“Angel, siang tadi Arion datang ke perusahaan dan mengatakan bahwa dia dan Manda bertengkar. Dia ingin memintamu untuk membantunya sebentar saja. Tolong telepon Manda untuk membantunya,” ucap Lilac. Angel tidak ragu-ragu dan langsung mengangguk setuju untuk membantu temannya. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Manda.
“Halo, Manda, ada yang ingin kukatakan padamu,” ucap Angel langsung.
“Apa?” tanya Manda dari ujung telepon.
“Apa kamu dan Arion bertengkar?” tanya seseorang di sisi lain. Wajah Manda menjadi muram.
“Apakah dia datang kepadamu dan menyuruhmu membantuku?” tanya Manda dengan nada suara yang sedikit kesal. Angel tidak tahu bagaimana mengatakannya. Karena dia tahu kepribadian Manda, jika dia berkata sedikit tetapi gadis itu merasa tidak puas, maka Manda pasti akan marah padanya.
“Benar, Arion datang untuk menemuiku tadi siang. Tolonglah kamu maafkan dia sekali ini dan jangan membuatnya terlalu menyedihkan,” ucap Angel.
“Angel Edgar, siapa teman kamu sekarang, kamu di pihak siapa, kamu tahu apa yang dia lakukan? Sekarang menyuruhku untuk memaafkan,” teriak Manda dengan marah memanggil nama Angel. Lilac sedikit mengernyit ketika mendengar Manda teriak dengan keras ke arahnya. Sejauh ini dia bahkan tidak berani meninggikan suaranya, tetapi Manda begitu berani. Angel menjauhkan ponselnya dari telinganya kemudian berbicara lembut kepada sahabatnya.
“Apa kesalahannya yang membuatmu begitu marah?” tanya Angel. Manda menceritakan masalahnya secara jujur kepadanya.
“Dia berani memeluk gadis lain di depanku, ketika aku tanya dia bilang bahwa gadis itu adalah teman lama yang telah lama tak bertemu jadi mereka berpelukan yang merupakan pergaulan biasa katanya, gadis itu berani melakukannya di hadapanku,” ucap Manda. Angel menepuk keningnya, dia tahu betul bahwa Manda sangat membenci ini, wajar saja Manda sangat marah. Tapi dia berjanji pasti akan membantunya.
“Manda, aku tahu kamu tidak suka dan benci ini tetapi Arion sudah mengakui kesalahannya, tolong pikirkan lagi dan maafkan dia,” ucap Angel. Manda menarik napas dalam-dalam, suara itu terdengar sedikit membuatnya marah.
“Baiklah aku akan mendengarkanmu, aku akan berpikir lagi,” ucap Manda menghela napas.
“Oke, oke, kalau begitu pikirkan saja dulu ya, aku tutup teleponnya,” ucap Angel merasa lega ketika dia menyelesaikan tugasnya.
“Lain kali aku sama sekali tidak akan menerima permintaan bantuan dari siapa pun, aku tidak akan membiarkanmu dimarahi. Bahkan aku sendiri tidak bisa membentakmu tetapi Manda bisa angkat bicara begitu keras. Kalau jadi aku, aku tidak akan memaafkan teman yang begitu,” ucap Lilac. Angel tertawa menjulurkan tangannya ke bawah dagu pria itu.
“Jangan salahkan Manda, itu karena dia begitu marah dengan Arion,” ucap Angel.
***
Bandara terbesar di Kota Z. Angel iseng duduk di atas koper dan Lilac membawanya sambil membeli makanan ringan lalu naik pesawat ke Pulau Bali Indonesia.
Setibanya di tempat tujuan, baru saja turun dari pesawat, seseorang menjemput Lilac dan Angel ke hotel untuk istirahat karena hari sudah gelap, jadi mereka harus beristirahat supaya punya tenaga untuk keluar pagi esok hari.
“Angel, bangun dan ayo cepat ikut aku,” ucap Lilac menarik selimut yang dikenakan gadis itu. Angel menggelengkan kepalanya dengan bibirnya yang cemberut.
