"Ibu, kok pagi-pagi Ibu sudah sampai sini?" tanya Deva sopan sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Yo ibu Ki pengen tahu keadaan anak ibu dan menantu. Piye? Aman tho?" tanya Bu Nurul, ibu Deva. Bu Nurul berusia kurang lebih 50 tahun. Meskipun usianya sudah setengah abad, beliau masih berdandan rapi tapi tidak berlebihan. Beliau masih sangat sehat dan energik.
Ibu tiga anak itu memakai kulot warna hitam oversize dipadu dengan Hem coklat polkadot. Badannya sedikit berisi, tetapi tetap tampak begitu modis. Kacamata yang nangkring di depan matanya membuat Bu Nurul tampak kharismatik. Apalagi beliau memakai jilbab segiempat yang dililitkan di lehernya, membuat Bu Nurul tampak lebih muda dari usianya.
"Hmmm … Iya. Aman kok," ucap Deva sambil melepaskan tangannya dari tangan sang Ibu.
"Ibu, Assalamualaikum," ucap Nurlaila sopan sambil mencium punggung tangan Bu Nurul.
"Waalaikumsalam menantu ibu yang cantik. Kamu sehat, Nduk?"
Bu Nurul mengelus kepala menantunya yang berbalut jilbab hitam. Kemudian, mereka saling berpelukan hangat seolah mereka sudah sangat akrab.
"Alhamdulillah. Sehat, Bu."
"Alhamdulillah."
Mereka saling mengurai pelukan. Nur Laila tersenyum. Diam-diam, Ia sangat bersyukur memiliki ibu mertua yang sangat baik seperti Bu Nurul. Setidaknya, itu bisa sedikit menjadi obat atas rasa kecewanya dengan sikap sang suami.
"Wah, tumben ini rumah Deva pagi-pagi sudah rapi. Sudah ada makanan tersaji di meja makan. Pasti Nur yang masak," ucap Bu Nurul sambil menoleh ke arah meja makan.
"Iya Bu. Monggo Bu, sarapan bersama." Nur mengacungkan ibu jarinya ke arah meja makan dengan sopan.
"Wah, nasi goreng kesukaan ibu ini. Ayo kita sarapan." Ibu yang sangat energik itu berjalan cepat menuju ke meja makan, dan duduk disalah satu kursi.
"Bu, Maafkan Deva. Deva harus buru-buru ke kampus karena hari ini ada jadwal kuliah pagi, jadi Deva harus segera berangkat, Bu," ucap Deva yang sengaja menghindar. Dia tidak mau sarapan di rumah dan tidak ingin lama-lama menatap wanita udik pilihan ibunya itu. Dia ingin segera sampai di kampus, ingin segera bertemu dengan kekasihnya yang merupakan mahasiswi semester 6. Ya, Silvia. Gadis cantik mahasiswi jurusan peternakan itu sudah membuat Deva rindu dan ingin segera menemuinya.
"Halah, ini masih jam 6. Biasanya kamu naiknya ngebut, 15 menit sampai. Ayo kita sarapan bersama dulu. Ayo. Eits, Ibu tidak mau menerima penolakan," ucap Bu Nurul saat tahu Deva mau membantah ucapannya.
Deva membuang nafas kasar. Kalau sudah begitu, dirinya tidak bisa berkutik lagi. Akhirnya dia mengikuti kemauan ibunya dengan terpaksa dan duduk di salah satu kursi di ruang makan. Ah, rasanya sulit bagi Deva untuk berpura-pura baik terhadap Nur, tetapi mau bagaimana lagi. Dia tidak mau ibunya kecewa kalau sampai tahu keadaan yang sebenarnya.
Nur Laila sengaja duduk jarak satu kursi dari kursinya Deva, tentu saja ada maksud terselubung. Sedangkan Bu Nurul, duduk berseberangan dengan mereka berdua.
"Lho … pengantin baru kok jauh-jauhan begitu," ucap Bu Nurul sambil menatap mereka berdua bergantian.
Nurlaila tidak menjawab apa-apa, hanya tersenyum.
"Mbak, Kenapa jauh-jauh begitu sih. Sini dong deketan," ucap Deva sambil tersenyum ke arah istrinya. Nurlaila langsung membelalakkan matanya dengan bibir yang tetap mengatup. Apa dia tidak salah dengar dan tidak salah lihat? Suaminya menyapa sambil tersenyum? Dia meraba dadanya, degup jantungnya kian tak berirama. Jedag jedug tak karuan.
'Masya Allah, manis sekali senyum suamiku. Seandainya saja setiap hari senyum itu diberikan untukku,' batin Nur.
"Iya, Dek Suami," ucap Nur Laila balik tersenyum. Ah, Nur benar-benar menikmati momen itu. Dia tahu bahwa Deva melakukan itu hanya karena ada ibu di hadapannya.
"Ya Allah, kalian ini lucu sekali sih. Masa iya manggil istri sendiri dengan panggilan 'Mbak'. Ini lagi si Nur, masa iya manggil suaminya dik suami. Ya Allah, ngakak Ibu lihat tingkah kalian," ucap Bu Nurul sambil tertawa dan memegangi perutnya. Melihat tingkah sepasang pengantin baru yang tak lazim itu benar-benar membuat Bu Nurul terpingkal-pingkal.
"Ibu, namanya juga romantis. Kita tidak mau seperti orang kebanyakan. Jadi harus berbeda. Bukan begitu mbak?" ucap Deva sambil melirik ke arah Nur yang saat itu mengambil nasi goreng dari mangkok besar dan menuangkannya ke piring Deva.
