Kado Terakhir Istriku
Part12
"Kami akan menuntut anak kalian, yang sudah menghamili Amira."
"Silahkan, Raka pantas menerima itu semua! Dan kamu harus ingat, saya akan membuat anakmu membusuk di penjara."
Wajah orang tua Amira semakin menegang, rahang Bapaknya mengeras menatap Mamah penuh kebencian.
"Keluarga s****n," maki Tante Nita, Mamah Amira.
Mata Mamah berkaca. "Apakah harus saya buat kalian merasakan hal yang sama? Betapa hancur dan terlukanya hati saya dan Ibunya. Kehilangan menantu yang amat saya sayangi, dan itu perbuatan anak kamu, yang hanya wanita simpanan anak saya!"
Mamah berkata dengan suara lirih.
"Jangan hina anak kami, kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupnya."
Tante Nita tidak terima dengan hinaan Ibu, bahkan suaranya bergetar, seiring dengan tatapan matanya yang mulai berembun.
"Di dunia ini, tidak ada satu pun orang tua yang mau kehilangan anaknya, begitu juga dengan kami. Bahkan kasus ini masih tahap penyelidikan, Amira hanya terduga, bukan tersangka."
"Jika akhirnya Amira berstatus jadi tersangka! Apa yang akan kamu katakan pada kami? Bahkan jika kamu memberikan seluruh isi dunia ini, untuk menebus kesalahan Amira, itu tidak akan mampu mengobati luka di hati kami."
Tante Nita menatap getir wajah Mamah, kemudian ia menunduk dengan mimik wajah yang nampak begitu syok dan terluka.
Suaminya berulang kali berusaha menenangkannya, merangkul pundaknya untuk memberikan kekuatan.
Aku seketika langsung bersimpuh di depan lutut Tante Nita.
"Maafkan saya! Semua memang salah saya. Kalian pantas membenci dan memaki saya."
"Ya, kamu pantas di benci dan di maki. Kalau perlu, kalian pukuli saja lelaki b***t ini, saya tidak keberatan sama sekali."
Mamah berkata dengan suara bergetar, bahkan berulang kali ia seka air matanya dengan kasar.
"Kenapa diam? Jika kalian tidak berani menghajarnya, maka saya sendiri yang akan melakukannya."
Mamah meninggalkan ruang tamu, ia berjalan cepat menuju arah dapur. Alia berpangku tangan, menatap datar ke arah kami bergantian.
Sedangkan kedua orang tuanya Amira menyeka air matanya, dengan mengucap istighfar secara berulang-ulang.
Mereka mengacuhkan dan mengabaikanku yang bersimpuh di depan mereka.
Mamah datang kembali, namun kali ini ia tidak datang dengan tangan kosong.
Mamah membawa gunting dan sarung tinju milikku.
"Al, pegang ini." Mamah menyodorkan gunting kepada Alia, ia pun meraihnya.
Mamah mendekat ke arahku, dan menarik paksa, agar aku menjauh dari mereka.
Mamah menghajar wajahku dengan sarung tinju milikku sendiri. Sakit sekali, namun aku tidak berani melawannya, beberapa kali aku mencoba menghindar. Namun gerakan Mamah begitu cepat dan sigap.
Mamah yang merupakan mantan atlit karate itu, tentu saja mampu membuatku babak belur.
Mereka semua membeku memandangku, yang di hajar Mamah di depan mata mereka.
Tubuhku kaku, rasanya remuk dan sangat sakit.
Tubuhku jatuh ke lantai, tungkaiku tidak kuat berpijak lagi.
Tidak cukup sampai di situ, dengan brutal Mamah menggunting rambutku, hingga aku merasakan mata berkunang-kunang.
Gelap, aku tidak ingat apa-apa lagi.
_____
Aku bangun, dengan tubuh yang terasa remuk dan sakit. Juga wajah yang memar, membengkak.
Kulirik jam di tangan, astagfirullah, aku terlambat masuk kantor.
Saat aku berusaha bangkit, ternyata Mamah dan Alia, masih duduk di ruang tamu. Aku memindai ke sekitar, hanya ada mereka berdua.
Mamah dan Alia begitu tega, membiarkanku pingsan di lantai, bahkan hingga sadar pun aku masih tetap di lantai.
"Mamah kecewa sama kamu! Pantas saja Allah mengambil Alena dari kamu, kamu nggak bersukur memiliki pendamping sebaik Alena. Apa yang kamu cari sebenarnya? dari wanita yang begitu mudah memberikan tubuhnya untuk kamu itu, Hah?"
Mamah berkata dengan suara berat, kentara sekali ia begitu sakit hati, dengan kenyataan ini.
Kurasakan pipiku semakin membesar, aku berusaha bangkit, untuk duduk.
"Maaf, mah. Raka khilaf."
"Khilaf katamu? Bulshit. Untuk apa saat itu kamu menangis kehilangan Alena? Jika kenyataannya, kamu hebat menyakiti hatinya. Ya Allah, malang sekali Alenaku."
Mamah berkata penuh emosi, matanya menyiratkan amarah dan kekecewaan.
"Kamu tahu, gara-gara perselingkuhan ini, kamu kehilangan Alena dan calon anak kalian. Jika di kota ini ada pemilihan laki-laki bodoh se-Provinsi, mungkin kamu lah pemenangnya."
Aku hanya bisa terdiam, malu dan sesal kini tertumpuk menjadi satu.
"Seharusnya kamu bisa menjaga hati, menundukan pandangan dari yang haram. Semua tidak akan berakhir setragis ini, Raka. Jika kamu kuat menjaga kesetiaan."
"Maaf, Mah."
"Untuk apa maaf itu? Raka. Mamah sakit hati, sangat sakit."
Mamah berulang kali memukul-mukul dadanya dengan emosi, yang begitu membara, seraya memaki dan menunjuk-nunjuk wajahku.
"Jika maafmu, bisa mengembalikan Alenaku, maka mudah bagiku memberi maaf."
Mamah beranjak dari duduknya, ia berlalu meninggalkan rumahku, dengan perasaan terluka.
Alia menatap sinis ke arahku. "Duka nestapa, takdir memang tak seindah mimpi, duka untuk Alena, tawa untuk Raka dan kehancuran untuk Amira."
"Alia, apa yang kamu maksud."
"Benarkan! Duka Alena, ia mati. Tawa Raka, kamu bersenang-senang bertukar peluh dengan Amira, di saat Alena meregang nyawa. Dan kini, Amira menerima kehancurannya, mendekam di balik jeruji besi."
"Aku yang salah."
"Benar, dan sudah seharusnya, kamu membayar segalanya."
Setelah berkata, ia beranjak dari duduk, kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya, tanpa menyahut ocehanku.
Andai dia Alena, mungkin kini ia akan menangis melihat keadaanku.
Meskipun Alena periang, ia juga termasuk wanita penyayang yang mudah sekali menangis.
Aku kembali menghubungi bagian informasi, mengatakan bahwa hari ini, aku kembali tidak bisa masuk bekerja.
Mana mungkin aku bisa bekerja, selain sakit badan, aku juga malu dengan kondisi wajahku saat ini.
Bibi menghampiriku, ia membantu memapahku, menuju ruang keluarga. Aku menyandarkan tubuh, dan kepala yang terasa berat.
"Pak," bisik Bibi.
"Apa?" jawabku pelan.
"Alia tidak memberikan makanan untuk Bu Mumun, makanan basi berserakan di dalam tas Ibu."
Aku diam membeku, saat ini otakku tidak bisa bekerja maksimal.
"Nanti perawat yang di minta juga datang. Mungkin agak sore-an. Biar nanti dia yang handle masalah Ibu," ucapku.
Bibi mengangguk, aku enggan membahas tentang Alia lebih jauh. Saat ini, aku memilih untuk beristirahat kembali di dalam kamar.
Pak Arman mengirimkan bukti penulusuran perkembangan kasus kematian Alena.
"Besok sidang vonis hukuman untuk Amira, semua bukti sudah mengarah kuat, untuk menuntut Amira dan menjebloskannya."
Mungkinkah memang Amira-lah dalang dari semua ini.
"Baik, besok saya akan usahakan datang ke persidangan Amira."
Rasa hati ini pun semakin tidak karuan.
_______
VONIS PERSIDANGAN AMIRA.
Tangisan Amira pecah, ketika vonis hukuman seumur hidup di jatuhkan kepadanya.
Antara sadar dan tidak sadar, aku pun seakan tidak percaya dengan pengakuan Amira.
Ia mengakui semua perbuatannya, yang menyuruh dua brandal itu untuk membuat Alena keguguran.
Ia mengaku tidak meminta mereka membunuh, hanya membuat keguguran. Amira pun tidak menyangka, bahwa Alena akan mati di tangan mereka.
Amira juga tidak mengakui handphone itu miliknya.
Lalu itu handphone siapa? Apa hubungan si pemilik handphone dengan dua brandal itu.
Masih terpahat jelas dalam ingatan, nomor itu mengirimkan pesan dan alamat sebuah gudang kosong, kepada mereka berdua.
Ah, pecah ini kepala lama-lama.
"Mir, aku nggak nyangka kamu sekejam ini." Aku berkata dengan nada kecewa, ketika berpapasan dengan Amira, yang di giring Polisi.
Amira tidak menyahut, ia pun hanya tertunduk lesu, dan melangkah pergi meninggalkan luka mendalam di hati ini.
Bukan sakit hati karena Amira masuk penjara, namun sakit hati pelakunya ternyata Amira.
Wanita yang kumasukan ke dalam biduk rumah tanggaku, bukannya membawa bahagia, nyatanya membawa petaka.
"Alena, maafkan Mas sayang! Seharusnya mas tidak bermain api dengan Amira. Ya Allah, bagaimana bisa aku sekejam ini. Gara-gara dosaku, Alena yang menanggung segalanya."
Aku semakin merasa down, menyesal mengabaikan Alena saja sudah sangat menyiksa, apalagi setelah semua menjadi jelas.
Gara-gara akulah, Amira tega menyakiti Alenaku. Wanita solehaku, istri terbaikku.
Ya Allah, kembalikan Alenaku! Aku berjanji akan menjaganya dengan segenap jiwa raga.
Tiada henti-hentikan aku meruttuki diri sendiri, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Semenjak semua terungkap, Mamah tidak pernah mau bicara denganku lagi, begitu juga dengan Papah. Bahkan, mereka tidak pernah berkunjung ke rumahku lagi.
Aku merebahkan diri di atas sofabed, sambil menonton tivi, tepatnya tivi yang menontonku.
"Pak ..., Bapak ...." Terdengar suara teriakan dari Bi Ijam memanggilku dengan panik.
Aku terperanjat, lalu berlari kecil mencari asal suara Bibi.
"Ada apa?" tanyaku kesal.
"Aduh, Pak. Itu Ibu," ucapnya panik.
"Kenapa ibu? Coba tenang dulu, dan jelaskan."
"Ibu jatuh dari kasur! Bibi tidak kuat untuk mengangkatnya," katanya.
"Alia dan Anita kemana?" tanyaku heran, sambil gegas berjalan memasuki kamar Ibu.
Namun aku terkejut, melihat Alia membelai rambut Ibunya, dan duduk di sisi ranjang.
"Al, tadi ibu jatuh?" tanyaku, seraya mendekat ke arah Ibu.
"Nggak ada tuh!" sahutnya acuh, tangannya sibuk membelai rambut Ibunya.
Aku menatap tanya ke arah Bibi, ia sepertinya nampak bingung, begitu juga aku.
"Anita kemana? Kenapa kamu rawat ibu sendiri?"
"Anita sudah pulang, katanya berhenti jadi perawat ibu. Anita tidak sanggup, sepertinya."
Aneh, kenapa mendadak begitu, masa Anita tidak berpamitan kepadaku jika mau risaign.
Bruucckkk ... bruccckk.
"Suara apa itu?" tanyaku beran, suara berasal dari dalam lemari.
"Keluarlah, aku mau mengganti baju Ibu."
"Sebentar, aku mau liat lemari dulu."
"Cukup .... sudah kukatakan, keluar sekarang." Alia setengah berteriak, mengusir aku dan Bibi dari kamar.
"Al, kamu kenapa? Apa yang kamu sembunyikan?" tegasku.
Wajah Alia memerah, deru napasnya terdengar memburu. Namun satu hal yang membuatku semakin terkejut, Alia memegang erat gunting di tangannya.
Apa yang sebenarnya Alia sembunyikan?