Kenyataan tentang Alia

1295 Words
Kado Terakhir Istriku Part13 Alia diam, ekspresi wajahnya kembali berubah tenang.  "Mas akan keluar dari kamar ini, setelah melihat isi lemari itu." Alia tidak menyahut, ia tersenyum, menatapku dengan pandangan dingin. Entah kenapa, aku merasa takut dengan pandangan Alia seperti itu. "Al, Alia ..., dimana kamu? Nak." Terdengar suara Mamah memanggil-manggil Alia. Alia beranjak dari duduknya, kemudain berjalan ke arah luar kamar, wajahnya datar melewati aku dan bibi tanpa suara. Aku berjalan cepat ke arah lemari, kubuka cepat daun pintunya. Aku memekik, dua tikus berlarian mengejutkanku, s**l. Untung saja Bibi juga ikut keluar, jika tidak, maka aku akan malu. Aku pun berjalan cepat ke arah luar, menghampiri Mamah dan Alia yang masih berdiri di dekat Mamah. "Mamah tunggu ya! Nak." Alia mengangguk, ia pun berjalan menuju kamarnya. "Mau kemana? Mah." "Mau ngajak Alia jalan." "Kemana?" tanyaku penasaran. "Nggak usah banyak tanya." Mamah menyahut dengan dingin, ia bahkan enggan melihatku.  Mamah begitu marah, bahkan sebulan ini aku di abaikannya. Mamah pergi naik mobil, bersama Alia. Aku mengusap kasar wajah, lalu menyandarkan tubuh di sofa. Baru kuingat, aku lupa memasang cctv yang sudah kubeli minggu lalu.  Entah kenapa, setiap aku tidak ada, laporan Bibi tentang Alia selalu mengerikan dan tidak masuk akal. Aku yang penasaran, memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Kuputar gagang pintunya, namun ia kunci. Aku pun meraih kunci cadangan yang terletak di dalam lemari kamar kami. Aku berlari cepat ke arah kamar Alia lagi, dan memasukkan anak kunci.  Gugup, entah kenapa aku merasa gugup, ketika kamarnya sudah terbuka. Menguar bau amis, bau amis darah. Mataku menelusuri seisi kamar, kamar Alia nampak rapi, namun berbau amis darah. Rasa penasaranku,l semakin menarik, kemudian aku berjalan menuju nakas. Kutarik laci mejanya, betapa terkejutnya aku. Alia, begitu banyak ia memiliki berbagai mata pisau yang sangat tajam-tajam. Kutarik laci kedua, aku semakin syok. Banyak foto Alena. Bukan hanya foto Alena, foto seluruh keluarga ini ia juga punya. Yang lebih membuatku tercengang, ketika foto dalam amplop putih. Semua foto tentang aktivitasku dengan Amira, saat aku dan Amira lagi bergelora. Alia, jangan-jangan sebelum dia datang ke sini, dia sudah menyelidiki seluruh keluarga ini. Termasuk aku. Jadi Alia sudah tahu kebusukanku pada Adiknya, sehingga sikapnya selalu dingin seperti itu. Aku membuka amplop coklat, yang terletak paling bawah, aku semakin terkejut, dengan d**a yang semakin berdebar kencang. Ketika membaca tulisan di secarik kertas. 'MATI' kemudian ada foto Alena yang di tusuk-tusuk dengan pisau.  Apa sebenarnya yang terjadi pada Alia, kenapa ia seakan membenci Alena. "Ngapain kamu mas ...."  Aku terlonjak, rasanya jantungku mau melompat dari tempatnya.  "Aa .... Alia," lirihku, dadaku berdebar hebat, jantungku berpacu kuat.  Aku yang sedari tadi duduk di depan laci, berbalik badan menatapnya. Alia, ia menatap dingin ke arahku, lalu kemudian masuk, dan mengunci pintu dari dalam. Dan memasukkan kunci ke dalam kantong celana jeansnya. Senyum menyeringai ia tampilkan, Alia menatapku dengan tatapan yang menakutkan. "Apa yang kamu cari, Mas Raka." Alia bertanya pelan, namun tubuhnya semakin mendekat. "Aa---aaaku, aku,"  Belum selesai aku berkata, Alia memainkan pisau kecil di tangannya. "Kamu penasaran? Kamu ingin tau siapa aku sebenarnya?" tanya Alia, dengan senyum menyeringai. Aku bergidik ngeri, melihat Alia seperti itu. "Aku tahu segalanya, Mas. Apakah kamu mau menyusul Alena?" bisiknya pelan di telingaku, kemudian Alia tertawa lirih. "Aa--apa, apa Al? Apa maksud kamu?" tanyaku, dengan segenap kekuatan, aku mencoba menghilangkan rasa gugup. Alia memainkan pisau kecil tajamnya di depan wajahku, sambil tersenyum kecil.  "Mas, kamu tau, di dunia ini apa saja yang paling aku benci?" tanyanya. Alia benar-benar menakutkan, meskipun tampilannya begitu cantik hari ini, tetap saja tidak menutupi aura dendam yang terpancar dari matanya. "Aku benci orang yang tidak setia, seperti kamu dan Ibuku. Kalian sama-sama egois, hanya memikirkan diri sendiri. Kasihan Alena, maka dari itu, kukirim Alena ke surga!" bisiknya, sontak saja hal itu membuatku membelalakan mata dengan sempurna. Aku syok, seakan tidak percaya, dengan apa yang Alia lontarkan. "Al, kamu gila, sakit kamu Al. Biar bagaimana pun, Alena itu saudara kamu, kamu dalang semuanya? Al." Alia tertawa gelak, ia tertawa, diiringi air mata. "Jika kubiarkan Alena hidup, ia akan menanggung sakit hati seumur hidup, gara-gara perbuatan b***t, kamu." Aku menggeleng kepala, kuusap kasar wajahku dengan kedua telapak tangan. "Kematian Alena begitu tragis, kamu kejam Al, yang kamu lakukan itu jahat." Lagi-lagi Alia tertawa, Ia kembali mendekat. "Aku tidak pernah meminta mereka, mengirim Alena ke surga, dengan cara sesadis itu. Aku pun marah, dan mengirim mereka berdua juga ke neraka." Aku tersentak dan semakin syok.  "Physco, kamu mengerikan Alia, aku akan menyeretmu ke kantor Polisi. Biar bagaimana pun, kamu harus mempertanggung jawabkannya." "Silahkan, jika kamu memiliki bukti. Dan saksikanlah, betapa Mamah kesayanganmu itu akan menderita." Lagi-lagi aku merasa tidak berguna. Mamah begitu menderita kehilangan Alena, ia bahkan sempat di rawat di rumah sakit.  Haruskah itu terulang lagi, jika aku menjebloskan Alia ke penjara. "Apa tujuan kamu? Sebenarnya." Alia menarik napas. "Aku senang, menyaksikan wanita yang membuatku menderita, merasakan derita yang lebih lagi." "Tapi wanita itu ibu kamu, Alia. Sadar kamu, jangan dikuasai setan." Alia tertawa sumbang. "Bukankah kamu sahabatnya setan?" ucap Alia. "Al, sadarlah, dia ibumu. Kamu tidak kasihan dengannya? Sudah tua dan sakit-sakitan pula." "Kasihan?" Alia tertawa lirih. "Jangan bicara tentang kasihan, wanita itu yang membuat aku kehilangan empati dan rasa kasihan. Bagaimana mungkin, ia pergi meninggalkan aku yang masih kecil, terlelap di tempat tidur. Wanita itu pergi, hanya membawa Alena. Bahkan selama dua puluh satu tahun berlalu, ia tidak pernah menjengukku."  Alia berkata datar, dengan air mata yang meluruh. Tangannya terlihat mengepal, deru napasnya semakin kencang. Bisa kurasakan, betapa terlukanya Alia, menjalani hidupnya selama ini. "Kau tau?" Alena kembali menatap tajam ke arahku. "Setiap hari aku di paksa kerja rodi, bahkan sundutan api rokok sudah berbingkai indah di tubuhku. Aku makan layaknya anjing, bahkan di hujani cacian dan makian."  Alia menarik dalam napasnya. "Sejak saat itu, aku membenci wanita itu. Melihatnya hidup bahagia, itu membuatku murka." Aku bahkan sulit untuk berkata, rasanya aku ingin sekali marah dan mengamuk. Namun, aku mencoba menahan diri, dan berpikir tenang. Tidak kuasa memandang wajah Alia yang terlihat pilu, aku pun membuang muka darinya. Bruuuccckkkk .... pandanganku tiba-tiba gelap, aku bahkan tidak ingat apa-apa lagi. Aku membuka mata, nampak langit-langit kamarku menyapa. Rasa sakit di tengkuk kepala tiba-tiba terasa, aku mencoba mengingat-ingat, mengapa aku bisa ada di dalam kamar. Astagfirullah, aku memekik, kembali teringat kejadian di dalam kamar Alia tadi. Aku berusaha bangun, meskipun badanku rasanya sakit, terutama tengkukku. Aku berlari kecil menuruni anak tangga. "Bi .... bibi." Aku mencari bibi ke arah dapur, kutemukan bibi yang terlelap di meja makan, dengan segelas air sirup di depannya. Terdengar deru mesin mobil, memasuki pekarangan rumah, niatku urung untuk membangunkan Bibi. Aku berjalan cepat, menuju keluar rumah. Diambang pintu, Alia masuk dengan menenteng barang belanjaan, di susul Mamah yang juga berdiri di belakangnya. Mereka berdua melangkah masuk, kutatap tajam wajah Alia, ia tersenyum menyeringai. Mamah nampak begitu ceria, mereka berdua duduk di ruang tamu, dan mengabaikan keberadaanku. Aku hanya terdiam, berdiri menatap mereka. "Aduh Al, ini cantik. Kamu harus mengenakannya ya sayang."  Mamah begitu menyayangi Alia, seperti dia menyayangi Alena, bagaimana jika Mamah tau, Alia pembunuh berdarah dingin. Aku yakin tadi aku tidak bermimpi, aku yakin pengakuan Alia itu nyata. Aku mendekat ke arah Alia, ini tidak bisa di biarkan, Alia terlalu berbahaya. "Al, ikut aku!" Aku menarik kasar tangan Alia, tanpa memperdulikan Mamah yang bingung dengan tingkahku. "Ada apa ini? Raka." Mamah berteriak, dan menyusul langkah kami. "Kamu harus bertanggung jawab, Alia!" Aku menunjuk-nunjuk wajah Alia, dengan kasar. "Mah ...," Alia menatap Mamah, dengan ekspresi ketakutan. Sontak saja, hal itu membuat Mamah semakin murka kepadaku. Mamah berjalan cepat, menarik Alia dari pegangan tanganku. "Jangan sakiti Aliaku, cukup ya Raka! Kamu sudah menyakiti Alena Mamah. Jangan menyakiti Alia seperti tadi, Mamah tidak segan-segan menghajar kamu lagi." "Mah .... Alia ini phscyo! Dia dalang pembunuhan Alena."  Plakkk .... Mamah menamparku dengan emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD