Bab 18: Dimas atau Rama?

1104 Words
Dimas terus memeriksa handphone-nya. Cowok itu sedang berada di depan rumah Febri, menunggunya sambil duduk di atas motor. Namun, cewek itu tak kunjung datang dan membalas pesan Dimas. Mamski sudah menyuruh Dimas untuk masuk ke rumah, tapi cowok itu lebih memilih untuk menunggu di luar. Lebih baik dirinya tak bertemu dengan cewek itu. Saat sedang menatap handphone-nya, sebuah motor berhenti tepat di depan motor Dimas. Cowok itu langsung melepaskan pandangannya dari handphone-nya dan bertemu dengan mata Rama yang bertanya-tanya. “Dimas?” Febri langsung turun dari motor dan menghampirinya. “Lama banget, Feb. Gue sampe jamuran nungguin elo nih," kata Dimas. Rama yang sedang memerhatikan keduanya, hanya menaikkan satu alis. Lalu menyalakan kembali motornya. “Gue cabut dulu.” “Oke,” balas Dimas singkat. “Makasih ya, Kak,” kata Febri sambil tersenyum manis. Rama mengangguk, lalu memutarkan motor dan memacunya keluar perumahan Febri. “Senyum gitu ke gue juga dong.” Febri memandang Dimas dengan tatapan datar. “Lo ngapain di sini pagi-pagi?” “Ngajakin lo jalan-jalan. Yuk?” “Ke mana?” “Ke mana aja.” Febri sebenarnya sedikit lelah karena lari pagi. Rencananya, setelah sampai rumah Febri mau rebahan sebentar. Tapi ternyata ada Dimas. Dimas mengusap dagunya sambil melanjutkan berpikir, “Sebenernya gue pengin ngajakin lo ke—” “Dimas," potong Febri secara mendadak. Terdengar suara yang agak sungkan dari cewek itu. "Sebenernya gue agak capek. Kita jalan kapan-kapan gimana?” Mendengar kata-kata Febri, hati Dimas kecewa. Cewek itu ternyata lebih enjoy bersama Rama ketimbang dirinya. Sejak awal melihat Rama membonceng Febri saja sebenarnya sudah membuat Dimas hancur. Apalagi senyum yang dilemparkan Febri kepada Rama, yang omong-omong sungguh manis sekali. Untuk yang kedua kalinya ... Rama berhasil mengambil sesuatu dari hati Dimas. “Oh … oke deh. Kalo gitu gue cabut dulu. Bye, Feb. Istirahat ya.” Dimas memasang helmnya dan menyalakan motor. Tanpa menunggu balasan dari Febri, Dimas sudah dulu memacu motornya dari rumah Febri. Melihat ekspresi Dimas yang nampak sekali rasa kecewanya, membuat hati Febri merasa bersalah. Dia menggaruk tengkuknya. Seharusnya dia bisa menyusun kata-kata yang lebih baik lagi dalam menolak ajakan Dimas. Sekarang Febri jadi terdengar seperti mencari-cari alasan untuk menghindari Dimas, padahal maksudnya tadi tidak begitu. Ya ampun. Semoga Dimas baik-baik saja. Di balik pintu rumah, Tika ternyata sedang bersembunyi. Dia melihat dan mendengar semua percakapan Dimas dan Febri. Hatinya pun langsung geram dan berapi-api. Ingin rasanya Tika membuang Dimas jauh-jauh dari bumi. Kalo bisa melenyapkan kehadirannya. “Belum menjauh dari Dimas, hm?” Febri tersentak kaget saat memasuki rumah. Tika tiba-tiba muncul dari belakang pintu dengan ekspresinya yang datar. "Kaget, ih!" Febri mengelus dadanya dan menghela napas panjang sambil menyusun sepatunya di rak. “Nggak, Kak. Aku nggak bakal menghindar dari Dimas sebelum salah satu dari kalian menjelaskan apa alasannya.” Tika segera menghalau Febri sebelum masuk ke kamarnya. “Kakak cuma nggak mau kamu disakiti sama Dimas.” Febri berhenti melangkah. Sejenak dirinya terpaku dalam keadaan. Mengulang apa yang baru saja ia dengar. Kenapa Dimas bakal nyakitin gue? Bukannya baru aja gue yang nyakitin dia? Febri menggeleng singkat. “Hubungan kita baik dan Dimas juga nggak ada alasan untuk nyakitin aku.” BLAM! Dan pintu kamar pun tertutup keras. Tika memandang adiknya dengan perasaan bercampur aduk. Dendam dan amarahnya kepada Dimas semakin menjadi-jadi. Ia harus segera menyelesaikan ini sebelum