“Aku tidak melihat apa-apa, sepertinya aku melihat orang yang salah. Mari kita pulang,” ucap Angel. Begitu sampai rumah Angel langsung naik ke kamarnya. Dia melakukan panggilan telepon kepada Richard. Richard yang sedang bekerja dan melihat gadis itu menelepon, dia segera menghentikan aktivitasnya dan menjawab Angel.
“Angel,” ucap Richard. Angel langsung bertanya kepadanya.
“Richard, apakah kamu sibuk, ada yang ingin kutanyakan padamu,” ucap Angel.
“Tidak, aku sama sekali tidak sibuk katakan saja,” ucap Richard menutup laptopnya dan segera menjawabnya.
“Aku ingin meminta kepadamu untuk melakukan penyelidikan. Tapi aku tidak ingin Lilac atau saudara perempuanku tahu tentang ini. Karena aku masih ragu-ragu,” ucap Angel.
“Aku selalu siap membantumu,” jawab Richard.
“Aku ingin kamu membantu aku menyelidiki ada hubungan apa antara Andre dan Andy?” ucap Angel.
“Andre dan Andy,” ucap Richard mengulang kalimat Angel.
“Andy sebelumnya adalah pemegang saham utama Lilac General Corporation. Aku melihat dia dan Andre sedang makan bersama dan mengobrol santai tadi. Aku takut Andre ingin mengambil alih Lilac General Corporation,” jelas Angel.
“Begitu ya, aku yakin aku bisa menyelidiki ini demi temanku. Aku akan berikan jawaban secepat mungkin,” ucap Richard menerima permintaan Angel.
“Terima kasih,” ucap Angel. Richard mengucapkan kata teman tetapi merasa hatinya sakit, tetapi memang sepanjang hidup ini mereka berdua hanya ditakdirkan untuk menjadi teman.
“Kami tidak berteman,” batin Richard. Sayangnya di dalam hatinya Richard benar-benar memiliki perasaan terhadap gadis itu. Tapi dia tidak boleh memikirkan dirinya sendiri, dan mereka menjadi teman pun, membuat Richard begitu bersyukur.
***
Di saat bekerja, Angel sangat bosan duduk di mejanya, Lilac tidak pernah memberinya tugas apa-apa untuk dilakukan. Sepanjang hari dia terus duduk di sana sambil bermain telepon dan kemudian pergi ke sofa tapi masih bermain telepon.
Lilac membawa laptop ke atas meja, dia duduk di sebelahnya. Pria itu sedang meeting bisnis dengan partner asing. Angel yang duduk di sebelahnya dan melihat partnernya adalah seorang pemuda berambut pirang yang terlihat cukup tampan.
“Siapa gadis di sampingmu, dia terlihat sangat manis,” ucap pria pirang itu terkejut karena selama dia bekerja sama dengan Lilac, dia belum pernah melihat gadis yang bisa begitu dekat dengan pria itu.
“Pacarku, namanya Angel,” ucap Lilac memberikan senyuman kecil pada pria pirang itu—James.
“Anehnya aku pikir kamu tidak akan punya pacar seumur hidup?” tanya James.
“Halo, senang mendengar bahwa Nona adalah pacar Lilac. Aku James, rekan bisnisnya,” ucap James di layar laptop, dia melambai ke arah mereka. Angel balas melambai.
“Hai, senang bertemu denganmu,” ucap Angel.
Setelah berbicara sebentar lalu Lilac mematikan komputernya untuk terus bekerja. Angel masih bosan memperhatikannya bergelut dengan banyak kontrak yang harus pria itu tandatangani. Angel tidak bisa membantu dan tidak melakukan pekerjaan apa pun, tetapi hanya duduk di sofa dan membaca majalah. Ketika Lilac menyelesaikan pekerjaannya tatapannya segera mencari sosok Angel. Melihat Angel tidur nyenyak di kursi, dia tersenyum lembut dan pergi mengambil jaketnya untuk mendaratkannya pada tubuh Angel.
“Lilac, ada yang ingin kutanyakan padamu.” Terdengar suara dari luar, Arion datang dengan suara kerasnya.
“Syut ... jangan berisik,” ucap Lilac memasang mulutnya untuk meminta Arion berbicara dengan pelan. Arion terkejut dari ekspresi matanya, dari tatapannya dia tidak mengerti apa yang Lilac maksud. Saat Arion mendekat, dia melihat Angel sedang tidur nyenyak di sana, baru dia mengerti yang dimaksud Lilac.
“Apa yang kamu inginkan?” tanya Lilac tertuju pada Arion, sambil membelai rambut kekasihnya.
“Aku dan Manda bertengkar, dia marah padaku. Aku harus bagaimana agar dia bisa berhenti marah?” tanya Arion meminta saran dari sahabatnya. Lilac menatap Arion tanpa berkata apa-apa, dia berpikir sejenak lalu mengatakannya.
“Aku pikir kamu harus memberinya bunga, atau boneka beruang, atau memberi sesuatu untuknya, memberikan hal-hal yang disukai oleh para gadis. Aku sering melihat orang-orang melakukan seperti itu,” ucap Lilac.
“Aku sudah melakukan semuanya dan memberikannya bunga juga boneka beruang, kuberi mobil, makanan yang dia suka, kuberikan semuanya tetapi dia masih belum berubah,” ucap Arion menghela napas memberitahunya. Tiba-tiba tatapan Arion berubah, dia menyipitkan matanya ke arah Lilac dengan rasa ingin tahu.
“Apakah kamu dan Angel tidak pernah bertengkar?” tanya Arion. Lilac tersenyum seolah dia tidak ingin menjawabnya.
“Belum pernah bahkan tidak sekali pun. Aku dan Angel sangat memahami satu sama lain dan aku tidak pernah membuatnya kesal apalagi membuatnya sangat marah,” ucap Lilac. Arion masih tidak percaya, dia bertanya lagi dengan suara yang agak keras, dia lupa bahwa gadis itu masih tidur.
“Kamu benar-benar tidak berbohong kepadaku kan? Tapi kalian berdua sudah saling kenal sejak lama,” ucap Arion. Lilac mengerutkan kening berkata dengan pelan.
“Kamu ngomongnya pelan, kamu lihat dia masih tidur. Mana pernah aku berbohong padamu, iya kalo dulu aku pernah berbohong kepadamu tapi sekarang tidak pernah,” ucap Lilac mengerucutkan bibirnya dan Arion mengangguk sedikit. Tiba-tiba Arion mendapatkan sesuatu dari pikirannya.
“Aku punya ide, bagaimana kalau aku meminta Angel untuk membantuku berbicara dengan Manda. Untuk memberitahu Manda agar dia memaafkanku dan tidak marah lagi,” ucap Arion. Alis Lilac semakin berkerut.
“Kamu dan pacarmu bertengkar, mengapa kamu menyeretnya masuk ke masalah kalian, memangnya Angel tempat Manda meluapkan amarah?” ucap Lilac. Arion menggelengkan kepalanya dan menegaskan.
“Tidak mungkin, Manda tidak mungkin memarahi Angel. Tolong bantu aku,” ucap Arion. Lilac menghela napas ringan kemudian mengangguk setuju.
“Oke, tetapi aku harus menunggu sampai Angel bangun. Di rumah nanti aku akan bicarakan padanya,” ucap Lilac.
“Oke, oke, terima kasih, aku datang ke sini sebagai gantinya aku berterima kasih kepada Angel terlebih dahulu karena telah membantu aku,” ucap Arion senang sambil mengangguk-angguk.
“Iya, Bro,” ucap Lilac.
Menjelang sore, Angel terbangun. Lilac yang duduk di meja kerjanya, saat melihatnya bangun secara otomatis dia tersenyum dengan lembut padanya.
“Kamu sudah bangun, bagaimana kalau aku beritahu Marcel agar membawakan makanan untuk dimakan di rumah?” ucap Lilac. Angel hanya mengangguk setuju dengannya.
Saatnya pulang kerja, mereka kembali ke mansion milik Lilac. Mereka berdua selesai makan malam lalu pergi ke ruang ganti. Setelah selesai berganti pakaian, Lilac berbaring di sampingnya. Dia tiba-tiba teringat bahwa Arion bertanya kepadanya, dia segera mengutarakannya padanya.