Kado Terakhir Istriku
Part14
"Berani sekali kamu menuduh Alia, untuk apa? Raka. Apakah kamu berniat membebaskan gundikmu itu? Dan menjadikan Alia kambing hitamnya?"
Tatapan penuh amarah Mamah layangkan kepadaku.
"Mah, Raka tidak menuduh, Alia sendiri yang mengakuinya. Dikamar Alia, bau amis darah, banyak mata pisau dan foto-foto keluarga kita."
"Omong kosong macam apa, Ini Raka?"
Mamah kembali menghardikku.
"Al, buka kamar kamu!" pintaku, Alia menatap datar ke arahku, kemudian ia tersenyum.
"Jika mas menuduhku, dan tidak menemukan bukti apa-apa, bagaimana?"
Wajah Alia begitu tenang, bahkan ia berkata diiringi sunggingan senyum kecil di bibirnya.
"Tidak mungkin, kecuali kamu menyembunyikannya."
"Menuduh tanpa bukti itu, jatuhnya fitnah."
Alia berkata santai, tatapannya tajam dan dingin.
"Hentikan! Raka. Mamah benar-benar kecewa dengan sikap kamu ini."
Aku tercengang, sebegitunya Mamah pada Alia, hingga aku yang anak kandung seakan tidak ada artinya. Alia tersenyum puas, ia seolah mentertawakanku.
"Mamah, mungkin Mas Raka tidak suka Alia disini," ucapnya, dengan wajah yang di buat-buat sedih.
"Alia, kamu mengerikan."
"Raka, seharusnya kamu tidak melakukan hal ini, Alia tetap disini, demi Ibunya. Apa kamu tidak malu? Gara-gara perselingkuhan kamu dengan wanita gila itu, Alena jadi korbannya."
"Mah, wanita ini yang gila, dia yang meminta orang-orang itu melenyapkan Istri Raka, Mah." Aku berkata dengan frustasi, bahkan suaraku serak menahan sesak didada.
Mamahku sendiri, tidak percaya denganku.
"Lalu, Amira tidak bersalah? Begitu yang ingin kamu katakan?" bentak Mamah.
Aku menunduk, teringat kembali akan pengakuan Amira, tentu saja hal itu membuat kepalaku semakin sakit.
Lagi-lagi Alia tersenyum kecil menatapku.
"Al, ayo kita pergi. Jangan kamu pedulikan anak bodoh ini."
Mamah menarik lengan Alia, mereka menjauh dari hadapanku. Aku membeku, frustasi, berkali-kali kuusap kasar wajahku.
Alia benar-benar berbahaya, bagaimana caraku menyeret Alia ke penjara, sedangkan Mamah begitu menyayanginya.
Aggrrhhhh .... aku berlari menaiki anak tangga, kuhempaskan tubuh di atas kasur.
Tungkukku masih terasa begitu sakit.
Seorang informanku kembali mengirimkan pesan.
"Bos, Romina sudah meninggal, kematiannya lumayan tragis. Romina meninggal terpanggang di rumahnya. Anak Romina laki-laki yang bernama Anton, menjadi tersangka, dengan tuduhan sengaja membakar rumah Ibunya, gara-gara tidak di beri uang."
Siapa Romina ini? Apa hubungannya dengan Alia? Mengapa Alia bisa menggunakan simcard atas nama Romina, untuk meneror Alena dan Amira.
Kemudian informanku, mengirimkan kembali pesan kedua.
"Romina juga katanya memiliki cucu, nama cucunya Alia Putri, kabarnya cucunya sempat di jual Anton ke rumah b****l. Anton pecandu obat-obatan terlarang."
Astagfirullah, jadi nasib Alia begitu tragis, hingga merusak mentalnya seperti ini.
"Mas ...."
Aku terlonjak, ketika melihat sosok Alia, diambang pintu kamarku.
"Mau apa? Apakah kamu berniat melenyapkan aku juga?" bentakku.
Alia berjalan santai masuk ke dalam, ia menyunggingkan senyum menyeringai, lalu mendekatkan wajahnya ke depan wajahku.
"Bagaimana rasanya, kehilangan Istri yang begitu sempurna di mata keluargamu? Dan gundik bodoh itu, ah, menyenangkan bisa menghukumnya seperti ini."
"Alia ...."
Aku berteriak dan berusaha mencengkram lehernya, namun dengan gerakan cepat Alia menghindar, kemudian ia kembali tersenyum santai.
Alia begitu tenang, tidak ada sedikitpun raut ketakutan, ia tetap berdiri santai di depanku.
"Jangan coba-coba mengusikku, aku bisa saja menyakiti siapapun, yang mencoba menggangguku."
"Tapi kamu harus tetap bertanggung jawab, Alia."
"Bagaimana? Kalau aku menolak?" Alia tersenyum jahat. "Apakah harus kusakiti Mamah kesayanganmu itu? Agar kamu paham, sedang berhadapan dengan siapa."
"s**t .... berani sekali kamu mengancamku."
Aku berniat memukul Alia, namun dengan gerakan cepat, Alia melayangkan tendangan ke adik kecilku.
Rasanya sakit luar biasa, dan membuatku seakan mau pingsan.
Alia tersenyum sinis. "Kamu bukan lawanku, Mas Raka. Berbaik-baiklah kepadaku, sebab aku tidak segan-segan menyiksamu, jika kamu terus mencoba menghalagi jalanku."
"Kamu wanita sakit, Alia."
Alia tertawa lirih. "Kamu tau, sebelum kekasih gelapmu itu tertangkap, aku sudah membingkai indah seluruh tubuh nakalnya itu. Dan, aku juga yang memaksanya mengakui semua kejahatan yang aku lakukan. Itu hukuman yang pantas untuknya."
"Kejam, kamu benar-benar kejam, Alia."
"Aku tidak kejam, jika aku kejam, kedua orang tua Amira yang asli. Sudah mati di tanganku, sayangnya, aku masih terlalu baik hati."
"Apa maksudmu? Alia. Orang tua yang asli? Lalu yang kemarin itu palsu?" tanyaku bingung. Masih menahan rasa sakit dan nyut-nyutan, akibat tendangan Alia tadi.
Alia tertawa terbahak-bahak.
"Tanggung, aku akan kasih tau semuanya. Yang datang tempo hari, adalah orang suruhanku. Aku ingin membongkar kebusukanmu di depan Mamah. Sengaja! Aku ingin Mamahmu sakit hati, memiliki anak b***t sepertimu."
Ya Tuhan, Alia benar-benar sosok yang mengerikan, bagaimana aku menghadapi wanita licik ini.
"Al, Mamah begitu menyayangi kamu, kenapa kamu tega menyakitinya?" lirihku.
"Mamahmu cuma sayang pada Alena, setiap hari ia selalu memuji Alena. Aku tidak suka, aku muak sebenarnya."
Sorot mata Alia memancarkan aura kebencian yang begitu dalam.
"Aku tidak tahu bagaimana masa lalumu. Tapi satu hal yang harus kamu pahami, penyesalan selalu datang terlambat. Jangan mau di kuasai setan, nanti kamu akan menyesal."
Alia tertawa lepas. "Sudah ah, selamat beristirahat." Alia melangkahkan kaki, menuju keluar kamarku.
Alia benar-benar mengerikan, entah apa yang Alia katakan, hingga membuat Ibu Mumun jatuh stroke seperti sekarang ini.
________
Saat semua tidur, aku bergegas memasang cctv di setiap sudut. Kebetulan cctv yang aku beli sangat kecil, jadi tidak mudah di ketahui, bahwa rumah ini sudah kupasang cctv.
Cepat atau lambat, aku pasti akan menemukan bukti kelakuan mengerikan kamu, Alia.
Usai memasang, aku berjalan ke arah dapur, untuk mengambil air minum.
"Astagfirullah ...." aku memekik, dengan pintu dapur yang terbuka lebar, aku melihat Alia berpakaian serba putih, ia diam mematung di bawah pohon.
Kutajamkan pandangan, Alia atau Alena, namun ketika wajah itu mengarah kepadaku, ya! Wanita itu benar Alia.
Ia memandang ke arahku, kemudian mengukir senyum.
Aku bergidik ngeri, melihat tingkahnya di tengah malam, seperti hantu.
"Dasar wanita gangguan jiwa, nggak habis pikir aku." celetukku dalam hati, seraya meminum habis air dalam gelas, hingga tandas.
Kini aku harus benar-benar waspada, meskipun begitu banyak rasa sakit hatiku, terhadap perbuatan Alia. Aku tetap tidak boleh gegabah, Alia bukan seseorang yang mudah aku lawan.
Ia begitu paham membaca keadaan, sikapnya pun begitu tenang, sulit untuk di hadapi tanpa strategi.
Aku bergegas kembali menaiki anak tangga dan masuk ke kamar, kemudian menguncinya dari dalam.
Ku-nyalakan laptop, untukku sambungkan ke cctv online. Hanya bagian dapur yang belum aku pasang cctv, jadi masih tidak sepenuhnya bisa memantau keadaan dapur.
Namun tertangkap cctv, Alia berjalan menari-nari, masuk ke arah kamarnya.
Kemudian ia kembali keluar, dengan membawa pisau di tangannya.
Apa yang Alia akan lakukan lagi dengan pisau itu? Ya Tuhan, bisa gila aku menghadapi Alia.
Apakah Alia tidak pernah tidur malam? Ia terlihat berjalan menuju kamar Ibunya. Aku panik, kemudia bergegas keluar kamar, dan berlari menuju kamar Ibu.
Namun saat gagang pintu kamar kucoba buka, malah terkunci.
Biasanya kamar ibu tidak pernah di kunci, tapi ini malah terkunci, dan membuatku sangat panik.
Aku menggedor-gedor pintu kamarnya, namun tidak ada sahutan, bahkan aku terkesan di abaikan.
"Alia .... buka Al, buka pintunya!" teriakku, dengan terus menggedor pintu kamar Bu Mumun.
Namun tetap Alia tidak membukanya, haruskah kudobrak saja ini pintu.