semuanya terlambat. Sebelum semuanya tahu apa yang telah terjadi di masa lalu. Tika segera berjalan ke kamarnya dan ikut membanting pintu. Diraih handphone-nya dengan kasar dan menekan sederet nomor. “Dimas, gue harus bicara sama lo!” Di waktu yang bersamaan, Febri merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pandangannya lurus entah ke mana. Pikiran dan mood-nya seketika hancur mendengar perdebatan dirinya dengan Tika. Semua ini semakin aneh. Apa sebenarnya permasalahannya? “Bodo, ah!” Febri malas memikirkannya. Yang terpenting sekarang adalah meminta maaf pada Dimas atas perlakuannya tadi. Cewek itu lalu membuka handphone-nya. 2 missed calls 5 new messages Hah. Banyak banget! Dan itu semua dari Dimas lagi. Apakah tadi pagi kedatangan Dimas bukan cuma iseng, melainkan ada hal serius yang terjadi? Dari: Dimas. 06.05 Pagi Feb. Dari: Dimas. 06.30 Gue di depan rumah lo nih. Dari: Dimas. 07.10 Kata Mamski lo lagi jogging ya? Gue tunggu deh. Dari: Dimas. 09.00 Udah jam 9 Feb, kok lo belum pulang? Kok telepon gue nggak diangkat? Dari: Dimas. 09.20 Feb lo nggak pa-pa? Gue susul ya? “Ya ampun Dimas,” desah Febri. Ternyata cowok itu sudah dari jam setengah tujuh ada di depan rumah Febri. Dan ide dari mana handphone Febri dimode heningkan. Sudah dua jam Dimas menunggunya dan dengan santainya Febri menyuruh cowok itu pulang. Duh. Rasa bersalah Febri semakin dalam. Diketiknya sebuah balasan pesan untuk Dimas. Untuk: Dimas. Dimas, sori gue tadi nolak lo ngajakin jalan, gue beneran lagi capek. Sori ya. Tak membutuhkan waktu lama, Dimas langsung menjawab pesan dari Febri. Dari: Dimas. It's okay, Feb. Take your time. Febri mengunci layar handphone-nya. Tangannya bergerak untuk menyentuhkan benda itu di bibirnya. Dia termenung. Sebuah pikiran yang terdengar narsis dan overpede itu melintasi pikiran Febri. Apa beneran Dimas suka sama gue? Tapi mana mungkin? Ini Dimas, si cowok populer nomor 2 ... suka sama gue? Ngaco banget. Gue kalo kepedean, bisa parah gini ya. Febri memukul kepalanya sendiri dengan pelan, menandakan dia gemas dengan dirinya sendiri. Tapi Dimas selalu ada di saat gue butuh bantuan. Dia selalu ada di saat gue lagi sendirian. Belum lagi gombalan recehnya itu ... yang omong-omong lumayan mencairkan suasana sih. Kalo bukan naksir, terus apa dong? Febri merentangkan kedua tangannya di udara, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ini misal. Beneran misal, bukan karena gue kegeeran atau apa. Just in case! Kalo Dimas beneran naksir gue, apa yang harus gue lakuin? Nolak? Nerima? Aduuuh! Febri guling-guling sendiri di kasurnya sampai selimut yang awalnya rapi jadi berantakan. Perasaan yang dia rasakan saat bersama Dimas atau Rama sangatlah berbeda. Jika diuraikan ... itu terlalu rumit. Febri sendiri akan kesulitan untuk menemukan kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan perasaannya pada kedua cowok populer itu. Hanya satu yang pasti. Febri menyukai Rama. Seorang Rama Zidane. Lantas bagaimana dengan Dimas? Febri tak tahu. Dia sungguh berterima kasih karena seorang cowok populer seperti Dimas mau berteman dengan cewek secupu Febri dan selalu ada di saat-saat sulitnya. Tapi kalau perasaan ini diartikan sebagai rasa suka, Febri rasa itu tidak mungkin. Handphone Febri bergetar lagi. Kali ini bukan pesan dari Dimas, melainkan Rama. Dari: Kak Balok Es Maaf, gue pura-pura gak tau kalo ini nomer lo. Gue cuma penasaran sejauh mana lo bersikap seperti orang lain. Kalo saran gue, tetap jadi diri lo sendiri aja, karena tiap orang punya pesonanya masing-masing. Anyway, sampai ketemu di sekolah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD