ke depan. "Menemani kamu! Aku takut kamu kesurupan dan membuat onar."  Aku berusaha melucu, namun basi. Alia bahkan tidak bereaksi sama sekali, untuk sebuah senyuman saja begitu sulit ia tampilkan. "Aku benci laki-laki pembual dan pecicilan." Telak sekali, berasa wajah ini dihantam godam besar, remuk dan hancur. Perkataan Alia, sukses mengoyak harga diriku. "Hmmm ...." Cuma itu yang bisa aku ucapkan, untuk menutupi rasa malu. "Laki-laki seperti apa yang kamu inginkan?" tanyaku, mencoba untuk menjalin komunikasi dengannya. "Aku tidak pernah berbagi kisah dengan orang begitu saja. Simpan rasa penasaran yang tidak bermanfaat itu." Lagi, seakan harga diri ini di injak-injak Alia.  "Hmm ..., ya sudah! Mungkin kehadiranku kurang tepat. Aku duluan istirahat, kamu jangan begadang! Nanti sakit."  Aku berkata, seraya beranjak dari duduk di lantai. Alia tidak menyahut, aku pun mencoba menahan diri menghadapi sikap dinginnya. Kulangkahkan kaki menuju kamarku. Memasuki kamar selalu saja dengan perasaan terluka, haruskah aku pindah rumah, agar bayangan rasa sesal tentang Alena berhenti menghantuiku. _________ Sarapan pagi. Bibi terlihat kaku dan tegang kali ini, membuatku ingin sekali bertanya, namun urung, ketika melihat Alia datang mendekati meja makan. Bibi membawa nampan berisi makanan, dan menyerahkannya pada Alia.  Alia membawa nampan itu ke dalam kamar Ibu, untuk menyuapinya sarapan pagi. "Bi, ada apa? Kenapa wajah bibi menegang?" tanyaku heran.  Bibi memindai kesekitar, lalu menatapku dengan ragu-ragu. Kemudian ia meraih kursi, dan duduk. "Kemaren, non Alia menangkap ayam tetangga, dan memotong-motongnya secara brutal. Bibi ngeri melihatnya di belakang rumah, ia tertawa terbahak-bahak menusuk ayam itu sampai hancur." Aku tercengang. "Bi, ini seriusan?" tanyaku, seakan sulit aku percaya. "Beneran, setelah terlihat puas, non Alia memasukkannya ke dalam kantong plastik. Mengubur bekas darahnya, menghilangkan jejak." Aku pun ikut bergidik ngeri, saat ingin bertanya lagi, aku urung.  Alia datang dengan kembali membawa nampan dan bekas makan yang sudah kosong. Aku mengernyit, secepat itukah Ibu makan. "Makan, Al." "Ya." Hanya itu sahutannya, kemudian ia pun duduk, setelah meletakkan piring kotor dan nampan itu ke wastafel. Ia melahap makanannya dengan santai, sedangkan Bibi berpamitan kembali ke belakang, untuk merendam cucian baju.  Selesai sarapan, aku pun meraih tas kerjaku di ruang tamu.  Mamang memencet bell rumah, aku membuka pelan daun pintu. "Ada apa? Mang." "Itu, ada Ibu-ibu gendut dan suaminya ingin bertamu." Aku melirik ke arah luar, namun tidak ada yang aku kenali dari mereka. "Suruh masuk, Mang." Mamang mengangguk, ia pun mempersilahkan mereka masuk, atas suruhanku. Dua orang tua itu masuk, dengan wajah datar.  "Ada apa ya? Apakah saya mengenal kalian?" tanyaku sesopan mungkin. "Saya Nita, dan ini Jali. Kami pasangan suami-istri, yang anaknya menjadi b***k napsu kamu." "Maksud ibu apa?" tanyaku semakin bingung. "Amira, dia anak kami, kamu menghamilinya dan menfitnahnya membunuh Istri kamu. Hingga anakku mendekam di penjara, dalam keadaan hamil muda. Hidupnya hancur, gara-gara kamu." Ibu Amira menangis pilu. "Apa? Hamil, anak saya menghamili anak kalian?" tanya Mamah, yang berdiri di ambang pintu, entah sejak kapan. Aku gelagapan. "Benar, anak kalian ini menghamili anak saya! Dia bahkan tidak berniat bertanggung jawab." Mamah melotot ke arahku. "Benar itu? Raka." Mamah berteriak, sedangkan Alia hanya tersenyum simpul, sulit untuk aku pahami. Aku menunduk, lalu membenarkan tuduhan mereka. "Dasar keterlaluan, kamu! Mamah membesarkan kamu susah payah! Kamu mengecewakan, akal di pake Raka, bukan cuma napsu semata." Aku menunduk, tidak bisa berkata-kata lagi. "Percuma, dia memang laki-laki miskin tanggung jawab! Anakku masuk penjara, gara-gara anak kalian pembawa sial." Mamah meradang, ia berkacak pinggang, dengan mata membulat sempurna. "Anak perempuan masuk penjara! Kesalahan apa yang ia lakukan?"  "Anakku di tuduh melakukan pembunuhan berencana, terhadap istrinya dia." "Oh, jadi Putri kamu pelakunya? Aku tidak akan pernah merestui hubungan mereka, tidak akan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD