Kedatangan Kekasih Deva

1248 Words
Suara ayam jantan mulai berkokok sahut menyahut. Suasana yang tadinya hening berubah riuh. Bagi orang desa, kokokan ayam jantan seperti alarm hidup yang siap membangunkan mereka setiap fajar datang. Ya, seperti itulah keadaan di desa. Meskipun kita tinggal di rumah yang lumayan mewah untuk ukuran orang desa, tetapi tetap saja masih bisa mendengar kokokan ayam jantan, erikan jangkrik, dan kadang-kadang juga suara tokek. Ketika musim hujan datang, mereka akan mendengar konser suara kodok yang saling sahut menyahut. Entahlah, mereka tidak risih dengan suara itu semua. Bahkan, suara-suara itu akan mereka rindukan saat mereka jauh dari desa tercintanya. Suara kokokan ayam jantan tersebut, berhasil membuat Nur menggeliat. Perempuan yang memakai piyama hitam itu membuka matanya perlahan. Sepasang mata bulatnya langsung menangkap punggung kokoh yang terbalut piyama warna hitam garis-garis putih. Laki-laki itu benar-benar berada di pinggir tempat tidur sampai hampir terjatuh. Nur Laila tersenyum. Tak apalah kali ini laki-laki itu belum mau menyentuhnya, bahkan terkesan menghindarinya, tetapi paling tidak dia tidak meminta Nur untuk tidur di sofa. Nur sudah bersiap membangunkan suaminya. Namun gerakan tangan Nur yang akan menepuk punggungnya terhenti, saat dia melihat handphone Deva berkedip-kedip di samping bantal. Handphone itu memang tidak bersuara dan tidak diberi getaran, tetapi cahaya yang berkedip-kedip dari handphone itu cukup membuat Nur tahu bahwa ada yang sedang menelponnya. Nur tertegun sejenak saat dia melihat foto profil orang yang sedang menelpon Deva. Seorang gadis kira-kira berumur 20 tahunan. Gadis itu memiliki rambut sepanjang bahu. Di foto profil itu, dia memakai kaos lengan pendek warna kuning yang dimasukkan ke dalam rok hitam yang panjangnya di bawah lutut. Sungguh, perempuan itu terlihat begitu cantik, modis dan anggun. Kulitnya putih bersih, sangat jauh berbeda dengan kulit Nur. Tentu saja, kulit yang sering melakukan perawatan dengan kulit yang hanya memakai bedak sachet itu jauh berbeda. Nur menelan ludahnya. Sebenarnya dia ingin mengabaikan handphone itu begitu saja. Namun, dia tidak bisa menahan diri. Akhirnya, Nur mengambil handphone itu perlahan supaya Deva tidak terbangun, lalu dia menarik ke atas lingkaran hijau yang ada di layar handphonenya. Panggilan pun tersambung, Nurlaila menempelkan handphone keluaran terbaru milik suaminya ke pipi. "Sayang, kamu sudah bangun? Nanti Mas Deva jangan lupa ya, kita berangkat ke kampus bareng. Tunggu aku! Nanti aku ke rumah mas Deva." Terdengar suara lembut nan manja dari speaker handphone yang dia genggam. Suara manja dan mendayu itu berhasil menimbulkan rasa nyeri di d**a Nur Laila. Sayang? Mendengar suaminya dipanggil dengan sebutan Sayang oleh perempuan lain, membuat dadanya juga terasa begitu sesak. Hatinya seperti disayat sayat. Ya, dia memang sudah tahu sebelumnya Kalau suaminya mempunyai kekasih. Namun, satu yang tidak Nur sangka, ternyata rasanya sesakit ini mengetahui fakta bawa bukan kita yang ada di dalam hati Sang suami. Berada di dalam hati suami? Ah, mungkin itu terlalu berlebihan. Jangankan dimasukkan di dalam hati, disentuh dan di tatap saja dia tidak pernah. Nur mematung di tempatnya. Pagi buta, matanya serasa memanas. Ada yang menggenang di sudut matanya. "Sayang? Kok kamu diam saja. Kamu takut ketahuan istri kamu yang kamu bilang norak itu ya?" Ah … hati Nurlaila serasa terbakar. Panas. Dia tidak sanggup mendengar suara itu lebih lama lagi. Nur Laila mematikan sambungan telepon itu sepihak, lalu meletakkannya kembali di samping bantal Deva. Laki-laki itu, masih terlelap dengan dengkuran halus. Kali ini dia tidak bisa lagi menahan air matanya. Butir bening, turun ke pipinya yang ditumbuhi beberapa jerawat. Nur menunduk. Ah, dia tidak bisa menangis di sini. Nur tidak mau suaminya melihat air mata itu. Tidak, meskipun dia rapuh, suaminya tidak boleh melihatnya dalam keadaan lemah. Seperti apa yang selalu dibilang oleh orang-orang, semakin kita menunjukkan kelemahan, semakin kita akan diinjak-injak. Nurlaila bergegas turun dari tempat tidur, lalu mempercepat langkahnya menuju ke kamar mandi. Perempuan itu menempelkan punggungnya di pintu kamar mandi. Dia merosot sampai terduduk. Tangisnya pecah. Kepalanya menunduk dengan air mata yang terus-menerus turun. Sakit, rasanya sangat sakit mendengar ucapan kekasih suaminya, yang mengatakan bahwa dirinya norak. Ah, Apakah dia memang setidak berharga itu di hadapan suaminya sendiri? Dibandingkan dengan gadis itu, Nurlaila memang tidak ada apa-apanya. Gadis itu adalah seorang mahasiswi yang begitu modis dan cantik, sedangkan Nurlaila, hanya seorang guru TK ndeso tamatan SMA yang berpakaian ala kadarnya. Pipinya tidak semulus pipi wanita itu, senyumnya juga tidak seceria senyum wanita itu. Bahu Nurlaila naik turun karena isakan terlalu keras. Baru dua hari Dia menghuni rumah mewah itu, tetapi rasanya dia sudah tidak tahan lagi. Ternyata, hidup bersama dengan orang yang tidak menghargainya dan tidak menganggapnya ada itu sangat sakit dan perih. Entah Nurlaila bisa bertahan lebih lama lagi atau tidak. *** Pagi itu, Nur Laila sengaja tidak masak. Biar saja Mbak Surti yang masak untuk Deva. Nur sengaja berada di depan, merapikan bunga-bunga yang berjajar di teras. Bukan karena dia memang menyukai bunga, tetapi dia sengaja berada di depan agar bisa menyambut kedatangan pacar dari sang suami. Deg-degan? Ya, tentu saja. Jantungnya berdetak dengan kencang sejak tadi. Apalagi setelah dia mendengar suara deru motor yang perlahan memasuki halaman rumah suaminya yang luas. Jantungnya seakan mau loncat saat itu juga. Beberapa menit kemudian, gadis yang dia lihat di handphone suaminya tadi berjalan ke arahnya. Kaki jenjangnya terlihat sempurna, sangat cocok dibalut rok span warna abu-abu yang panjangnya tepat di bawah lutut. Untuk atasan, gadis cantik itu memakai kemeja putih lengan panjang yang bagian dadanya dihiasi dengan aksen di samping kiri dan kanan. Paduan yang pas untuk seorang gadis berkulit putih bersih seperti dia. "Selamat pagi, Mbak." Gadis itu berhenti dihadapan Nur dan menyapa dengan suara lembut. "Assalamualaikum Dek. Adek mau mencari siapa?" Nur Laila tersenyum. Dia pura-pura tidak tahu siapa perempuan itu. Lebih baik dia pura-pura bodoh kan agar bisa lebih mudah mengelabuhi lawan? "Eh, waalaikumsalam. Saya mau mencari Mas Deva, ada?" tanya Gadis itu dengan penuh percaya diri. Dia tampak tersenyum sambil sesekali menatap Nur dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Oh, Mbak mencari suami saya? Dia masih siap-siap di dalam. Oh iya, perkenalkan. Saya Nur, istrinya Mas Deva." Nur mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Ya, dia masih bisa memaksakan diri untuk tersenyum meskipun hatinya meronta. Andai saja dia tidak ingat bahwa dirinya harus menjaga nama baik sang suami, pasti dia sudah mencakar wajah cantik gadis yang sudah dengan lancang menghubungi suaminya dini hari tadi. "Oh, perkenalkan mbak, saya Silvia, pacarnya Mas Deva yang sampai saat ini masih menjadi kekasihnya," ucapnya sambil mengulurkan tangan dengan senyum penuh kesombongan. Nur tidak habis pikir, bagaimana bisa di desa kecil seperti ini ada seorang perempuan yang dengan percaya diri menghampiri suami orang ke rumah? Jelas-jelas dia pelakor. Bagaimana bisa dia memiliki nyali besar datang ke rumah yang ditinggali oleh seorang suami beserta dengan istri sah? Saat itu, darah Nur mendidih. Dia menurunkan tangannya perlahan. Dia tak sudi menjabat tangan perempuan yang terang-terangan mengaku menjadi pacar suaminya. Dia memejamkan mata di tempatnya sambil meremas ujung jilbabnya kuat-kuat. Dadanya benar-benar terasa sesak saat itu. Ingin rasanya dia mengambil 1 buah pot dan melemparkan ke arahnya. Namun, dia harus menahan diri. Dia tidak boleh marah saat ini, atau suaminya akan semakin membencinya. Nur menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Dia membuka matanya dan menatap Silvia dengan senyum. Sulit memaksa senyummu ketika kita ingin memaki. Namun, Nur mengerahkan semua kekuatannya untuk tetap terlihat baik-baik saja di hadapan silvi. "Oh, adik ini selingkuhan suami saya? Waw, ternyata seorang mahasiswi yang cerdas dan cantik seperti adik ini mau menjadi selingkuhan suami orang?" Nur menatap Silvia dengan senyum mengejek. Dia menatap mata Silvia dengan percaya diri. Lebih tepatnya berusaha untuk terlihat percaya diri. Menghadapi perempuan seperti itu harus dengan nyali yang besar, tak boleh terlihat lemah sedikit pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD