Hari Minggu adalah waktu yang tepat untuk melepas jenuh akibat kerjaan yang banyak di kantor atau pun tugas dari sekolah. Rama mengikat kedua tali sepatunya di sebuah bangku taman. Ya, Rama adalah cowok yang giat berolahraga. Pantas saja cowok itu memiliki keperawakan yang bagus dan ideal. Hal ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa Rama sangat digandrungi cewek-cewek di sekolahnya.
Selesai mengikat kedua tali sepatunya, cowok itu merogoh saku dan mengeluarkan sebuah iPod. Keringat yang mengucur di sekitar kepalanya tidak membuat cowok itu berhenti lari pagi. Rama menempelkan earphones ke telinganya dan memutar lagu Don’t Stop milik 5 Seconds of Summer.
Rama mengusap dahinya dengan handuk kecil yang melingkari lehernya. Kakinya menjejak tanah sesuai irama musik. Bibirnya bergerak mengikuti lirik. Suasana hatinya selalu cerah jika melakukan lari pagi. Selain sehat jasmani juga berefek baik bagi rohani.
Lagu masih terus mengalun, membuat cowok itu makin asik dengan dirinya sendiri. Rama kemudian berhenti di dekat pedagang es krim karena tiba-tiba matanya menangkap seorang cewek yang sedang duduk di bangku tak jauh darinya. Matanya semakin menyipit saat dilihatnya cewek itu adalah Febri.
Dari kejauhan tempat Rama berdiri, Febri tampak terlihat segar. Baju kasual yang ditutupi jaket merah muda dan rambut panjang dikuncir kuda membuatnya terlihat seperti atlit lari. Tanpa berpikir panjang, Rama mendekati pohon di belakang Febri.
Cewek itu tidak menyadari kehadiran Rama. Dia fokus menatap handphone-nya. Mata Rama sekilas melihat sekeliling sebelum menjalankan kejailannya. Setelah dirasa aman, Rama menyandar pada batang pohon dan mengeluarkan handphone-nya.
“Katanya nyusul ke alun-alun, kok sampe sekarang belum dateng juga? Gimana, sih, Erina?” gerutu Febri sambil terus men-spam Line Erina.
Tak lama, ponselnya bergetar. Mata Febri membulat senang. Akhirnya si Erina membalas juga!
“Eh?” Febri mengerutkan dahi. Ternyata bukan chat Line Erina, melainkan sesuatu di fitur SMS.
Dari: Kak Balok Es
Lo itu siapa, sih?
Mata Febri jauh lebih membulat begitu membaca siapa yang mengiriminya pesan. Jantungnya kembali memompa cepat, tangannya bergetar. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dibalas juga!
Febri menarik napas dalam-dalam sebelum membalas pesan Rama.
Rama tersenyum tipis sambil menatap handphone-nya yang bergetar. Ia membaca pesan balasan Febri.
Dari: Cewek Aneh Pita Hitam
Kan saya udah pernah bilang. Saya peri baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung.
Rama mengerutkan dahi sambil menahan senyumannya. Ia melirik Febri yang tampak gelisah. Kemudian, mengetik beberapa balasan.
Handphone Febri bergetar lagi, menandakan ada pesan masuk. Ia membukanya dengan gemetar.
Dari: Kak Balok Es
Lah, nggak nyambung, Dek.
Febri menyentuh dahinya. “b**o! Malu-maluin aja lo, Feb!”
Rama yang mendengarnya pun, tertawa juga. Kemudian, handphone-nya kembali bergetar.
Dari: Cewek Aneh Pita Hitam
Kepo sama saya, ya? Cie.
Handphone Febri bergetar tak lama setelah ia mengirim balasan pada Si Balok Es.
Dari: Kak Balok Es
Enggak sama sekali. Mau gue tebak sesuatu?
Jantung Febri berdebar-debar. Ia menoleh kanan-kiri, takut jika ada penguntit. Ia pun mulai khawatir jika Si Balok Es ini sudah mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Bisa mampus kalau begitu.
Dari: Cewek Aneh Pita Hitam
Tebak? Yakin? Saya ini sulit ditebak, loh. Wkwkwk.
Rama buru-buru membalasnya. Febri menggigit bibir bawahnya ketika menerima balasan lagi dari Rama.
