Let's Star The Game

1509 Words
Nur Laila tersenyum menatap dirinya di depan kaca. Memang sih, uang tidak pernah bisa bohong. Orang yang yang diberi banyak modal untuk mempercantik diri, pasti hasilnya akan berbeda. Nur tampak lebih fresh karena baru saja perawatan di salon kecantikan favorit Ayu. Mungkin selanjutnya akan menjadi salon favorit mereka berdua. Saat itu dia mengenakan rok plisket warna putih dipadu dengan hem polos warna alpukat yang panjangnya sepaha. Ayu sengaja memakaikan gesper kepang agar lebih fashionable aja. Untuk jilbabnya, Ayu sengaja memilih jilbab segi empat warna senada bermotif bunga kecil-kecil kemudian dililitkan ke leher. Sungguh, Nur Laila tampak jauh berbeda dengan Nur yang biasanya. Apalagi dipadu dengan riasan tipis Ayu. Beeeeh … benar-benar tampak begitu cantik. "Tuh kan? Mbak Nur sebenarnya cantik banget. Sangat cantik. Mbak Nur itu jauh lebih cantik dari Silvia. Bedanya Silvia perawatan habis-habisan, dan mbak Nur nggak. Kalau sama-sama merawat kulit, mbak Nur sama sekali enggak kalah dari Silvia." "Terimakasih ya Yu. Kamu benar-benar ipar yang sangat baik. Saya berhutang banyak sama kamu." "Berhutang opo tho mbak? Mbak Nur itu sudah menikah sama Masku, itu artinya Mbak Nur adalah Mbakku juga. Lagi pula aku tidak kehilangan apa-apa. Semua yang Mbak Nur beli hari ini ini uangnya Mas Deva. Suami mbak Nur. Aku melakukan ini juga atas persetujuan Ibu kok." "Saya benar-benar beruntung memiliki adik ipar seperti kamu." "Sayangnya Mbak Nur belum beruntung karena memiliki suami seperti Mas Deva. Hahaha … maaf ya mbak. Habisnya aku gemes sama Mas Deva. Ya sudah, Aku pulang dulu ya? Oh iya. Sebelum pulang mbak Nur sini dulu." Ayu mengajak Nur menuju ke almari besar yang memang sudah dipersiapkan oleh Bu Nurul sebelum mereka menikah. Almari itu memang khusus untuk Nur Laila." "Mbak, aku sudah tata baju-baju mbak di sini. untuk pakaian harus Mbak pakai, ada di almari sini ya? Semuanya udah aku buat per stel. Jadi mbak Nur tinggal ambil aja perplastik. Udah Aku setelin di situ semuanya. Oh iya, mbak akan ada jadwal les make up private setiap Rabu dan Sabtu ya? Terus setiap Minggu kita akan perawatan di salon tadi. Oh iya, vitamin tadi jangan lupa di minum. Itu vitamin untuk kulit mbak Nur supaya lebih sehat. Jangan lupa makan yang banyak. Jangan kurus-kurus. Makan aja apapun yang ingin Mbak Nur makan. Mbak tinggal minta sama Mbok Surti. Oke mbak?" Nur terdiam, dan diam-diam matanya berair. Dia benar-benar terharu karena diperlakukan seperti ratu oleh adik iparnya. Mungkin dia memang tidak beruntung memiliki suami yang sama sekali tidak mencintainya saat ini, tapi dia sangat beruntung memiliki adik ipar dan memiliki ibu mertua yang sangat baik seperti Bu Nurul dan Ayu. "Mbak, Mbak Nur mendengar semua ucapanku kan?" Nur Laila tersenyum lebar sambil menunduk. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, berharap air matanya tidak luruh. "Harus dengan apa Saya berterima kasih sama kamu dan ibu, Yu. Kalian sangat baik sama saya. Pasti kalian tahu kalau saya tidak bisa membalas apa apa." "Opo sih mbak. Kita ini kan sekarang keluarga. Jadi nggak usah dipikirin hal yang seperti itu. Sekarang yang penting hubungan Mbak Nur sama Mas Deva membaik. Itu yang kami inginkan. Mbak Nur jangan lupa sama apa yang sudah aku katakan tadi. Mbak Nur memang harus melaksanakan tugas sebagai seorang istri, tapi jangan terlihat terlalu nurut mbak. Pura-pura aja cuek meskipun sebenarnya perhatian. Supaya dia tidak semena-mena. Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu ya mbak! Semoga semua usaha kita hari ini tidak sia-sia." "Terima kasih banyak ya, Yu." "Sama-sama, Mbak." "Oh iya, sebentar lagi Mas Deva pulang. Jangan lupa pakai parfum yang baru saja kita beli tadi ya mbak. Ingat! Jangan bersikap seolah Mbak sangat mencintai dia. Sedikit cuek saja." "Baik, Yu." Akhirnya Ayu benar-benar pergi setelah sebelumnya Dia pamit berapa kali. Nur Laila tersenyum. Dia memang benar-benar beruntung kali ini. *** Satu jam setelah Ayu pulang, Deva datang. Persis seperti prediksi Ayu. Deva akan segera datang. Karena sebelumnya Bu Nurul sudah menelpon Deva untuk segera pulang. Beliau sengaja berbohong kalau mau datang ke rumah. Padahal aslinya dia hanya ingin Deva pulang tepat waktu. Nur Laila segera menuju ke depan untuk membukakan pintu ketika mendengar deru mobil. Dia sangat yakin bahwa itu suara mobil suaminya. Belum sampai Deva membuka pintu, Nur Laila sudah lebih dulu membukanya. Tampak Deva dan salah satu seorang temannya berdiri tepat didepan pintu dan hendak mengetuk pintu dengan tangan kanannya. Deva tertegun sejenak saat melihat perempuan yang ada di hadapannya. Betul feeling Ayu. Deva shock melihat istrinya yang sudah bertransformasi hanya dalam hitungan jam. Dia tampak begitu cantik hari ini. Dia tidak memakai rok yang kepanjangan dan Hem lusuh yang kebesaran. Mukanya juga tidak polos tetapi juga tidak cemong. Wangi baccarat yang tercium ketika pintu terbuka sedikit mengusik hidungnya. Ah, perempuan itu benar-benar menjadi pribadi yang berbeda. Bukan hanya Deva saja yang terkejut, Deo juga. Nur laila yang ditemui tadi pagi tidaksefresh itu dan tidak secantik itu. Namun, sorot matanya masih sama. Tulus dan juga menenangkan. "Dek Deva, sudah pulang? Mau Salim apa Ndak?" Nur Laila mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar. Sebuah senyuman yang sangat tulus. Ah, Deva yang sedang disenyumi, tapi kenapa malah Deo yang deg-degan tidak karuan? Deva cuek. Meskipun saat itu dia penasaran dan pangling, tetapi dia tidak mau larut dalam rasa itu. Dia yakin Nurlaila berdandan seperti itu hanya sementara. Mungkin hanya satu hari ini saja karena ada Ayu yang menemani. Besok-besok, pasti Nur akan kembali menjadi mbak-mbak yang memakai pakaian serba kedodoran dengan warna yang mulai pudar. Deo mengerutkan kening melihat tingkah laku Deva. Kemudian dia tersenyum Dan berusaha untuk meraih tangan Nur. Mubazir kan. Daripada uluran tangan itu nganggur, lebih baik dia yang mengambil kesempatan untuk menjabat tangan perempuan yang ingin dia kenal lebih jauh. Nur langsung buru-buru menarik tangannya, kemudian menangkupkan kedua tangan di depan d**a. "Monggo Mas, silahkan masuk." Nur mempersilakan masuk Deo dengan sopan. Kemudian pergi meninggalkan deo. Tentu saja laki-laki itu bingung. Dia ingin menjabat tangan majikan yang menurutnya tidak ada hubungan apa apa dengannya, tetapi kenapa dia tidak mau menjabat tangannya. Agak aneh sih, tapi dia tetap berusaha berfikiran positif. Mungkin nur masih ada hubungan saudara. Akhirnya Deo pun masuk. Nur mempersilakan Deo untuk duduk di meja makan sementara menunggu Deva yang masih bersih-bersih diri. Semua keperluan mandinya sudah dipersiapkan oleh Nur di atas tempat tidur. Kurang beruntung apa dia memiliki istri seperti nur? Ah, dasar laki-laki. "Mas tunggu di sini dulu ya? Saya akan ke kamar dulu memanggil Dek Deva." Nur tersenyum, dan lagi-lagi membuat hati Deo berdetak dengan sangat kencang. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan ini cinta atau bukan. Karena ini terlalu cepat untuk ukuran cinta, tetapi yang jelas dia deg-degan tak karuan ketika dekat dengan perempuan yang tetap menjaga auratnya meskipun sekarang dia tampak modis. "Oh, baik," jawabnya singkat. Ketika Nur pergi, dia baru berpikir. Perempuan itu akan ke kamar memanggil Deva? Apakah mereka memang sedekat itu. Dia mulai curiga dengan hubungan mereka berdua, tetapi laki-laki itu terus berusaha untuk menepis. 'Ah, mungkin mereka memang saudara. Saudara jauh yang akhirnya bekerja di rumah Deva. Makanya perempuan itu tampak dekat dengan Deva meskipun Deva tidak ingin dekat dengan perempuan itu. Nur aja manggil Deva dengan panggilan 'Dek.' tidak mungkinlah dia ada apa-apa.' Ya, Deo terus berusaha untuk mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Nur tidak mungkin ada hubungan khusus dengan Deva. Beberapa menit kemudian, Nur datang dan menyiapkan piring untuk mereka bertiga. "Em … Mbak Nur, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Deo tiba-tiba. Nur meletakkan piring ke tiga di hadapan Deo, lalu tersenyum. "Nggih mas? Mau tanya apa?" "Mbak Nur sudah berapa lama menjadi asisten rumah tangga di sini?" Nur Laila langsung membelalakkan matanya. Asisten rumah tangga? Jadi Deva benar-benar mengatakan kepada temannya bahwa dia adalah asisten rumah tangga? Rasanya dia ingin marah dan ingin menangis saat itu, tapi No. Seperti apa yang ayu bilang. Dia tidak boleh memperlihatkan rasa marah dan tidak boleh menangis memperlihatkan kelemahannya di depan Deva maupun temannya. "Em … masih beberapa hari Mas." "Oh. Boleh saya bertanya lagi?" "Tentu saja. Monggo." Nur akhirnya duduk di kursi yang letaknya berseberangan dengan Deo. Seperti saat mereka bertemu tadi pagi, Nur masih menunduk ketika berbicara dengan Deo. Dia benar-benar menjaga pandangan. "Apakah Mbak Nur sudah memiliki calon suami?" tanyanya hati-hati. Biarlah jika orang menganggap ini terlalu cepat, zaman sekarang ini kita harus satu set. Kalau tidak, pasti incaran kita akan dicaplok orang. Bukankah lebih cepat memang lebih baik. Dia tidak ingin menyia-nyiakan calon istri yang pandangan matanya menenangkan seperti Nurlaila. Pertanyaan macam apa ini? Emosinya naik ke ubun-ubun saat itu. Namun dia berusaha untuk tetap tenang. "Calon apa ya mas? Saya kan sudah_" "Dia belum memiliki calon. Kalau kamu memang mau ta'aruf sama dia, ta'aruf saja. Pasti dia tidak akan keberatan kok. Iya kan mbak?" Belum Nur menjawab, sudah langsung dipotong oleh Deva. Laki-laki itu langsung mengambil posisi duduk di samping Deo. Dia menjawab pertanyaan itu tanpa merasa bersalah sedikitpun. Nur menunduk semakin dalam. Dadanya terasa sangat nyeri waktu itu. Bisa-bisanya Deva menyuruh istrinya untuk berta'aruf dengan laki-laki lain. Perempuan mana yang tidak sakit hatinya jika tidak diakui dan malah disodorkan kepada orang lain? But, dia harus tetap tenang dan kuat. Kalau Deva mulai main-main, bukankah sudah seharusnya dia juga ikut main main?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD