"Ta'aruf?" Nur mencoba untuk berbicara senatural mungkin. Dia menatap sejenak Deva dan Deo bergantian. "Jika berkenan, Saya ingin diberi kesempatan untuk mengenal Mbak Nur lebih jauh. Tapi ini jika Mbak berkenan. Misalkan tidak berkenan pun tidak masalah." Deo berusaha berbicara dengan sangat hati-hati. Menghadapi perempuan yang santun yang selalu menjaga pandangannya itu lebih sulit menurutnya. Dia harus mencari kata-kata yang sehalus mungkin. "Oh … insyaallah saya berkenan, Mas." Nur berbicara dengan nada suara lirih. Nyeri sekali dadanya saat mengatakan itu. Mana mungkin dia berta'aruf dengan laki-laki lain saat dirinya masih memiliki suami sah. Ah, untungnya dia memiliki ide yang brilian. Nurlaila memang ndeso dan tidak modern, tapi soal pemikiran, dia selalu memiliki ide-i