“Stop! Aku mau tidur, aku tidak mau pergi ke mana pun sekarang,” ucap Angel berbaring di tempat tidur untuk melanjutkan tidurnya. Mata dan suara Lilac dipenuhi dengan kejahatan dan ketidakjelasan.
“Jika kamu tidak mau keluar tidak apa-apa, aku akan tidur denganmu lagi, tetapi aku tidak yakin aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu. Aku khawatir kamu tidak akan mampu mengimbangiku. Bangunlah, ayo pergi ke suatu tempat,” ucap Lilac. Mendengar kata-kata ancaman dari kekasihnya itu dia segera duduk dan tersenyum padanya.
“Aku sudah bangun, aku ganti baju dulu dan kita pergi bersama,” ucap Angel. Begitu dia selesai berbicara dia segera pergi untuk mengambil gaunnya dan langsung lari ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, dia muncul dengan gaun maxi off shoulder putih bersih, dia mengambil topi, tas dengan sepatu juga dan dia menatap kekasihnya dengan semringah.
“Ayo berangkat,” ucap Angel. Lilac tersenyum lembut, dia jatuh cinta pada gadis bandel ini. Dia dengan pelan mencubit hidungnya.
Mereka pergi ke Pantai Dreamland dengan kapal pesiar. Angel memakai topi putih bertepi lebar, dia melihat laut biru yang indah. Sementara Lilac sedang berbaring di sofa memegang gelas anggur dan tatapan tertuju ke depannya sambil menikmati lukisan indah yang alam wariskan untuk umat manusia. Dia meletakkan gelas anggur di atas meja dan berjalan menuju Angel kemudian memeluknya dari belakang. Dia mengeluarkan suaranya dalam dan lembut di telinga gadis itu.
“Kamu sangat cantik, kamu menyuruhku untuk berhenti, bagaimana caraku menahannya?” ucap Lilac. Angel tersenyum cemberut seolah mau menggodanya.
“Kamu tidak bisa menahannya seperti itu?” tanya Angel.
“Aku harus segera menikahimu sebelum aku bisa memakanmu, maka kamu harus membuatku puas,” ucap Lilac berbisik ke telinganya. Mendengar ucapan pacarnya itu, Angel segera menarik lehernya karena salah tingkah. Kemudian keduanya duduk bersama untuk makan seafood, minum anggur merah bersama untuk menikmati saat-saat terindah dalam hidup ini.
Angel berbaring di kursi sambil memejamkan mata, tetapi bukan tidur. Lilac melihatnya memejamkan mata dan mengira dia sedang tidur, dia sampai pada niat untuk menciumnya. Saat dia mendekat, Angel membuka matanya dan keduanya terkejut saling memandang. Angel tertawa kecil melihat tingkahnya.
“Jika kamu mau menciumku, tidak perlu mencuri-curi seperti ini,” ucap Angel sambil tersenyum. Setelah mengatakan itu Lilac mengangkat wajahnya dan menciumnya dengan lembut di bibir dan kemudian tersenyum sepenuh hati. Lilac tiba-tiba menekan kekasihnya ke bawah, dia membungkuk untuk menciumnya—ciuman lembut dan intens. Lilac menciumnya begitu dalam sehingga Angel sampai merasa tidak bisa bernapas.
***
Sore hari, Angel berjalan mengitari pantai, melihat kerang yang sangat indah, dia membungkuk untuk mengambilnya. Tiba-tiba ada seseorang berdiri di depannya, dia mendongak dan berdiri tegak melihatnya. Alis Angel sedikit mengerut.
“Andre?” ucap Angel. Andre menyeringai dan tersenyum padanya.
“Apakah kamu masih merindukanku, tanpa diduga aku bisa membuatmu terukir di pikiranmu,” ucap pria itu tertawa mengejek.
“Kita berada dalam suasana yang begitu membingungkan, sehingga wajar saja aku dapat mengingat dan mengenalimu, karena kamu adalah saudara tiri dari Lilac dan seorang preman busuk yang mengambil kesempatan dari seorang gadis yang mabuk,” ucap Angel.