Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Hawa dingin merasuki tubuh Nurlaila. Menyusup melalui jari-jarinya, dan menyebar ke seluruh tubuhnya yang kurus seperti tinggal tulang. Nur tak henti-hentinya menggosok-gosokkan tangannya ke lengan kanan dan kiri supaya sedikit lebih hangat. Dia mondar-mandir di ruang tamu ke kanan dan ke kiri tiada henti.
Terdengar suara Erikan jangkrik yang nyaring. Menambah suasana sunyi di malam hari dan semakin mengiris hati Nurlaila. Rumah ini memang besar, sangat besar, tetapi sunyi dan sepi karena hanya ada Nur Laila, mbak Surti dan Deva saja.
Tak hentinya Nurlaila memandang ke arah jam dinding. Hampir setiap 5 menit sekali dia menoleh kearah benda berbentuk lingkaran yang menempel di dinding ruang tamunya. Ah, sudah selarut ini laki-laki itu belum ada tanda-tanda pulang. Hari ini adalah malam kedua pernikahan mereka, tetapi Deva sudah membuat Nur Laila cemas.
Tak Ada yang bisa Nurlaila lakukan selain menunggu dan berdoa kepada Allah supaya suaminya dalam keadaan baik-baik saja. Nurlaila terus bertanya-tanya, Apakah memang seorang dosen bekerja 1 hari penuh sampai malam begitu? Ah, pasti suaminya sangat capek di sana.
Tak lama kemudian terdengar deru suara mobil. Sontak, Nur Laila sedikit berlari menuju ke pintu ruang tamu lalu menuju ke teras. Benar saja, suaminya datang.
Nurlaila langsung tersenyum lebar, lega suaminya datang dalam keadaan baik-baik saja. Perempuan tinggi kurus itu berlari kecil menyambut kedatangan sang suami. Ia mengulurkan tangannya, berusaha untuk meraih tangan kokoh yang sudah bekerja keras itu.
Deva acuh, tidak menyambut uluran tangan itu, dan melewatinya begitu saja seolah tidak ada satu orangpun yang ada di hadapannya. Nur Laila membuang nafas kasar, dan menarik tangannya kembali. Perempuan itu memejamkan matanya, kesal sebenarnya. Dia sudah menunggu kedatangan suami sampai berjam-jam, tetapi ketika datang dia hanya diacuhkan begitu saja. Ah, tapi ini sudah menjadi pilihannya. Dia tidak boleh kesal, dia tidak boleh marah dan harus enjoy dengan semua yang terjadi padanya. Nurlaila tersenyum, berusaha untuk menghibur diri sendiri, lalu segera melangkahkan kaki mengikuti langkah kaki sang suami.
"Dik Suami, Syukurlah kau sudah pulang. Aku sangat khawatir karena sampai larut malam begini belum juga terlihat batang hidungmu. Adik suami mampir ke mana saja? Apa pulangnya memang jam segini? Aku minta nomor teleponnya ya? Jadi ketika dik suami pulangnya larut malam begini aku bisa telepon dulu supaya tidak khawatir."
Nurlaila terus berusaha untuk berjalan sejajar dengan Deva. Mulutnya terus berbicara, berharap mendapatkan jawaban. Langkah kaki laki-laki itu semakin keras sehingga sulit bagi Nurlaila untuk mengikutinya.
Deva diam saja tidak menggubris ucapan Nur Laila. Seolah tidak ada satu orang pun yang sedang mengajaknya bicara. Rasanya Nur ingin menggetok kepala sang suami yang sangat dingin melebihi dinginnya es batu itu. Dia memang lebih tua 2 tahun Dari dirinya, tetapi dia tidak menyangka kalau suaminya itu benar-benar bersikap kekanak-kanakan. Dikira menyenangkan dianggap tidak ada seperti itu?
Deva membuka pintu kamar dengan kasar, meletakkan tasnya di atas meja kecil yang ada di samping tempat tidur, lalu segera merebahkan diri di atas sofa. Laki-laki itu terlihat begitu lelah. Wajah tampannya terlihat masam dan matanya terlihat sayu.
"Dik Suami, aku lepas sepatunya ya?"
Nur Laila tidak menunggu jawaban dari suaminya, Dia segera melepas sepatu sang suami yang saat itu sedang berbaring sambil memejamkan matanya. Laki-laki sedingin es batu itu tetap diam tidak berkutik dan tidak terusik. Andai saja laki-laki itu bukan suaminya, sudah diambil centong sayur di dapur dan dia getokkan ke kepala itu supaya otaknya lebih encer dan mau menganggap dia ada di dunia ini.
"Dik Suami capek banget ya? Aku ambilkan minum di dapur ya? Mau Air putih atau teh hangat? Aku rebuskan air hangat untuk mandi ya?"
Deva membuang nafas kasar. Dia mulai jengah mendengarkan celotehan sang istri yang tiada hentinya.
"Mbak-mbak udik, bisa berhenti bicara atau tidak sih? Dari tadi terus Nerocos bicara tiada henti. Memangnya Mbak tidak capek? Ngapain harus capek-capek merebus air? Di dalam, mbak hanya perlu memutar kran maka sudah muncul air panas dengan sendirinya. Tinggal di gua sebelah mana sih kamu selama ini," ucap Deva kesal sambil melirik ke arah Laila.
"Waaah, alhamdulillahirobbilalamin. Ternyata suamiku masih bisa bicara. O … berarti bisa mandi pakai air hangat di dalam? Ya sudah, saya siapkan handuk buat dik suami mandi ya?"
"Tak perlu."
"Kalau begitu mau aku pijitin biar nggak capek?"
Deva bangkit dari tidurnya, dia duduk sambil menatap Nurlaila dengan tatapan penuh kekesalan. Matanya menatap tajam ke arah sang istri yang benar-benar membuat dirinya kesal dengan ucapannya yang tidak ada hentinya.
"Mbak, bisa berhenti bicara sebentar apa enggak? Saya pusing mendengar Mbak terus bicara." Deva berbicara dengan suara meninggi. Matanya menatap mata Nurlaila yang menciut mendengar bentakan darinya.
"Maaf, Dik Suami. Saya ingin melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Jika apa yang saya katakan ini memang mengganggumu, Saya minta maaf. Selamat istirahat. Saya tidak akan mengganggumu untuk malam ini, tetapi akan kembali mengganggumu besok pagi. Kalau begitu istrimu ini tidur dulu ya? Oh ya dik suami, Jangan lupa salat dulu sebelum tidur. Saya tidur duluan, Jangan lupa nanti tidur di sebelah saya. Kalau tidak, pasti saya tidak akan bisa tidur dan akan selalu mengganggu adik suami."
Nurlaila tersenyum, meskipun saat itu dia begitu gondok. Dia berusaha tersenyum seolah tidak ada apa-apa. Padahal sebenarnya hatinya begitu nyeri. Dia tahu bahwa dia tidak diinginkan. Dia tahu bahwa dirinya dianggap tidak ada, tetapi dia terus berusaha untuk meraih hati Sang suami, terus merayunya seolah tidak punya harga diri. Biar, biar saja dia melakukan itu untuk sementara waktu. Bukankah cinta itu memang harus diusahakan?
Kalau boleh jujur, saat ini pun Nur Laila belum mencintai Deva. Dia belum mencintai suaminya itu, tetapi yang bisa dilakukan saat ini hanyalah terus mencoba untuk mencintai sang suami sebagai bentuk baktinya. Bukankah ridho Allah tergantung pada ridho suami? Itu yang selalu diingat oleh Nurlaila. Itulah mengapa, meskipun berkali-kali dia tidak digubris dan dianggap tidak ada, Nur Laila tetap berusaha untuk bersikap baik terhadap suaminya yang sedingin es batu.
Nur Laila berjalan perlahan menuju ke tempat tidur. Dia berbaring di atas tempat tidur luasnya, lalu menenggelamkan diri di bawah selimut tebal warna biru muda. Ya, warna biru muda adalah warna kesukaan Deva, yang sekarang menjadi warna kesukaan Nur Laila juga.
Nur memejamkan matanya. Dia menahan nyeri di hatinya. Rasanya memang sakit diabaikan, apalagi setelah hampir dua jam dia menunggu sang suami di depan pintu tetapi ketika datang tidak digubris sama sekali. Ah, rasanya dia ingin berteriak. Tetapi dia tidak bisa melakukan itu. Nur Laila selalu ingat apa yang dikatakan oleh sang ayah, bahwa dia harus selalu menghormati sang suami Apapun yang terjadi. Ya, itu selalu diterapkan oleh Nurlaila.
Entah sampai kapan dia bisa menahan itu semua, yang jelas dia akan terus bertahan selama dirinya masih mampu.