Lirikan mata Deva membuat detak jantungnya kian tak santai. Ya Allah, tangan dan kaki Nur sampai gemetar karena grogi mendapatkan lirikan dan sapaan yang bertubi-tubi. Saat ada ibunya, Deva benar-benar menjadi pribadi yang berbeda. Dia memperlakukan Nur dengan hangat tanpa ada sikap dingin sedikitpun.
Kalau para menantu di luar sana tidak ingin tinggal bersama mertua, sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Nur. Dia malah berharap bisa tinggal satu rumah dengan mertuanya, supaya dia bisa selalu menikmati senyum ramah sang suami yang dari kemarin tidak dia lihat sama sekali.
Tentu saja Nur tidak menjawab apa-apa. Dia hanya tersenyum tersipu malu. Ah, meskipun lirikan dan senyuman yang disuguhkan oleh Deva hanyalah sebuah senyuman palsu, tetapi Nur tetap saja bahagia.
Setelah itu mereka bertiga menikmati masakan Nurlaila dengan lahap. Deva yang biasanya tidak suka sarapan di rumah, hari itu dia makan nasi goreng buatan Nur dengan sangat lahap. Harus diakui, masakan istrinya itu memang jempol. Bahkan masakan ini jauh lebih enak dibandingkan menunya di ayam geprek mantul.
Setelah beberapa menit mereka memasukkan makanan ke dalam perutnya hingga tak bersisa, Deva pamit untuk segera pergi ke kampus. Deva melangkahkan kaki begitu saja tanpa membiarkan istrinya untuk mencium punggung tangannya.
"Eits, kalau mau berangkat kerja bukan seperti itu caranya," protes Bu Nurul
"Hmmm … Bukankah biasanya juga begini, Bu?"
"Kamu kan sudah memiliki istri. Pamit dulu dong sama istrinya."
"Tadi sudah kok Bu."
"Kan berangkatnya sekarang, Kok izinnya tadi? Ayo Pamit lagi biar rezekinya berkah. Kamu pasti tahu kan setiap kali istri mencium punggung tangan suami, maka ada pahala di dalamnya. Ayo, pamit lagi."
Deva terlihat membuang nafas kasar untuk kesekian kalinya. Sebenarnya dia sudah jenuh berpura-pura selama beberapa menit. Namun, dia bisa apa? Dia sangat menyayangi ibunya hingga tidak mau ibunya kecewa sedikit pun terhadapnya.
"Mbak, aku berangkat dulu ya? Baik-baik di rumah," ucap Deva sambil tersenyum. Meskipun sulit, Deva tetap memaksakan diri untuk tersenyum.
Aaaah … rasanya Nurlaila seperti melayang melihat suaminya pamit berangkat kerja sambil menghampirinya. Ya, suami yang tampannya hampir 11 12 dengan Herjunot Ali. Dia benar-benar tersihir dengan senyum manis yang dilontarkan oleh suaminya.
Nurlaila segera meraih tangan sang suami, lalu mencium tangannya dengan sopan dan dengan penuh hormat. Ya, tentu saja Nurlaila harus sopan dan hormat kepada sang suami Apapun yang terjadi, seperti apa yang selalu dinasehatkan oleh Bapak kepadanya.
Setelah itu, Deva bersiap untuk pergi ketika suara sang Ibu kembali menghentikan langkahnya.
"Eits, hanya begitu saja ritualnya? Ada yang kurang, Deva. Masa harus ibu yang memberitahu. Untuk menjaga keharmonisan keluarga kalian, biasakan setiap hari mencium Kening sang istri ketika mau berangkat kerja. Insya Allah bisa membuat kalian terus romantis meskipun nanti kalian sudah menjadi kakek nenek."
Deva semakin geram. Rasanya dia ingin menghilang saja dari tempat itu. Mana mungkin dia bisa mencium kening Nurlaila, sedangkan memandang saja, rasanya Deva tak sudi. Namun, yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah tersenyum dan menurut.
"Ah, oh iya ya. Sini mbak, " pinta Deva sambil menahan kesal.
Nurlaila melangkahkan kaki sedikit, masih dengan tangan dan kaki gemetar. Ah, benarkah laki-laki itu akan mencium keningnya? Membayangkan saja sudah membuat jantungnya disco sejak tadi.
Deva ikut mendekat, lalu mereka berdua saling berdekatan. Jarak mereka berdua hanya beberapa senti saja. Tubuh Nur membeku. Ah, dia berniat untuk mengerjai Deva tapi dia terlalu lemah. Dia baper sebaper-bapernya hingga tak mampu berkutik.
Deva memegang kepala Nur Laila dengan kedua tangannya. Dengan segera, Deva mencium kening istrinya cepat-cepat. Karena dia ingin segera lepas dari sandiwara ini.
Cup. Sedetik saja. Tidak seperti pengantin baru yang mereka lebih suka berlama-lama mencium kening istrinya. Ah, hanya satu detik. Itu saja sudah sangat dipaksakan oleh Deva. Namun satu detik itu sudah mampu membuat Nur Laila membeku.
Setelah itu, Deva berlalu pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun. Sedangkan nur Laila, masih berdiri di tempatnya sambil mengusap keningnya, lalu dia tersenyum.
'Terimakasih, Dik Suami. Aku nggak mau cuci muka sampai Dzuhur nanti.'
"Cie … menantu ibu senyum-senyum sendiri," goda Bu Nurul yang diam-diam masih memperhatikan Nur yang masih berdiri di tempatnya sambil senyum-senyum sendiri.
Nur langsung memejamkan matanya. Ah, betapa malunya ketahuan ibu mertua sedang senyum-senyum sendiri.