Dari: Kak Balok Es
Hm. Lo ada di tempat keramaian. Duduk sendirian sambil khawatir. Mau gue datengin?
Febri mendelik saat membacanya. Tangannya bergetar hebat. Tenggorokannya serasa mencekat. Napasnya tak teratur. Untuk sesaat, ia tak berani bergerak, atau bahkan sekadar melirik sekitar.
Seseorang menduduki bangku di sebelah Febri, yang mana semakin membuat Febri tidak berani menatapnya. Cewek itu terus menunduk menatap handphone-nya.
Tak lama, benda itu bergetar. Kali ini getarannya panjang, menandakan bahwa seseorang sedang meneleponnya. Febri terlonjak kaget. Dilihatnya siapa yang menelepon.
Kak Balok Es is calling…
“Nggak usah diangkat. Hemat pulsa.”
Mendengar suara itu, tubuh Febri melemas dan rasanya ingin lebur ke tanah sekarang juga. Ia ingin menangis sekeras mungkin dan mengutuk Erina menjadi kodok selama-lamanya karena menyarankan ide konyol ini.
“Eh, Kak… Rama?” Wajah Febri sudah merah maksimal!
“Iya,” jawab cowok itu sembari membuka botol minum dan meneguknya.
Mata Febri tidak berani menatap setiap gerakan Rama. Sangat tidak disangka dirinya akan bertemu dengannya di saat seperti ini. Febri jadi salah tingkah sendiri.
“Kak Rama sering lari juga di sini?” tanya Febri ketika dilihatnya Rama selesai minum. Sekadar basa-basi. Setidaknya, menutupi kekonyolan yang baru saja ia lakukan.
“Iya,” jawabnya tidak menatap lawan bicaranya. Dia melepaskan earphones yang masih tertempel di telinganya.
“Oh… saya juga,” cengir Febri sambil meremas-remas handphone-nya.
Untuk beberapa detik tidak ada yang mengeluarkan suara. Rama yang kelewat cuek membuat Febri takut sekaligus bingung harus mengajaknya berbicara apalagi. Namun di detik-detik berikutnya, Rama berdiri dari duduknya dan menatap datar ke arah Febri.
“Makan, yuk.”
Febri melongo. Memandang wajah Rama dengan tatapan tidak percaya. Itu tawaran atau ancaman? Karena diutarakan dengan nada dan ekspresi datar membuat Febri jadi bingung sendiri.
“Jangan bengong dong,” tegur Rama menaruh tangannya di sekitar pinggangnya.
Batin Febri menampar dirinya untuk kembali ke dunia nyata. Matanya mengerjapkan berkali-kali. Sambil membetulkan jaket, cewek itu membersihkan kerongkongannya. Lalu dengan anggukan mantap, Febri berdiri di depan Rama.
Di sebuah kafe tempat mereka lari pagi sedang menyediakan promo besar-besaran. Rama mengajak cewek itu untuk makan di kafe murah meriah. Alunan musik klasik membuat hari Minggu mereka jauh lebih cerah.
“Pesen apa, Feb?” tanya Rama sambil menopang dagu dan membolak-balikkan menu.
Febri tampak berpikir saat melihat menu-menunya. Cewek itu ingin memakan sesuatu yang segar di pagi hari. Bakso terlihat enak.
“Saya bakso aja, Kak, sama minumnya cokelat hangat.” Febri menutup buku menunya, lalu menyodorkan beberapa lembar uang dengan sedikit gemetar pada Rama.
Rama menutup buku menunya lalu berjalan ke meja kasir tanpa menerima lembaran uang Febri. Cewek itu mengusap bibirnya sambil menatap jendela di sampingnya. Perasaannya sekarang ingin meloncat-loncat dan teriak kepada dunia betapa senangnya dirinya. Makan berdua dengan Rama memang hal yang Febri tunggu-tunggu ... ditraktir lagi! Dulu mereka berdua dinner, sekarang breakfast.
Febri tersenyum-senyum sendiri membayangkannya.
“Ngapain senyum-senyum kayak monyet gitu?” kata Rama tiba-tiba membuyarkan lamunan Febri.
Febri menggaruk tengkuknya malu. “Saya mirip banget sama monyet ya, Kak?”
Mendengar kepolosan itu, sudut bibir Rama jadi berkedut-kedut menahan tawa. Jadi daripada kelepasan tawa, lebih baik Rama tak menjawab pertanyaan Febri.
Lagi-lagi mata Febri melirik wajah Rama yang terpahat begitu indah. Semua anggota tubuhnya terpasang begitu sempurna. Baiklah, ralat—nyaris menyentuh garis sempurna. Nggak heran Rama memiliki banyak “Penggemar”.
Pikiran Febri melayang jauh ketika suatu saat bisa bersama Rama selamanya. Apa jadinya dirinya? Bahagia? Ataukah berujung menyedihkan? Mengingat Rama yang super cuek kepada cewek. Pastilah suatu saat cewek yang dipilihnya akan merasa sebagai cewek yang paling beruntung.
Apa gue bisa suatu saat jadian sama Kak Rama? Haha, ngimpi aja sono, batin Febri saling bergulat. Cewek itu mengembuskan napas kesal.
“Ngeliatin apa?”
Febri langsung tersadar dari lamunannya. Mulutnya berhasil terbuka begitu melihat wajah Rama sudah menghadap sempurna ke arahnya. Mata cokelat Febri hanya bergerak ke sembarang arah mencari jalan keluar dari keterpergokannya.
“Ayo dimakan.” Rama menurunkan kedua lengannya yang menopang dagu. Lalu cowok itu meraih sendok dan garpu di piringnya.
“O-oh ya, Kak.”
Dikira Rama nggak tahu sedari tadi Febri mengamatinya sambil senyum-senyum nggak jelas? Cowok itu tahu. Karena itu Rama membiarkan Febri untuk bergulat dengan pikirannya sendiri.
Batin Rama cuma bisa tersenyum menatap adik kelasnya yang berani sekali memakai pita hitam di rambutnya saat MOS. Dan itulah awal mula sebuah cahaya menghampiri hati Rama yang gelap.
Gue pengen lihat seberapa keras lo bisa dapetin hati gue, walaupun sebenarnya lo udah memiliki hati gue sepenuhnya, batin Rama sambil tersenyum.
Tangan Febri terulur mengambil sebotol cuka untuk dituangkan pada kuah baksonya. Mata Rama menyipit, lalu menggenggam tangan Febri tiba-tiba. Cewek itu terkejut tangan Rama sudah bertumpuk dengan tangannya. Lalu perlahan sebotol cuka itu mendarat lagi di atas meja tanpa tertuangkan sedikit pun di kuah baksonya.
Pipi Febri bersemu merah. Ditatapnya wajah Rama yang menatap botol cuka alias juga menatap insiden tangan bertumpuk. Sensasi hangat langsung terasa di sekujur tubuh Febri. Tangannya begitu besar di tangan mungil cewek itu. Hati Febri melambung tinggi untuk yang kesekian kalinya.
Duh cewek ini, nggak sengaja kesentuh aja udah nge-fly, kata Rama dalam hati, gemas melihat tingkah Febri.
“Pernah tau cerita daging dengan cuka?” tanya Rama sambil menarik kembali tangannya, membuat Febri mendesah sedih dalam hati.
“Eng .. gak?”
Rama mengangguk sekali. Suaranya terdengar datar tapi percaya atau tidak ekpresi Rama mulai berubah. Seulas senyum tipis—sangat tipis hingga orang perlu benar-benar memastikan apakah itu benar sebuah senyuman—tersungging di bibirnya.
“Mutton adalah makanan ‘panas’ sedangkan cuka adalah ‘hangat’ seperti alkohol. Ketika keduanya saling dicampurkan bersama-sama, mereka dapat meng-over-aktifkan energi dan sirkulasi. Alias dapat merugikan jantung,” jelas Rama membuat Febri yang mendengarnya langsung memandang daging baksonya.
“Serangan jantung?” tanya Febri mendongak.
“Salah satunya.”
Febri menghela napas. Untung Rama langsung mencegah dirinya. Tapi ngeliat Kak Rama aja udah buat gue kena serangan jantung, batin Febri.
“Kalo kena serangan jantung, lo nggak bisa ketemu gue lagi,” sambung Rama membuat mata Febri membulat tak percaya. “Ayo dihabisin entar gue anter lo pulang.”
Jantung! Jantung! Serangan jantung! Febri ingin melompat sekarang dari tebing! Jantungnya nggak karuan!
Wah, awannya bagus, yah….